logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 GEGINAN - USAHA 
 
 
Bisnis Elok Payas Agung

Bisnis merias dengan busana payas agung Bali kian mencorong. Upacara yang sambung-menyambung menjadikan lahan ini kian subur. Omset sebulan bisa mencapai Rp 33 juta.

Lunas sudah jengah Ni Nyoman Menuh (45) terbayar. Lewat upacara perkawinan anaknya, Gede Danarta (25) dengan Ni Ketut Rani (24) yang asal Klungkung, ibu yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di Pasar Badung tersebut bisa juga akhirnya mewujudkan impiannya mapayas agung. Inilah busana kebesaran adat Bali yang di masa lampau cuma menjadi ‘hak’ kaum ningrat. “Yah, tiang liang pisan (Saya bahagia sekali),” tutur Menuh lirih. Air matanya luruh, tipis.
Ketika melangsungkan upacara pernikahan dengan Gede Darna 26 tahun silam, Menuh begitu tergiur ingin tampil elok dengan payas agung, layaknya para putri kalangan puri dan geria. Baginya, upacara perkawinan hanyalah berlangsung sekali. Karenanya, dia menginginkan membuatnya menjadi megah. Kalau bukan saat natab banten perkawinan, lantas kapan lagi dia akan dapat merasakan nikmatnya mengenakan busana berprada kemilau bungah itu? Sayangnya, ibunya melarang keras. “Awak tani kelen, tilesang awake. Eda ngeden-ngedenang panyambat gumi (Jadi anak petani totok, tahu dirilah. Jangan membikin geger orang lain),” begitu ibunya mengingatkan, dulu. Sejak itu Menuh terus bertekad: suatu ketika payas agung itu mesti bisa dikenakan oleh keturunannya.
Ketika hidupnya kini serba berkecukupan, ia pun dengan leluasa mewujudkan rasa jengah-nya. Dengan mengalokasikan dana Rp 1 juta, jadilah anak semata wayang dengan pasangannya itu berbusana megah di hari upacara perkawinannya. Pasangan pengantin itu tampak bagai Sang Hyang Semara menggamit Dewi Ratih. “Tiang liang (Saya bahagia),” Menuh berucap berkali-kali menatap anak dan menantunya elok mapayas agung.
Seperempat abad lampau, orang kebanyakan sekelas Menuh tak mudah memang mewujudkan impiannya mengenakan payas agung. Busana jenis ini masih khas ‘milik’ para menak. Orang kebanyakan tak berani mencoba mewujudkan. Bukan saja gunjingan bakal mencecar ke arahnya, tapi juga tohokan istilah mamada-mada, menanding-nandingi. Maksudnya, tentu saja, menandingi penampilan kaum menak. Ini tak diperbolehkan. Cibiran dan makian jadi buahnya, seperti menimpa Nyoman Menuh. Waktu menyampaikan keinginan mapayas agung di hari  perkawinannya, ibunya memberondong Menuh dengan makian. “Sekarang zamannya sudah berubah. Kalau punya uang mau berias semegah apa pun tak ada melarang. Tapi dulu tidak. Orang biasa tak boleh  mapayas agung. Mamada-mada namanya,” jelas Nyoman Rinadi, pemilik Salon Rina  di kawasan Jalan Madura, Pekambingan, Denpasar.
Begitulah zaman telah berubah. Orang bebas mengekspresikan diri. Tak ada lagi halangan orang punya keinginan berbusana dan berias semegah apa pun. Yang menjadi soal begitu penting hanya satu: uang. Etika kepantasan diukur hanya dari satu kata: uang. Tak ada lagi tudingan mamada-mada. Akibatnya, kini orang berbusana agung saat upacara perkawinan menjadi marak. Bahkan, tak sedikit kalangan bukan Bali minta dirias mengenakan payas agung saat hari perkawinannya. Mereka latah mapayas agung karena terpikat pada kemegahannya. Orang-orang asing pun tak ketinggalan. Penyanyi rock kondang, Mick Jegger, contohnya. Ketika tahun 1990-an lalu melaksanakan perkawinan secara Hindu dengan Jery Hall di Ubud, dia mapayas agung bak kalangan puri. Jadinya, hampir semua penata rias mengaku pernah merias orang yang bukan orang Bali dengan tatarias dan busana kebesaran keturunan raja-raja Bali dulu itu.
