UPACARA
Nawagempang Penepis Bencana
Tanya Jawab Upacara
Ida Bagus Putra Manik Aryana
Fungsi Canang Pangraos
Saya sering melihat berbagai jenis sarana upacara dalam sebuah upacara. Tapi, lazimnya orang Bali lain, lebih-lebih generasi muda, kebanyakan mereka hanya tahu nama tanpa mengerti makna dan fungsinya. Sehubungan dengan itu, maka ada beberapa pertanyaan yang Saya ajukan:
Apa sesungguhnya fungsi dan makna canang pangraos yang kerap dipakai dalam setiap pertemuan, misalnya lazim dipakai dalam upacara meminang. Nah selain dalam upacara meminang, dalam upacara apa saja dibolehkan memakai canang pangraos dan kenapa pula memakai canang pangraos? Sementara itu, dalam hal tetandingan apa beda canang pangraos dengan canang-canang lainnya, misalnya canang sari, canang meraka dan lain-lain. apa saja isi tetandingan canang pangraos tersebut? Kepada siapa sepatutnya canang pangraos dihaturkan? Mohon penjelasan.
Belakangan ini, sejumlah media masa di Bali sering memberitakan gelar caru Nawagempang. Kalau tidak salah kantor anyar Bupati Badung digelar caru Nawagempang, begitu juga tempat-tempat lain di Bali. Pertanyaan saya apa kriteria caru yang bisa disebut Namagempang? Kapan dan di mana saja caru Nawagempang bisa dilakukan? Saya juga belum jelas, seperti apa bangun caru nawagempang itu, apakah hakekatnya sama dengan caru-caru yang lain? bigitu juga dengan tingkatan caru, apakah tingkatan caru Nawagempang termasuk tingkat upacara nista, madya atau utama? Mohon penjelasan.
Ni Gusti Ayu Padmi Dewi
Jl Kebo Iwa, Denpasar Bali
Jawab:
Canang Pangraos merupakan simbolisasi dari permohonan manusia agar sebuah pertemuan atau pembicaraan dapat memperoleh tujuannya sesuai harapan. Jika menilik fungsinya, tentu saja canang jenis ini akan ada dalam upacara meminang, karena dalam prosesi ini tentunya akan ada pembicaraan-pembicaraan penting menyangkut cinta antara dua orang yang hendak menikah, menentukan acara pernikahan dan juga prosesi pernikahan. Pada dasarnya sesuai penjelasan tadi, canang ini diperlukan dalam setiap pembicaraan-pembicaraan penting. Bukan Cuma saat melaksanakan upacara perkawinan, termasuk dalam rapat dan pertemuan-pertemuan penting pemeluk Hindu lainnya. Seperti pertemuan sebuah keluarga yang hendak membicarakan piodalan di pamrajan atau pura. Sebuah canang Pangraos umumnya bersaranakan sebuah taledan yang di- trikona /di- plekir berisi satu kojong kapur, satu kojong pinang, satu kojong gambir, satu kojong tembakau, dan lembaran-lembaran daun sirih (Canang Gantal). Taledan berikutnya berisi sarana-sarana pabersihan seperti kasigsig , bubuk harum, minyak harum, ambuh, tirtha ukup-ukupan dalam sebuah takir (Canang Pasucian). Di atasnya berisi canang Sari yang terbuat dari sebuah ceper bungkulan berisi daun/plawa, tebu, pisang mas, kakiping, tubungan, gegeti, dan beras kuning. Berikutnya dilengkapi sampyan bundar berisi beraneka macam bunga. Susunan canang ini: paling bawah Canang Gantal, di atasnya Canang Pasucian, di atasnya lagi Canang Sari. Jadi gabungan antara Canang Gantal, Canang Pasucian, dan Canang Sari disebut dengan nama Canang Pangraos. Canang pangraos pada hakekatnya dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai Dewi Saraswati yang dikenal sebagai dewinya kata-kata. “Hyang Hyang ning kata”. Dan, tentunya juga dipersembahkan pada dewa-dewi lainnya sebagai saksi dari pelaksanaan