SUSILA
I Ketut Widnya
Ada Apa dengan Vegetarian?
Belajar Hidup tanpa Daging
Pak Ketut, baru-baru ini saya kelimpungan menjawab pertanyaan teman perihal alasan paling rasional mengapa orang memilih hidup vegetarian. Masalahnya, sejak enam tahun lalu saya mencoba hidup tanpa daging, Saya cuma makan nasi, sayur, sayuran, buah, dan kacang-kacangan. Terus terang saya tidak ikut aliran apapun. Niat vegetarian muncul seketika manakala saya jatuh sakit, berbarengan dengan itu muncul juga perubahan persepsi saya pada hidup. Sejak itu saya belajar hidup tanpa daging. Setelah menjalani beberapa tahun, hidup terasa lebih fresh, pikiran lebih segar. Yang jelas, vegetrian saya tidak dimotivasi oleh kepercayaan agama, sejujurnya saya tidak begitu tertarik pada dogma agama. Kunci hidup saya, “Siapa mengenal dirinya ia mengenal Tuhan-nya.”
Nah kembali pada pertanyaan teman saya, ia menyodok saya dengan celoteh kurang sedap. Syukur saya tak tergubris, apalagi hendak marah. Begini pertanyaan teman saya: Ngapain kamu hidup vegetarian, memangnya kamu bisa menyelamatkan dunia. Jika kamu berlindung hanya dalam kepercayaan tidak makan daging, kamu keliru, di otakmu hanya ada daging dan daging. Jika kamu berlindung dengan tidak makan daging akan meraih surga, kamu salah. Surga pasti sudah dipenuhi roh sapi, kambing, dan kuda.
Selanjutnya teman saya menyarankan, kamu bagus bisa hidup tanpa daging, tapi kamu baru mampu mengendalikan lidah. Percuma hidup vegetarian, jika dibenakmu masih ada pamerih, semisal ingin dikaruniai kesehatan, ingin tampak awet muda, ingin dijauhkan penyakit. Ya kalau begitu kamu jadi pengecut, kamu tergolong pelit pada sesama, kamu tak mau berkorban pada daur hidup ini. Hiduplah sewajarnya, sesuai keperluan. Jangan hidup menuruti keinginan. Percuma juga hidup vegeterian jika hidup kamu tak berjalan selaras dengan hukum alam, mentalmu senantiasa korup, mengejar-ngejar jabatan, yang ada dibenakmu hanya kemewahan. “Nah itulah sebabnya saya muak dengan orang-orang yang berlindung pada teks-teks agama. Jika kamu tetap berjumpalitan di balik teks agama, kapan kamu sadar menjadikan dirimu teks yang hidup, yang bisa menjadi teladan untuk semua, kapan Tuhanmu bisa kau kenal”. Inilah terkaman pertanyaan yang membuat saya jadi gelagapan. Aduh saya jadi pusing Pak Ketut, tolonglah beri saya pemahaman lebih luas perihal hidup vegetarian.
Ni Luh Astarini Pande
Jl. Ciung Wanara 5, Denpasar.
Jawab:
Pertanyaan di atas sebenarnya tidak menuntut jawaban tentang apa dan bagaimana vegetarianisme itu, melainkan menginginkan sebuah “konprontasi” karena rangkaian pernyataan itu berangkat dari praduga yang tidak etis. Karena itu, saya perlu menegaskan dari awal, bahwa apapun pilihan hidup kita – apakah vegetarian ataupun non-vegetarian – semua itu adalah hak pribadi setiap orang, dan tentu saja, tidak seorang pun boleh mengklaim bahwa cara yang ia pilih atau cara yang satu lebih superior dari cara lain yang orang lain pilih. Pada akhirnya, semuanya akan menjadi jelas di hadirat Tuhan, emas adalah emas dan bongkahan batu adalah bongkahan batu.
Bagi saya, rangkaian pertanyaan di atas sudah kadaluwarsa alias basi. Sebab pertanyaan tersebut terlalu sering disampaikan secara lisan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan secara lisan itu biasanya sengaja disamarkan atau sengaja dilontarkan dengan terselubung untuk menghindari tendensi yang kurang etis tadi. Dalam hubungan ini, saya berharap agar saudari Astarini Pande tidak perlu gelagapan, apalagi sampai pusing menanggapi “sodokan” temannya tadi.
