PARAS
PAROS
Dari Tanah Lot Makmur Mengucur
Tanah Lot tak hanya menyajikan
daya pukau matahari melenyap di kaki cakrawala. Di sini
juga dipuja Hyang Widhi sebagai penganugerah kemakmuran.
Hari
menjelang sore, pertengahan April lalu. Matahari menuju
peraduan, perlahan lenyap. Di Pantai Desa Beraban, Kecamatan
Kediri, Kabupaten Tabanan itu, puluhan tetamu asing
dan domestik yang sedang menikmati liburan di Bali,
tampak asyik bercanda-ria di tepian pantai. Mereka mengarahkan
pandangan ke laut lepas. Memusatkan perhatian pada sinar
senja yang perlahan melenyap. Orang-orang lazim menyebut
kawasan memesona itu dengan nama Pantai Tanah Lot.
Peristiwa mentari menuju peraduan (sunset) menjadi satu
alasan wisatawan, baik asing maupun domestik, bergirang
menjadikan Tanah Lot sebagai objek kunjungan utama.
Tiada ketinggalan para seniman lukis, juru potret, juru
rekam gambar, mengabadikan Tanah Lot dengan daya pukau
keindahan matahari menyurut nun di kaki cakrawala. Menonton
sunset baru secuil daya tarik kawasan wisata yang berbatasan
langsung dengan Samudera Indonesia ini. Kehadiran Pura
Luhur Tanah Lot, tempat suci yang berdiri kokoh di atas
onggokan batu karang di tengah laut, juga menjadi objek
indera pandang memukau. Tak jarang para pelancong menjadikan
keagungan pura ini sebagai latar belakang foto diri
maupun bersama-sama.
Cuma, ingat Jero Mangku Subagia, Pamangku Alit Pura
Luhur Tanah Lot, para tetamu tak serta merta diperbolehkan
masuk ke areal terdalam pura. Mereka hanya bisa menapakkan
kaki sampai di bawah tempat suci tersebut. Hanya krama
yang hendak bersembahyang atau melakukan kegiatan keagamaan
diperkenankan masuk hingga ke mandala terdalam pura
ini.
Tradisi
memahami, keberadaan tempat suci berstatus dangkahyangan
ini tak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan pendeta
asal Jawa Timur bernama Dang Hyang Nirartha, lazim pula
disebut Dang Hyang Dwijendra, atau Padanda Sakti Wawu
Rauh, saat menyebarkan ajaran agama ke Bali pada abad
ke-16.
Merujuk kisah yang termuat dalam rontal Dwijendra Tatwa
yang kemudian dialihaksarakan dan dialihbahasakan dalam
bentuk buku oleh sastrawan I Gusti Bagus Sugriwa, setelah
beberapa lama berdiam di Pura Rambut Siwi, Jembrana,
Dang Hyang Dwijendra melanjutkan perjalanan menyusuri
pantai selatan menuju arah timur. Sepanjang perjalanan
rohaniwan ini mencatat berbagai hal yang dilihat, dirasakan,
maupun dipikirkan.
Tanpa terasa, menjelang sore Dang Hyang Nirartha tiba
di satu kawasan pantai yang di tengah lautnya terdapat
pulau kecil. Pulau mungil ini berdiri di atas onggokan
tanah parangan, bebatuan keras. Di tempat ini sang pendeta
beristirahat. Selang beberapa lama setelah bertetirah,
di luar dugaan berdatangan para nelayan membawa beraneka
persembahan yang hendak dihaturkan kepada sang pendeta.
Dan, mengingat hari itu sudah sore, para nelayan pun
memohon supaya Dang Hyang Nirartha menginap di pondok
mereka.
Permohonan para nelayan tak serta merta disanggupi.
Nirartha mau menginap, cuma yang menjadi tempat bermalam
adalah pulau kecil di tengah laut. Di sini, selain udara
berembus segar, pandangan juga leluasa ditebar ke berbagai
penjuru. Malam hari, sang wiku memberikan wejangan menyangkut
ajaran agama, kebajikan, serta susila kepada warga Desa
Beraban. Di antaranya, mengingatkan masyarakat di wilayah
ini supaya membangun tempat suci (parhyangan) pada pulau
kecil tempatnya menginap. Dalam getaran batin ditambah
petunjuk gaib yang didapat sang pendeta, di tempat ini
baik digunakan sebagai tempat memuja Hyang Widhi.
