Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
PUSTAKA

Judul Buku     : Saya Orang Tengger, Saya Punya Agama
Penulis           : Ayu Sutarto
Tebal             : VIII + 145 halaman


TEGUH TEGAR HINDU TENGGER

Di tengah keterbatasan infrastruktur keteguhan hati orang Tengger dalam mempertahankan agamanya patut diacungi jempol. Mereka gigih mempertahankan tradisi Hindu selama berabad-abad. Satu lagi bukti, Bali bukan ’pusat’ Hindu di Indonesia.

Awal tahun 1965 adalah masa kebingungan orang Tengger “mencari” agama. Atheis adalah anggapan orang luar pada masa tersebut kepada orang Tengger. Sebab agama “Buddha Tengger” tidak pernah diakui pemerintah. Sehingga memeluk agama adalah pilihan yang tidak bisa ditawar lagi agar sebutan ateis tidak lagi disandangkan orang Tengger. Ini belum termasuk militer yang sangat agresif melakukan swepping.
Buku yang berjudul Saya Orang Tengger, Saya Punya Agama mengusung informasi sejarah tentang bagaimana tradisi Tengger dan kisah orang Tengger menemukan agamanya. Ayu Sutarto dalam tulisan ini mencoba menceritakan bagaimana kebingungan orang Tengger dalam menemukan agamanya. Padahal berdasar bukti-bukti prasasti yang ada di dataran tinggi Tengger, menguatkan pernyataan bahwa secara  historis dan antropologis sejak dahulu sudah beragama, yakni agama Hindu.  Sayang pengakuan pemerintah terhadap Hindu minoritas ini — pada waktu itu —  tidak ada.
Penulis memulai pada pembahasan bagaimana masyarakat suku Tengger pada waktu itu memperjuangkan agama Buddha yang resmi dipeluk  oleh Tengger — yang telah diwarisi dari para leluhurnya agar mendapat pengekuan dari pemerintah. Masih berbicara masalah kebingungan  agama hingga pada awal 1970-an muncul surat keputusan No 00/ PHB/ Jatim /Kept /III/, 73 tgl 6 Maret 1973 yang mengkategorikan  bahwa orang Tengger adalah pemeluk agama Buddha Mahayana. Namun dilihat dari cara peribadatannya tidak ada kemiripan dengan unsur-unsur kebudayaan, sehingga surat keputusaan itu tidak mampu merubah keimanan orang Tengger dan gagal membudakan mereka (hal 45). Pihak pemerintah gagal ’mengagamakan’ orang Tengger. Revitalisasi Hindu mulai tampak saat ditemukannya kemiripan peribadatan/tradisi orang Tengger dengan pribadatan yang dilakukan masyarakat Bali beragama Hindu. Karena adanya revitalisasi ini mendorong munculnya musyawarah untuk menjawab kebingungan orang Tengger. Pada tahun 1976, setelah melalui pergulatan panjang, masyarakat Tengger menyatakan diri sebagai agama Hindu Dharma, dan dibentuklah Parisada Hindu Dharma (hal 48). Ayu Sutarto menekankan maraknya revitalisasi Hindu tidak sedikitpun mengubah tradisi, adat kebiasaan orang Tengger atau bahkan mendorong  orang Tengger untuk mengubah  tradisi mereka. Agama Hindu dan tradisi Tengger tetap berjalan berdampingan, bangkit bersama-sama dan saling mengisi.
Dari teks ini pembaca disodori bagaimana perjuangan orang Tengger dalam menemukan ’agama’, sebagaimana yang diinginkan dalam administrasi negara ksatuan republik Indonesia. Dari sebuah tuduhan bahwa orang Tengger ’tidak beragama’, diteruskan klaim bahwa orang Tengger beragama Buddha. Lalu beragama Hindu. Ayu menganggap perlu menceritakan secara runtut, apakah yang dimaksud orang Tengger beragama Buddha ?
Geneologi runut peristiwa sejarah perjalanan beragama orang Tengger dimulai pada abad ke 16-17 saat pulau Jawa bagian Timur mengalami kekacauan politik dan kurang pangan. Karena keadaan tersebut maka seluruh wilayah Jawa Timur dapat ditaklukan kecuali Tengger. Namun, karena penguasaan Belanda atas Tengger pada tahun 1764 tradisi Hindu menjadi memudar namun penghuni Tengger masih  bertahan dengan tradisi Hindu Majapahit.  Lalu, identitas kehinduan orang Tengger mengalami pasang surut dalam perjalanan dan perkembangannya.