Saya meyakini sepenuhnya bahwa dibalik pertanyaan ini ada ekspresi jiwa yang imperior . Mengapa demikian? Dilihat dari berbagai sudut pandang, apakah dari ilmu pengetahuan modern, kesehatan dan apalagi agama, makanan vegetarian adalah makanan yang paling sehat dan penuh gizi. Penelitian modern yang paling canggih sekali pun membenarkan semua kenyataan ini. Sampai sejauh ini, tidak ada ilmu kesehatan yang membantah kenyataan bahwa makanan vegetarian lebih sehat dan penuh gizi dibandingkan makanan non-vegetarian. Orang-orang yang imperior , yang jiwanya rendah, merasa “terkalahkan” oleh orang yang melakoni vegetarian, atau kalau vegetarian itu dilakukan karena alasan agama, maka orang yang imperior itu, merasa dirinya secara spiritual, juga imperior . Tetapi orang imperior ini tidak menerima dirinya imperior karena ahamkara yang melekat dalam dirinya masih kuat. Sebagai pelampiasan atas “kekalahan” tersebut, ia meneror para pelaku vegetarian dengan pertanyaan: “ngapain kamu vegetarian, kalau di otak kamu masih ada daging”.
Ekspresi-ekpresi jiwa para imperior di atas menggambarkan kedengkian dan perasaan iri hati yang sangat dalam. Ekspresi-ekspresi tersebut lebih diperkuat dengan pertanyaan yang menggunakan oposisi biner yang kebablasan. Misalnya, “ngapain kamu hidup vegetarian, memangnya kamu bisa menyelamatkan dunia”. Pertanyaan ini sama dengan mengatakan, “ngapaian kamu jadi presiden, apakah kamu bisa menyelamatkan dunia”. Pertanyaan ini tidak bermakna sama sekali karena lahir dari kedengkian dan iri hati. Orang yang dengki dan iri hati sudah kehilangan intelektualitasnya.
Para vegetaris seharusnya memang bebas dari pikiran tentang daging. Namun dalam kenyataannya, masih dijumpai orang yang melakoni hidup vegetarian dengan setengah hati. Ini disebabkan karena ada dua tipe orang yang melakoni hidup vegetarian. Tipe pertama ialah orang yang vegetarian sejak masih di dalam kandungan ibunya karena orang tua mereka vegetarian. Tipe kedua ialah orang yang melakoni hidup vegetarian karena alasan tertentu, seperti alasan kesehatan atau alasan agama. Orang vegetarian tipe kedua ini, biasanya melakoni kehidupan vegetarian melalui proses. Jadi tergantung alasannya. Jika vegetarian itu dilakoni karena sakit (alasan kesehatan), maka vegetarian itu akan dilaksanakan secara insidental sesuai dengan datang atau kambuh penyakitnya. Sedangkan, apabila vegetarian itu dilakukan karena alasan agama, maka intensitas pelaksanaan vegetarian tergantung pada tingkat kemantapannya terhadap ajaran agama yang menjadi keyakinannya. Di samping itu, pengalaman bahwa daging itu lezat, menyebabkan orang tipe kedua ini sering kembali kepada daging sehingga ia sering “bolong” dalam mempraktekkan kehidupan vegetarian yang murni.
Alasan yang terakhir ini biasanya dibantah oleh para vegetaris dengan mengatakan bahwa rasa enak itu bukan disebabkan oleh daging, melainkan oleh bumbu yang digunakan. Sebab, makanan vegetarian pun bisa sangat lezat tergantung bumbu yang digunakannya. Mengenai hal ini, kiranya tidak ada silang pendapat di antara para vegetaris maupun non-vegetaris, karena dalam kenyataannya memang demikianlah keadaannya. Artinya, makanan yang enak tergantung pada bumbu penyedapnya.