Sepeninggal Dang Hyang Dwijendra, masyarakat di tepian
pantai Desa Beraban beramai-ramai membangun tempat suci
di atas pulau. Pura dimaksud kelak diberi nama Pura
Luhur Tanah Lot, tempat suci sebagai tempat memuja Tuhan
dalam manifestasi sebagai Batara Tengahing Segara. Tanah
lot memang berarti tanah di tengah laut.
Pura ini berangsur-angsur menjadi sungsungan seluruh
Bali meskipun di-empon krama Desa Beraban. Piodalan
berlangsung saban 210 hari sekali (enam bulan kalender
pawukon Bali), pada hari Buda Wage Langkir atau dua
minggu setelah hari suci Galungan—bulan ini jatuh
pada tanggal 17 Mei 2006.
Bangunan suci utama di Pura Tanah Lot berupa meru tingkat
lima sebagai stana Ageng Siwa Budha, tempat memuja Hyang
Widhi sebagai Ida Batara Siwa-Budha, yang mengatasi
dualitas. Di belakangnya ada meru tingkat tiga menghadap
ke laut, sebagai tempat memuja Padanda Sakti Wawu Rauh
alias Dang Hyang Nirartha. Itu sebab selain sebagai
dangkahyangan (pernah disinggahi rohaniwan suci), Tanah
lot juga menjadi kahyangan jagat (tempat memuja Hyang
Widhi, Tuhan Mahatunggal).
Selain menjadi sungsungan jagat, bila ditilik dari konsep
triangga (bentang alam dibayangkan sebagai tubuh manusia
yang terdiri atas kepala/kawasan tertinggi/hulu, badan/kawasan
tengah/madya, dan kaki/kawasan hilir/terbawah), utamanya
untuk daerah Tabanan, maka Pura Tanah Lot memiliki kaitan
erat dengan dua tempat suci lain di Tabanan, yakni Pura
Luhur Batukaru, di Wangaya Gede, Kecamatan Penebel,
dan Pura Puser Tasik di kota Tabanan. Dalam cermatan
I Gusti Ngurah Anom, dari Puri Ageng Tabanan—Puri
Ageng Tabanan merupakan pangrajeg pura kahyangan jagat
di Tabanan—Pura Luhur Batukaru merupakan tempat
suci yang berposisi paling atas (hulu), ibarat kepala,
di kawasan tinggi. Di bagian tengah (madya), ibarat
badan, ada Pura Puser Tasik. Lalu di hilir, ibarat kaki,
berdiri Pura Tanah Lot.
Rentetan pura di tepi pantai atau laut, dalam kosmologi
Bali, lazim dijadikan tempat memuja sakti Siwa sebagai
penganugerah kemakmuran yang bermuara pada kemuliaan
hidup. Dalam tradisi agraris-tradisional kemakmuran
itu dipahami bermuara nyata sebagai hasil pertanian,
hasil bumi. Hasil bumi paling utama di Bali—termasuk
Asia Tenggara—adalah padi, yang kemudian diolah
menjadi beras. Dalam alur pikir begitulah maka Dewi
Sri, sebagai sakti (daya feminin-kreatif) Dewa Siwa,
kerap dipahami sebagai “dewi padi”.
Para
peneliti yang tergabung dalam Proyek Penggalian/Pembinaan
Seni Budaya Klasik/Tradisional dan Baru tahun 1980/1981
mencatat ada kepercayaan lisan masyarakat setempat berkaitan
dengan Pura Luhur Batukaru dengan Pura Tanah Lot. Konon,
palinggih (bangunan suci) meru tingkat lima di Pura
Luhur Batukaru suatu kali hilang. Setelah dicari-cari
lantas ditemukan di Pura Tanah Lot. Mitos ini kian menegaskan
keterkaitan erat kedua pura yang berada dalam satu bentang
alam tegak lurus, hulu-hilir ini—di Bali lazim
disebut nyegara-gunung.