pertemuan, dengan harapan supaya pembicaraan yang dilakukan dapat memperoleh hasil terbaik. Antara pembicara dan kelompok-kelompok yang diwakilinya dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Berikutnya mengenai Caru Nawagempang tiada lain merupakan jenis Bhuta Yajnya yang pada dasarnya dibangun dari caru Pancasanak. Sesuai keterangan dalam teks Lebur Gangsa “ krama manut sahananing mancasanak”; demikian juga teks Lebur Sangsa menyatakan, bahwa Nawagempang pada dasarnya adalah caru Pancasata yang ditambahkan “yan itik putih dulurannya ikang caru panca sata ika...Nawagempang ngaran”. Jika dicermati caru Pancasanak/Pancasata intinya mempergunakan hewan caru ayam lima, maka dalam caru Nawagempang ditambah bebek putih yang diletakkan pada bagian tengah caru “Mwah itik putih, ika olah dadi asya karang mwang asya tanding”. Caru Nawagempang ini digelar dengan harapan pelaku caru dapat terhindari dari hal-hal yang membahayakan Caru ini sesuai keterangan teks digelar apabila hunian manusia tergolong ‘karang panas', karang aeng, dan karang angker, “ Luir caru Nawagempang maka wisesan caru kabeh, wenang nglebur sarupaning pamanes karang, asing katibanan rusak kojaring arep”. Kata nawa artinya sembilan gempang/gempung artinya menghancurkan. Sesuai konteks kalimatnya Nawagempang adalah sembilan kekuatan yang menghancurkan segala macam bahaya atau rintangan. Tentang bangun caru Nawagempang, sesuai keterangan dua teks yakni Lebur Gangsa dan Lebur Sangsa, diuraikan sebagai berikut:
Teks Lebur Gangsa:
Luir caru Nawagempang maka wisesan caru kabeh, wenang nglebur sarupaning pamanes karang, asing katibanan rusak kojaring arep. Wenang asing-asing mangangge pada amanggih don sadya rahayu paripurna. Apan ikang caru Nawagempang maka widhining caru kabeh, kaputusan nira Sang Brahmana Pandita. Wisesa tapasa, luir pratekanya tinutakna. Wenang maka sadhana dasar ring tawur, kang lawa ring tengah ayam amanca warna, krama manut sahananing mancasanak, pada rinancana, ginawe karangan, babayuhan manut warna mwang uriping panca desa mwang genah pasanganya. Tekaning segannya pada anutkakna warna mwang urip pada penek mwang sega sasangan manut bayuhan iwaknya. Maka duluranya, pras, daksina, suci, ajuman, sorohan lis lanlanan, panyeneng pada wijinan mwang sayut pangambyan, sayut dhurmanggala, tulung matangga, tulung urip pada mawiji. Cecumbu misi samsam don tibah pada 1, sanggah cukcuk pada swang-swang, sodaan, canang tangkepan mwang pangresikan. Maplawa telujungan, ginantungan sujang mesi arak, berem, tuak, yeh, pada swang-swang. Ayam ika sami makulitin matangkeban ring olahanya swang-swang. Mwah itik putih, ika olah dadi asya karang, mwang asya tanding. Pada majatah asya katih, seganya sege kepel asya kepel gede dadi atamas, maaled rwaning nagasari pada swang-swang asya tamas juga kwehnya apan mider bwana genahnya. Karangannya pada ngawa sege sokan, sga talopokan putih pada mawiji swang-swang. Mwah pras daksina, suci pada swang lan lis saruntutanya kadi pralagi, nora nawa wangun angawe sanggah cukcuk. Mwang kulitin itik putih ika tangkebaken ring carune ring tengah. Daksina ring tengah winadahan nyiyu anyar mesi sarwa sya, pepek sadaginging daksina, dulurin sesayut prayascitta mwang sesayut pangambyan sorohan, lis, tan mari tulung matangga tulung urip, lanlanan cucumbu, panyeneng kadi pralagi. Ika nawagempang ngarannya (leburgangsa 15a-b).
