Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
PERISTIWA

Setelah Pesta Usai
(Refleksi Pemilu 2009)

Kepercayaan masyarakat diletakkan pada pundak wakil rakyat terpilih. Duduk dalam pusaran kekuasaan, integritas dan ketahanan iman menjadi penting. Fenomena menarik, bagaimana jika wakil rakyat itu seorang pelawak ?

Pemilu, pesta demokrasi terbesar, di negeri besar Indonesia, telah usai. Layar panggung hajatan  agung telah diturunkan, untuk dibuka  4 tahun lagi. Sudut-sudut jalan yang selama ini coreng-moreng dipenuhi poster dan gambar para caleg, kini sudah tampak bersih. Pohon-pohon perindang sesak ditempeli dan dipaku untuk tujuan kampanye, kini seakan bisa bernafas lega. kehidupan kembali normal. Tentu, dari helatan sebesar pemilu, harus selalu ada yang dicatat dan dikenang.
Pertama, dan yang paling patut disyukuri, Pemilu berjalan aman dan damai. Tak ada ’kejadian luar biasa’ yang terjadi, yang bisa, misalnya, mengganggu stabilitas bangsa. Pun di Bali.
Dari pantauan SARAD saat pencontrengan 9 April lalu di beberapa kabupaten, semua tampak lancar dan terkendali. Warga pemilih menggunakan hak pilihnya dengan baik, meski tidak sedikit yang memilih tidak memilih. ’Riak-riak’ kecil tentu ada. Dari isu money politik, ’serangan fajar’ maupun isu oknum yang menggiring warga untuk memilih partai tertentu. Tapi peristiwa ini ’nampak kecil’ di tengah antusias masyarakat untuk tetap menjaga kondisi yang aman pasca pemilu.
Hal yang patut dimaknai, masyarakat terlihat semakin dewasa dalam berdemokrasi. Demokrasi, sebagai sebuah sistim politik, tentu merupakan pilihan, di antara sistim sistim lain. Dan ketika bangsa ini sudah mantap memilih sistim demokrasi, tampaknya masyarakat sudah berada di rel yang benar.
Kedua, masyarakat pemilih dengan tekad sepenuh hati telah memilih wakil-wakilnya, orang yang dipercaya menjadi ’penyambung lidah’, penyampai keluh kesahnya nanti. Di Bali, jumlah pemilih mencapai 2,6 juta orang. Tersedia 399 kursi bagi mereka yang berniat tulus mengabdi menjadi penyuara hati masyarakat, baik di DPRD I, DPRD II, DPR-RI maupun DPD.
Terakhir, ternyata minat menjadi wakil rakyat begitu tinggi, terbukti dari 399 kursi yang tersedia untuk Bali, diperebutkan oleh 5065 orang caleg. Tentu ada sekitar 4666 orang yang kecewa, karena tak terpilih. Tapi, sekali lagi, seperti inilah memang seharusnya demokrasi, sistim yang telah disepakati bersama. Betapa indahnya, jika para caleg yang tak terpilih segera melupakan kekecewaannya, legowo, dan segera bahu-membahu bersama membangun daerah ini. Sebaliknya, betapa tak eloknya jika karena kecewa melakukan hal-hal destruktif yang sama sekali tidak berfaedah. 
Ucapan selamat tentu layak disampaikan kepada semua wakil rakyat terpilih.  Fenomena lain, ada dua orang wakil DPD Bali yang berasal dari seniman yang secara mengejutkan memperoleh suara yang signifikan (I Wayan Lodra dan Arimbawa Lolak). Fenomena ini sudah ditangkap SARAD dengan menurunkan rubrik ”Idola Baru Bali:Seniman-politikus (SARAD edisi 103, Nop 2008). Jangan remehkan pelawak. Mungkin itu pesan penting yang terdapat dalam pemilu di Bali pada masa ini. Betapa tidak, seorang pelawak Bali terpilih dalam lima besar calon anggota Dewan Pertimbangan Daerah.

