No. 73/ Tahun VII Mei 2006

PARAS PAROS

Dari Tanah Lot Makmur Mengucur

Tanah Lot tak hanya menyajikan daya pukau matahari melenyap di kaki cakrawala. Di sini juga dipuja Hyang Widhi sebagai penganugerah kemakmuran.

Hari menjelang sore, pertengahan April lalu. Matahari menuju peraduan, perlahan lenyap. Di Pantai Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan itu, puluhan tetamu asing dan domestik yang sedang menikmati liburan di Bali, tampak asyik bercanda-ria di tepian pantai. Mereka mengarahkan pandangan ke laut lepas. Memusatkan perhatian pada sinar senja yang perlahan melenyap. Orang-orang lazim menyebut kawasan memesona itu dengan nama Pantai Tanah Lot.
Peristiwa mentari menuju peraduan (sunset) menjadi satu alasan wisatawan, baik asing maupun domestik, bergirang menjadikan Tanah Lot sebagai objek kunjungan utama. Tiada ketinggalan para seniman lukis, juru potret, juru rekam gambar, mengabadikan Tanah Lot dengan daya pukau keindahan matahari menyurut nun di kaki cakrawala. Menonton sunset baru secuil daya tarik kawasan wisata yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia ini. Kehadiran Pura Luhur Tanah Lot, tempat suci yang berdiri kokoh di atas onggokan batu karang di tengah laut, juga menjadi objek indera pandang memukau. Tak jarang para pelancong menjadikan keagungan pura ini sebagai latar belakang foto diri maupun bersama-sama.
Cuma, ingat Jero Mangku Subagia, Pamangku Alit Pura Luhur Tanah Lot, para tetamu tak serta merta diperbolehkan masuk ke areal terdalam pura. Mereka hanya bisa menapakkan kaki sampai di bawah tempat suci tersebut. Hanya krama yang hendak bersembahyang atau melakukan kegiatan keagamaan diperkenankan masuk hingga ke mandala terdalam pura ini.
Tradisi memahami, keberadaan tempat suci berstatus dangkahyangan ini tak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan pendeta asal Jawa Timur bernama Dang Hyang Nirartha, lazim pula disebut Dang Hyang Dwijendra, atau Padanda Sakti Wawu Rauh, saat menyebarkan ajaran agama ke Bali pada abad ke-16.
Merujuk kisah yang termuat dalam rontal Dwijendra Tatwa yang kemudian dialihaksarakan dan dialihbahasakan dalam bentuk buku oleh sastrawan I Gusti Bagus Sugriwa, setelah beberapa lama berdiam di Pura Rambut Siwi, Jembrana, Dang Hyang Dwijendra melanjutkan perjalanan menyusuri pantai selatan menuju arah timur. Sepanjang perjalanan rohaniwan ini mencatat berbagai hal yang dilihat, dirasakan, maupun dipikirkan.
Tanpa terasa, menjelang sore Dang Hyang Nirartha tiba di satu kawasan pantai yang di tengah lautnya terdapat pulau kecil. Pulau mungil ini berdiri di atas onggokan tanah parangan, bebatuan keras. Di tempat ini sang pendeta beristirahat. Selang beberapa lama setelah bertetirah, di luar dugaan berdatangan para nelayan membawa beraneka persembahan yang hendak dihaturkan kepada sang pendeta. Dan, mengingat hari itu sudah sore, para nelayan pun memohon supaya Dang Hyang Nirartha menginap di pondok mereka.
Permohonan para nelayan tak serta merta disanggupi. Nirartha mau menginap, cuma yang menjadi tempat bermalam adalah pulau kecil di tengah laut. Di sini, selain udara berembus segar, pandangan juga leluasa ditebar ke berbagai penjuru. Malam hari, sang wiku memberikan wejangan menyangkut ajaran agama, kebajikan, serta susila kepada warga Desa Beraban. Di antaranya, mengingatkan masyarakat di wilayah ini supaya membangun tempat suci (parhyangan) pada pulau kecil tempatnya menginap. Dalam getaran batin ditambah petunjuk gaib yang didapat sang pendeta, di tempat ini baik digunakan sebagai tempat memuja Hyang Widhi.
