No. 98/ Tahun IX Juni 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Sameton
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
SAMETON

Bersama Garuda Ada Mendunia
Garuda hasil takikannya Made Ada menghiasi ruang Istana Negara di Jakarta serta dikoleksi para pemimpin di berbagai belahan dunia. Apa resep sukses dari seniman besar ini?

Hembusan angin menggoyang perlahan pohon perindang yang menghiasi rumah bertingkat di sebelah timur Pura Dalem Pakudui, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Rabu siang, medio Mei silam. Begitu sejuk memang, hingga para pematung garuda yang sedang giat berkarya pun seakan terhanyut akan suasana nyaman itu. Palu kecil yang tergenggam erat di tangan, tiada henti dipukulkan ke ujung pahat sambil mengikuti ornamen garuda yang tergambar rapi di kayu gelondongan. Di sela-sela kesuntukan beberapa perajin menyelesaikan karya, seorang lelaki berbusana adat Bali madya terlihat lalu lalang. Sesekali badannya tersandar pada onggokan patung garuda nan menjulang tinggi. Di lain waktu dia melihat, mencermati beberapa perajin yang sedang suntuk menatap onggokan. Made Ada. Seniman kesohor yang tenar lewat kelihaiannya menakik patung garuda, hari itu memang lagi bersantai. Dari pagi tak sempat menakik kayu. “ Tyang tadi sempat ke Bangli, ada sedikit urusan. Tengah hari pulang dan maunya ke tempat keluarga yang akan menggelar upacara Manusa Yajnya. Ternyata anak sudah duluan ke sana,” kilahnya. Sesaat kemudian dia mengajak duduk di atas bale-bale , pada satu aula cukup luas yang berhiaskan puluhan patung garuda dengan berbagai bentuk dan ukuran. Berteman secangkir kopi hangat dan jajan khas Bali, SARAD berbincang panjang lebar dengan seniman yang pada tahun 1992 sempat meraih penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto. Banyak kisah meluncur dari cerita panjang Made Ada. Menyangkut perjalanan sebagai pematung, kekukuhan pada patung garuda, hingga pengalaman bertemu dengan pejabat tinggi negara. Termasuk menjadi guru bagi warga asing. Keyakinan dan rasa optimis, urai seniman yang sempat memperlihatkan kelihaian menakik patung di depan Presiden Amerika Serikat Ronald Regen dan Nancy Regen, di Nusa Dua, Bali, tahun 1993, sejatinya yang telah mengukuhkan sekaligus mengantarkan dirinya, hingga bisa seperti sekarang. Keraguan dan rasa pesimis seniman lain, justru dijadikan pemacu semangat. Sebab, hanya mereka yang tangguh menghadapi berbagai terpaan dalam hiduplah, pada akhirnya mampu berkembang dan bertahan. Termasuk dalam mengembangkan usaha kerajinan. Itu sebabnya, berbagai larangan yang sempat singgah, termasuk dari orangtuanya, dianggap sebagai sebuah tantangan yang mesti dicarikan jawaban. “Sebenarnya paling keras menentang justru orangtua (bapak) sendiri, yang kala itu menjadi undagi. Beliau melarang anak-anaknya berkutat di seni patung,” Ada mengenang. Jelas bukan tanpa alasan hingga ayahnya melarang putra-putrinya, termasuk Ada, bergumul pada seni ukiran garuda. Ada pesan yang tak terlupakan kala itu, bahwa pekerjaan mengukir tak lebih dari