Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
KESEHATAN

Jinten Hitam Untuk Menghalau Gatal dan Eksim

Made Aripta Wibawa, SH, M.Ag


Tubuh dapat memberikan pertanda apabila ada organ tubuh yang tidak beres. Indikasi adanya penyakit ditandai dengan banyak pertanda dalam tubuh : pilek, batuk, sulit buang air besar dan kecil, menstruasi tidak lancar, pusing, mual dan ciri fisik lainnya adalah tanda-tanda fisik yang mudah dibaca sebagai bentuk dan gejala ada organ tubuh yang tidak beres. Sangat terbiasa terlambat mencegah dan terlalai untuk mengurus kesehatan sehingga menjadilah penyakit eksim kronis.

Bila manusia sadar akan keterbatasannya dan konsentarsi pikirannya menuju pada titik asal mula, maka semua getaran vibrasi dan energi  prana yang ada pada penggalan cahaya mikrokosmik berasal dari yang Tunggal dari sumbernya yang asli yaitu Entitas Agung. Bila demikian persoalannya berarti manusia tidak perlu membanggakan diri terlalu jauh bahwa dirinyalah yang menyembuhkan penyakit.
Prana yang berada di setiap sel dan sudut dunia juga berasal dari-Nya, termasuk prana yang ada di dalam tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat-obatan. Atas dasar itu para praktisi pengobatan medis (dokter, balian, tabib) tidak mengingkari akan keterbatasan manusia untuk dikatakan sebagai Penyembuh. Manusia hanya instrumen dari pengaksesan dari kekuatan supra ektoplasmik yang dianugrahi Tuhan Yang Maha Kuasa (Ida Hyang Widi Wasa) sebagai perpanjangan dari kekuatan supra natural lainnya.
Akibat gerusan tehnologi, makanan menjadi tidak sesederhana yang dulu diwariskan nenek moyang kita. Banyak makanan yang dibuat dengan beragam cita rasa, bervariasi bentuk dan beraneka ragam bahan sehingga pencernaan menjadi kesulitan mencerna.
Bumbu-bumbu dapur ternyata mengandung khasiat obat herbal untuk menyembuhkan multi penyakit. Salah satunya adalah jinten hitam, dapat dijadikan obat herbal yang mengandung khasiat multi efek.
Jinten hitam atau biji hitam dalam bahasa latin disebutnya sebagai Nigella sativa atau dalam bahasa Arab disebutnya abbatusauda yang oleh masyarakat Timur (India) menyebutnya Kalounji.
Disebut tanaman jinten atau biji hitam (black seed) karena memang bijinya berwarna hitam, berbentuk lanset, memiliki tiga tulang dan daunnya berbulu. Bunga jinten hitam memiliki kelopak bunga.
Jinten hitam menguatkan imunitas, memelihara, menjaga dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Dalam sistem kekebalan tubuh manusia, jinten hitam menjadi satu-satunya tanaman yang memiliki senjata khusus untuk menghancurkan segala penyakit.
Penelitian menunjukkan jinten hitam mengandung :  asam lemak, karoten, asam amino, protein dan karbohidrat, mengandung 100 unsur untuk imunitas yang menyembuhkan kanker, menyembuhkan radang persendian dan mengatasi impotensi jika dikonsumsi secara teratur. Sangat baik dikonsumsi untuk memelihara kesehatan yang berhubungan dengan kulit dan kuku, mencegah kerontokan rambut.
Berdasarkan data ilmiah maka jinten hitam sangat bermanfaat untuk penyakit gatal-gatal, alergi, eksim, jerawat, flek pada wajah, luka pada kulit atau yang berhubungan dengan darah yang kotor. Menekan kadar gula darah (hypoglemik), menormalkan tekanan  darah, memberikan asupan kandungan, termasuk memiliki peluang besar untuk mengatasi kanker .

Di bawah ini khasiat jinten hitam banyak dimanfaatkan untuk penyakit :
Kolestrol Tinggi
Jintem hitam ditambah dengan sambung nyawa, dan  umbi daun dewa masing-masing 200 g lalu. Semua bahan ditumbuk halus dicampur air  lalu direbus setelah mendidih saring. Diminum 2 X 1 sehari (pagi dan malam setelah makan). Disarankan bagi orang yang memiliki kolestrol tinggi, konsumsi buah (jus buah) setiap hari menjelang tidur atau makanan yang banyak mengandung serat.

Diabetes Militus (DM)

Jinten hitam, daun salam, sambiloto  (masing-masing 100 g) dan  1 rimpang umbi daun dewa. Lalu bahan ini ditumbuk halus dan direbus sampai mendidih lalu disaring. Minum 2 X 1 sehari (pagi dan malam setelah makan)

Jerawat (Eksim atau gatal-gatal)
Jinten hitam 200 g, ½ rimpang jahe merah,  50 g seledri, 100 g daun tulasi, 10 biji  merica hitam ditumbuk halus lalu direbus sampai mendidih dan disaring. Konsumsi  2 x 1 sehari.
Usahakan setiap hari menkonsumsi air kelapa (degan) yang ditambah dengan sedikit garam dan jeruk nipis. Minum pada siang hari, cukup sekali. Maka kulit dan muka akan menjadi cerah dan bercahaya.

Ramuan untuk kanker :

Jinten hitam 150 g. ½ rimpang temulawak,  1 rimpang umbi daun dewa, 100 g sambiloto dan temu putih. Semua bahan-bahan ini ditumbuk sampai halus direbus sampai mendidih dan saring. Minum 3 x 1 sehari (pagi, saing dan malam).

