PINTU HATI
Desis Ular Suci
Apa bayangan Anda perihal karakter orang yang dianggap suci? Bila rujukannya adalah kitab-kitab susastra keagamaan, sangat mungkin jawaban itu cenderung seragam: tenang, paras cerah bersih, bibir bersimbah senyum ranum, tutur kata lemah lembut, tidak marah meskipun dihina, tetap tidak membalas walaupun digebuki berkali-kali, dan seterusnya. Seorang suci dibayang-bayangkan sebagai dia yang gemar berkorban—tak jarang malah mengorbankan diri dan anggota keluarga sendiri.
Kebanyakan tradisi memang mencitrakan orang suci itu serba ideal, tiada cacat cela. Tak heran bila banyak pembelajar yang sedang latihan menata hati kerap mengira-ngirakan pencerahan itu serba mengubah watak dasar menjadi serba tanpa cacat cela. Tapi, apakah perlu menjadi seperti itu? Kisah tua perihal ular jahat dan ular suci ini dapat ditimbang-timbang.
Watak si Ular Jahat tinimbang si Ular Suci serba bertolak punggung, memang. Si Ular Jahat tiada pernah membebaskan seorang pun penduduk desa yang lewat di sekitarnya. Dengan cekatan dia sontak mematuk siapa pun yang mendekat dalam radius jangkauan bisa taring tajamnya. Hanya dalam hitungan menit, korban gigitan si Ular Jahat niscaya terpagut maut. Itu menjadikan penduduk kampung jerih, dicekam ketakutan.
Beda nian dengan si Ular Suci. Orang-orang dapat dengan tenang melenggang di sebelah-menyebelahnya, tanpa diusik was-was bakal dipatuk. Asalkan tidak menyakiti ragawinya, si Ular Suci dipastikan bakal tenang-tenang saja.
Bosan saban hari ditakuti para penduduk kampung, seakan dikucilkan, si Ular Jahat pun melata menuju tempat si Ular Suci. Dia iri menyaksikan langsung si Ular Suci duduk di atas singgasana batu, di bawah pohon nan rindang. Ratusan ular lain penuh takjub dan takjim mendengarkan wejangan-wejangan si Ular Suci.
Tanpa disadari, kian lama mendengarkan wejangan si Ular Suci itu, hati si Ular Jahat pun lumer jua, akhirnya. Saat ular-ular lain telah bubar, pulang, si Ular Jahat pun mendatangi langsung si Ular Suci.
“Mulai saat ini aku nyatakan diri sebagai muridmu. Aku berjanji tak akan jahat lagi. Aku siap mematuhi segenap wejanganmu yang menakjubkan itu,” dia berikrar.
Kesungguhan hati si Ular Jahat berubah amat mengagumkan, memang. Saban pagi dan sore dia disiplin bermeditasi di depan gua peristirahatannya. Meskipun orang-orang lalu lalang di depannya, dia tetap diam, menahan diri tak mematuk. Hingga akhirnya sekawanan bocah kampung datang, menebar kenakalan.
“Hai, cacing bongsor, tukang rayap!” hina para bocah dari jarak aman, “mana taringmu? Tunjukkan—kalau memang punya. Bikin malu warga ular saja kamu, menyemburkan bisa saja ndak bisa!”
Karena terikat ikrar dan disiplin ajaran si Ular Suci, si Ular Jahat pun berupaya tetap tenang. Dia malah tersenyum—padahal hatinya membara, marah, dikata-katai cacing bongsor, tukang rayap.
Menyaksikan si Ular Jahat tetap pasif, kawanan bocah pun kian menjadi-jadi. Tak cukup menghina, mereka malah melempari si Ular Jahat dengan batu dan kayu. Raga si Ular Jahat digebuki hingga bersimbah luka.
“Aku protes, Ular Suci,” keluhnya, setelah berhasil meloloskan diri hingga sampai di kediaman gurunya, “ajaranmu hanya indah di tutur kata, tapi tidak di dunia nyata. Agama hanya cocok di dunia mimpi, tiada guna di dunia kita, di hutan rimba. Gara-gara mematuhimu untuk tidak menggigit manusia, badanku nyaris hancur. Hatiku sakit dihina, dilecehkan. Ini semua salahmu. Saat ini juga kunyatakan berhenti sebagai muridmu!”
“Ah, ular bodoh nan malang! Ular dungu! Bego!” si Ular Suci menepis, enteng. “Benar, memang, aku mengajarimu supaya tidak lagi menggigit. Tapi, aku kan sama sekali tidak ada melarangmu berdesis.”
Dalam taman kehidupan nyata, yang dihuni beragam watak dan tabiat manusia, kerap kali desisan itu patut tetap digunakan—tanpa perlu menimbulkan rasa sakit, apalagi pagutan maut, dengan gigitan taring. I Ketut Sumarta