Wanita Bali berhias. Mewujudkan rasa jengah - foto: AgustanayaKini, memang, tak lagi ada larangan mengenakan busana atau berias adat Bali. Hanya yang perlu diwanti-wanti jangan sampai melecehkan. Misalnya, karena suasana dan tempat pemakaian yang tidak tepat. “Jangan sampai payas agung  dipakai orang hanya untuk gagah-gagahan, seperti oleh pembawa pemukul gong dalam suatu acara peresmian, misalnya. Bila tujuannya tidak sesuai, sebaiknya jangan, agar tak terkesan melecehkan Bali,” ketus Anak Agung Ayu Ketut Agung, pemilik Salon Agung di Jalan Anggrek, Denpasar.
Di mata wanita yang akrab dipanggil Ibu Agung itu, arus global telah menjadikan payas agung begitu marak sejak beberapa tahun belakangan ini. Perubahan menyeluruh mempengaruhi cara pikir dan cara pandang orang. Tradisi yang dulu berdiri kokoh tumbang tak berdaya. Tatanilai pun bergeser,  dari tatanilai tradisi ke tata nilai ekonomi. Status ekonomi seseorang sangat menentukan: “Asal ada uang apa pun jadi,” begitu orang sering berkata. Ditambah lagi tingkat perekonomian orang Bali semakin baik. Kloplah sudah perubahan itu terjadi.
Perubahan yang sangat mencolok itu terlihat pada daerah-daerah pariwisata karena umumnya tingkat pertumbuhan ekonomi mereka lebih tinggi. Maka menjadi logis bila undangan merias ke daerah-daerah subur pariwisata, seperti Ubud, Sukawati, Celuk, dan sekitarnya di Gianyar secara kuantitas lebih tinggi. Nyoman Rinadi yang sudah keliling Bali merias pengantin  mengaku paling sering mendapat pesanan dari Ubud. “Pesanan merias ke Ubud paling banyak. Sebulan tiang (saya) bisa tiga kali merias ke Ubud,” kata Rinadi, yang tinggal di Pekambingan ini.
Minat masyarakat Bali berias ke salon, dalam catatan Ibu Agung, dimulai sejak 1980-an. Saat ia mulai buka usaha salon  tahun 1982 tak banyak ada salon kecantikan. Perlahan tapi pasti sejak itu kecenderungan ke salon meningkat. Orang pun melihat peluang bisnis yang lebar. Kursus-kursus kecantikan jadi sesak. Paling tidak 75 orang ditamatkan dari kursus ini setiap periode pelulusan yang mencakup 3-4 bulan sekali. Salon Agung sendiri mengikutkan 30-50 orang siswanya menempuh ujian negara bidang tata rias kecantikan, setiap periode. Sampai kini dalam registrasinya tercatat 960 siswa tamat dari Salon Agung. Banyak di antara mereka tercatat sudah membuka salon kecantikan sendiri.
Tak pelak persaingan bisnis salon kecantikan ini jadi kian sengit. Tak cuma di jalan-jalan besar beraspal, hingga ke gang-gang sempit pun salon bertaburan. Aneka kiat layanan memuaskan pelanggan pun ditebar. Ibu Agung, misalnya, memberi nilai unggul pada kecepatan layanan dalam merias. Awalnya sepasang pengantin dirias minimal dua jam. Kini dipercepat jadi cuma satu jam. Bahkan 45 menit. Tentu saja dengan kualitas riasan yang tetap prima, tahan lama. Selebihnya tak ada promosi khusus. “Paling hanya dengan memberikan kartu nama kepada setiap yang datang ke salon saya, atau cerita dari mulut ke mulut oleh pelanggan yang puas,” ucap Ibu Agung.
