No. 73/ Tahun VII Mei 2006

NYAMA BRAYA

Lawar Galungan Rasa Sayur Miami

Sembahyang bersama, membikin lawar, dan membuat banten saat Galungan bukan hanya ada di Bali. Warga Bali di Miami, AS, juga melakonkan hal serupa.

Galungan tidak hanya menggema di Bali dan sentra-sentra penganut Hindu di Tanah Air. Hari raya terbesar dalam sistem kalender pawukon Nusantara ini juga berdenyut di luar negeri, yang berjarak ribuan mil dari tanah Bali. Di Turk and Caicos Island, contohnya.
Di kawasan yang masih termasuk kekuasaan Inggris, sekitar 30 menit naik pesawat dari Miami, Amerika Serikat, ini sameton Bali umumnya berprofesi sebagai karyawan di berbagai industri, terutama industri perhotelan, seperti waiter, bartender, dan housekeeper. Ketika Galungan tiba, sehari sebelumnya mereka berkumpul mempersiapkan aneka sesaji yang dipergunakan saat Galungan. “Kami di sini juga membikin lawar sebagai sarana sesaji,” tutur Made Suardana, warga Bali asal Nusa Penida, Klungkung, lewat surat elektronik. Tinggal di negeri orang dengan kondisi alam berbeda, tentu tak bisa membikin perlengkapan sesaji sama persis layaknya di Bali. Sampian dan perhiasan penjor menggunakan bahan semacam daun rontal. Mirip janur, cuma tak berasal dari pohon kelapa. Lebih awet dan tak bisa layu. Sementara buah-buahan dan kue yang dihaturkan juga menyesuaikan dengan yang tersedia di negeri jauh itu.
Bahan lawar juga menyesuaikan dengan yang tersedia di Miami. Daging bisa dari ayam, kalkun, atau babi. Sedangkan sayur dominan jenis kacang-kacangan. “Di sini sulit sekali mendapatkan kelapa untuk bahan lawar,” sebut sameton lain, Dewa Oka. Khusus untuk tempat suci, masyarakat Bali di Miami tak memiliki palinggih permanen. Tiap kali hendak menggelar upacara, mereka kerap meminjam tempat lapangan volley yang ada di kota ini. Di lapangan itulah palinggih darurat berupa plangkiran yang cukup besar ditancapkan sebagai tempat menaruh banten. Bila segala sesuatu sudah siap, nyama braya yang bertugas mengantarkan bakti—kebetulan di sini ada orang Bali mengetahui cara nganteb banten dan hafal mantra pancasembah mau ditunjuk sebagai pamangku—menjalankan tugas. Bagi yang bisa mawirama dan makidung, saat ini juga sibuk ngayah. Begitu juga dengan yang bisa menari, mereka mempertontonkan kepiawaian—walaupun hanya diiringi gamelan lewat tape.
Usai melakukan persembahyangan, plangkiran dicabut kembali dan disimpan dalam kamar seorang sameton. Bila ada upacara dan persembahyangan lain, plangkiran yang sama dipasang kembali. “Tradisi ini bukan hanya dilakukan saat Galungan, juga saat menyambut hari besar Hindu lain, seperti Purnama atau menjelang Nyepi,” tunjuk Suardana. Segala biaya upacara diambil dari dana yang terkumpul lewat iuran anggota krama Bali yang tergabung dalam satu wadah bernama Banjar Ceng Blong—meniru nama sekaa wayang yang kini sedang populer di Bali. Anggota banjar ini saban bulan berkewajiban membayar iuran $5 US. Dana itu khusus diperuntukkan buat biaya upacara. Bila kurang, tak sedikit pula yang menyumbang spontan.
Banjar Ceng Blong sendiri mulai berdiri pada pertengahan tahun 2003. Saat itu warga Bali di Miami, tepatnya yang berdiam di Turk and Caicos Island, sepakat menyatukan diri dalam satu organisasi suka duka bernama Banjar Ceng Blong. Nama Ceng Blong muncul, karena ada warga Bali membawa VCD wayang Cenk Blonk yang sedang tenar di Bali kini. Semua orang Bali suka menonton seni pertunjukan tersebut, hingga muncul ide mempergunakan nama banjar seperti nama sakaa wayang ini. Kini jumlah warga Banjar Ceng Blong sekitar 40 orang. Sedangkan di seluruh Miami diperkirakan ada sebanyak 150 orang.
Begitulah sameton Bali di Miami memaknai hari besar keagamaan. Keterbatasan ruang, sarana, dan prasarana tak hendak mengendorkan semangat menjalankan kewajiban sebagai orang Hindu. Tetap tekun menghaturkan bakti kepada Hyang Widhi. Bila di Bali saat merayakan Galungan mereka bisa sembahyang bersama keluarga besar, maka di Miami pun mereka menerapkan tradisi sembahyang bersama, yakni bersama keluarga besar Banjar Ceng Blong. Di mata warga asli Miami maupun orang luar Miami yang kebetulan tinggal di negeri ini, berbagai aktivitas adat, budaya, dan agama yang dilakoni orang-orang Bali menjadi keunikan tersendiri. Tak jarang orang non-Bali ikut bergabung, nimbrung sambil meniru aktivitas orang Bali. Mereka ikut sembahyang bersama, kemudian bersama-sama pula menikmati lawar.
Daya meniru mereka, tambah warga Banjar Ceng Blong lainya, Kadek Wardika, cukup tinggi. Warga Miami yang biasa makan mempergunakan sendok dan garpu, saat menikmati lawar malah makan memakai tangan, lazimnya orang Bali. Bukan hanya dengan orang-orang Miami, hubungan dengan warga lain agama pun terjalin rukun. Masih bertalian dengan tradisi nglawar, nyama Islam dan Kristen—begitu orang Bali biasa menyebut warga dari kepercayaan lain—juga ikut bergabung membantu meracik masakan khas Bali, kemudian menikmati bersama-sama. “Di sini kami merasakan nyata, betapa nikmat rasa persatuan di antara berbagai perbedaan yang ada. Perbedaan itu indah,” tutur Kadek. I Wayan Sucipta.