Kembali dengan tendensi tidak etis tadi, biasanya sikap tidak tidak etis itu berangkat dari fenomena yang ada dimana makanan-makanan vegetarian dikemas dalam bentuk daging, dan tersajikan dalam daftar menu makanan yang menggunakan nama-nama binatang seperti ikan, telur, burung, bebek, dan sebagainya. Memang tidak semua warung vegetarian menggunakan pola seperti itu. Bagi warung vegetarian yang menggunakan nama-nama binatang dalam daftar menu makanannya, biasanya menambahkan cacatan kaki di bawahnya seperti ini: “nama-nama binatang yang disebut dalam daftar menu di atas, hanyalah nama dan bahan dasarnya terbuat dari nabati”.
Meskipun ada fenomena seperti itu, namun inti vegetarianisme adalah menolak daging, ikan, dan telor serta produk-produk olahannya. Bagi seorang vegetaris, seperti pernah didalilkan oleh Mahatma Gandhi, pilihan vegetarian dimaksudkan untuk hidup sederhana dan berpikir tinggi. Jadi, apakah makanan vegetarian disajikan menyerupai bentuk ikan, telur, ayam, atau bebek, itu tidak penting. Yang penting bahwa makanan itu terbuat dari bahan nabati. Dalam pergaulan hidup sehari-hari, tidak hanya Mahatma Gandhi, melainkan banyak sekali orang yang ada di sekitar kita yang melontarkan pujian terhadap makanan vegetarian. Misalnya, mereka mengatakan, “vegetarian itu baik, tapi mohon maaf saya belum bisa mengikutinya”. Sebaiknya, orang mengambil segi baik dari vegetarianisme, bukan memberikan penilaian moral yang hitam putih.
Penanya mengemukakan bahwa dia menjadi vegetaris karena alasan kesehatan (sakit) dan bukan karena motivasi agama. Selanjutnya, penanya juga mengatakan demikian: “Sejujurnya saya tidak begitu tertarik pada dogma agama”. Pernyataan ini tidak sesuai dengan klausul berikutnya yang merupakan kunci hidup penanya. Dogma adalah salah satu aspek yang ada dalam setiap agama, dan dogma itu dimaksudkan untuk memperkuat doktrinasi agama. Dalam pendidikan, dogma bisa disejajarkan dengan psikomotorik yang menekankan lebih banyak praktik keagamaan. Dogma diberikan pada usia dini, dan seiring dengan pertumbuhan dan kedewasaan seorang anak, maka aspek kognitif dan afektifnya juga dikembangkan. Dengan dogma seseorang mempraktikkan ajaran agama, dan setelah mapan dalam praktik keagamaan, dia perlahan-lahan maju dalam spiritualisme sehingga pada gilirannya nanti ia mencapai kedudukan yang melampaui tataran dogma. Pada taraf inilah seseorang boleh mengatakan “siapa mengenal dirinya ia mengenal Tuhan”. Jadi, Tuhan bukan obyek yang begitu gampang didekati, seperti mendekati atau memerintah seorang babu.
Dalam hubungan ini sangat penting mengklarifikasi sekali lagi kedudukan vegetarianisme, apakah orang menjadi vegetaris karena alasan agama, kesehatan (ilmu pengetahuan) atau karena alasan filsafat. Kalau seseorang menjadi vegetaris karena alasan agama, dan dia percaya bahwa dengan menjadi vegetaris seperti itu dia yakin akan mencapai pembebasan, ya sah-sah saja, namanya saja agama yang memang bertumpu pada kepercayaan. Kalau agama tidak bertumpu pada dasar kepercayaan, lalu apa yang harus dijadikan dasar pijakan agama? Di sini kita harus taat azas: dimana agama pada dasarnya bertumpu pada kepercayaan, filsafat pada hakikat dan ilmu pengetahuan pada pengalaman (empirisme). Jadi, kalau agama tidak berlindung pada teks-teks agama, itu bukan agama namanya.