Toh, permintaan merias tetap tinggi. Dalam musim sepi saja sebulan dapat dipastikan ada panggilan merias 2-3 pasang pengantin. Musim sepi ini cuma berlangsung sebulan setelah Hari Raya Galungan. Dalam tradisi Bali dalam kurun sebulan setelah Galungan ini biasanya sangat dihindarkan melangsungkan perkawinan karena dikhawatirkan akan membawa petaka. Namun setelah Buda Kliwon Pahang yang dikenal dengan sebutan Pegat Uwakan, ‘musim kawin’ itu pun berlangsung kembali.
Bila tak merias pengantin, para pemilik salon kecantikan juga melayani panggilan merias penari. Tak heran bila bagi yang sudah kondang seperti Salon Agung, omset sebulannya bisa mencapai Rp 33 juta. Kalau musim ramai, jumlah itu jelas berlipat-lipat karena jadwal sebulan bisa sangat penuh. “Sehari bisa merias pengantin di 2-3 lokasi,” jelas Ibu Agung.
Di satu lokasi saja dia tak cuma merias sepasang pengantin melainkan bisa mencapai 10 orang. Maklum, orang Bali biasanya melangsungkan upacara manusa yadnya sekaligus. Saat hari upacara perkawinan bisa saja sekaligus digelar upacara matatah, potong gigi. Sepasang pengantin bisa saja disertai 5-10 orang matatah. Ini menjadikan penata rias utama justru sering merasa kewalahan. Asisten pun ditenteng.
Hasrat tampil elok, megah, mempesona dalam setiap upacara mendorong kecenderungan berhias ke salon semakin tinggi di Bali. Kondisi itu kian disempurnakan oleh dorongan gengsi. Maka jadilah Bali lahan subur bisnis salon. “Memang, orang sekarang sangat haus dengan gengsi. Mereka berani mengorbankan uang jutaan rupiah asal penampilannya bergengsi,” kata Nyoman Rinadi. Tak keliru bila kian berderet panjang orang menjadikan bisnis tatarias, khususnya tatarias pengantin Bali, sebagai topangan hidup.
I Made Sarjana


Mematut Diri dengan Gengsi

Demi gengsi, orang Bali kini rela merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah agar penampilannya elok saat upacara. Tak heran bila bisnis tatarias dan tatabusana Bali kian berbiak. Hanya dengan modal awal Rp 2,5 juta sudah bisa jalan.

Bermacam tata rias Bali. Harga sewanya bervariasi - foto: Widnyana SudibyaAmatlah lentur, sesungguhnya, tatarias Bali. Sebagaimana halnya dalam upacara, tatarias Bali pun mengenal pemilah-milahan nista, madya, utama. Artinya: sederhana, sedang, dan besar atau megah, sesuai dengan kemampuan. Dengan begitu, orang Bali yang tak berpunya sekalipun tetap bisa melangsungkan upacara dengan biaya yang sangat irit. Yang terpenting ketulusan, keikhlasan.
Dalam berbusana pemilahan nista, madya, utama itu cuma dibedakan lewat aksesoris yang menyertai busana itu. Busana agung laki-laki, misalnya, di kepalanya mengenakan  gelungan (mahkota), sedangkan yang sederhana memakai udeng (ikat kepala). Pada busana wanita, dibedakan oleh pemakaian patitis. Pada bagian badan yang membedakan biasanya aksesoris berupa bahan-bahan dari kulit, seperti badong, gelang-gelang, dan sebagainya. Begitulah kocek yang dirogoh untuk keperluan berias seperti itu tergantung dari kualitas dan jenis bahan yang digunakan, termasuk disain dan motifnya. “Karena dorongan gengsi, kini busana dalam upacara tertentu pun dibikin semua jadi megah,” sebut pemilik salon, Nyoman Rinadi.
