No. 98/ Tahun IX Juni 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Sameton
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
PARAS PAROS

Kerta Kawat Diburu para Pejabat
Para pejabat atau orang yang hendak meraih jabatan, sepatutnya tak lupa tangkil ke Pura Kertha Kawat. Ida Batara I Dewa Mentang Yuda atau lumrah disebut Ida Batara Hakim Agung yang berstana di sini diyakini mampu memberi kasukertan jagat.

Bila Anda menyebut nama pura di Buleleng, Pura Pulaki jelas tak pernah terlupakan. Pura yang berlokasi Buleleng Barat ini, memang dikenal sebagai satu pura yang kerap disinggahi orang-orang, lebih-lebih yang melintasi di pinggir pantai jalur Jalan Raya Gerokgak–Gilimanuk, sebelum sampai mereka seolah-olah wajib berhenti sejenak di depan Pura Pulaki. Di tempat suci berkategori dang kahyangan ini, — sesuai Purana Pulaki terkait dengan perjalanan Danghyang Dwijendra yang di Bali juga berjuluk Padanda Sakti Wawu Rauh, rohaniwan dari Jawa Timur, di tanah Bali abad ke-16—, mereka mencakupkan tangan, mohon pada Hyang Mahadewi penguasa di Pura Pulaki supaya diberikan keselamatan dalam perjalanan. Lazimnya pura sad kahyangan, dang kahyangan , maupun kahyangan jagat lain, maka Pura Pulaki juga memiliki beberapa pura pasanakan (kerabat). Lokasinya berada di empat arah mata angin. Satu di antaranya Pura Kertha Kawat yang berlokasi di Banjar Kertha Kawat, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Berjarak kurang lebih satu kilometer dari Jalan Raya Gerokgak-Gilimanuk. Sekitar dua kilometer arah tenggara Pura Agung Pulaki. Sama halnya dengan Pura Pulaki, tempat suci yang berlokasi di tengah tegalan, pada kaki bebukitan nan menjulang ini juga dikenal sebagai peninggalan Danghyang Dwijendra. Sesuai tersurat dalam buku Purana Pura Pulaki yang diterbitkan Dinas Kebudayaan Propinsi Bali pada 10 Oktober 2003, Pura Kertha Kawat posisinya berada di sisi timur sebagai stana Batara I Dewa Mentang Yuda atau Batara Ngertanin Jagat — kini lumrah disebut Ida Batara Hakim Agung. Sebagai tempat berstana Ida Batara Ngertanin Jagat, tentu manifestasi Tuhan yang berstana di Kertha Kawat mampu memberi kesejahteraan dan keadilan pada masyarakat. Kepercayaan itu pula yang mendasari hingga banyak orang datang ke Pura Kertha Kawat. Di Bali, pun berbagai daerah lainnya di Indonesia, seseorang yang hendak meraih jabatan dan menunaikan tugas setelah menjabat di pemerintahan maupun swasta, mereka merasa tak cukup percaya mengandalkan kemampuan diri. Berbekal keahlian semata. Guna lebih memantapkan langkah dalam mencapai tujuan, kerap pula menempuh jalan niskala . Memohon berkah, petunjuk, dan bimbingan dari Hyang Mahaagung. Mereka berkeyakinan beberapa tempat suci, di antaranya Pura Kertha Kawat, dirasakan cocok sebagai tempat memohon berkah seperti itu. Dalam cermat Pamangku Pura Kerta Kawat, Ida Bagus Putu Darmika, hampir saban hari ada yang bersujud ke hadapan penguasa Pura Kertha Kawat. Terlebih saat transportasi darat bertambah lancar, kapasitas warga Hindu yang datang semakin melonjak. Penangkilan bukan saja dari daerah Bali Utara (Buleleng-red). Tak sedikit pula berasal dari berbagai wilayah di Bali Selatan dan Bali Tengah. “ Pamedek dari luar Bali juga ada,” tunjuk rohaniwan yang akrab disapa Ratu Aji Mangku ini. Warga yang tangkil ke Kertha Kawat memang tak semata-mata untuk mempertahankan jabatan atau meraih posisi penting di pemerintahan. Banyak pula yang sekadar mohon keselamatan dari Ida Batara Hakim Agung. “Saya tak terlalu banyak tahu prihal pura ini,” Ida Bagus Darmika mengakui.
Tapi dosen pengajar di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar ini mencermat, Kertha Kawat beserta pasanakan Pura Agung Pulaki, lebih teridentifikasi sebagai pura fungsional. Artinya disesuaikan dengan profesi dan fungsi masing-masing. Pura Melanting misalkan, di samping pamedek umum, diyakini pula sebagai satu tempat suci yang mampu mendatangkan rezeki bagi pedagang. Maka, orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang, pebisnis, dan penjual jasa banyak tangkil ke pura ini. “Begitu pula yang saya amati dengan Pura Kertha Kawat,” peneliti beberapa pura ini menegaskan. Masih sedikit sumber yang menyebutkan keberadaan Pura Kerta Kawat, memang. Pun data dari masyarakat pangempon, — Kertha Kawat di- empon warga desa pakraman se-Kecamatan Seririt dan Gerokgak, tepatnya yang berdiam dari sebelah timur Cekik (Jembrana) dan sebelah barat Tukad Saba—, tiada banyak bisa dijelaskan. Mereka hanya tahu bertanggung jawab terhadap segala kegiatan di Pura kerta Kawat dan pasanakan Pura Agung Pulaki lain, seperti terhadap penyelenggaraan piodalan yang dilaksanakan bersamaan dengan Pura Agung Pulaki, selama tujuh hari. Bedanya, puncak karya dilakukan secara berjenjang. Karya bertepatan dengan Purnama Kapat (September-Oktober). Piodalan di pura pasanakan, termasuk di Kerta Kawat, mengikuti upacara di Pulaki, dilakukan dua hari setelah Puranama Kapat, pada pangelong ping kalih . Pada Purnama Kapat puncak karya di Pura Pulaki, keesokan harinya di Pura Melanting, hari kedua di Kerta Kawat, panglong ping tiga puncak piodalan di Pemuteran, dan terakhir di Pura Pabean. “Bangunan suci di sini tak terlalu banyak,” Ratu Aji Mangku mengingatkan. Gedong yang berada di tengah-tengah merupakan palinggih pokok di Pura Kerta Kawat. Di sini berstana Ida Batara Hakim Agung atau Batara Ngertaning Jagat. Kemudian ada padmasana sebagai stana Ida Batara Luhuring Akasa. Di samping kanan kiri gedong ada palinggih bale sidang yang diyakini warga sebagai tempat menggelar sidang. I Wayan Sucipta