Bagian yang paling rancu ialah gagasan yang mendasari pertanyaan yang menghubungkan vegetarianisme dengan keinginan. Keinginan untuk menjadi sehat, awet muda, dan mempunyai keturunan (anak) adalah keinginan-keinginan yang wajar. Sepanjang keinginan itu wajar, tidak ada dasar agama, atau dasar filsafat, atau dasar hukum formal yang melarang atau menyalahkan keinginan tersebut. Keinginan adalah inner power yang menjadi kunci dinamika kehidupan seseorang dalam masyarakat. Tanpa keinginan seseorang tidak akan bisa maju. Keinginan tidak bisa dihapus dari dalam diri seseorang. Selama seseorang masih hidup, selama itu ia tetap mempunyai keinginan. Asalkan itu wajar, tidak ada yang salah dengannya.
Menghubungkan vegetarianisme dengan berbagai bentuk kejahatan, seperti KKN, memang tidak bisa ditarik garis hubung yang langsung. Tetapi secara tidak langsung, bisa terjadi hubungan sebab akibat. Ini bisa dijelaskan demikian. Vegetarianisme sebenarnya lebih menekankan kepada usaha untuk mengendalikan hawa nafsu. Perhatikan sloka berikut ini: vaco vegam manasah krodha-vegam jihva vegam udaropastha-vegsm etan vegan yo visaheta dhirah sarvam apimam prthivim sa sisyat. Artinya, “orang tenang yang dapat menahan dorongan untuk berbicara, permintaan dari pikiran, tindakan amarah dan dorongan dari lidah, perut dan kemaluan, telah memenuhi syarat untuk menerima murid-murid di seluruh dunia” (Upadesamrita, ayat 1).
Lidah, perut, dan kemaluan adalah tiga organ tubuh yang berada dalam satu garis vertikal. Kalau lidah tidak bisa dikendalikan, maka perut dan kemaluan juga tidak bisa dikendalikan. Sebaliknya, jika lidah dikendalikan dengan makanan satwika , maka otomatis perut dan kemaluan, juga bisa dikendalikan. Prinsip vegetarian adalah: you are what you eat, “Anda adalah apa yang anda makan”. Kalau seseorang makan makanan satwika , maka jiwanya akan penuh dengan jiwa satwika . Demikian juga apabila seseorang makan makanan rajasika atau tamasika , maka kedua sifat-sifat itu akan mempengaruhi kesadaran jiwanya. Dalam konteks ini, vegetarianisme berhubungan langsung dengan tingkat kesucian seseorang, dan apabila seseorang telah menjadi suci pasti dia dapat menolak perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kesucian. Pada tataran ini, seseorang bisa menjadikan dirinya sebagai “teks yang hidup” dan menjadi teladan bagi semua orang.
Wawasan di atas pasti digugat sebagai kesimpulan yang subjektif. Sampai di sini akan muncul pertanyaan lain: bagaimana halnya dengan orang yang vegetarian tetapi masih tetap melakukan praktik kejahatan seperti korupsi misalnya. Jawaban atas persoalan ini adalah kembali kepada apa yang dijadikan alasan orang memilih hidup vegetarian. Kalau seseorang menjadi vegetaris karena alasan allergy , dan setelah seseorang melakoni hidup vegetarian, dia benar-benar bebas dari penyakitnya itu, maka kesimpulannya adalah benar bahwa vegetarianisme berhubungan langsung dengan kesehatan. Tetapi hubungan vegetarian dengan tingkat kesucian seseorang memang bukan masalah yang sederhana alias kompleks. Sebab kesucian bukan disebabkan oleh faktor tunggal. Tetapi, yang pasti hidup sebagai vegetarian sangat membantu mempercepat proses penyucian diri. Atau paling tidak seperti dikemukakan penanya di atas, “hidup terasa lebih fresh dan pikiran lebih segar”. Kesimpulan bahwa vegetarianisme membantu mempercepat proses penyucian diri diuraikan dalam banyak ayat-ayat kitab suci dan selanjutnya dibuktikan dari pengalaman banyak orang suci. Masalahnya, orang suci sejati bukan memamerkan kesuciannya, melainkan menekankan pada “kesempurnaan hidup ke dalam.” Kita tidak bisa mengukur tingkat kesucian seseorang sebelum kita benar-benar menjadi suci.
|