foto: Widnyana SudibyaSaat upacara digelar, kini orang Bali tak cuma sibuk mempersiapkan perangkat sesajen untuk persembahan, tapi juga sibuk dipatut-patut oleh penata rias dan busana demi gengsi. Ini menjadikan tarif penata rias dan busana di Bali jadi mahal. Nyoman Rinadi, misalnya, mematok harga Rp 500.000 sampai Rp 750.000 untuk riasan dan busana tingkat utama.  Rp 350.000 sampai Rp 500.000 untuk tingkat madya. Sedangkan tingkatan nista cukup Rp 150.000 sampai Rp 350.000. Sementara Pusat Kecantikan Andy Puspita di bilangan Jalan Kepundung, Denpasar, memasang harga Rp 800.000 untuk tingkat utama; Rp 700.000 yang madia; dan Rp 400.000 untuk nista.
Penentuan tarif yang berbeda dilakukan Salon Agung di kawasan Kreneng, Denpasar. Ibu Agung, pemiliknya, memasang tarif Rp 500.000 sampai Rp 1.500.000 untuk sekali datang ke tempat klien yang berada di seputaran Denpasar. Kalau di luar Denpasar angka itu bisa melambung sampai Rp 3.000.000. Apalagi di luar Bali bisa mencapai Rp 7.000.000. Salon ini tidak membedakan tingkatan busana nista, madia, utama. “Patokan yang kami gunakan hanya sekali kehadiran di lokasi si pemesan,” ujar Ibu Agung. Soalnya, ia menambahkan, “Jika saya merias di salon saja target setara bisa dipenuhi, padahal dengan datang ke pemesan waktu yang dibutuhkan juga sama.”
Yang bikin tarif Salon Agung mahal, katanya, harga busana yang disewakan. Seperangkat busana, tergantung jenis dan kualitasnya, dibeli dengan harga Rp 1.000.000 sampai Rp 5.000.000. Sekali dipakai perlengkapan yang harganya mahal itu sudah rusak karena kena air atau kena sesuatu yang merusak. Akibatnya, busana itu jadi langsung kelihatan jelek, tak mulus lagi. Biaya memperbaikinya pun mahal, bisa setengah dari harga beli baru. Meskipun demikian, Ibu Agung mengaku jarang memperbaiki busana koleksinya. “Sekali pakai, sesudah itu hanya digunakan untuk keperluan latihan anak didik di salon kami,” paparnya.
Kini setidaknya dia mengoleksi 25 set busana adat Bali anyar yang dinamakan payas agung. Busana-busana itu juga disewakan. Harga sewanya bervariasi, mengikuti jenis bahan, desain, dan motifnya. “Biasanya orang yang minta dirias langsung menyewa busana pada saya biar pas,” katanya.
Namun tak jarang pula manakala diundang cuma merias, dia juga berjaga-jaga dengan alternatif busana koleksinya. Ketika kemudian terbukti busana yang dimiliki kliennya tak pas, Ibu Agung pun tak segan meminjamkan secara gratis busana yang dia bawa. Ini, boleh jadi, juga sebagai trik mempromosikan jasa salonnya. “Saya anggap madana punia (berderma) saja,” tuturnya.
Memang bisnis di Bali tidak dapat murni bisnis. Terdapat budaya madana punia atau manyama braya (berkekerabatan) di dalamnya. Ini menjadikan harga yang semula telah dipatok tidak kaku. Dewa Ayu Wedana Asih yang lebih banyak merias dan menyewakan pakaian tari, misalnya, mengaku sering sulit menentukan harga bila berhadapan dengan teman-temannya. “Berapa ya?” begitu sering jawabnya ketika ditanya ongkos atau biaya sewa.
Standar tarif sewa pakaian biasanya setengah dari ongkos rias komplit, dalam arti rias plus busana. Bisa juga setengah dari harga busana. Tarif itu berkisar Rp 250.000 sampai Rp 500.000.  Itu karena pihak pemilik busana harus mengeluarkan biaya perbaikan busana yang tinggi, Rp 250.000 sampai Rp 1.000.000. Selain itu, seorang penata rias biasanya juga mengajak asisten –bisa karyawan tetap atau tenaga free lance. Ibu Agung, misalnya, yang kini memperkerjakan tidak kurang dari 10 pekerja di salonnya sering membawa seorang karyawannya untuk membantu merias ke tempat pelanggan. Meskipun sebagai karyawan tetap sudah dibayar Rp 300.000 per bulan, tapi ketika disertakan merias ke tempat si pemesan, karyawan tadi tetap mendapat tambahan 20 % dari total upah merias. Sedangkan Rinadi memberikan 25 persen  dari total upah merias.