Dalam bahasa pendharmawacana, I Ketut Wiana, hubungan
kedua pura kahyangan jagat ini memang bertalian erat
dengan fungsi sebagai lingga dan yoni. Pura Luhur Batukaru,
selain sebagai Pura Pucak juga merupakan simbol lingga
atau purusa. Adapun Pura Tanah Lot sebagai Pura Segara
sekaligus simbol yoni atau predana. Perpaduan dua keadaan
alam ini menjadi sumber kehidupan yang mampu menyejahterakan
manusia di sekitarnya.
“Memang ada berbagai persepsi muncul terkait hubungan
Pura Luhur Batukaru dan Pura Tanah Lot,” tutur
I Gede Ketut Teken, Jero Kubayan Lingsir Pura Luhur
Batukaru.
Secara sederhana masyarakat panyungsung Pura Luhur Batukaru
yang berada di kawasan dataran tinggi meyakini Pura
Tanah Lot sebagai pasiraman Ida Batara di Pura Luhur
Batukaru. Makanya, bila di Pura Luhur Batukaru berlangsung
upacara besar dan harus melakukan panyucian berbagai
pralingga plus sarana upacara ke laut, maka satu-satunya
tempat yang dijadikan lokasi makiis atau malasti adalah
Sagara Tanah Lot.
Selain dengan Pura Luhur Batukaru dan Puser Tasik, Pura
Tanah Lot ini juga memiliki hubungan erat dengan pura
lain di sekitar Tanah Lot. Antara lain, dengan Pura
Jero Kandang. Pura ini khusus dibangun warga Beraban
guna memohon perlindungan bagi ternak dan tetumbuhan
petani, supaya terhindar dari berbagai gangguan penyakit.
Di selatan Pura Kandang, pada bebatuan yang menjorok
ke laut, ada Pura Enjung Galuh. Di tempat suci ini berstana
manifestasi Tuhan dalam perwujudan sebagai Dewi Sri
yang juga menjadi sakti Dewa Siwa. Oleh warga Beraban
dan sekitar, Pura Enjung Galuh diyakini sebagai pusat
kemakmuran dan kesuburan jagat. Dewi Sri memang lazim
dipuja sebagai pelindung sekaligus penganugerah hasil
bumi—yang paling utama adalah padi.
Sebelah barat Pura Kandang ada Pura Batubolong. Di namakan
Pura Batubolong, karena lokasi pura yang berada di atas
bebatuan yang tembus atau bolong. Pura ini kerap difungsikan
saat berlangsung upacara pamelastian Ida Batara di Pura
Tanah Lot sekaligus tempat mulang pakelem untuk mohon
kerahayuan jagat.
Ada pula Pura Batu Mejan. Dalam pemahaman Jero Mangku
Subagia, ini tempat memohon tirta panglukatan (penyucian
diri secara batiniah). Selanjutnya, Pura Pakendungan
di sisi barat laut. Pura ini, selain sebagai Pura Ulun
Suwi (hulu subak), konon juga menjadi tempat samadi
Dang Hyang Nirartha sebelum melanjutkan perjalanan.
Di Pura Pakendungan pula rohaniwan ini memberikan sebilah
keris Ki Baru Gajah kepada Bandesa Beraban.
Keris yang diyakini memiliki kekuatan menaklukkan berbagai
hama tetumbuhan itu, sekarang tersimpan di Puri Kediri.
Bila berlangsung piodalan di Pura Pakendungan, pada
Saniscara Kliwon wuku Kuningan, keris ini pun kapendak
(dijemput) guna distanakan di pura selama upacara berlangsung.
Usai upacara, keris disimpan kembali di Puri Kediri.
I Wayan Sucipta
Air Tawar Tengah Laut
Kawasan
Tanah Lot, tak hanya mampu menampilkan pesona alam nan
menakjubkan. Beragam peristiwa unik dalam kaca mata
awam, kerap muncul di wilayah ini. Pada sisi utara Pura
Tanah Lot, dalam sebuah gua di bawah tebing, terdapat
ular yang dikeramatkan.
