Edisi No. 107/ Tahun X Maret 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Adat
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Seni
Glosari
Inspirasi
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Laras
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug


   
PARAS PAROS

Berkah Ratu Brayut di Pura Er Jeruk

Banyak fungsi dimiliki Pura Er Jeruk. Selain sebagai pura subak, juga diyakini menjadi tempat tepat memohon anak. Agar suami istri punya keturunan.

Rimbun daun kampuak (sejenis pohon jambu hutan) yang tumbuh subur di areal jeroan (halaman paling dalam),  begitu meneduhkan kalbu saat SARAD tangkil  ke Pura Er Jeruk. Hembusan lembut angin pantai Purnama merontokkan beberapa helai daun tumbuhan yang memiliki lingkar batang lebih dari tiga meter itu.
Pohon kampuak seakan menjadi ‘saksi hidup’ kisah perjalanan sejarah pura yang masih berada di wawengkon Banjar Gelumpang, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Matahari mengarah tegak lurus, beberapa ekor ayam tampak berkeliaran mencari sisa-sisa beras bija di sela-sela deretan palinggih. Sejurus kemudian, empat pamedek yang mengaku dari Desa Dauhwaru, Kabupaten Jembrana, tangkil ke jeroan. “Kami tangkil ke sini, karena sempat membaca di satu buku, kalau Pura Er Jeruk termasuk pura Sad Kahyangan,” ucap pamedek yang mengaku bernama Ngurah.
Er Jeruk. Pura yang berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan raya Tohpati – Kusamba itu, memang sering ‘diserbu’ warga Hindu . Bukan saja warga Sukawati, juga banyak dari berbagai pelosok daerah di Bali dan luar daerah.
Kedatangan mereka tentu memiliki berbagai kepentingan. Ada yang mohon keselamatan supaya tanaman di huma tumbuh subur, sekadar ingin sembahyang, dan ada pula khusus datang guna mohon keturunan. “Di sini patung Ratu Brayut terbuat dari batu padas,” tutur seorang warga Gelumpang, Ni Ketut Latri.
Pada palinggih yang berada di jaba tengah itulah umumnya pasangan suami istri yang lama kawin tapi belum memiliki keturunan akan bersujud. Memohon berkah Ratu Brayut beserta Ida Batara Putra Jaya sebagai penguasa di pura Er Jeruk agar bisa mendapatkan anak sebagai penerus keluarga.
Pura Er Jeruk yang memiliki banyak fungsi ternyata mampu menarik warga datang ke sini, sekalipun belum ditemukan bukti-bukti otentik, baik berupa prasasti maupun lontar yang secara komprehensif yang membahas tentang sejarah  berdirinya Pura Er Jeruk. Secara samar I Gusti Bagus  Sugriwa dalam bukunya “Pemargan Dangyang Nirartha di Bali”, memang ada  menyebutkan bahwa wilayah selatan Sukawati ini didirikan seorang raja dari Kerajaan Daha (Jawa) bergelar Sri Wira Dalem Kesari, namun keterangan itu tetap belum sanggup menjawab pertanyaan kapan sejatinya tempat suci ini didirikan.
Masih terkait dengan berdirinya Pura Er Jeruk. Ada sumber yang menyebutkan tempat suci ini konon didirikan sekitar abad-10 dan termasuk pura tua di Bali. Hal itu dibuktikan dengan wujud fisik bangunan pura yang mirip dengan palinggih di Pura Kehen, Bangli. Seperti adanya bedawang nala terbelit dua ekor naga (Basuki dan Anantabhoga) pada bagian dasar palinggih utama. (Pura Kehen sendiri memiliki sumber otentik berupa prasasti tembaga yang diperkirakan dibuat sekitar abad  9 sampai 13 M)
Berikutnya, dalam lontar Dewa Purana Bangsul disebutkan Pura Er Jeruk digolongkan sebagai satu dari enam pura besar yang sering disebut  Pura Sad Kahyangan (selain pura Besakih, Batukaru, Watuklotok, Sakenan, dan Tanah Lot). Ada juga menyebut-nyebut sebagai dangkahyangan, karena sempat menjadi petilasan Danghyang Nirartha ketika melakukan perjalanan suci di tanah Bali. Bahkan warga sekitar meyakini pohon kampuak yang tinggi besar di jeroan adalah tongkat sang maharsi yang sengaja ditancapkan sebelum meninggalkan tempat suci ini.
Mana yang tepat, belum bisa dipastikan memang. Justeru penduduk Sukawati dan sekitarnya memberikan status pura ini sebagai pura subak. Tempat suci bagi mereka yang berprofesi menjadi petani. Terbukti, semua subak di Sukawati yang berjumlah 13 subak, menjadi pangempon (penanggungjawab) Pura Er Jeruk. “Pura ini memang difungsikan untuk memohon kesuburan tanah dan tanaman para petani. Di pura ini pula kami sebagai petani memohon kepada Hyang Widhi agar tanaman diberi keselamatan dan hasil panen yang melimpah,” Pakaseh Gede Pura Er Jeruk, Made Rudin menuturkan.
Sebagai bentuk tanggungjawab petani terhadap pura Er Jeruk, maka tiap kali berlangsung piodalanpiodalan Pura Er Jeruk jatuh setiap hari Rabu Kliwon wuku Pahang—segalanya menjadi urusan warga subak. Mulai dari pendanaan hingga pelaksanaan upacara. “Pas odalan nadi yang berlangsung selama tiga hari, warga yang tangkil sangat ramai. Mereka datang dari berbagai daerah di Bali,” tegasnya Rudin.
Struktur bangunan Pura Er Jeruk tak beda jauh dengan pura yang umumnya ada di Bali, Pura seluas 70 meter x 30 meter ini terbagi tiga bagian (tri mandala). Halaman jeroan (utamaning mandala), jaba tengah (madyaning mandala), dan halaman jaba sisi (nistaning mandala).
Bangunan di jaba sisi selain candi bentar, ada bale kulkul, dapur, sumur, tugu pemujaan Batar Wisnu, palinggih Dugul apit lawang , dan bale wantilan. Selain itu, tepat di pinggir jalan di bawah sebuah pohon kampuak, terdapat bangunan yang cukup istimewa, yakni palinggih Pasimpangan Ida Ratu Mas Macaling (Ratu Gede Nusa). Istimewa, karena bangunaan ini oleh penduduk setempat amat dikeramatkan. Setiap sasih kaenem (bulan ke enam) warga subak selalu mengadakan pacaruan di pelinggih ini untuk memohon keselamatan. Setelah itu mereka mendapat gelang berbahan benang tri datu (warna merah, putih, dan hitam) sebagai tanda mohon keselamatan.
Di jaba tengah, tepatnya pada depan candi bentar menuju ke jeroan, terdapat palinggih Ratu Brayut yang diyakini sebagai tempat mohon keturunan 9anak). “Sudah banyak terbukti, kok. Tak sedikit wargawarga yang nunas ke sini dan berhasil memperoleh keturunan,”tegas Rudin sedikit berpromosi.
Sedangkan bagian utama bangunan yakni jeroan pura terdiri tak kurang 26 pelinggih, di antaranya Meru tumpang lima (pelinggih pokok) sebagai stana Ida Batara Putra Jaya, Meru tumpang tiga palinggih Danghyang Nirartha, dan palinggih Menjangan Seluang sebagai pasimpangan Ida Batara Dinaspa. Dewa putra, ws.