Mudah direka-reka, memang, hasil jasa tatarias busana Bali jauh lebih lumayan ketimbang pelayanan salon lain, misalnya creambath atau facial. Nengah Charni, misalnya, karyawan yang cukup diandalkan Ibu Agung sebagai asisten, mengaku lebih senang dan selalu berharap dapat order merias pengantin. “Karena tidak begitu banyak waktu dihabiskan agar memperoleh penghasilan lumayan,” katanya. Dalam waktu satu jam saja bisa memperoleh uang lumayan dibandingkan memberikan pelayanan creambath yang minimal dua jam dengan bayaran cuma Rp 5-7 ribu. Padahal, “Mengerjakan creambath itu capek sekali,” katanya, malu-malu.
Tatarias model Bali diakui jauh lebih rumit dibandingkan tatarias Eropa maupun Jawa. Padahal, ongkos tatarias Eropa maupun Jawa lebih mahal daripada tatarias Bali. Yakni, Rp 1.500.000 sampai Rp 3.000.000. Tapi umumnya kalangan penata rias di Bali ini rata-rata mengaku lebih girang merias model Bali. “Meskipun tatarias Eropa dan Jawa itu lebih mahal dan lebih mudah saya tetap lebih senang merias pengantin Bali, karena lebih sreg,” kata Nyoman Rinadi.
Modal usaha salon tidaklah banyak. Ketika membuka usaha salon tahun 1982, Ibu Agung mengaku hanya bermodal Rp 1.500.000. Itu sudah termasuk bangunan. Ketika itu peralatan yang dimiliki hanya sebuah bad, gunting, sisir, dan peralatan lain yang penting untuk sebuah salon. Kini untuk membuka salon cukup dengan modal Rp 2.500.000. “Dengan modal segitu sudah bisa buka salon. Di luar bangunan. Bahan dan obat-obatan nanti bisa dibeli sedikit-sedikit,” jelas Ibu Agung. Anda ingin mencobanya?
I  Made Sarjana


Bersaing Menjual Paket

Beragam alasan mengawali bisnis tatarias Bali. Ada karena ketakberdayaan ekonomi, ada sekadar iseng, ada pula karena jengah. Biaya kursusnya pun bisa jutaan rupiah.

Nengah Carni bingung. Setamat SD di desanya, Kubu, Bangli, ia ingin melanjutkan studi, tapi urung. Penghasilan orangtuanya sebagai petani panyakap (penggarap) tak memungkinkannya bersekolah lebih tinggi.
Macet di jalan sekolahan, Carni berpikir jalan hidupnya sudah buntu. Tapi ternyata tidak. Ada sebuah keluarga yang berbaik hati membawanya ke Denpasar. Karena ia masih kecil, baru tamat SD, Carni pun sekadar disuruh membantu pekerjaan di rumah atau menjaga rumah di saat mereka bekerja. Waktu berlalu tidak begitu lama, Carni tumbuh begitu cepat, perkembangan fisiknya lebih cepat dari usianya. Ia kelihatan seperti gadis remaja. Keluarga itu justru kasihan melihatnya. Akhirnya mereka memutuskan agar Carni kursus kecantikan di Salon Agung.
Wanita merias wanita. Biaya kursusnya jutaan rupiah - foto: AgustanayaDi salon itu, hanya kursus selama 6 bulan Carni lulus ujian. Ibu Agung, pemilik Salon Agung, melihat Carni berbakat dan rajin. Dia pun diangkat sebagai karyawan tetap di salon yang berlokasi di kawasan Kreneng, Denpasar, itu. Kini sudah dua tahun dara Bangli ini bekerja bersama Ibu Agung. Wajahnya tampak seperti gadis dewasa. Orang tidak akan percaya bila sebenarnya umurnya baru 16 tahun. Ia kini menjadi seorang dari enam asisten andal Ibu Agung, dan sering diajak merias pengantin.
