Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
TATWA

Adakah Surga Bagi Atheis

Tjok Rai Sudharta


Hindu mengenal konsep surga dan moksa. Pertanyaan, mungkinkah seorang yang tidak percaya adanya Tuhan mencapai surga atau moksa? Apakah konsep surga dan moksa merupakan tempat atau keadaan pikiran?
Kadek Rumbiasa
Banyuatis, Singaraja

Jawab:
Berhubung di dalam pertanyaan Sdr. Kadek tidak menanyakan soal neraka maka jawaban penulis terbatas pada sorga dan moksa. Kalau ada yang menanyakan mengenai Neraka di literature India dan Indonesia (jawa Kuna) penulis akan susulkan. Sekarang mengenai sorga dan moksa saja.
Kalau mungkin ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, kita harus bertanya apakah dia itu mempunyai pikiran/perasaan atau tidak? Kalau dia pernah berpikir senang atau pernah merasa tidak senang/duka yang tidak bisa tertanggungkan, ia itu pernah masuk ke dalam surga. Hal ini menjawab pertanyaan Sdr. Kadek bahwa surga bertempat atau berkeadaan dalam pikiran. Ini kalau orang itu atau siapapun yang masih hidup. Dan surga itu berada dalam keadaan manusia hidup dan tentunya kadarnya sangat kecil dan periodenya dalam waktu yang tidak lama. Keadaan surga akan silih berganti datangnya selama hidup ini yang mengalami rasa senang. Surga terdapat di dalam pikiran dan perasaan. Sementara moksa berada di luar wilayah ini, moksa ada di atas surga dan tidak dapat dirasakan sebagaimana rasa di surga itu sendiri. Surga itu diketahui oleh setiap orang dan di setiap agama. Tetapi moksa tidak diakui oleh setiap agama. Misalnya agama Buddha menggantinya dengan istilah NIRWANA.
Karena surga itu dipunyai oleh agama Hindu perlu penulis cantumkan literatur mana disebutkan mengenai surga setelah kita mati supaya tahu saja. Didalam rontal Swarga Rohana Parwa disebutkan bahwa “Surga adalah tempat menikmati kemewahan, keagungan, gemerlapan dan keceriaan (1. 4-5) dan seorang Ksatria yang melaksanakan kewajiban dengan baik juga memperoleh surga (1.15). Di surga tidak boleh ada kebencian dan permusuhan (1.81). Misalnya Yudhistira, surga tidak ada arti baginya dan ia tidak bersedia menikmati surga sendirian. Ia hanya akan bersedia menikmati surga bila bersama saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi (1.11-12). Selanjutnya kehidupan di alam surga dilukiskan pada rontal itu di 3.2-3;3.6-11;3.18-28;3.40;6.26 itu”.
Penggambaran surga di dalam rontal itu tidak terlepas dengan pengambaran yang sama di dalam kitab suci Weda. Penggambaran surga itu adalah sebagai tempat keadaan para leluhur dan Dewa Yama, tempatnya di tengah-tengah ruang angkasa (Reg Weda X. 15.14), tempat yang amat damai yang merupakan tempat tertinggi dimana terdapat cahaya yang abadi (Reg Weda IX. 113.7,8 dan 9).
Di dalam Atharwa Weda juga disebutkan tentang tempat surga yang sangat tinggi (A.W.XI.4.11), tempat yang dipenuhi cahaya (A.W.IV.34.2), tempatnya di atas angkasa (A.W.XVIII.4.11). Para leluhur disebut di dalam kitab suci Reg Weda berada di titik yang tertinggi di matahari (X.107.2,1.54.5) atau juga dihubungkan dengan cahaya matahari (1.109.7) dan matahari bersinar di sorga (1.125.6). Sangat jelas dan penting diungkapkan tentang kehidupan yang akan datang setelah kematian yang dapat ditemukan di dalam kitab Reg Weda Mandala IX. Hal yang sama ditemukan juga sebagai pahala bagi yang melakukan pertapaan yang sangat keras atau bagi pahlawan yang gugur di medan perang (reg Weda X.154.2-5). Dijelaskan pula bahwa mereka yang dengan tulus melakukan upacara dan memberikan dharma atau pemberian akan memperoleh swarga (Reg weda X.154.3,1.125.5, X.107.2). Didalam Atharwa Weda banyak referensi yang menunjukkan hal itu. Di warga roh-roh orang yang meninggal menikmati kepuasan hidup (Reg Weda X. 14.8,X.15.14,X.16.2,X.16.5), terpenuhi semua keinginan (Reg Weda IX. 113. 3, IX. 113.11), tempat yang dilalui para Dewa (Reg Weda X.14.14), teristimewa di hadapan Dewa Yama dan waruna (RW X.27.21). menyatu dengan tubuh agung yang mereka cintai dan disebut oleh para Dewa (RW X.14.8,X.16.5,X.56.51).
Mereka melihat ayah, ibu dan putra-putranya (AW.VI.120.3), bersatu dengan istri dan anak-anaknya (AW.XII.3.17). Kehidupan di sana bebas dari penyakit dan tubuh tidak pernah merasa lelah (AW. VI.120.3). Sering disebutkan bahwa di alam sorga tubuhnya sempurna lengkap dengan anggota badannya. Orang yang telah meninggal secara umum disebutkan di dalam weda dengan istilah madanti  atau madayante. Di sana cahaya selalu memancar, abadi dan air mengalir, terdapat makanan yang memuaskan selera, mereka riang bergembira, bahagia dan segala keinginan terpenuhi.
Selanjutnya di dalam Atharwa Weda (IV.34.2) disebutkan bahwa di sana bergelimang dengan kehidupan seksual yang memuaskan. Disorga yang penuh berkah terdengar suara seruling dan nyanyian yang merdu (RW X.135.7).
Kata Swar artinya cahaya dan swarga atau surga adalah menuju atau menjadi satu dalam cahaya itu. Jadi surga adalah dunia cahaya. Bumi juga tidak perlu diragukan telah dialami sebagai tempat yang penuh cahaya tapi bukan cahaya yang tanpa kecuali atau selalu bersinar dan tidak terhalangi. Bukan cahaya yang tidak renta terhadap kegelapan. Kenikmatan akan cahaya bumi selalu disertai dengan kegelapan dan ketakutan akan kehilangannya. Ketakutan bahwa kegelapan mungkin akan mengalahkannya sementara di surga di sana tidak ada kekuatan sebab cahaya tidak pernah berhenti untuk selalu bersinar. Sorgaloka ini dihuni oleh mahluk yang bercahaya para dewa mahluk surga lainnya para maharesi, orang-orang suci yang telah mencapai keabadian.
Surga adalah sebuah dunia yang mempunyai air surgawi yang melimpah, minuman sari bagi keabadian dan kegembiraan. Ia adalah tempat istirahat dan kebahagiaan bahkan tempat untuk menyatukan cinta yang dirindukan oleh manusia  untuk dapat bergabung didalamnya. Jalan untuk manusia naik ke alam ini tampaknya banyak sebagaimana panggilan hidup mereka juga banyak. Pengorbanan adalah cara yang paling utama untuk mencapai surga tetapi bukan satu-satunya jalan sebab bagi para petapa atau sannyasin mencapai sorga melalui tapa, para pahlawan melalui keberaniannya, para orang tua melalui kesetiaannya pada rta (tatanan kosmos) dan para penyair melalui sajak-sajak atau nyanyian mereka. Kenyataan bahwa pengorbanan adalah perahu ke surga tidak mengesampingkan kemungkinan dari seorang manusia mencapai surga melalui anugrah atau karunia Tuhan Yang Maha Esa. Mantra-mantra weda adalah sesungguhnya yang menyatakan kerinduan yang tulus bagi sebuah dunia kesempurnaan, keabadian,keabadian, keabadian, kebebasan dan kebahagiaan.