Sepeninggal Dang Hyang Dwijendra, masyarakat di tepian pantai Desa Beraban beramai-ramai membangun tempat suci di atas pulau. Pura dimaksud kelak diberi nama Pura Luhur Tanah Lot, tempat suci sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi sebagai Batara Tengahing Segara. Tanah lot memang berarti tanah di tengah laut.
Pura ini berangsur-angsur menjadi sungsungan seluruh Bali meskipun di-empon krama Desa Beraban. Piodalan berlangsung saban 210 hari sekali (enam bulan kalender pawukon Bali), pada hari Buda Wage Langkir atau dua minggu setelah hari suci Galungan—bulan ini jatuh pada tanggal 17 Mei 2006.
Bangunan suci utama di Pura Tanah Lot berupa meru tingkat lima sebagai stana Ageng Siwa Budha, tempat memuja Hyang Widhi sebagai Ida Batara Siwa-Budha, yang mengatasi dualitas. Di belakangnya ada meru tingkat tiga menghadap ke laut, sebagai tempat memuja Padanda Sakti Wawu Rauh alias Dang Hyang Nirartha. Itu sebab selain sebagai dangkahyangan (pernah disinggahi rohaniwan suci), Tanah lot juga menjadi kahyangan jagat (tempat memuja Hyang Widhi, Tuhan Mahatunggal).
Selain menjadi sungsungan jagat, bila ditilik dari konsep triangga (bentang alam dibayangkan sebagai tubuh manusia yang terdiri atas kepala/kawasan tertinggi/hulu, badan/kawasan tengah/madya, dan kaki/kawasan hilir/terbawah), utamanya untuk daerah Tabanan, maka Pura Tanah Lot memiliki kaitan erat dengan dua tempat suci lain di Tabanan, yakni Pura Luhur Batukaru, di Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, dan Pura Puser Tasik di kota Tabanan. Dalam cermatan I Gusti Ngurah Anom, dari Puri Ageng Tabanan—Puri Ageng Tabanan merupakan pangrajeg pura kahyangan jagat di Tabanan—Pura Luhur Batukaru merupakan tempat suci yang berposisi paling atas (hulu), ibarat kepala, di kawasan tinggi. Di bagian tengah (madya), ibarat badan, ada Pura Puser Tasik. Lalu di hilir, ibarat kaki, berdiri Pura Tanah Lot.
Rentetan pura di tepi pantai atau laut, dalam kosmologi Bali, lazim dijadikan tempat memuja sakti Siwa sebagai penganugerah kemakmuran yang bermuara pada kemuliaan hidup. Dalam tradisi agraris-tradisional kemakmuran itu dipahami bermuara nyata sebagai hasil pertanian, hasil bumi. Hasil bumi paling utama di Bali—termasuk Asia Tenggara—adalah padi, yang kemudian diolah menjadi beras. Dalam alur pikir begitulah maka Dewi Sri, sebagai sakti (daya feminin-kreatif) Dewa Siwa, kerap dipahami sebagai “dewi padi”.
Para peneliti yang tergabung dalam Proyek Penggalian/Pembinaan Seni Budaya Klasik/Tradisional dan Baru tahun 1980/1981 mencatat ada kepercayaan lisan masyarakat setempat berkaitan dengan Pura Luhur Batukaru dengan Pura Tanah Lot. Konon, palinggih (bangunan suci) meru tingkat lima di Pura Luhur Batukaru suatu kali hilang. Setelah dicari-cari lantas ditemukan di Pura Tanah Lot. Mitos ini kian menegaskan keterkaitan erat kedua pura yang berada dalam satu bentang alam tegak lurus, hulu-hilir ini—di Bali lazim disebut nyegara-gunung.
