No. 98/ Tahun IX Juni 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Sameton
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
SASIH

Perjalanan Menuju Kemuliaan
Sebelas hari, mulai Watugung Pamelas Tali sampai Pagor Wesi lakukan perjalanan penyadaran menuju kemuliaan. Yakini dengan penuh, dewa-dewa senantiasa memberi berkah melimpah.


Redite (Minggu) Kliwon, Wuku Watugunung momen penting bagi tata adab manusia Bali. Momen ini adalah pertemuan Redite dengan Kliwon. Redite, hari pertama dalam saptawara, hari bersiklus tujuh. Dan Kliwon, hari terakhir dalam hitungan pancawara, hari bersiklus lima. Sementara Watugunung adalah wuku (pekan) terakhir dari 30 wuku yang ada dalam kalender Bali. Renteten wuku terakhir ini pun bertemu dengan sasih Sasih Sadha, sasih terakhir dalam kalender Bali. Karena dalam Sasih Jiyestha dilakukan nampih sasih, maka Sasih Sadha dihitung sebagai sasih ke-13, biasanya cuma ada 12 sasih. Tepat tanggal 1 Juni 2008 disebut Kajeng Kliwon Pamelastali, djuga diberi nama Watugunung Runtuh. Tentang Wuku Watugunug Runtuh, orang Bali punya mitologi keramat. Pertama perihal riwayat Watugunung, tanpa sadar memperistri sang Ibu, Dewi Sinta – kelak menjadi wuku pertama dalam kalender Bali. Kedua tentang Watugunung Runtuh sendiri. Di mana keruntuhanya memberi tanda pada kecenderungan musim. Konon, jika Watugunung jatuh (runtuh) ke samudra hujan disertai blabur dipastikan datang. Sebaliknya jika Watugunung jatuh di gunung, panas berkepanjangan dipastikan terjadi. Setidaknya beginilah orang Bali menandai kecenderungan musim. Sementara itu, pejalan di marga yoga memahami Watugunung Runtuh sebagai kejatuhan ego. Yakni terbitnya kesadran murni, fajar baru yang bersinar dalam hati. Kesadaran itu memungkinkan Watugunung senantiasa kembali kepada Sang Mahaibu Sinta – “Ibu” yang pernah dizinahi. Sinta adalah simbol bumi, di mana semua makhluk bisa melangsungkan kehidupan. Dan Watugung pun “lahir” dengan kesadaran baru, fajar batin yang senantiasa disadarkan cinta- kasih ibu. Dua hari setelah Watugung Runtuh, orang Bali kembali disadarkan satu momen penting, hari “larangan” disebut Soma Paid-paidan. Tepat jatuh pada Soma Umanis Wuku Watugunung, tanggal 2 Juni 2008. Ada apa dengan Soma Paid-paidan? Di sini tetua Bali pun mengingatkan perihal runtuhnya tata adab kesusilaan akibat tak kuasa menanggung godaan birahi. Maka saat Soma Paid-paidan, wanita yang baru datang dari permandian diiangatkan untuk tidak menaruh sisir pada rambut – sebab menurut legenda yang hidup di Bali, wanita tengah menyisir rambut di saat itu mengakibatkan kesialan, menyebabkan birahi lawan jenis.Larangan untuk tidak menyisir rambut saat Soma Paid-paidan tentu untuk menjaga kemungkinan goadaan asmara terlarang, antara ibu dan anak, kakak dengan adik, anak dengan ayah – tak ubah tragedi Watugunung yang mengawini sang ibu. Selain “larangan” menaruh sisir di rambut bagi wanita yang baru usai mandi, juga dilaukan “larangan” untuk tidak memanjat pohon. Larangan ini mengingatkan masa kecil Watugunung, saat pagi-pagi hendak minta nasi pada sang ibu. Ini memancing Dewi Sinta marah, memukul mengusir sang anak dari dapur, kemudian dihela, dipaid keluar. Dari sinilah munculnya larangan untuk tidak memanjat pohon saat hari Paid-paidan. Orang Bali percaya seseorang yang melanggar ketentuan itu, bahaya senantiasa mengitip, -- konon ia akan jatuh kepaid, Ibu Sinta. Bisa jadi ini nasihat didaktis supaya orang ingat selalu pada kasih ibu bumi – dari mana pohon dan makhluk hidup bertumbuh. Dan Paid-paidan juga mengingatkan derita seorang ibu saat melahirkan, bertaruh jiwa untuk mereka yang dilahirkan. Dan memasuki hari pertama Sasih Sada, pada 4 Juni 2008, tetap di Wuku Watugunung, Buda Pon, munculah rahina disebut “urip.” Orang Bali menyebut “urip kalantas” hari “hidup abdi.” Di titik ini orang diiangatkan memaknai momen kewaktuan -- momen-momen yang berkaitan dengan jalan berpulang dan jalan kembali. Bermula dari keruntuhan ego Watugunung, terbitlah fajar kesadaran hati, dari lupa terbentang langit pencerahan. Seterusnya, tepat di hari Wrahaspati Wage Watugunung, pada 5 Juni 2008 dimaknai sebagai momen Panegtegan, hari tenang, perenungan melatih hati dan pikiran untuk senantiasa tegteg, tenang. Upaya ini ibarat menjernihkan air keruh, mesti air dibiarkan tenang. Kenapa perlu paneteggan, penenangan? Sebab sehari sebelum hari suci Sarasawati, pada Sabtu Umanis Wuku Watugunung merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan. Di situ dilakukan pangredanan (cipta) kehadapan Dewi Saraswati. Orang Bali menyebut Saraswati sebagai dewaning pangweruh, dewi ilmu pengetahuan. Esoknya, Minggu Pahing Wuku Sinta, wuku pertama dalam kalender Bali, merupakan hari Banyu Pinaruh, orang Bali melakukan pembersihan diri, mandi ke laut dengan tujuan lebur kekotoran lahir batin. Tepat di hari Senin Pon Wuku Sinta, terbitlah hari yang disebut Soma Ibek (Soma Ribek), “Minggu yang penuh.” Pada hari ini orang Bali melakukan pemujaan menghadap ke barat, dengan tujuan tercapai segala usaha. Orang Bali percaya, siapa pun waktu itu memuja menghadap ke barat-laut, ia akan bernasib baik. Dan pada hari Pager Wesi, di hari Buda Kliwon, Wuku Sinta mereka pasti diberkahi kemuliaan, kesucian, kekuatan, kesejahteraan, dan derma melimpah. S

 
 
Fortuin Cafe