Tak Lagi Tertindih Beban
Tiap kali orang-orang menggelar yajnya di satu tempat suci, para penanggungjawab lazim pula disebut pangemong atau pangempon pura, umumnya diwajibkan mengeluarkan dana atau iuran dalam menopang perjalanan upacara. Besaran iuran (urunan) pun tidak menentu, menyesuaikan tingkatan upacara yang digelar. Di samping dalam bentuk uang, pangempon pura juga diwajibkan membawa perlengkapan lain seperti rerampe dan reramon. Bahan-bahan dimaksud umumnya dipergunakan bahan upakara. Kelaziman demikian tak akan ditemui di Pura Kerta Kawat. Warga pangempon tak perlu berlama-lama ngayah di pura. Mereka cukup datang satu hingga dua hari menjelang puncak karya. Itu pun dalam rangka menghias, membersihkan pura, dan memasang penjor. Pasalnya, seperti yang pernah disampaikan Jero Mangku Ida Bagus Kade Temaja, koordinator pamangku pura pasanakan Pulaki beberapa waktu lalu, sebelum upacara digelar, maka akan diawali dengan menggelar paruman. Dalam pertemuan tersebut dibentuk tri manggalaning karya, terdiri dari sulinggih sebagai yajamana karya, tapini (tukang banten), serta pangrajeg karya dari wakil-wakil masyarakat. Tujuan dari pertemuan itu membahas berbagai hal menyangkut upacara, mulai dari tingkatan upacara, hingga pembagian tugas masing-masing pangempon. Apa dan di mana mereka ditugaskan. “Cara ini juga untuk menghindari pengayah hanya berkumpul di satu pura dan lengang di pura lain” kata Pamangku Pura Kertha Kawat, Ida Bagus Darmika. Di samping terbebas dari tanggung jawab ngayah , pangemong Pura Tirta Kawat yang berasal dari warga desa pakraman dua kecamatan (Seririt dan Gerokgak) — batasan wilayah paling barat yakni di sebelah timur Cekik (Jembrana), paling timur di sebelah barat Tukad Saba (Seririt) —sama sekali luput dari urunan berupa uang. Sarana kelengkapan upakara lain, terutama banten catur, pengerjaan sepenuhnya diserahkan kepada sulinggih. Biaya diambil dari dana yang tersimpan di pura. Uang ini merupakan kumpulan dana setahun yang berasal dari sesari dan punia warga yang datang tangkil ke Pura Kertha Kawat. Tiap saat kata Aji Mangku, lebih-lebih pada hari suci seperti Purnama, Tilem (bulan mati), banyak pamedek dari berbagai daerah di Bali yang tangkil ke pura. Di samping menghaturkan sesaji, tak jarang pula melengkapi dengan sesari dan ada yang madana punia. Sesari dan dana punia yang dikumpulkan dalam setahun itulah selanjutnya dijadikan modal menggelar upacara. Dan, cara serupa memang amat meringankan para pangempon. Tiap kali menggelar upacara di Kertha Kawat, mereka terbebas dari beban uang, tak perlu harus bersusah-susah merogoh saku celana. WS.

 
 
Fortuin Cafe