Beragam mitos menebar di masyarakat Beraban dan sekitarnya
sehubungan dengan kehadiran ular tersebut. Ada mengait-kaitkan
dengan selendang Dang Hyang Nirartha yang lepas saat
rohaniwan ini bertapa. Selendang tersebut kemudian berubah
menjadi ular sekaligus sebagai penjaga Pura Tanah Lot
hingga kini. Mitos lain menybutkan, ular laut jinak
tersebut berasal dari ikat pinggang warga yang dulu
mencari meru tingkat lima milik Pura Luhur Batukaru.
Meru tersebut konon tiba-tiba hilang, lalu ditemukan
di Tanah Lot. Mana yang benar? Sulit membuktikan jika
Anda meminta data nyata, karena ini ‘sekadar’
kisah dari mulut ke mulut. Ketidaklaziman lain di kawasan
ini berupa sumber air tawar di sisi utara pura. Air
yang dinamakan Tirta Pabersihan ini sering dimanfaatkan
sebagai sarana memohon kesucian.
Sesuai namanya, sumber mata air ini memang menjadi lokasi
panyucian niskala. Pemohon bukan hanya orang Hindu atau
sebatas warga Bali. Tetamu yang berkunjung ke Tanah
Lot tak jarang memanfaatkan keberadaan air suci ini.
Widianti, warga Klaten, Jawa Tengah, di antaranya. Ketika
berkunjung ke Tanah Lot, pertengahan April lalu, dia
menyempatkan mengambil air tawar yang keluar dari bebatuan
di bawah Pura Tanah Lot. “Saya penasaran dengan
cerita si guide,” kisah Widi, begitu remaja ini
biasa dipanggil.
Pemandu wisata yang mengantarkan Widi dan rombongan
mengisahkan, konon di pura ini ada sumber air yang keluar
dari batu karang di tengah laut. Uniknya, meski ada
di tengah laut, rasa air tetap tawar.
Begitu memasuki objek wisata Tanah Lot, Widi dan beberapa
rekannya langsung menuju pantai. Dari kejauhan dia melihat
banyak orang berkerumun di bawah gua. Mereka menunggu
giliran mohon air suci. Di antara mereka ada berbusana
adat Bali, tak jarang mempergunakan celana panjang.
Widi pun lebih tergerak lagi membuktikan cerita si guide.
Ternyata benar, begitu menenggak air yang keluar dari
mulut patung naga, rasanya tawar.
“Saat Ida Batara di Pura Luhur Batukaru, melaksanakan
pamlastian ke Tanah Lot, lokasi panyucian juga di Tirta
Pabersihan ini” tutur I Gede Ketut Teken. Cerita
yang diperoleh Jero Kubayan Lingsir Pura Luhur Batukaru
ini dari tetua Batukaru memang menyebutkan, sumber mata
air ini sebagai tempat pasiraman Ida Batara.
Selain menjadi tempat malasti, jika ada warga hendak
malukat (melaksanakan panyucian diri secara niskala),
maka oleh pamangku Pura Tanah Lot, pertama kali akan
diajak menyucikan diri di sumber mata air ini. Meraup
muka, cuci tangan dan kaki. Selanjutnya baru menuju
ke mandla terdalam pura. Di sana pamangku akan mengantar
bakti warga yang menyucikan diri, mohon supaya dikaruniai
keheningan jiwa dan keluhuran batin.
Proses terakhir panglukatan, yang malukat beserta pengikutnya
diajak menuju sumber mata air di sebelah selatan pura.
Air ini sama-sama keluar dari batu karang. Bedanya,
jika di sebelah utara mengeluarkan air tawar, di selatan,
dinamakan pula Tirta Pabersihan, rasa air asin, sama
dengan air laut.
Cuma, sumber mata air yang alirannya dibagi menjadi
tiga saluran ini, tak ada yang mengetahui secara pasti
kapan muncul pertama kali. Para tetua di Beraban yang
dimintai penjelasan, tiada satu jua tahu asal muasal
air yang disucikan itu. WS
|