Jika akhirnya, terpilih tentu ini menjadi catatan tersendiri, baik bagi Bali, maupun bagi dunia seni dan lawak. Dua orang ini akan bergabung bersama politikus-politikus lainnya menjadi penyara aspirasi rakyat.
Di pundak merekalah kini kepercayaan masyarakat diletakkan. Tentu semua menunggu janji-janji manisnya waktu kampanye. Tugas yang tak gampang, memang. Di posisi ini, perlu ketahanan mental dan integritas agar tidak terjebak dan menjadi budak kuasa. Semoga kecurigaan Lord Acton bahwa ”kekuasaan cenderung korup” tidak terbukti.
Mari tunggu kiprah wakil rakyat yang baru, sambil bersenandung lagu legendaris Iwan Fals; Wakil Rakyat Seharusnya Merakyat //Jangan tidur waktu sidang soal rakyat... Dewa Ketut Putra

Kritik Tak Santun Berbuah Marah
Gara-gara tulisan Jayakumara berjudul  “Notulen Kebudayaan Bali” di SARAD no.107 Maret 2009, Pihak Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud) merasa perlu mengadakan acara Bedah Buku (lagi) berjudul Bali Dalam Kuasa Politik karangan I Nyoman Darma Putra. Acara diadakan di Gedung Ngurah Bagus Fakultas Sastra, 17 April 2009. Menghadirkan 3 orang pembicara, antara lain Dewa Gede Windhu Sancaya, Hardiman dan Jayakumara sendiri.
Dekan Fakultas Sastra Unud, Wayan Ardika dan dosen Kajian Budaya Emeliana Mariah menilai tulisan itu tidak santun. ”Masak cendekiawan Kajian Unud dikatakan pikun-pikunan,” ujar Ardika saat berpidato membuka acara diskusi.
Salah seorang pembicara, Windhu mengatakan, pengarang buku yang baik semestinya tidak boleh mengomentari kritik yang ditujukan kepada karyanya, karena ia sudah lebur di dalamnya, dan pembaca berhak melakukan kebebasan interpretasi. ”Istilahnya The Death of Author, yakni hilangnya identitas pengarang dalam karyanya, sehingga ia bukan lagi menjadi bagian dari karyanya,” tegas Windhu.
Seakan Windhu ingin mengingatkan kepada Nyoman Darma Putra, bahwa ia tak perlu marah-marah saat karyanya dikritik. Reaksi ’marah’ Darma Putra terlihat dari tulisannya yang berjudul ”Pan Balang Tamak dari Tembau”. ”Sebagai kepala perpustakaan, dia tak hanya berharap bisa mendapat kredit point dari petinggi kampusnya yang bermarkas di Desa Tembau sebagai orang yang ikut mempopulerkan lembaga lewat media massa, tetapi juga menunjukkan SIM untuk menimbang buku,” tulisnya.
Jayakumara sendiri mengatakan, ”Sama seperti Darma Putra, saya juga ingin memberikan sumbangan pada Bali, yaitu dengan cara mengkritik,”