Carni hanyalah satu di antara ratusan orang yang ingin menggeluti dunia salon. Berbagai alasan dikemukakan mengenai ketertarikan mereka menggeluti dunia memperelok wajah itu. Ibu Agung sendiri memulai bisnisnya dari rasa kurang puas terhadap hasil periasnya saat  matatah, upacara potong gigi. Waktu itu ia masih sekolah di Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Denpasar. Ia kecewa riasan dirinya tidak bagus. Ia jengah, lantas bersumpah pada dirinya sendiri. “Saya akan rias orang-orang menjadi cantik,” ia mengenang janjinya, hampir dua dasawarsa lampau.
Agung pun sembunyi-sembunyi kursus kecantikan dengan menyalahgunakan uang SPP sekolah calon guru SD itu. Sebab keluarganya, khususnya ayahnya, hanya menginginkan anaknya menjadi orang pintar. Karena itu harus sekolah yang benar, dan harus sekolah di sekolah yang lulusannya cepat mendapat pekerjaan. Ia pun terpaksa sekolah di tempat itu padahal ia sendiri sebenarnya tidak setuju. Tapi terpaksa ia lakukan. Setelah tamat tahun 1980, ia sempat menjadi guru di SD 5 Negeri Denpasar. Tahun 1982 ia menyelesaikan kursusnya. Tidak selang beberapa lama membuka Salon Agung. Kini wanita bernama lengkap Anak Agung Ayu Ketut Agung itu tak cuma sebagai guru di sekolah tatarias dan tatabusana miliknya. Di sini ia sebagai penilik sekolah, sambil tetap merias dan mendidik orang yang ingin trampil di bidang persalonan. “Sumpah saya terwujud sudah,” ujarnya, tergelak.
Tahun 1984, Nyoman Rinadi menyelesaikan kursus kecantikan di Salon Agung. Ia mengikuti kursus itu karena hobi. Sebelumnya Rinadi sering diminta saudara-saudara dekatnya atau teman-temannya merias. Karena begitu seringnya merias orang menambah Rinadi semakin ingin menyuntuki bidang itu. Kursuslah ia. Rinadi yang istri seorang kontraktor ini semula cuma berpikir: ketrampilan merias dapat digunakan membantu saudara atau teman-temannya, untuk manyama braya. Kini ia malah suntuk membuka Salon Rina dengan mempekerjakan dua karyawan. “Untuk urusan rias pengantin saya memanggil teman-teman yang pernah saya ajar secara informal,” katanya.
Payas Agung berpasangan. Persaingan kian ketat - foto: Widnyana SudibyaLain lagi Gusti Ayu Sri Handayani (33). Saudagar buah di Jalan Ternate, Denpasar, ini berasal dari Tejakula, Buleleng. Setelah 20 tahun sebagai saudagar buah dan kini telah punya banyak karyawan untuk mengurus usahanya, ia kursus kecantikan di Pusat Pendidikan Kecantikan Andy Puspita. “Hanya sekadar iseng agar ada kegiatan. Mungkin saja jika nanti sudah mahir dan punya modal akan mencoba membuka salon,” kelitnya.
Meskipun alasan-alasan awal menekuni jagat persalonan berbeda-beda, namun yang jelas, kini bisnis tatarias dan tatabusana Bali memang menggiurkan. Karena semakin lama orang semakin sadar harus mengurus dirinya, menata penampilan karena tuntutan kemajuan zaman atau tuntutan kerja. Bisa jadi itu juga membuat pusat-pusat kursus kecantikan selalu penuh didatangi orang. Lihat saja kesibukan di tempat-tempat kursus kecantikan ini. Begitu banyak salon memberikan layanan jasa kursus kecantikan, misalnya Salon Agung, Salon Purnama, Andy Puspita, Salon Surya, Salon Mico, dan masih banyak lagi.