Tips sehat :
Jangan minum air setelah makan. Minum dilakukan sebelum dan sesudah 2 jam makan. Logikanya makanan yang sedang dicerna oleh api pencernaan akan menjadi padam sehingga makanan yang kita kunyah belum sepenuhnya dapat dikunyah secara sempurna karena api penceranaannya mati oleh air yang diminum sehingga menjadi dingin.  Akibatnya juga kotoran tinja akan menjadi keras akibat mengunyah makanan yang kurang sempurna. Bila haus, minum hanya sekedar melonggarkan di bagian kerongkongan.
Pastikan makan buah 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Logikanya, buah mengandung Vit.C yang kalau dikonsumsi setelah makan, maka vitamin C larut dalam karbohidrat, sehingga vitamin C yang kita konsumsi menjadi sia-sia.
Usahakan makan buah tidak berbarengan dengan buah semangka sekaligus. Buah apapun yang anda makan jangan dikonsumsi berbarengan dengan buah semangka. Buah semangka sangat cocok dikonsumsi pada siang hari karena banyak mengandung air dan bagus untuk mencegah penyakit  ginjal. S

Budidaya Tanaman Herbal

Dari Flu Hingga Kanker
Usianya sudah mendekati kepala lima. Namun, penampilan wanita bernama lengkap Ida Ayu Rusmarini itu  masih terlihat bugar dan energik. Kentara, ia tipe wanita yang peduli merawat tubuh, senantiasa menjaga penampilan. ”melinggih dumun nggih, tiyang kari wenten pasien (duduk dulu ya, saya masih ada pasien),” sapanya ramah saat SARAD berkunjung ke kebun agrowisata Usadha Puri Damai miliknya, yang berlokasi di Banjar Tunon, Desa Singakerta, Ubud Gianyar.
Kebun seluas 1 hektar itu terasa sejuk dan rindang, ditumbuhi berbagai tanaman herbal, berkhasiat obat. Tampak di antaranya pohon pace (mengkudu), Mahkota Dewa, Belimbing Wuluh, Kecibling dan masih banyak lagi.
Tak berapa lama, sang empunya kebun keluar, menghantar pasiennya yang seorang bule. ”Ia menjalani terapi pijat untuk memulihan daya tahan tubuhnya,”ungkap Ibu Dayu, panggilan singkatnya, mengomentari tentang pasiennya. Wawancara berlangsung hangat di bawah rindangnya pepohonan herbal.
Dijelaskan, polusi lingkungan dan pola makan yang salah, kerap memicu berbagai gangguan kesehatan dalam kehidupan manusia. Padahal menjaga kesehatan raga, juga merupakan perwujudan rasa syukur kita pada Sang Pencipta.
“Back to nature”  ungkapan tersebut kiranya menjadi spirit bagi lahirnya Usadha Puri Damai yang memiliki visi dan misi mengembalikan alam kepada manusia, sekaligus memberdayakan alam bagi kehidupan manusia, melalui usaha pengobatan tradisional.
 “Pada awalnya saya memiliki visi ingin kembali ke alam, ada hasrat kembali ke pengobatan tradisional, sedih melihat pengobat di Bali banyak yang telah meninggalkan kewajibannya,” Tutur jebolan Fakultas Pertanian sekaligus Master Pertanian UNUD itu.
Menurutnya, banyak pembuat obat di Bali telah meninggalkan tradisi memanfaatkan tanaman khas Bali sebagai obat, padahal di Bali banyak tanaman berkhasiat obat.
Kecibling, misalnya, tidak hanya dapat dimanfaatkan  sebagai obat ginjal, tetapi juga ampuh untuk obat kanker. Inilah kelebihan tanaman obat, tidak hanya bermanfaat pada satu jenis penyakit tertentu saja, tapi keseluruhan.,”jelas istri I Wayan Damai itu.
Berbekal warisan leluhur di bidang pengobatan tradisional, Ibu Dayu yang juga berprofesi sebagai pengajar di Fakultas Kesehatan (Usadha) UNHI ini, tergerak melakukan penelitian tanaman berkhasiat obat, sekaligus meramunya.
Suntuk melakukan penelitian berpuluh tahun, ditambah pengalaman turun temurun,  terwujudlah beberapa ramuan hasil olahannya, dari ramuan untuk penyakit ringan seperti flu, maag, panas tinggi sampai penyakit kanker.
Selain mengembangkan ramuanherbal tradisional, kebunnya juga dimanfaatkan sebagai agrowisata penangkaran tanaman langka, hias, dan liar yang berkhasiat obat.
Dalam penangkaran tanaman berkhasiat obat ini, Ibu Dayu yang masih aktif bekerja di Badan Lingkungan Hidup Pemda Gianyar itu mengembangkan program melestarikan tanaman obat tradisional, salah satunya mendidik siswa-siswa sekolah dasar di Kabupaten Gianyar untuk menanam tanaman obat.
Proses pembelajaran dimulai dari cara penanaman, pengeringan, hingga meramu tanaman menjadi obat tradisional, bahkan program ini telah dikompetisikan di tingkat nasional.
Dengan konsep “kembali ke alam”, Puri Damai hadir dengan metode pengobatan yang berbeda, mengkombinasikan ala tradisional dan modern, seperti yang Ibu Dayu katakan  “Alamlah yang sesungguhnya dapat mengatasi penyakit yang dialami oleh manusia,  sudah selayaknya manusia kembali menjadi bagian dari alam tersebut, mengingat penyakit yang berkembang kini lebih difaktori oleh permasalahan lingkungan”. Khairunissa, dw
 
 
BPR Kanti