profesi ngayah . Orang yang dimintai bantuan membuat ukiran garuda atau sejenisnya untuk dipergunakan di pamerajan , rumah-rumah, serta tempat lain, umumnya tak dibayar dengan uang. Keahlian perajin paling untung diganti dengan memberi makanan. Berkaca dari kejadian itulah, ayah Ada mengingatkan putra-putrinya supaya lebih serius mengurus hewan piaraan sejenis sapi atau itik. Binatang yang sudah jelas laku terjual dan bisa menopang hidup. Mundur? Kata itu ternyata tak masuk dalam kamus hidup seniman yang ketika masih duduk di sekolah dasar (SD)— Ada bersekolah di SD Kedisan, Tegalallang, tamat tahun 1969—, sempat terkesima pada gambar patung garuda dalam sebuah buku Sejarah Indonesia. Uang saat itu bukan menjadi ukuran. Rasa cinta pada patung garuda begitu merasuk ke sukma. Peringatan sang ayah acap terabaikan. Lebih-lebih setelah tamat SD dan tak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, hasrat memperdalam seni patung khususnya garuda begitu mengental. Dia pun mencuri-curi kesempatan mengerjakan patung garuda. Sulit diurus, akhirnya hati I Nyoman Kampih—Made Ada anak kedua dari enam bersaudara, buah hati I Nyoman Kampih dengan Ni Luh Cenik —, perlahan luluh. Membiarkan putranya berkubang dalam hobi seni patung. Mulailah seniman ini merasa lebih leluasa berkreasi, hingga warga satu desa kerap memanfaatkan keahliannya membuat ukiran garuda. Ada begitu berbangga manakala kahliannya diperlukan. Sekalipun jerih payahnya tak diganti uang. Kalau membuat ukiran di tetangga, kemudian saat istirahat makan diberikan nasi berisi lauk telor saja, dia merasa bersyukur. Hatinya senang bukan kepalang. Sesuatu yang teramat jarang didapatkan di rumahnya. Rasa bahagia yang bisa dimaklumi, jika berkaca pada kehidupan masa kecil ayah lima putra ini, yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Sang ayah yang berprofesi sebagai undagi dan ibu petani, ternyata belum mampu memenuhi keperluan keluarga. Jangankan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, orangtua mampu menyediakan nasi dan sayur saja sudah amat disyukuri. “Saya berkeyakinan keahlian mengukir patung garuda pasti bisa mengantarkan pada hidup yang lebih baik. Terbukti, saat membuat patung garuda untuk tugeh (sejenis tiang penyangga rumah-red) di rumah orang, bisa mendapatkan makanan lebih enak,” Ada mengenang penuh sumringah. Langkahnya makin mantap menggeluti ukiran patung garuda. Bukan saja di desa kelahiran, juga berusaha matanja (menjajakan-red) hasil karya ke berapa galeri penjual barang seni di Desa Mas. Waktu itu satu patung harganya kan masih sangat murah. Sama dengan ketika dirinya membantu warga membikin patung garuda, begitu mendapat uang dari hasil berjualan garuda, sasaran paling pertama yang dicari Ada yakni memburu penjual nasi. Mengisi perut. Saat masih menjual patung ke daerah Ubud, ada pengalaman unik yang tak pernah terlupakan seniman ini. Usai berjualan patung pada sebuah art shop di Mas, seperti biasa dia mencari pedagang nasi. Saking lapar dan enaknya masakan, dia sampai menambah dua kali. Cukup? “Ternyata