Tempat kursus ini biasanya menawarkan pendidikan dalam bentuk-bentuk paket. Ada paket perawatan kulit, paket perawatan rambut, paket tatarias dan busana pengantin Bali, paket pengantin Jawa, pengantin Eropa, dan lain-lain. Peserta didik dikenai beaya bervariasi antara Rp 1.000.000 sampai Rp 1.500.000. Dengan biaya sebesar itu diberikan paket-paket dasar plus satu paket rias pengantis yang dipilih oleh peserta kursus. Dari paket yang ditawarkan, rias pengantin Bali-lah yang paling digemari.
Salon Andy Puspita memungut biaya Rp 1.250.000, dapat diangsur tiga kali. Paketnya mencakup perawatan kulit, perawatan rambut, dan rias pengantin. Lama pendidikan tidak dibatasi, sampai bisa. Jika peserta kursus bermaksud melanjutkan ke paket lain, dikenai biaya tambahan Rp 350.000 per paket. Berbeda dengan itu adalah Salon Agung. Salon Agung memberikan diskon 50 persen. Ia hanya memungut dana Rp 500.000. Tambahan paket-paket tertentu kadang diberikan gratis.
Persaingan bisnis tatarias dan tatabusana Bali semakin ketat, memang. Ini belum lagi diramaikan oleh para lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Dulu, STSI hanya memberikan mata kuliah tatarias cantik dan badut untuk kepentingan penari, kini mata kuliah tatarias pengantin juga diberikan. Setamat dari perguruan tinggi seni itu bukan mustahil mereka juga bakal terjun ke bisnis mempercantik wajah ini. Tradisi upacara dan gelar seni yang tak surut-surut di Bali rupanya juga menggelembungkan bisnis mempermolek penampilan.
I Made Sarjana



Malem, Bahan Kosmetik Bali

foto: Widnyana SudibyaMasih ingat kakek dan nenek menginang sirih dulu, hingga keluar ludah berwarna merah bak gincu? Semasa belum ada gincu aneka merk sebaigamana adanya kini, campuran sirih, kapur, gambir, dan buah pinang yang biasanya dikunyah generasi kakek-nenek dulu itulah yang digunakan sebagai bahan pemerah bibir. Sebagai kosmetik untuk muka digunakan boreh miik, bahan rempah-rempah beraroma harum. Kini boreh miik sudah digantikan dengan dasar bedak.
Sepanjang yang dipahami penekun tatarias Bali, AA Ayu Ketut Agung, dua bahan itulah yang secara umum dikenal untuk memperelok wajah di masa lampau. Meskipun Bali mengenal tradisi tatarias yang kuat, terutama di kalangan puri, namun sejauh ini belum ditemukan secara pasti bahan-bahan kosmetik khas Bali, kecuali sirih inang dan boreh miik tadi. Lontar-lontar yang bersangkutan dengan tatarias umumnya memberi porsi lebih pada tatabusana ketimbang kosmetika. Dalam Panji Amalat Rasmi dan Tantu Panggelaran, misalnya, ditonjolkan tatabusana. Soal kosmetika? “Sangat sedikit kita dapat informasi,” kata Ibu Agung.
Satu-satunya bahan kosmetika Bali yang tak tergantikan kini adalah malem alias cairan lilin. “Memang ada jelly yang sama fungsinya dengan malem, tapi tidak bagus. Lebih bagus menggunakan malem,” ungkap Agung sambil menunjukkan sebotol bahan berwarna hitam menyerupai cream.
Malem Bali terbuat dari kemiri, sarang tawon, dan beberapa bahan lainnya. Semua ini lantas digoreng sehingga bercampur menjadi satu. Bila sudah dingin bahan itu berbentuk seperti cairan lilin yang mencair.  Bahan ini digunakan untuk melengketkan rambut bagian depan agar mudah diatur ke samping dan tetap pada posisinya.
MS


 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS