No. 98/ Tahun IX Juni 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Sameton
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
KALANGAN

Kelamin Ganda Kun Adnyana
Selain sebagai pelukis, Wayan Kun Adnyana juga seorang kritikus seni. Ia menjelaskan pameran tunggalnya kali ini dalam sebuah konsep estetik. Tapi, justru dengan itu jadi membingungkan: mau melukis atau mau berfilsafat?


Pengamat seni berwibawa Bali, Jean Couteau, benar saat menulis di katalog: ” There are many great painters born in Bali, yet a painter who ia also a writer, let alone a writer on fine arts, is rarity….. Wayan Kun Adnyana is a fine example of that rarity…. ”. Inilah kelebihan pelukis Bangli, kelahiran 4 April 1976 , yang selain melukis juga menyebarkan ide-ide cemerlang tentang lalu lintas seni rupa Indonesia di berbagai media. Bisa jadi, Kun figur seniman yang diproyeksikan perguruan tinggi seni di Indonesia : berkreasi sekaligus berpikir sistematis. Sudah menjadi policy yang jamak di kalangan seniman kampus, bahwa seorang seniman harus mempertanggungjawabkan karya seni yang dihasilkan dalam bentuk demonstrasi logis. Istilah kerennya estetika atau filsafat seni, yaitu penjelasan rasional bagaimana sebuah karya seni itu bisa dibilang bagus, proses dan pengalaman sang seniman dan sebagainya. Setiap mahasiswa perguruan tinggi seni wajib hukumnya untuk bernalar-nalar soal seni sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi seniman, kritikus seni, tehnokrat seni ataupun jadi pengganguran-eksentrik. Maka, Kun — panggilan sehari-hari Wayan Kun Adnyana — melakukan tugas sebagai seniman akademis yang baik dan benar sesuai rel yang ditentukan kampus dalam pameran tunggal yang diberinya tajuk ” New Totems for Mother ”. Ia merumuskan dengan rinci bagaimana proses kreatifnya sebagai seniman, terutama dalam pameran tunggal kali ini di Gaya Art Space, Ubud (2 Mei-2 Juni 2008). Sebagaimana halnya kaum akademisi memuat karya ilmiah yang dimulai dengan penjelasan istilah, Kun pun dengan takzim melakukan hal yang sama, sebagaimana ditulis pada katalog: ”Istilah ”New Totems” (tanpa diawali kata sandang The — tambahan dari penulis, Jayakumara) dalam konteks tematik ini adalah .... (hal.7)” ; juga untuk urusan yang sifatnya teknis, seperti: ”.....Saya secara intensif mengeksplorasi bentuk-bentuk objek ke dalam karya lukis dengan basis tehnik drawing (gambar)”. Secara konseptual, sebut saja begitu, Kun mengusung tema 'penghormatan pada ibu' yang dikaitkan dengan 'Indonesia merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional'. Kata 'Ibu' didefinisikanya sendiri: ”Ibu bagi Saya adalah sosok pemberi kehidupan, Ibu juga adalah Bumi itu sendiri”, dilanjutkan dengan kalimat kesimpulan-persuasif — nyaris berkotbah, ”Untuk itulah, tatkala kita berkehendak menuju kebangkitan dalam kehidupan, terlebih dahulu memang haruslah menghormati setulus hati Ibu kita sendiri”. Lalu, Kun pun mulai berestetika-ria: ” Konsep New Totems ” sesungguhnya adalah sebuah konsep perenungan akan sebuah makna identitas; identitas paradoks, antara men(ter)jelaskan dan tak terjelaskan dari suatu objek. Selayak konsep ketuhanan dalam tafsir antara ”Ada dan Tiada” ( Hana Tan Hana )” (hal.7). Memang, diperlukan kemampuan akal di atas rata-rata disertai kesabaran untuk bisa memahami bahasa verbal Kun dalam menguraikan filsafat-tersembunyi di balik tema besar ”New Totems for Mother”. Tetapi, bila diringkas sedikit, Kun sebenarnya ingin berbicara soal paham politeistik yang di dalamnya terdapat relasi antara — pinjam alur argumentasi Radhakrishnan — realitas infinite (ketakterbatasan) dan faktisitas pengada manusiawi ( human beings ) yang finite (keterbatasan). Kemudian munculah fenomena antromorphoisasi, pemanusiaan atas realitas alam untuk menunjukan 'komitmen' pengada manusiawi yang finite pada realitas infinite . Dari sinilah istilah Mother of Earth (juga Father Skies ) itu muncul dengan segala predikat yang menyertai seperti kesuburan, pemberi kehidupan, kesabaran. Konsep ini memunculkan berbagai varian simbolisasi atas alam yang lazim dikenal dengan istilah dewa-dewi, seperti Saraswati, Bayu—semacam politeisme. Kun memilih (bisa juga menginterpretasi secara manasuka) bahwa terdapat ruang antara wilayah finite dan infine , yaitu: ruang erotika. Alur argumentasi Kun bisa diraba. Ia memerlukan nada antara untuk menghubungkan paham kuno ibu-bumi dengan realitas kekinian. Karenanya, untuk mem fresh kan pola pemikiran purba, atau dalam istilah Kun 'obsesi bawah sadar manusia untuk memuja ibu', maka munculah peniti sebagai — pinjam istilahnya sendiri — ”.....sebentuk kode simbolik-metafora untuk mendekatkan objek pada posisi traumatik, satir, sinistik, dan humorik” (hal. 8). Kurang lebih rumusan estetika semacam itulah yang hendak disampaikan pada publik dan diekspresikan pada bidang dua dimensi dan juga dua karya tiga dimensi — satu di antaranya sebuah instalasi berbentuk ereksi-penis berukuran raksasa yang terbuat dari anyaman bambu. Hanya, rumusan estetika Kun sepertinya kedodoran untuk menyampaikan ketakterbatasan realitas yang diterjemahkan dalam keterbatasan ruang, yaitu ruang erotik. Ini terlihat bagaimana beberapa terminologi filsafat yang bersliweran dalam tulisan Kun yang tidak disertai detail-konsistensi-penjelasan, seperti 'kesadaran ide' (dua istilah filsafat yang masing-masing memiliki pengertian berbeda tapi dijadikan satu kata), 'obsesi bawah sadar manusia', 'ruang hasrat (libidal) manusia'. Dua istilah terakhir ini mengundang dahi berkerut bila ditelusuri secara refensial: Freudian atau Jungnian ? Serta, bangaimana pula pemujaan pada 'ibu sebagai entitas kesuburan' memasuki ruang bawah sadar manusia? Via kontruksi sosial atau evolusi alami? Istilah-istilah yang dikemukakn Kun terasa 'berat', berlapis namun luntur. Walau maksudnya jelas, kampanye pada sisi feminis manusia terasa kedodoran, perlu kemampuan di atas rata-rata (juga kesabaran) untuk memahami estetika Kun yang dilapisi dengan ragam-terminologi filsafat yang meleleh. Melelehnya antarterminologi tehnis dalam lapisan estetika Kun secara langsung atau tidak langsung bisa jadi mempengaruhi goresan tangan Kun di kanvas. Dari keseluruhan lukisan Kun yang dipamerkan, semuanya berjumlah 14 buah, sebagian besar mengeksplorasi penis dan vagina, ditambah peniti yang disebutkan sebagai simbol traumatik, humorik, dan sebagainya itu. Penonjolan objek-objek genital ditambah figur-figur manusia dan peniti yang merajam tanpa tetesan darah menjadikan objek goresan Kun menjadi monoton serta mengundang penikmat memundurkan langkah ke belakang, berkerut kening berusaha untuk 'menangkap' makna lukisan itu. Kun seperti mau berfilsafat lewat kanvas. Harus diakui, Kun adalah seorang pelukis yang piawai mengerakan tangan di atas kanvas tanpa terputus namun membentuk dinamika-objek yang menunjukan sisi suram objek yang dimaksud. Tapi, itu dulu — beberapa tahun yang lalu. Kini Kun berubah (baca: mengalami perkembangan (?)) dengan mengunakan tehnik asriran pendek. Ironisnya, perubahan tehnik pegang kuas ini tidak ditangkap oleh para pengamat seni yang sebagian besar lebih suka bertindak sebagai tukang rias pengantin dalam membahas perkembangan perupa di Bali. Kini Kun, seperti diakuinya sendiri sedang terobsesi pada tekhnik drawing dengan arsiran yang menuntut ketekunan untuk mengerjakannya. Hanya saja, pilihan warna hitam putih menjadikan fukus 'pesan' yang disampaikan terasa samar. Lukisan berjudul Desire , misalnya, yang berukuran 160 X 140 cm, menggambarkan penis melengkung seperti pisang yang diduduki figur perempuan. Penggambaran penis di belakang penis utama, serta vagina tertusuk peniti