 

Kisah Aneh dari Pohon Kampuak

Bagi warga yang datang ke tempat suci, sifat hati-hati dan menghormati segala yang ada di tempat itu patut terus dijaga. Jika sampai berlaku sembrono, bisa saja akan muncul kejadian aneh tapi nyata adanya. Seperti peristiwa yang dialami Made Rudin di Pura Er Jeruk. Saat itu dia bersama warga lain hendak melakukan penebangan dahan pohon kampuak yang tumbuh di jeroan pura. ”Waktu itu menjelang piodalan, saya bersama beberapa pengayah berencana menebang beberapa cabang pohon agar terlihat bersih. Kami menarik dahan itu dengan tali. Tiba-tiba saya merasa lemas, tubuh ini terasa sempoyongan. Begitu berusaha menarik tali, justru saya yang ditarik dahan. Saya sangat kaget. Untunglah semuanya berjalan lancar,” tutur Rudin penuh semangat.
Tak berhenti sampai di situ, pas dia pulang ke rumah sehabis ngayah, di depan pintu kamarnya sudah menanti seekor ular berwarna kuning keemasan. Tanpa disengaja, ular itu tersenggol kakinya, tapi ternyata tidak menggigit. Akhirnya ia mengambil karung, dan memasukkan ular itu ke dalamnya. “Saya yakin ular itu adalah unen-unen Ida Batara di Pura Er Jeruk,” katanya mengenang.
Bukan hanya pada pohon kampuak. Rudin juga mengingatkan tentang keramatnya palinggih Ratu Gede Macaling. ”Jangan sembarang kencing atau berkata-kata kotor di sana,” ingatnya. Dia bercerita, pernah ada orang yang kencing sembarangan di areal itu, tiba-tiba orang itu terjatuh dari kendaraannya. Waktu di-tunasin, ternyata diakibat kesalahan yang dilakukan di dekat palinggih ratu Gede Macaling. Akhirnya orang itu membayar penauran, menghaturkan sesaji sebagai bentuk permohonan maaf serta menebus kekhilafan yang telah dilakukan. dp

 
 
The Villa at Echo Beach