CAKEPAN
Buku untuk Kaum Abangan Bali
Lepas dari pro-kotra, silang persepsi, buku ini layak menjadi pertimbangan. Setidaknya menggugah kesadaran, bagaimana seharusnya praktik keagamaan dimaknai, supaya setiap orang disadarkan untuk tetap saling merawat.
Judul Buku : Kesalahpahaman Di Balik Yajna Macaru di Bali
Penulis : Acarya Paramananda Muni Daksa (Made Aripta Wibawa, SH. M.AG)
Penerbit : CV. Bali Media Adhikarsa, Denpasar, 2008
Tebal : XI + 178 hlm.
Mengkritisi agama model Hindu Bali sejak lama dilakukan orang. Kritik itu biasa dilontarkan cerdik pandai yang merasa lebih spiritual tinimbang orang Bali, lagi pula mereka merasa banyak tahu ajaran agama. Buku dengan judul Kesalahpahaman di Balik Yajna Macaru di Bali ditulis Acarya Paramananda Muni Daksa, nama diksa I Made Aripta Wibawa. Meminjam terminologi diajukan Clifford Geertz, penulis buku klasik The Religion of Java (1960), orang Bali pun bisa dikatakan tidak menjalankan agama sesuai kitab-kitab Veda, karenanya digolongkan abangan. Artinya masyarakat Hindu yang tidak menjalankan agama secara murni, disusupi begitu banyak muatan lokal, merbau klenik. Dan mereka yang menjalankan ajaran Hindu secara murni, berpayung pada Veda digolongkan sebagai kaum santri. Setidaknya inilah kesimpulan tersirat setelah membaca halaman demi halaman buku ini. Benarkah yajna caru yang digelar masyarakat Hindu Bali merupakan bentuk kesalahpahaman? Dari teks-teks apologis yang dikutip Made Aripta Wibawa, caru jelas merupakan bentuk kesalahpahaman. lasannya, caru yang menyertakan kurban binatang. Ini dianggap melanggar ajaran ahimsa dharma , alias tidak menjalankan hukum kasih. Model upacara itu tergolong yajna tamasika. Dengan begitu upacara di Bali ditenggarai berkarakter tamasik , alias tidak suci. Betulkah adanya demikian? Aripta Wibawa memberi penegasan, pada hakikatnya yang dinamakan kesucian yajna berpulang dari apresiasi terhadap eksistensi makhluk lain dengan menghindari sekeras-kerasnya penyiksaan, apalagi pembunuhan. Tidak ada makhluk yang menyediakan dirinya untuk disiksa dan dibunuh dengan memuaskan nafsu kebinatangan manusia. Semakin besar terjadinya penyiksaan dan pembunuhan terhadap makhluk hidup semakin besar jurang pemisah dan tali kasih sesama makhluk. Frekuensi kekejian terhadap makhluk hidup semakin semakin hari semakin besar, semakin merosotlah nilai moralitas umat manusia (hlm, 71). Vonis kesalahpahaman caru di Bali memang tidak serta-merta diamini. Vonis ini tidak sekaligus menunjukkan fase rohani orang Bali tergolong rendah, berbau animisme, barbar. Tuduhan semacam ini tentu memancing kesalahpahaman balik. Di titik ini kadar rohani tidak bisa diukur semata dari tampilan fisik. Kadar rohani antara tukang sapu dan seorang acarya betapa tak mudah ditebak, apalagi hendak divonis berlaku tamasika . Lalu betulkah orang Bali belum menjalankan agamanya secara benar? Barbarkah manusia Bali yang melahirkan peradaban agama tirta, yang melahirkan peradaban Besakih nan agung itu? Tidak memahami ajaran kalepasan -kah leluhur orang Bali yang menulis puluhan teks tutur kediatmikan ? Gilakah orang Bali yang umumnya pemakan daging paham cara mati yang benar? Sungguh betapa sumir jika orang kemudian berpikir hitam putih atas pengalaman spiritual -- terjebak dalam pola pikir baik buruk, salah-benar, suci-leteh, himsa dan ahimsa. Pola pikir semacam ini tentu pola pikir sekolahan, penghayat sektarian yang demam kitab suci, pemuja India, lupa pohon ayat peradaban batin sendiri. Dari sudut pandang agama India, alih-alih dalam pandangan lebih sektarian, praktik upakara di Bali boleh dianggap keliru. Tapi mematut-matut diri ke dalam paham India sentris, dengan slogan pemurnian ajakan kembali ke Veda, cara ini tentu dianggap pangling juga. Sebab mustahil merunut-runut upakara di Bali ke belantara Veda India, ia akan menjadi sebuah temali yang dicoba-coba dipertautkan agamawan sekolahan. Mereka yang sedikit paham peradaban Nusantara pasti ketawa hendak mensejajarkan, menyamakan apa yang ada di India harus begitu juga yang terjadi di Bali. Ini penilaian yang tergesa-gesa, tentu. Aripta Wibawa boleh jadi tidak paham peradaban Nusantara, di mana cikal-bakal peradaban asli Indonesia telah berbaur dengan peradaban Hindu – yang kelak melahirkan media banten sebagai sarana pemujaan. Tentu banten bukanlah hal yang langgeng. Kurban binatang dalam dalam upacara di Bali pasti tidak dimonopoli suku Bali melulu. Nyaris praktik-praktik agama purba Austronesia pasti menyertakan kurban binatang. Para agamawan yang menyelami kerohanian purba belum sepenuhnya bisa menyingkap apa motivasi ritual itu. Adakah ia pratik ‘agama' barbar? Atau ada maksud lain, sebagaimana cara pandang agama asli mereka. Mengubah pasti menciptakan ketidaknyamanan psikologis -- sadar bahwa masing-masing komunitas memiliki geokultur dan kosmogoni berbeda. Inilah keragaman dunia -- hal mana secara spiritual susah mengukur-ukur kadar rohani seseorang, kecuali menebak-nebak dari cara pandang jauh, yakni: cara pandang mereka yang sok mengalami kebenaran hakikat. Tapi Hindu di mana pun berbiak ia merupakan agama yang belum selesai, Hindu adalah agama yang bertumbuh, mengalir seturut dengan kanal yang disediakan peradaban lokal. Jika kanal itu melengkung, Hinduisme pun turut melengkung. Apakah yang melengkung ini kemudian dianggap salah? Justru karena melengkung-lah kemudian air terus mengalir, bertemu kanal baru, membentuk wajahnya yang baru. Air tetaplah air, tapi kadar air akan terbawa sesuai kandungan mineral geologi setempat. Inilah aliran peradaban, orang sekolahan kemudian menyebut sebagai agama. Lepas dari pro-kotra dan silang persepsi, buku ini layak menjadi pertimbangan. Setidaknya menggugah kesadaran, bagaimana seharusnya praktik keagamaan dimaknai, supaya setiap orang disadarkan untuk tetap saling merawat, saling membutuhkan demi roda “tri kona” alam semesta berputar seimbang. I Gede Ari Temaja
Peresensi tinggal di Denpasar