belum kenyang. Nafsu makan Saya masih bergemuruh,” kenangnya. Namun malu jika sampai menambah lagi, maka siasat lain diambil dengan memesan lagi satu porsi tapi dibungkus. Begitu tiba di rumah, bungkusan itu kembali dimakan. Begitulah unik seniman penuh dedikasi ini dalam mengarungi getir kehidupan, hingga di tahun 1970-an, Dewi Fortuna menampakkan keberpihakan. Kepiawaian Ada membuat patung garuda rupa-rupanya menarik perhatian Made Kembar Kerepun (almarhum), yang saat itu menjabat Bupati Gianyar. Dia sempat berkenalan dan beberapa hasil karyanya dibeli orang nomor satu di Pemerintahan Gianyar tersebut. Patung dimaksud ternyata tak hanya jadi pajangan di ruang kerja Kembar Kerepun, juga dikirim ke Presiden Republik Indonesia yang saat itu dijabat Soeharto. “Peran Pak Kembar Kerepun dalam menenarkan hasil kerajinan patung garuda dan seni tradisional lainnya di Gianyar, begitu besar. Nama besar saya sebagai seniman juga tak lepas dari jasa Beliau,” dia bertutur. Keberuntungan seakan terus berpihak pada pria kelahiran Pakudui, 18 Agustus 1948. Setelah karyanya diperkenalkan Kembar Kerepun kepada pejabat tinggi, termasuk orang nomor satu di Indonesia kala itu, maka tahun 1981, Presiden Soeharto sempat mampir ke bengkel kerjanya, kala itu berada di kawasan wisata Ceking, Tegallalang. Satu kesempatan yang tak banyak didapatkan seniman patung di Bali, lebih-lebih di Tegalallang. Dan, ada satu ungkapan Pak Harto yang sampai kini terngiang di telinganya, “Saya kira Made Ada sudah tua, ternyata masih muda. Saya kenal karya-karya Anda sudah cukup lama,” Ada menirukan sekelumit ungkapan penguasa Orde Baru ini. Di samping bertandang tempat kerja, Presiden kedua Indonesia ini juga membeli beberapa jenis patung garuda garapan. Kunjungan Soeharto pada awal dasa warsa 1980-an, menjadi berkah tersendiri bagi perjalanan lelaki ini dalam menggeluti seni ukiran tradisional. Nama Ada sebagai seniman patung garuda terus membumbung. Begitu mengema. Semakin harum dan semerbaknya sampai ke seantero dunia. Di bulan-bulan selanjutnya, rezeki seakan sulit terbendung. Selain Soeharto yang acap membeli karya-karyanya guna dijadikan oleh-oleh pada pemimpin negara sahabat, para menteri dari zaman orde baru hingga orde reformasi, turis asing, hingga duta besar Indonesia di negara sahabat negeri hampir semua mengoleksi hasil karyanya. Patung garuda pun menjadi ciri khas seni tradisional negeri ini di tingkat dunia. Keyakinan, keteguhan, dan ketetapan hati dalam berkarya, memang telah mengantarkan pematung yang hingga kini menciptakan lebih dari 5 macam bentuk dan gaya patung garuda, sebagai seniman besar. Dia yang sebelumnya sempat maburuh (menjadi pekerja) di beberapa bengkel seni ukir, akhirnya berbalik ngajak buruh (merekrut pekerja) muda. Pada tempatnya bekerja di Ceking maupun Pakudui, generasi penerus seni tradisional itu digembleng tentang teknik bekerja yang baik hingga mampu menciptakan hasil karya berkualitas. “Murid saya bukan hanya orang lokal. Banyak pula warga asing yang ingin tahu cara mengukir garuda,” katanya.
