NYAMA
BRAYA
Lawar Galungan Rasa Sayur Miami
Sembahyang bersama, membikin lawar,
dan membuat banten saat Galungan bukan hanya ada di
Bali. Warga Bali di Miami, AS, juga melakonkan hal serupa.
Galungan
tidak hanya menggema di Bali dan sentra-sentra penganut
Hindu di Tanah Air. Hari raya terbesar dalam sistem
kalender pawukon Nusantara ini juga berdenyut di luar
negeri, yang berjarak ribuan mil dari tanah Bali. Di
Turk and Caicos Island, contohnya.
Di kawasan yang masih termasuk kekuasaan Inggris, sekitar
30 menit naik pesawat dari Miami, Amerika Serikat, ini
sameton Bali umumnya berprofesi sebagai karyawan di
berbagai industri, terutama industri perhotelan, seperti
waiter, bartender, dan housekeeper. Ketika Galungan
tiba, sehari sebelumnya mereka berkumpul mempersiapkan
aneka sesaji yang dipergunakan saat Galungan. “Kami
di sini juga membikin lawar sebagai sarana sesaji,”
tutur Made Suardana, warga Bali asal Nusa Penida, Klungkung,
lewat surat elektronik. Tinggal di negeri orang dengan
kondisi alam berbeda, tentu tak bisa membikin perlengkapan
sesaji sama persis layaknya di Bali. Sampian dan perhiasan
penjor menggunakan bahan semacam daun rontal. Mirip
janur, cuma tak berasal dari pohon kelapa. Lebih awet
dan tak bisa layu. Sementara buah-buahan dan kue yang
dihaturkan juga menyesuaikan dengan yang tersedia di
negeri jauh itu.
Bahan lawar juga menyesuaikan dengan yang tersedia di
Miami. Daging bisa dari ayam, kalkun, atau babi. Sedangkan
sayur dominan jenis kacang-kacangan. “Di sini
sulit sekali mendapatkan kelapa untuk bahan lawar,”
sebut sameton lain, Dewa Oka. Khusus untuk tempat suci,
masyarakat Bali di Miami tak memiliki palinggih permanen.
Tiap kali hendak menggelar upacara, mereka kerap meminjam
tempat lapangan volley yang ada di kota ini. Di lapangan
itulah palinggih darurat berupa plangkiran yang cukup
besar ditancapkan sebagai tempat menaruh banten. Bila
segala sesuatu sudah siap, nyama braya yang bertugas
mengantarkan bakti—kebetulan di sini ada orang
Bali mengetahui cara nganteb banten dan hafal mantra
pancasembah mau ditunjuk sebagai pamangku—menjalankan
tugas. Bagi yang bisa mawirama dan makidung, saat ini
juga sibuk ngayah. Begitu juga dengan yang bisa menari,
mereka mempertontonkan kepiawaian—walaupun hanya
diiringi gamelan lewat tape.
Usai melakukan persembahyangan, plangkiran dicabut kembali
dan disimpan dalam kamar seorang sameton. Bila ada upacara
dan persembahyangan lain, plangkiran yang sama dipasang
kembali. “Tradisi ini bukan hanya dilakukan saat
Galungan, juga saat menyambut hari besar Hindu lain,
seperti Purnama atau menjelang Nyepi,” tunjuk
Suardana. Segala biaya upacara diambil dari dana yang
terkumpul lewat iuran anggota krama Bali yang tergabung
dalam satu wadah bernama Banjar Ceng Blong—meniru
nama sekaa wayang yang kini sedang populer di Bali.
Anggota banjar ini saban bulan berkewajiban membayar
iuran $5 US. Dana itu khusus diperuntukkan buat biaya
upacara. Bila kurang, tak sedikit pula yang menyumbang
spontan.
Banjar Ceng Blong sendiri mulai berdiri pada pertengahan
tahun 2003. Saat itu warga Bali di Miami, tepatnya yang
berdiam di Turk and Caicos Island, sepakat menyatukan
diri dalam satu organisasi suka duka bernama Banjar
Ceng Blong. Nama Ceng Blong muncul, karena ada warga
Bali membawa VCD wayang Cenk Blonk yang sedang tenar
di Bali kini. Semua orang Bali suka menonton seni pertunjukan
tersebut, hingga muncul ide mempergunakan nama banjar
seperti nama sakaa wayang ini. Kini jumlah warga Banjar
Ceng Blong sekitar 40 orang. Sedangkan di seluruh Miami
diperkirakan ada sebanyak 150 orang.
Begitulah sameton Bali di Miami memaknai hari besar
keagamaan. Keterbatasan ruang, sarana, dan prasarana
tak hendak mengendorkan semangat menjalankan kewajiban
sebagai orang Hindu. Tetap tekun menghaturkan bakti
kepada Hyang Widhi. Bila di Bali saat merayakan Galungan
mereka bisa sembahyang bersama keluarga besar, maka
di Miami pun mereka menerapkan tradisi sembahyang bersama,
yakni bersama keluarga besar Banjar Ceng Blong. Di mata
warga asli Miami maupun orang luar Miami yang kebetulan
tinggal di negeri ini, berbagai aktivitas adat, budaya,
dan agama yang dilakoni orang-orang Bali menjadi keunikan
tersendiri. Tak jarang orang non-Bali ikut bergabung,
nimbrung sambil meniru aktivitas orang Bali. Mereka
ikut sembahyang bersama, kemudian bersama-sama pula
menikmati lawar.