Dalam bahasa pendharmawacana, I Ketut Wiana, hubungan kedua pura kahyangan jagat ini memang bertalian erat dengan fungsi sebagai lingga dan yoni. Pura Luhur Batukaru, selain sebagai Pura Pucak juga merupakan simbol lingga atau purusa. Adapun Pura Tanah Lot sebagai Pura Segara sekaligus simbol yoni atau predana. Perpaduan dua keadaan alam ini menjadi sumber kehidupan yang mampu menyejahterakan manusia di sekitarnya.
“Memang ada berbagai persepsi muncul terkait hubungan Pura Luhur Batukaru dan Pura Tanah Lot,” tutur I Gede Ketut Teken, Jero Kubayan Lingsir Pura Luhur Batukaru.
Secara sederhana masyarakat panyungsung Pura Luhur Batukaru yang berada di kawasan dataran tinggi meyakini Pura Tanah Lot sebagai pasiraman Ida Batara di Pura Luhur Batukaru. Makanya, bila di Pura Luhur Batukaru berlangsung upacara besar dan harus melakukan panyucian berbagai pralingga plus sarana upacara ke laut, maka satu-satunya tempat yang dijadikan lokasi makiis atau malasti adalah Sagara Tanah Lot.
Selain dengan Pura Luhur Batukaru dan Puser Tasik, Pura Tanah Lot ini juga memiliki hubungan erat dengan pura lain di sekitar Tanah Lot. Antara lain, dengan Pura Jero Kandang. Pura ini khusus dibangun warga Beraban guna memohon perlindungan bagi ternak dan tetumbuhan petani, supaya terhindar dari berbagai gangguan penyakit.
Di selatan Pura Kandang, pada bebatuan yang menjorok ke laut, ada Pura Enjung Galuh. Di tempat suci ini berstana manifestasi Tuhan dalam perwujudan sebagai Dewi Sri yang juga menjadi sakti Dewa Siwa. Oleh warga Beraban dan sekitar, Pura Enjung Galuh diyakini sebagai pusat kemakmuran dan kesuburan jagat. Dewi Sri memang lazim dipuja sebagai pelindung sekaligus penganugerah hasil bumi—yang paling utama adalah padi.
Sebelah barat Pura Kandang ada Pura Batubolong. Di namakan Pura Batubolong, karena lokasi pura yang berada di atas bebatuan yang tembus atau bolong. Pura ini kerap difungsikan saat berlangsung upacara pamelastian Ida Batara di Pura Tanah Lot sekaligus tempat mulang pakelem untuk mohon kerahayuan jagat.
Ada pula Pura Batu Mejan. Dalam pemahaman Jero Mangku Subagia, ini tempat memohon tirta panglukatan (penyucian diri secara batiniah). Selanjutnya, Pura Pakendungan di sisi barat laut. Pura ini, selain sebagai Pura Ulun Suwi (hulu subak), konon juga menjadi tempat samadi Dang Hyang Nirartha sebelum melanjutkan perjalanan. Di Pura Pakendungan pula rohaniwan ini memberikan sebilah keris Ki Baru Gajah kepada Bandesa Beraban.
Keris yang diyakini memiliki kekuatan menaklukkan berbagai hama tetumbuhan itu, sekarang tersimpan di Puri Kediri. Bila berlangsung piodalan di Pura Pakendungan, pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan, keris ini pun kapendak (dijemput) guna distanakan di pura selama upacara berlangsung. Usai upacara, keris disimpan kembali di Puri Kediri. I Wayan Sucipta

Air Tawar Tengah Laut

Kawasan Tanah Lot, tak hanya mampu menampilkan pesona alam nan menakjubkan. Beragam peristiwa unik dalam kaca mata awam, kerap muncul di wilayah ini. Pada sisi utara Pura Tanah Lot, dalam sebuah gua di bawah tebing, terdapat ular yang dikeramatkan.