Di beberapa tempat, bila ada orang asing belajar tentang seni tradisi biasanya akan dipatok dengan bayaran tertentu. Berbeda dengan Ada, uang baginya bukan segala-galanya dan mampu menyelesaikan masalah. Sekalipun tak dibayar ia tetap mengajar. Dengan mengajar turis asing, dia mendapat pembelajaran secara langsung terutama tentang bahasa masing-masing negara. Paham saling menguntungkan pun dipegang teguh. Di satu sisi bisa berderma lewat ilmu yang dimiliki, pada pihak lain dia tak perlu harus repot merogoh kantong hanya untuk membayar kursus bahasa asing. Ada memang selalu kukuh dan teguh memegang prinsip dalam melakoni hidup ini. Sekukuh hatinya yang selalau setia berkutat di ukiran garuda, sekalipun ada banyak motif kerajinan menyerbu dan menggoda seniman patung di Bali. “Saya tak hendak berpindah ke lain hati apalagi ikut-ikutan tren. Saya selalu yakin patung garuda yang sudah menjadi seni kerajinan tradisional Bali ini tetap dicari orang sepanjang zaman,” katanya optimis. Ibarat orang sembahyang, tanpa ada keyakinan yang tumbuh tentu mereka tak akan melakukan pemujaan pada Hyang Maha Agung. “Andaikan patung garuda tak laku pun, tetap akan membuat. Hidup mati Saya di patung garuda,” katanya heroik. Ada memang menyukai tantangan dan itu ditemukan di patung garuda. Tatkala perajin lain tak sanggup mengerjakan, tapi dia justru menjadikan kerumitan itu sebagai satu ajang menggali inspirasi. Demikian halnya saat banyak orang berkiblat ke seni patung lain, asa seniman yang satu patung garudanya bernilai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah ini, merasa tertantang. Tergelitik agar selalu bertahan sekaligus meningkatkan kualitas hasil karya sehingga mampu bersiang dengan karya lain, dan tetap menjadikan patung garuda sebagai seni tradisional yang mendunia.
I Wayan Sucipta

Dalam Elusan Soekarno
Tahun 1966, pasca kejadian Indonesia mengalami kejadian teramat mengerikan,-- gerakan 30 September/PKI, merupakan hari yang amat berkesan bagi Made Ada. Pasalnya, sang pematung garuda ini memperoleh satu pengalaman yang sudah tentu belum banyak orang di Indonesia mengalami. Kala itu, Ada remaja, yang usianya kira-kira baru 18 tahun, bersama keluarga dan teman-teman sebaya pergi ke Pura Tirta Empul, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Di lokasi yang berlimpah sumber air itu, dia ramai-ramai mandi. Merendam diri sambil sesekali waktu kejar-kejaran di air sesama teman. Hampir setengah jam lamanya berendam Kebetulan, kala itu ada rombongan Presiden RI Pertama, Ir Soekarno melakukan persembahyangan di Pura Tirta Empul. Entah karena rasa ingin tahu yang teramat besar akan Presiden Soekarno atau ada keinginan lain, setelah cukup lama merendam diri di air nan dingin, dia kemudian duduk di pinggir kolam, dekat pintu gerbang tempat rombongan Presiden Soekarno ke luar dari Pura Tirta Empul. “Saat itu penjagaan terhadap pemimpin di negeri ini tak terlalu ketat. Soekarno begitu merakyat dan selalu dekat dengan rakyat, sehingga orang bisa dengan gampang bertemu sambil berjabat tangan,” Ayah lima putra itu mengenang.Sesuatu yang dirasakan amat berbeda sekarang. Pengawalan pada orang nomor satu di Pemerintahan Indonesia dirasakan amat ketat. Nah, begitu Soekarno melewati undak-undak pintu gerbang dan berjalan di tepian kolam, Ada remaja menggeser sedikit pantatnya. Memberi jalan pada rombongan keluar dari pura. Saat itulah tanpa pernah diduga, tangan Soekarno mendepak lembut kepalanya yang masih sedikit basah. Tak ada kata terungkap dari Bapak Bangsa itu, kecuali senyum yang khas dan merakyat. Tapi, bagi seorang Made Ada, depakan pemimpin revolusi itu sebagai sebuah anugerah. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Adakah elusan lembut seorang Soekarno saat itu sebagai pertanda awal sukses sang seniman kesohor ini dalam mengembangkan patung garuda, ” Tyang belum berani memastikan,” dia berkelit, yang jelas depakan lembut tangan Sang Proklamator di kepalanya begitu dirasakan berenergi. Menjadi satu berkah yang tak akan pernah terlupakan. Sebagai penyemangat hidup sekaligus inspirasi dalam berkarya. Satu keyakinan yang siapa pun bisa merasakan. Sebab, tak semua orang mendapat kesempatan layaknya yang raih Made Ada.

 
 
Fortuin Cafe