Daya meniru mereka, tambah warga Banjar Ceng Blong lainya,
Kadek Wardika, cukup tinggi. Warga Miami yang biasa
makan mempergunakan sendok dan garpu, saat menikmati
lawar malah makan memakai tangan, lazimnya orang Bali.
Bukan hanya dengan orang-orang Miami, hubungan dengan
warga lain agama pun terjalin rukun. Masih bertalian
dengan tradisi nglawar, nyama Islam dan Kristen—begitu
orang Bali biasa menyebut warga dari kepercayaan lain—juga
ikut bergabung membantu meracik masakan khas Bali, kemudian
menikmati bersama-sama. “Di sini kami merasakan
nyata, betapa nikmat rasa persatuan di antara berbagai
perbedaan yang ada. Perbedaan itu indah,” tutur
Kadek. I Wayan Sucipta.
Tak Ada Arak, Jack Daniel OK
Karauhan
sewaktu upacara keagamaan berlangsung, tak hanya terjadi
di Bali. Sameton Bali yang berdiam di Miami pun terkadang
mengalami peristiwa serupa.
Made Suardana, karyawan hotel berbintang Parrot Cay
Resort Providenciales City, Miami, Amerika Serikat,
menuturkan, saat pamangku sedang menguncarkan puja menghaturkan
banten persembahan, seorang teman dekatnya yang semula
tak menunjukkan tanda-tanda aneh, sontak bangun. “Dia
berteriak-teriak, ngamigmig dengan bahasa yang sulit
dimengerti orang banyak,” tutur pemuda asal Desa
Suana, Nusa Penida, ini.
Pandangannya kosong, tangannya gemetar. Warga lain yang
berada di sampingnya dibuat terkejut, sebelum akhirnya
mereka beramai-ramai memegang orang yang karauhan ini.
“Saya tidak tahu persis kualitas karauhan-nya
dan kami takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan,
makanya berusaha mengawasi,” lanjut Suardana.
Di tengah-tengah teriakan tersebut, orang yang karauhan
menyebut-nyebut bahwa Ida Batara yang rauh (datang).
Sayang tak ada mengetahui secara pasti, siapa Ida Batara
yang dimaksud. Mereka pun mengira-ngira, yang rauh itu
adalah Ida Batara yang disatanakan untuk dipuja di plangkiran
itulah yang turun. “Karauhan hanya pada saat-saat
tertentu, misalkan ada kurang sarana upacara. Orang
yang krauhan juga berganti-ganti,” tambah sameton
Bali lain di Miami, Dewa Oka
Selain berteriak dan menyebut nama Ida, orang yang karauhan
ini juga minta diberikan arak, minuman keras khas Bali
yang biasa dipersembahkan saat menggelar upacara. Terang
saja permintaan demikian membuat sameton Bali lain yang
ikut sembahyang saat itu kebingungan. Di seantero Miami
tak ada menjual arak. Minuman keras memang diperjualbelikan,
namun bukan arak.
Dalam kebingungan itulah, tutur Suardana, ada yang menganjurkan
supaya arak digantikan saja dengan minuman keras setempat,
seperti Jack Daniel. Setelah diberikan Jack Daniel,
teriakan orang karauhan ini mereda. “Eh, kemudian
dia malah makan dupa yang masih ada bara apinya,”
trang Suardana.
Kejadian lain juga pernah dialami pamangku yang sedang
melakukan kewajiban mengantarkan bakti. Di saat pamangku
sedang nguncarang mantra, kata Made Agus, warga Bali
yang sama-sama tergabung dalam Banjar Ceng Blong, tiba-tiba
Jero Mangku tak bisa berbicara. Suaranya menghilang,
seperti orang bisu.
Saat itulah ada temannya yang kebetulan sempat memperdalam
ilmu kebatinan pada salah satu perguruan ilmu kebatinan
di Bali ini datang mendampingi sang Jero Mangku. Keduanya
kemudian bercakap-cakap tanpa ada banyak yang tahu artinya.
Akhirnya, sang Jero Mangku tadi bisa melanjutkan puja
mantranya. “Pada saat seperti ini rasanya kami
tiada beda dengan di Bali, terkecuali dibedakan tempat
dan lokasi persembahyangan,” tambah Made Suardana.
Bagi warga Bali, karauhan bukanlah sesuatu yang aneh.
Malahan, pada beberapa tempat suci di daerah ini, bila
menggelar satu upacara akan merasa kurang lengkap bila
belum ada warga karauhan. Melalui media karauhan itulah
biasanya krama pangempon di tempat suci bersangkutan
mengetahui kekurangan upacara sekaligus mendapat petunjuk-petunjuk
yang mesti dilakukan.
Tapi bagi kebanyakan orang di Miami, sameton Bali yang
karauhan justru menjadi tontonan memikat. “Apalagi
bila sampai menyaksikan secara nyata ada sameton karauhan
yang berani makan dupa dengan api menyala-nyala,”
tambah Dewa Oka. WS
|