PARINAMA

Glosari Sansekerta
Nyoman S. Pendit
ABANDHYA (abandia)
Berbuah, produktif.
ABHI-GAMANA (abigamana)
Membersihkan dan menata rapi tempat pemujaan atau tempat samadi, tempat beryoga.
ABHOJYANNA (abojiana)
Makanan (miliknya) yang tidak boleh (dilarang) dimakan.
ACHITTA (acita)
Sesuatu yang remeh, tidak menjadi bahan untuk dipikirkan, tidak berguna dan tidak diperlukan.
ADHIKARANA (adikarana)
Menempatkan kepala pemerintahan di suatu daerah atau wilayah yang mempunyai otonomi penuh di bawah supervisi dan pengawasan spiritual Mahkamah Agung yang memiliki kewenangan dalam soal-soal kerohanian pula dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Dalam filsafat Hindu, adhikarana merupakan substratum dasar dari Adhyatman yang merupakan ilmu pengetahuan spiritual.
ADHIVASA (adiwasa)
Minyak wangi, wewangian, parfum yang dipergunakan dalam upacara-upacara keagamaan, dipercikkan pada api pedupaan.
AMIVA (amiwa)
Sakit, derita, duka. Juga dapat diartikan ketakutan, ngeri, tertekan, teror. Dalam Rigweda istilah amiva juga diartikan jiwa yang sakit atau setan.
BHAGAVATA PURANA (bagawata purana)
Salah satu dari kitab-kitab suci Purana yang diawali dengan mantra-mantra Gayatri, mantra tersuci dalam Rigweda diucapkan tatkala subuh dan waktu senjakala. Bagawata Purana ini merupakan purana paling dimuliakan dan berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan umat beragasma. Terdiri dari 18.000 sloka dibagi dalam 332 bab dan 12 skanda, Purana ini didedikasikan untuk Bagawata atau Wisnu. Dalam skanda ke-10 yang merupakan karakteristik kitab suci ini tercantum kisah kehidupan Krisna secara rinci. Lihat juga: Purana.
BHAGINI-BHARTRI (bagini-bartri)
Ipar laki-laki, yaitu suami saudara perempuan.
BHRIGU (brigu)
Adalah suatu ras manusia pertama yang dalam dongeng jaman dahulu dikatakan yang pertama menemukan api di bumi ini sebagai hasil dari pemujaan kepada dewa matahari. Juga disebut sebagai Resi yang tercantum dalam kitab suci Weda, dipandang sebagai salah seorang resi terbesar dan pemula bangsa Brigu atau Bargawa, yang diagungkan sebagai setingkat dengan para dewata di langit. Dalam kitab suci Padma Purana, dikisahkan para resi berkumpul untuk memutuskan Batara mana yang paling patut disembah sebagai perwujudan Hyang Widhi. Karena tidak ada kesepakatan maka diutuslah resi Brigu untuk menghadap Batara Siwa, Batara Brahma dan Batara Wisnu. Tatkala resi Brigu sampai di kediaman Batara Siwa, yang belakangan sibuk dengan istrinya berkencan di tempat gelap. Brigu marah dan mengutuk Batara Siwa menjadi Lingga dan tidak sesajen apapun dipersembahkan kepadanya. Brigu melanjutkan perjalanannya ke kediaman Batara Brahma yang sedang sibuk dikelilingi orang-orang suci sehingga Brigu lepas dari perhatiannya. Brigu lalu memutuskan untuk tidak menyembah Batara Brahma dan langsung menuju ke kediaman Batara Wisnu. Yang belakangan ini didapati sedang tidur lelap. Brigumarah dan untuk membangunkannya ditendangnya dada Batara Wisnu hingga terjaga. Batara Wisnu yang mestinya marah, secara pelan-pelan mengelus-elus kaki Brigu dan menyatakan sangat berbahagia atas kunjungannya. Dengan rasa malu teramat besar, Brigu merasa kagum atas kebajikan Batara Wisnu, menyembah seraya mengumumkan agar semua manusia dan para dewata menyembah Batara Wisnu. Demikian dilaporkan oleh resi Brigu kepada sidang para resi. Ini dapat ditafsirkan sebagai ungkapan sekta Waisnawa. Bhrigukacha – nama sebuah kota kecil yang dipandang suci terletak di tepi sungai Narmada yang kini disebut kota Broach.
BHURI-BALA (buri-bala)
Angkatan darat yang sangat kuat, memiliki pasukan tempur dalam jumlah besar untuk medan tempur di pegunungan dan hutan belantara disebut juga bhuri-padata; bhuri-shena - tentara yang mahir tempur di medan yang sulit.
DHARMASUTRA (darmasutra)
Ungkapan-ungkapan tatakrama kehidupan sehari-hari yang ditulis dalam bentuk puisi (sastra). Ungkapan-ungkapan ini adalah peraturan-peraturan yang dirumuskan dalam kata-kata sastra indah dengan maksud agar peraturan-peraturan tsb tidak terasa kaku dan keras bagi pembaca-pembacanya. Kalpa Sutra adalah peraturan-peraturan ritual, Grihya Sutra adalah upacara-upacara dalam rumah tangga, dan Samayacarika Sutra adalah adat-istiadat konvensional. Diperkirakan oleh para ahli sutra-sutra ini dibukukan dalam abad ke-6 sebelum Tarikh Masehi. Beberapa diantaranya sudah dimuat dalam Bibliotheca Indica.
DIRGHA-TARU (dirga-taru)
Pohon yang tinggi semampai, yaitu pohon palem atau kelapa (nyiur).
DVIJA (dwija)
Juga disebut dvijati istilah yang berarti telah terlahir dua kali dalam hidup ini. Pertama lahir sebagai bayi dari kandungan ibu, kedua lahir setelah menjalani upacara wisuda. Maksudnya adalah seorang yang karena keputusan hatinya ingin mengabdikan diri sepenuhnya kepada kehidupan kerohanian untuk menjadi pendita. Ia harus melakukan upacara mewinten terlebih dahulu, yaitu upacara pensucian diri. Melalui upacara ini ia disahkan sebagai Dvijati, orang yang terlahir untuk kedua kalinya.
DVYANUKA (dwiyanuka)
Dua faktor yang dihubungkan dengan suatu poros membentuk garis memiliki posisi panjang dan lebar, tetapi tidak tebal dan dalam (tanpa ketebalan dan kedalaman).
GATAGATA (gatagata)
Pergi dan pulang, juga disebut gatagati.
Gatagati bisa juga diartikan mati dan hidup kembali.
GULPHINI (gulfini)
Pasukan angkatan darat.
MAHATATTVA (mahatatwa)
Substansi kosmos, alam semesta, inteligensi kosmos (dalam filsafat Sankhya).
MUMUKSU (mumuksu)
Merindukan kelepasan jiwa dalam kemuliaan.
PARAMAHAMSA (paramahangsa)
Pertapa yang paling utama, seorang suci yang telah menaklukkan seluruh indrianya melalui meditasi mistik.
PRAMAPADA (pramapada)
Posisi, kedudukan tertinggi, kemuliaan tertinggi.
PRASADA (prasada)
Makanan saji-sajian (sesajen) yang dipersembahkan pada waktu upacara persembahyangan di pura, mrajan atau sanggah (tempat pemujaan keluarga). Makanan ini, setelah selesai upacara, dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir dalam upacara persembahyangan itu.