Tak Ada Arak, Jack Daniel OK

Karauhan sewaktu upacara keagamaan berlangsung, tak hanya terjadi di Bali. Sameton Bali yang berdiam di Miami pun terkadang mengalami peristiwa serupa.
Made Suardana, karyawan hotel berbintang Parrot Cay Resort Providenciales City, Miami, Amerika Serikat, menuturkan, saat pamangku sedang menguncarkan puja menghaturkan banten persembahan, seorang teman dekatnya yang semula tak menunjukkan tanda-tanda aneh, sontak bangun. “Dia berteriak-teriak, ngamigmig dengan bahasa yang sulit dimengerti orang banyak,” tutur pemuda asal Desa Suana, Nusa Penida, ini.
Pandangannya kosong, tangannya gemetar. Warga lain yang berada di sampingnya dibuat terkejut, sebelum akhirnya mereka beramai-ramai memegang orang yang karauhan ini. “Saya tidak tahu persis kualitas karauhan-nya dan kami takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, makanya berusaha mengawasi,” lanjut Suardana.
Di tengah-tengah teriakan tersebut, orang yang karauhan menyebut-nyebut bahwa Ida Batara yang rauh (datang). Sayang tak ada mengetahui secara pasti, siapa Ida Batara yang dimaksud. Mereka pun mengira-ngira, yang rauh itu adalah Ida Batara yang disatanakan untuk dipuja di plangkiran itulah yang turun. “Karauhan hanya pada saat-saat tertentu, misalkan ada kurang sarana upacara. Orang yang krauhan juga berganti-ganti,” tambah sameton Bali lain di Miami, Dewa Oka
Selain berteriak dan menyebut nama Ida, orang yang karauhan ini juga minta diberikan arak, minuman keras khas Bali yang biasa dipersembahkan saat menggelar upacara. Terang saja permintaan demikian membuat sameton Bali lain yang ikut sembahyang saat itu kebingungan. Di seantero Miami tak ada menjual arak. Minuman keras memang diperjualbelikan, namun bukan arak.
Dalam kebingungan itulah, tutur Suardana, ada yang menganjurkan supaya arak digantikan saja dengan minuman keras setempat, seperti Jack Daniel. Setelah diberikan Jack Daniel, teriakan orang karauhan ini mereda. “Eh, kemudian dia malah makan dupa yang masih ada bara apinya,” trang Suardana.
Kejadian lain juga pernah dialami pamangku yang sedang melakukan kewajiban mengantarkan bakti. Di saat pamangku sedang nguncarang mantra, kata Made Agus, warga Bali yang sama-sama tergabung dalam Banjar Ceng Blong, tiba-tiba Jero Mangku tak bisa berbicara. Suaranya menghilang, seperti orang bisu.
Saat itulah ada temannya yang kebetulan sempat memperdalam ilmu kebatinan pada salah satu perguruan ilmu kebatinan di Bali ini datang mendampingi sang Jero Mangku. Keduanya kemudian bercakap-cakap tanpa ada banyak yang tahu artinya. Akhirnya, sang Jero Mangku tadi bisa melanjutkan puja mantranya. “Pada saat seperti ini rasanya kami tiada beda dengan di Bali, terkecuali dibedakan tempat dan lokasi persembahyangan,” tambah Made Suardana. Bagi warga Bali, karauhan bukanlah sesuatu yang aneh. Malahan, pada beberapa tempat suci di daerah ini, bila menggelar satu upacara akan merasa kurang lengkap bila belum ada warga karauhan. Melalui media karauhan itulah biasanya krama pangempon di tempat suci bersangkutan mengetahui kekurangan upacara sekaligus mendapat petunjuk-petunjuk yang mesti dilakukan.
Tapi bagi kebanyakan orang di Miami, sameton Bali yang karauhan justru menjadi tontonan memikat. “Apalagi bila sampai menyaksikan secara nyata ada sameton karauhan yang berani makan dupa dengan api menyala-nyala,” tambah Dewa Oka. WS