Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
NYAMA BRAYA

Puisi Tragis Dukun Tengger

Dukun di Tengger bukan berurusan dengan hal keduniawian seperti memberi jimat agar dapat beasiswa, cepat lulus, pulang, kerja lalu kawin. Swadarma dukun berkaitan dengan siklus kehidupan manusia: kelahiran-kematian. Bisa berujung tragis.

Bila orang mendengar kata ’dukun’, secepat kilat bak mi instant akan berpikir negatif bahwa dukun adalah sebutan untuk mereka yang mempunyai kekuatan supranatural dan digunakan untuk menyembuhkan, bahkan bisa mencelakai orang lain. Konotasinya bahwa dukun adalah orang yang bisa ilmu hitam. Pandangan ini bisa dimengerti karena media, entah cetak maupun visual senantiasa gencar menampilkan sosok dukun yang mengarah ke pengertian negatif.
Media cetak misalnya, banyak memberitakan kasus-kasus dukun cabul; juga media visual seperti film horor Indonesia, sosok dukun selalu digambarkan sebagai ’tokoh hitam’ dilawankan dengan ’tokoh putih’ sang penyelesai masalah yang selalu hadir membawa kemenangan di akhir ceritera. Bahkan ada lagu dangdut yang ’memojokkan’ profesi dukun dengan cara vulgar: ”Ada mbah dukun yang sedang mengobati pasiennya....”.
Pendeknya, profesi dukun dibentuk sedemikian rupa bukanlah profesi yang menjanjikan. Jarang para anak-anak bercita-cita menjadi dukun. Demikian pula dada para orang tua akan berdegup kencang bila anak gadisnya berurusan dengan dukun.
Tapi bagi masyarakat Tengger, Jawa Timur, profesi dukun adalah jabatan yang terhormat — walau (tetap saja) tidak bergelimang harta.
Dukun yang dimaksud dalam masyarakat Tengger adalah beliau yang mempunyai tugas sebagai pemimpin dan pemuput upacara adat di Tengger: dari kelahiran hingga kematian.
Ini artinya, setiap orang Tengger selalu berurusan dengan dukun bukan saja pada urusan hasrat keduniawian manusia seperti minta jodoh, pesugihan (duit), jabatan atau bahkan membuat sesama menderita, bahkan koit. Dukun selalu hadir dalam setiap pentahapan siklus kehidupan orang Tengger.
Begitu pentingnya peran dukun bagi masyarakat Tengger, sampai sampai penulis buku Ayu Sutarto menyebut dukun sebagai penerus aktif tradisi Tengger. Inilah sebabnya, dukun dalam kehidupan sehari-hari selalu mendapat sorotan masyarakat. Tatapan mata masyarakat terhadap dukun ini bak kamera yang selalu bergerak setiap detik, tanpa henti, mengawasi perilaku dukun. Sang dukun pun bak selebritis 24 jam tanpa pengacara. Karena perilaku dukun senantiasa diawasi dan ucapannya ditunggu-tunggu oleh para tetangga dalam empat penjuru mata angin: kajo-kelod (Utara-Selatan) dan kangin-kauh (Timur-Barat).
Bandingkan dengan balian atau pemangku di Bali yang hanya dicatat pernyataan-pernyataannya oleh masyarakat saat ia kerauhan. Kalau tidak kerauhan sang balian atau pemangku berperilaku (dan diperlakukan) seperti manusia biasa.
Dukun menghadapi resiko sosial-psikologis yang tidak enteng ketika sebagai manusia ia ’kepleset’ secara manusiawi. Stigmaisasi masyarakat terhadap pribadi dukun pun menyebar secepat kilat bak mi instant dan sang dukun — ini repotnya — tak bisa membela diri, karena ia adalah selebriti 24 jam tanpa pengacara.
Raha Winarko, salah seorang mahasiswa yang punya ’hak’ untuk menjadi dukun mengisyaratkan sisi tragis dukun Tengger. ”Ibarat berjalan di jembatan tua, di jurang yang curam”, katanya, mencoba berpuisi untuk menggambarkan kehidupan keluarga dukun di tengah-tengah masyarakat Tengger.
Pemuda asal desa Tosari, Pasuruan, Jawa Timur ini juga mengibaratkan aktivitas dukun itu bagai ’seorang raja daerah’, karena: ”Begitu sedikit ngomong langsung didengarkan dan dilaksanakan masyarakat. Jadi, dukun kalau ngomong harus super hati-hati agar tidak ada salah ucap yang menyakiti orang lain” beber penghobi musik diatonis ini.
Karenanya, dukun sebagai orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab di masyarakat Tengger adalah orang-orang pilihan serta dipercayai sekaligus diyakini mampu menjalankan sasana atau wiku sebagai tetua adat di lingkungan masyarakat Tengger. Paling tidak seorang dukun harus melalui ujian dukun atau yang disebut dengan mulunen.
Pengangkatan dukun dilaksanakan melalui sebuah upacara yang dilaksanakan di Pura Luhur Poten Bromo pada saat sasih kasada. Upacara ini dikenal dengan upacara mulunen. Upacara ini disaksikan oleh para dukun dari seluruh desa di Tengger. Seorang dukun dikatakan lulus apabila mereka yang mulunen (dilantik) dapat mengucapkan japa mantra ararik, yaitu keseluruhan ragam mantra, secara lengkap dan lancar (hafal). Upacara ini dianggap sah bila disetujui oleh umat dan dukun-dukun lain yang menyaksikan upacara mulunen tersebut.