Beragam mitos menebar di masyarakat Beraban dan sekitarnya sehubungan dengan kehadiran ular tersebut. Ada mengait-kaitkan dengan selendang Dang Hyang Nirartha yang lepas saat rohaniwan ini bertapa. Selendang tersebut kemudian berubah menjadi ular sekaligus sebagai penjaga Pura Tanah Lot hingga kini. Mitos lain menybutkan, ular laut jinak tersebut berasal dari ikat pinggang warga yang dulu mencari meru tingkat lima milik Pura Luhur Batukaru. Meru tersebut konon tiba-tiba hilang, lalu ditemukan di Tanah Lot. Mana yang benar? Sulit membuktikan jika Anda meminta data nyata, karena ini ‘sekadar’ kisah dari mulut ke mulut. Ketidaklaziman lain di kawasan ini berupa sumber air tawar di sisi utara pura. Air yang dinamakan Tirta Pabersihan ini sering dimanfaatkan sebagai sarana memohon kesucian.
Sesuai namanya, sumber mata air ini memang menjadi lokasi panyucian niskala. Pemohon bukan hanya orang Hindu atau sebatas warga Bali. Tetamu yang berkunjung ke Tanah Lot tak jarang memanfaatkan keberadaan air suci ini. Widianti, warga Klaten, Jawa Tengah, di antaranya. Ketika berkunjung ke Tanah Lot, pertengahan April lalu, dia menyempatkan mengambil air tawar yang keluar dari bebatuan di bawah Pura Tanah Lot. “Saya penasaran dengan cerita si guide,” kisah Widi, begitu remaja ini biasa dipanggil.
Pemandu wisata yang mengantarkan Widi dan rombongan mengisahkan, konon di pura ini ada sumber air yang keluar dari batu karang di tengah laut. Uniknya, meski ada di tengah laut, rasa air tetap tawar.
Begitu memasuki objek wisata Tanah Lot, Widi dan beberapa rekannya langsung menuju pantai. Dari kejauhan dia melihat banyak orang berkerumun di bawah gua. Mereka menunggu giliran mohon air suci. Di antara mereka ada berbusana adat Bali, tak jarang mempergunakan celana panjang. Widi pun lebih tergerak lagi membuktikan cerita si guide. Ternyata benar, begitu menenggak air yang keluar dari mulut patung naga, rasanya tawar.
“Saat Ida Batara di Pura Luhur Batukaru, melaksanakan pamlastian ke Tanah Lot, lokasi panyucian juga di Tirta Pabersihan ini” tutur I Gede Ketut Teken. Cerita yang diperoleh Jero Kubayan Lingsir Pura Luhur Batukaru ini dari tetua Batukaru memang menyebutkan, sumber mata air ini sebagai tempat pasiraman Ida Batara.
Selain menjadi tempat malasti, jika ada warga hendak malukat (melaksanakan panyucian diri secara niskala), maka oleh pamangku Pura Tanah Lot, pertama kali akan diajak menyucikan diri di sumber mata air ini. Meraup muka, cuci tangan dan kaki. Selanjutnya baru menuju ke mandla terdalam pura. Di sana pamangku akan mengantar bakti warga yang menyucikan diri, mohon supaya dikaruniai keheningan jiwa dan keluhuran batin.
Proses terakhir panglukatan, yang malukat beserta pengikutnya diajak menuju sumber mata air di sebelah selatan pura. Air ini sama-sama keluar dari batu karang. Bedanya, jika di sebelah utara mengeluarkan air tawar, di selatan, dinamakan pula Tirta Pabersihan, rasa air asin, sama dengan air laut.
Cuma, sumber mata air yang alirannya dibagi menjadi tiga saluran ini, tak ada yang mengetahui secara pasti kapan muncul pertama kali. Para tetua di Beraban yang dimintai penjelasan, tiada satu jua tahu asal muasal air yang disucikan itu. WS