Artinya:
Adalagi caru Nawagempang merupakan inti dari semua caru, bisa melebur segala macam penyebab disharmoni rumah dan pekarangan, seperti bahasan di depan. Siapapun yang menginginkan memperoleh kesejahteraan, boleh melakukannya dan akan mendapatkan kebahagiaan itu. Sebab caru Namawagempang adalah sari dari semua jenis caru, merupakan anugerah dari Brahmana Pandita. Memiliki keutamaan yang tinggi dan ikutilah tatacaranya. Caru ini boleh sebagai dasar dari Tawur, di tengah ayam brumbun, di arah lainnya mengikuti tatacara mancasanak (ayam lima), diolah sesuai karangan -nya, babayuhan- nya juga mengikuti warna ayam serta neptu (urip) masing-masing arah dan ketentuannya. Demikian juga warna nasinya, penek, jajan, babayuhan, agar mengikuti warna ayam dan neptu arahnya. Dilengkapi dengan peras, daksina, suci, ajuman, sajen lis dan kelengkapannya, panyeneng masing-masing 1 buah, sayut pangambyan, sayut dhurmanggala, tulung matangga, tulung urip masing-asing 1 buah. Sebuah takir berisi samsam dari daun mengkudu, masing-masing berisi sanggah cuk-cuk, sodaan, canang serta pangresikan. Daun plawanya telujungan (ujung daun pisang), digantungkan sujang berisi arak, berem, tuak, air masing-masingnya. Semua ayam dilayang-layang, lalu dipakai untuk menutupi caru sesuai ketentuannya. Serta bebek putih, diolah menjadi sembilan karang, serta sembilan tanding. Satenya juga sembilan biji, nasi kepelan besar sembilan buah masing-masing ditempatkan dalam sebuah tamas, alas nasinya daun nagasari ditempatkan pada sembilan penjuru mata angin (delapan penjuru ditambah satu di tengah). Lauk karangannya masing-masing berisi nasi sokan, nasi telopokan warna putih masing-masing satu buah. Serta sebuah daksina, suci pada masing-masingnya dan lis serta kelengkapan lainnya, sanggah cuk-cuknya tidak berjumlah sembilan buah (tetap lima buah). Bebek caru dikuliti (malayang-layang) lalu ditaruh menutupi caru yang di tengah. Ditengah daksina serba sembilan ditempatkan pada ngiyu, lengkapi dengan sesayut prayascita serta sasayut pangambyan, lis. Tak ketinggalan tulung matangga, tulung urip, kelengkapan-kelengkapan takiran, dan panyeneng. Inilah yang dinamakan dengan caru Nawagempang.
Kemudian dalam teks Lebur Sangsa, dijelaskan:
Yan itik putih dulurannya ikang caru panca sata ika, itik ika dadyakna sanga wadah, 9 kawis, jejatah 9 swang, sgenya kinepel-kepel, winadahan tamas, pada mesi 9 kepel swang, inaledan rwaning nagasari wijinen, nawagempang ngaraning caru mangkana (lebur Sangsa lmbr 53b).
Artinya:
Jika bebek putih menyertai caru Panca Sata itu, bebek tersebut diolah menjadi 9 olahan, 9 kawisan, 9 buah sate. Nasinya dikepel-kepel taruh di atas tamas, masing-masing berisi 9 kepel, memakai alas daun nagasari, Nawagempang namanya caru seperti ini.
Jika dilihat besarnya caru menurut teks Lebur Sangsa, maka Nawagempang merupakan jenis caru tingkat madya , bahkan caru ini dinyatakan lebih kecil dari caru Rsi Gana yang memakai ayam lima, bebek putih, dan anjing berbulu merah mulutnya berbulu hitam (bangbungkem). “Hana mwah itik putih ginawe caru, duluri sata manca warna mwang asu bang bungkem, Rsi Gana, ngaran”. Nawagempang bertujuan untuk mendamaikan segala macam ‘gelap'/ bhuta yang dapat menyebabkan terjadinya disharmoni dalam rumah tangga.
Namun jika mengacu pada teks Lebur Gangsa, maka caru Nawagepang ini ternyata bisa juga dijadikan dasar dari sebuah prosesi Bhuta Yajnya yang lebih utama “wenang maka sadhana dasar ring tawur ”. Mungkin saja dalam teks yang lain istilah Nawagempang muncul dalam skala yang lebih besar dari pernyataan Lebur Gangsa dan Lebur Sangsa tadi, hingga caru ini dianggap pantas dipakai dalam skup Bhuta Yajnya yang lebih besar. Namun, penulis belum pernah melihat teks yang menjelaskan caru Nawagepang lebih besar dari Rsi Gana.
Berikut secara berurutan beberapa jenis caru yang intinya memakai ayam lima (pancasata) meningkat menjadi lebih besar sesuai penambahan-penambahan hewan kurbannya menurut teks Lebur Gangsa dan Lebur Sangsa: Pancasata, Nawagempang, Bhuta Siwirik, Pancakosika, Rsigana, dan lainnya.