Selain itu, sorotan kamera masyarakat selalu on, mencatat track record bakal dukun maupun dukun yang sudah ’jadi’. Itulah sebabnya Ayu Sutarto (2007) berani menuliskan bahwa mantra yang diucapkan dukun Tengger bukanlah mantra ngelmu cemeng, mantra-mantra yang digunakan untuk mencelakai, menyakiti dan membunuh orang lain. Mantra-mantra yang diucapkan dukun Tengger berisi pujaan dan permintaan pada Hong Pukulun agar memberi perlindungan dan kesejahteraan bagi desa dan masyarakat Tengger.
Sebagian besar dukun di Tengger selama ini merupakan keturunan langsung dari orang tua yang sebelumnya telah menjabat sebagai seorang dukun. Artinya, apabila seorang kakek telah menjadi dukun maka akan berlanjut kepada sang anak dan berlanjut lagi kepada cucu. Apabila tidak mempunyai keturunan atau anak laki-laki maka yang diangkat menjadi dukun adalah menantu laki-laki atau tidak mempunyai keturunan sama sekali maka yang ditunjuk sebagai dukun adalah keponakan laki-laki baik dari pihak bapak ataupun ibu. Bila dalam keluarga tidak ada keturunan laki-laki atau ada namun mereka menolak untuk menjadi seorang dukun maka jabatan dukun akan berpindah kepada keluarga atau orang lain.
Profesi dukun di Tengger memang beda dengan sarjana lulusan universitas agama terkenal yang sudah merasa pintar setelah menempuh masa 3-4 tahun kuliah. Dukun di Tengger justru sebaliknya, terus belajar, tetap menjaga — pinjam istilah Leo Kristi — ’secangkir air dalam hati’ agar tidak tumpah, yaitu melakukan aktivitas asketik: puasa.
”Selain untuk mengontrol ucapan agar tidak menyakiti orang lain, puasa juga digunakan dukun untuk melakukan komunikasi dengan para leluhur di Tengger. Biasanya puasa mutih yang sering dilakukan dukun Tengger,” beber Raha Winarko. Dengan puasa pula, dukun Tengger bisa mengontrol diri untuk selalu tetap setia pada swadarma. Sebab, bila ketentuan swadarma sengaja tidak dipenuhi dan sang dukun bersikap seperti politikus, pura-pura buta dan tuli maka akan berakibat fatal: berurusan dengan kekuatan niskala.
”Pernah ada satu dukun yang diam saja saat sesajen untuk upacara tertentu kurang. Ia kini mengalami kepek, lumpuh sebelah, tidak bisa melakukan aktivitas dukun lagi,” ujar pemusik yang kini sedang sibuk mengarap lagu berjudul Asap Digulung Angin ini.
Bisa jadi Raha benar, kehidupan dukun seperti puisi, ’berjalan di jembatan tua, di jurang yang curam’. Selain berresiko secara niskala, dukun juga menghadapi resiko sekala (keduniawian). Kisah singkat Mbah Djamat, yang wajahnya terdapat pada buku yang ditulis oleh Simanhadi Widyaprakoso, berjudul Masyarakat Tengger Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo (1994), bisa dijadikan ilustrasi:
Orientasi hidup Mbah Djamat jelas sejak ia masih muda: menjadi dukun. Sebelum memangku jabatan sebagai dukun gede, ia pun sempat menjadi asisten dukun yang di sebut legen. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia sempat bekerja sebagai tukang sapu dan pengawai di bagian Kepala Urusan Kesejahteraan desa. Ia menikah dengan gadis setempat dan dikaruniai seorang putri. Belakangan ia menikah lagi karena pertimbangan etis yang tidak ringan. Perempuan yang dinikahinya memiliki persoalan yang bukan main rumit sehingga ia memutuskan menikah dengannya. Dari pernikahan kedua ini ia dikaruniai dua putra-putri.
Waktu terus berjalan. Putri dari istri pertama Mbah Djamat menikah dengan pemuda beragama Semit dan memiliki lima putra putri. Sang pemuda kemudian menghilang tak kembali setelah pamit dengan alasan klasik ’mencari kerja’. Bukan hanya itu, cucu perempuan Mbah Djamat (dari garis istri pertama) pun dijebak masuk — dengan iming-iming pekerjaan — dalam api asmara dengan pria beristri beragama Semit hingga hamil. Sang cucu perempuan Mbah Djamat ’dipaksa’ untuk pindah agama dari agama Hindu ke agama Semit. Mbah Djamat berang tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara sorotan kamera dari masyarakat empat penjuru mata angin kangin-kauh dan kajo-kelod terus on. Artinya, keluarga Mbah Djamat jadi bahan — pinjam istilah Elvi Sukesih — ’bisik-bisik tetangga’. Namanya juga selebritis 24 jam tanpa pengacara, Mbah Djamat tidak bisa membela diri di hadapan ’pengadilan’ masyarakat. Ia tertekan, merasa gagal sebagai kepala rumah tangga dan bolak-balik masuk rumah sakit.
Mbah Djamat meninggal pada tahun 2008 lalu.
Amelia Wiwit Mujiastuti (Tengger), Jayakumara
 
 
BPR Kanti