Mengenai moksa dinyatakan melalui bersatunya roh-roh para Pandawa, keluarga dan guru-guru mereka menyatu kembali dengan para dewa. Separti Yudhistira setelah mandi di sungai gangga di surga badan jasmaninya lenyap berubah menjadi dewata dan terbebaskan dari  semua kebencian dan dukacita (2.25,5.17, 19). Sri Krsna yang juga bernama Gowinda kembali memasuki alam Wisnu. Bhimasena bersatu dengan dewa Wayu (4.2) (47b) drupadi menyatu menjadi Bhattari Sri (4.3) (48a). Panca Kumara menjadi Widyadhara. Karna bersatu dengan Dewa aditya. Abhimanyu bersatu dengan Sang hyang candra. Bhisma menyatu dengan astabasu, Drona kembali menjadi Wrhaspati. Dhrtarastra menjadi Kesawara. Pandu bersatu dengan Dewa Indra yang bersatu dengan Kunti dan Madri.
Moksa bukanlah terdapat suatu tempat tertentu bukan pula seorang harus pergi ke sebuah desa untuk memperolehnya. Penghancuran dari ikatan kebodohan sekeliling hati kita dikenal sebagai moksa.
Apakah moksa atau pembebasan adalah kehidupan dengan Yang Maha Tinggi yang kita cintai dan sembah pada masa hidup ini? Apakah ini kelanggengan perseorangan dengan kemiripan mutlak dengan Dewata dalam dunia Brahman. Apakah ini penyerapan yang bukan perseorangan dalam ketuhanan yang transenden? Semua pandangan ini terdapat dalam kitad-kitab Upanisad. Di dalam upanisad terdapat terdapat empat jenis moksa yang dibdakan yaitu (1) sampya atau kemiripan dengan sifat Tuhan, (2) sarupa atau sadharmya yaitu kesamaan sifat Tuhan dan mencerminkan keagunganNya, (3) salokya atau keberadaan yang sadar dengan Tuhan dalam dunia yang sama dan (4) sayujya atau bersama dengan Tuhan mendekati kemanunggalan.Demikian uraian penulis mengenai sorga dan moksa yang maafkan penulis belum pernah mengalami sendiri karena masih belum meninggal. S
 
 
BPR Kanti