yang lebih kecil, serta siluet figur perempuan di bawah figur utama menyebabkan para penikmat seni menghubung-hubungkan ragam objek estetik yang bertebaran itu. Lalu, berusaha (dalam hitungan detik) menangkap pesan lukisan: ini maksudnya apa? Dengan kata lain, Kun kurang piawai menggunakan kekuatan hitam putih untuk menunjukkan daya-hendak-visual kepada para penikmat seni. Kun memang berusaha menarik perhatian daya-hentak-penikmat seni dengan tehnik lelehan dan sapuan kuas ekspresif sebagaimana terdapat dalam lukisan berjudul The Ancient Spa , lukisan berukuran sama. Tapi, tehnik ini justru terlihat ragu-ragu dan mengaburkan objek (dan pesan) yang hendak dipresentasikan pada publik. Singkat ceritera, ketakmencuatnya the wild side Kun sebagai pelukis seakan terhalang tembok besar dari predikat (yang dipilihnya sendiri) sebagai pemikir seni. Sebagai seniman Kun memiliki kelamin ganda dan para pengamat seriasnya justru meriasnya.Sekali lagi, Pengamat seni berwibawa Bali, Jean Couteau, benar saat menulis di katalog: ” There are many great painters born in Bali, yet a painter who ia also a writer, let alone a writer on fine arts, is rarity….. Wayan Kun Adnyana is a fine example of that rarity…. ”. Hanya saja Jean Couteau adalah seorang sosiolog — walau bukan termasuk tukang rias pengantin. Artinya, is mengamati hal-hal yang sifatnya sekala (empiris) dalam dunia seni, karena memang disiplin ilmu empiris yang menuntut begitu. Sementara ranah niskala (metafisik) dunia seni seperti proses penciptaan karya seni oleh sang seniman sepertinya abai diperhitungkan. Couteau, juga Kun; mungkin juga policy perguruan tinggi seni, setidaknya tempat Kun menyelesaikan kuliah lupa bahwa terdapat perbedaan esensial antara seni dan filsafat seni. Pandangan fenomenologis misalnya, justru menempatkan proses penciptaan begitu angker. Disiplin ilmu, sosiologi, psikologi, filsafat atau apapun itu hanya mampu sebagai pendekatan saja. Penciptaan seni bagi kaum fenomenolog: ….. rushing in where angels fear to tread , wilayah yang malaikat pun takut masuk. Kondisi demikian, dapatlah dipahami karena option kesenian bukanlah untuk membatasi kemungkinan — misalnya untuk keperluan operasionalisasi. Dengan demikian, karya seni adalah sebuah opus dan hanya dapat dijelaskan dalam kreasi, yaitu usaha eksistensial untuk menjelaskan diri dalam kemungkinan, bahkan kemungkinan yang terjauh, dan lahir kembali dari dalamnya. Kemisteriusan proses penciptaan seni sebagai suatu upaya eksistensial menjadikan pembicaraan mengenai estetika belum tentu memikat bagi para pengemar seni, karena estetika berkecimpung dalam konsep seni dan bukan seni itu sendiri. Antara seni dan filsafat bukanlah kawan seiring yang baik, sebagaimana dikemukakan Friederich Siegel: ‘dalam apa yang dinamakan filsafat kesenian, biasanya salah satu dari keduanya menjadi korban: atau filsafat atau kesenian'. Itulah sebabnya setiap seniman berkeberatan, bahkan tersinggung bila karya seninya dimasukan pada paham ini atau itu. Pada Kun justru sebaliknya. Ia figur seniman dengan kelamin ganda: melukis sekaligus berfilsafat. Hasilnya, seperti tampil pada pameran kali ini: antara konsep dan karya seni jadi serba tanggung. Di tambah lagi catatan kuratorial yang lebih dominan berperan sebagai tukang rias pengantin dibanding estetikus yang memberi arah bagi perkembangan seni rupa Bali. Tapi Kun ternyata tidak sendiri mengalami sinkrom seniman berkonsep. Menarik kiranya mencermati 'oleh-oleh' yang didapatkan Ugo Untoro setelah mengunjungi berbagai festival seni rupa di beberapa negara di Eropa. ”Seniman Indonesia itu suka mengerjakan sesuatu dengan konsep.” ujarnya dengan mimik sinis sekaligus dingin. ”Coba berkesenian seperti layaknya orang bermain. Ngak usah mikir . Hasilnya pasti bagus,” pungkasnya, kalem. Jayakumara.

 
 
Fortuin Cafe