Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
SUSILA

Tidur Sejati Tanpa Mimpi

I Ketut Widnya


Makna Mimpi

Saya sering bermimpi kurang baik seperti: berkelahi, membunuh, selingkuh, mencuri dan lain sebagainya. Apakan mimpi itu dapat menyebabkan saya terjatuh dalam dosa? Bagaimana cara kita bisa terhindar dari keadaan yang menggelisahkan itu?
Nyoman Sentana Yasa
Jl. Suli, Denpasar

Ada anggapan umum dalam masyarakat kita yang mengatakan bahwa mimpi itu adalah bunga tidur. Artinya, hanya sekedar hiasan dalam tidur. Selebihnya, mimpi itu tidak berarti apa-apa. Tetapi ada juga yang meyakini, mimpi adalah suatu tanda atau isyarat penting bagi hidup dan kehidupan seseorang. Itulah sebabnya ada seribu tafsir tentang mimpi.
Sebagai bunga tidur, mimpi itu merupakan kesan-kesan yang dibawa seseorang dari kehidupannya sehari-hari, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Jadi, mimpi disini hanya sekedar hiasan tidur.
Sedangkan sebagai tanda atau isyarat, mimpi merupakan sumber tafsir mengenai nasib baik dan buruk atau peruntungan-peruntungan lain yang akan terjadi atau yang akan dialami seseorang di kemudian hari.
Misalnya, orang yang mimpi rumahnya diterjang air bah, mengisyaratkan orang itu dan keluarganya akan tertimpa bencana yang besar. Kehilangan (kematian) salah satu anggota keluarga bisa hadir lewat mimpi gigi yang tanggal. Orang yang mimpi berak, acapkali dimaknai sebagai keluarnya kekotoran diri, sehingga secara kontras ini bermakna keberuntungan, seperti mendapat rezeki dan seterusnya.
 Tafsir-tafsir mimpi tersebut, meskipun di luar nalar ilmiah, namun masih tetap dipercaya oleh masyarakat hinggsa dewasa ini. Meskipun masyarakat percaya, namun tafsir mimpi-mimpi itu belum tentu semuanya akan terjadi dalam realitas kehidupan seseorang yang mengalami mimpi tersebut. Ada yang memang terjadi, namun ada juga yang tidak terjadi.
Patut dicermati adalah misteri mimpi itu. Meskipun banyak buku tentang tafsir mimpi diterbitkan, namun tidak semua fenomena yang muncul dalam mimpi bisa dengan mudah ditarsirkan. Seperti mimpi-mimpi yang dialami penanya Nyoman Sentana Yasa di atas.
Namun demikian, ada konsep umum yang bisa dijadikan rujukan mengenai makna mimpi sebagai keterpesonaan kita terhadap khayalan. Khususnya pada Zaman Kali, kebanyakan manusia terpikat oleh kesenangan material. Mereka berpikir akan mendapatkan kebahagiaan dengan mengembangkan kesenangan material. Tetapi dalam kenyataannya, manusia tidak pernah mencapai kebahagiaan yang sejati dengan kemajuan kesenangan material. Upanisad-upanisad menyatakan, prakerti atau dunia material tidak pernah memberi kebahagiaan sejati.
Kesenangan material tersebut, lebih lanjut, menyebabkan seseorang terpesona dengan khayalan, dan khayalan-khayalan itu semakin menyebabkan seseorang terikat kepada dunia material. Inilah yang disebut trisna atau kemelekatan, dan kemelekatan semakin meningkatkan khayalan-khayalan. Selanjutnya, khayalan-khayalan yang tidak berhasil direalisasikan dalam kehidupan akan dibawa kedalam mimpi-mimpi. Bukankah dalam mimpi, seseorang bisa mengkhayal untuk menjadi apa saja yang ia kehendaki? Mimpi disini menjadi sejenis konvensasi.
Paul Zane Pilzer dalam buku teologi ekonomi, Tuhan Ingin Anda Kaya (2006), memberikan berbagai kiat untuk bisa menikmati kekayaan material dan spiritual di dunia yang berlimpah. Salah satu kiatnya ialah kita harus bermimpi untuk menjadi kaya. Setidaknya kita pernah bermimpi untuk menjadi kaya, maka suatu saat kita akan bisa mewujudkan impian tersebut.
Persoalannya tentu saja tidak sesederhana seperti yang dibayangkan Paul di atas. Sebab, impian itu, bisa menimbulkan khayalan-khayalan yang tidak terbatas, dan khayalan-khayalan tersebut bisa menjadi sumber malapetaka, seperti diuraikan dalam Bhagavad-gita 2. 62-63: “Selama seseorang merenungkan objek-objek indria, ikatan terhadap objek-objek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu, dan dari nafsu timbullah amarah. Dari amarah, timbullah khayalan yang lengkap, dan khayalan menyebabkan ingatang bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan hilang seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material”.
 Wawasan dalam sloka Bhagavad-gita yang dikutip di atas sekaligus bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang diajukan Sentasa Yasa di atas, yaitu: “apakah mimpi-mimpi itu bisa membawa kita ke dalam kegiatan yang berdosa?”
 Mimpi bukan kegiatan berdosa. Tetapi, dalam wawasan Bhagavad-gita di atas, mimpi bisa menjadi bentuk lain dari kemelekatan kita terhadap dunia material atau kesenangan material. Sebab tidur yang ideal, tidur yang sejati, adalah tidur tanpa mimpi. Apabila seseorang masih membawa faham-faham hidup di dunia material ke dalam mimpi-mimpi, betapa pun kecil pengaruhnya, keadaaan itu atau mimpi itu, tetap merupakan bentuk kemelekatan.
Kehidupan yang diabdikan untuk pelayanan kepada kemanusiaan dan ke-Tuhan-an, kehidupan yang penuh ikhlas dan suci, akan memungkinkan seseorang bisa melewati malam tanpa gangguan mimpi, apalagi mimpi buruk. Pada saat tidur, semua kesan yang direkam oleh pikiran pada kehidupan dalam sehari sebelumnya, akan masuk ke dalam ‘locus’ Atma yang menjadi gudang penyimpanan semua kesan kehidupan sejak waktu yang tidak dapat dipikirkan lamanya. Disini, mimpi berarti merekonstrukti kesan-kesan tersebut. Ini sama dengan gangguan. Sebab pada saat tidur, kita benar-benar mengistirahatkan sang diri, sang roh (kita).

Semua orang pasti pernah bermimpi. Baik mimpi hanya sekedar bunga tidur, maupun mimpi karena isyarat. Tapi, bagi orang yang menjalani kehidupan yang suci, ia menjadikan mimpi-mimpinya sebagai medium untuk menerima pesan dan amanat dari Tuhan. Di daerah Jagatnatha Puri, India, ada seorang pujari (pemangku) yang menerima perintah dari Tuhan Jagatnatha untuk menjemput orang suci yang sedang telantar di Pasar. Seketika pujari itu terbangun dan pergi ke pasar sambil membawa prasada (makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan). Setelah sampai di pasar, memang benar pujari itu telah  menemukan seorang suci yang dimaksudkan dalam mimpinya. Kisah-kisah seperti ini jamak kita temukan dalam Purana-Purana, dan bahkan tidak hanya monopolo India, karena cerita itu ada di mana-mana, termasuk di Bali. S

 
 
BPR Kanti