Ayu menunjukkan bukti pendukung yang penting bahwa dahulu hingga saat ini orang Tengger beragama Hindu dapat dilacak dari japa mantra yang masih dipegang teguh hingga sekarang dan digunakan dalam setiap pelaksanaan upacara (hal 58).
Mantra Tengger adalah doa-doa suci yang digunakan oleh para dukun Tengger dalam pelaksanaan setiap upacara dan mantra ini diyakini mempunyai kekuatan melindungi masyarakat Tengger dari intervensi atau gangguan dari luar. Selain mantra keteguhan hati orang Tengger dalam mempertahankan agama juga tampak pada setiap pelaksanaan upacara adat dan agama yang masih hidup di tengah maraknya perebutan komunitas Hindu Tengger atas dua agama besar.
Di dalam buku ini diceriterakan secara runtun bagaimana kondisi geografis serta keadaan belitan ekonomi masyarakat Tengger menemukan agamanya. Perjalanan terjang berliku masyarakat Tengger untuk mendapatkan pengakuan bahwa sejak dulu mereka telah beragama telah membuktikan bahwa agama tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh siapapun. Orang Tengger memang teguh, tegar dalam memeluk Hindu
Kekukuhan sradha masyarakat Tengger adalah sebuah bukti keteguhan hati yang bisa dipelajari masyarakat Hindu di seantero Indonesia. Buku ini juga banyak mengandung nilai-nilai positif karena dari cerita penulis di situ membuka mata hati para pembaca bahwa dari sisi historis Bali bukanlah ’pusat’ Hindu di Indonesia. Ritual-ritual Hindu masih terasa hidup di Tengger dengan fasilitas infrastruktur yang minim. Sangat beda dengan di Bali.
Sekali lagi — dan ini kelebihan buku ini — Ayu Sutarto secara gamblang menceritakan ketegaran hati orang Tengger dalam menghadapai segala intervensi baik itu keputusan masyarakat atau revitalisasi. Keteguhan hati orang Tengger dalam mempertahankan agamanya adalah sebuah proses panjang dan melelahkan. Maka dalam sebuah proses masih banyak hal yang belum terungkap apa yang sebenarnya terjadi di Tengger.
Pada titik inilah pengamatan Ayu terasa timpang. Ayu Sutarto terkesan hanya sebagai cameraman yang numpang lewat dan mengambil gambar sisi kehidupan masyarakat Tengger dari gang-gang saja — tanpa melihat ke dalam proses atau dinamika internal yang terjadi dalam masyarakat Tengger. Ayu Sutarto hanya menuliskan gambaran umum berdasar hasil pengamatan luar saja, ia belum masuk dalam permasalahan interen keluarga masyarakat Tengger.
Permasalahan kristenisasi dan islamisasi, misalnya, yang terjadi dari rumah ke rumah dalam masyarakat Tengger tidak jarang terjadi. Ayu sama sekali tidak menyinggung soal ini. Banyak hal yang melatarbelakangi hal tersebut. Segala sesuatu terjadi karena ada alasan, keterhimpitan ekonomi dan alasan kesehatan adalah salah satu faktor pelicin masuknya kristenisasi dan islamisasi di Tengger.
Pemberian barang berharga atau istilah kerennya kreditan dan masalah berobat ke pak ’kyai’ karena alasan kesehatan sampai saat ini masih mengintervensi masyarakat Tengger namun cara-cara mereka sangat halus dan rapi dalam menarik orang Tengger agar menaruh simpati dan berpindah agama mengikuti mereka. Anehnya, sebesar apapun pengaruh itu sampai saat ini belum pernah berhasil menarik orang Tengger untuk meninggalkan Hindu kecuali alasan perkawinan. Inilah yang dinamakan keteguhan, ketegaran hati orang Tengger mempertahankan agamanya hingga sekarang, seandainya tiada kegigihan dan semangat maka Hindu Majapahit di Tengger hanyalah tinggal kenangan saja. Amelia Wiwit Mujiastuti, Jk

 
 
BPR Kanti