Persaudaraan Getih Abumbung
Persaudaraan manusia getih-abumbung diwujudkan oleh Sekaa Teruna Yowana Sathya Dharma, Banjar Puseh, Ubung Kaja, melalui kegiatan donor darah setiap empat bulan. Kegiatan donor darah ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Donor Darah Indonesia Unit Banjar Puseh (PDDI-PUSEH), Perhimpunan Donor Darah Indonesia Cabang Denpasar (PDDI-DENPASAR), dan Palang Merah Indonesia Provinsi Bali (PMI-BALI). Kegiatan donor darah ini dilaksanakan pada Sabtu, 11 April 2009 di Banjar Puseh, diikuti oleh 100 orang, terdiri atas krama banjar, warga sekaa teruna, krama tamiu, dan undangan. Sebelumnya, kegiatan yang sama, juga sudah dilaksanakan empat bulan yang lalu pada 27 Desember 2008, sedangkan kegiatan serupa akan dilaksanakan pada 16 Agustus 2009 yang akan datang.
Kegiatan ini dimaksudkan hendak mengungkap kesadaran krama banjar bahwa manusia terikat dalam persaudaraan getih-abumbung, karena kebutuhan akan darah tidak bisa diganti dengan darah makhluk lain, selain darah manusia. Hal ini diungkapkan oleh Ketut Budiarsa, kelihan Banjar Puseh, selain itu, juga dikatakan bahwa kegiatan donor darah ini ditujukan untuk membuka hati krama banjar bahwa manusia harus saling memuliakan keberadaannya masing-masing. Mengingat, manusia akan dapat tumbuh dan berkembang normal, bila mereka hidup dalam lingkungan sosial-budaya yang sarat dengan nilai-nilai moral dan pendidikan. “Pesan moral dan kemanusiaan inilah yang hendak disampaikan melalui donor darah ini”, tegasnya.
Malahan Wayan Nardana, panglingsir Banjar Puseh, menegaskan, “Hindu, baik sebagai agama maupun kebudayaan mengajarkan bahwa manusia dengan akal-budinya merupakan makhluk yang mampu mengelola dirinya sendiri dan lingkungannya demi kebahagiaannya. Tidak ada kebahagiaan yang diperoleh tanpa yadnya sehingga manusa yadnya, berupa donor darah merupakan perbuatan mulia untuk mewujudkan kebahagiaan bangsa manusia”. Ditegaskan bahwa donor darah adalah implementasi manusa yadnya dalam dunia praksis kehidupan, sekaligus hendak menyatakan bahwa bangsa manusia terikat dalam persaudaraan getih-abumbung. Ini merupakan ide mewujudkan nilai-nilai universal-global dalam wilayah tradisional-lokal, seperti persaudaraan dan solidaritas sosial, pemuliaan moral dan kemanusiaan, sebagaimana banyak diafirmasi dalam dunia sosial modern, ternyata tidak ditabukan dalam wilayah tradisional. dw

KMHDI Suarakan Pluralisme
Anak-anak muda ternyata belum lupa nasionalisme. Semangat untuk mempertahankan NKRI dalam kebinekaan tampak bergelora saat  KMHDI( Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) Bali mengadakan diskusi antar komponen organisasi pemuda, tampak diantaranya dari Ahmadiyah, GMNI, HMI, PMII, GMKI dan   lain-lainnya.  Diskusi yang hangat ini berlangsung di sekretariat KMHDI Bali Jl.Akasia, Denpasar, pada 6 April lalu.
Acara dibuka dan dipandu oleh Ketua KMHDI Bali, Ketut Sae Tanju. Dalam penghantarnya, Tanju memberi rambu-rambu tentang adanya ancaman terhadap pluralisme dan kebinekaan, yang selama ini menjadi ciri khas bangsa. ”Disahkannya UU pornografi menjadi ancaman terhadap pluralisme Indonesia. Hal ini perlu diwaspadai,” Tegasnya.
Suresh Kumar, seorang anggota DPP KMHDI memberi usulan untuk tetap menegakkan NKRI dan UUD 1945 yang merupakan landasan bangsa yang pluralis ini. ”Pancasila, UUD 45 dan NKRI adalah harga mati,” ujar lelaki asal Medan itu.
I Gede klip Darmaja, ketua  GMNI ( Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) cabang Bangli, yang hadir dalam kesempatan itu, menyatakan siap membantu masyarakat dengan melakukan pengawasan terhadap kinerja dan program pemerintah. Menurutnya, GMNI selalma ini secara konsisten telah melakukann kaderisasi untuk membela kedaulatan rakyat dan mengutamakan kepentingan persatuan bangsa.
Acara diakhiri dengan menyanyikan sebuah lagu bertema nasionalisme. Di sela-sela acara ramah tamah, tampak dua ekor ayam sedang beradu di dekat kamar mandi sekretariat KMHDI. gs             

   
 
 
BPR Kanti