| |
| Bisnis
Elok Payas Agung
Bisnis merias dengan busana
payas agung Bali kian mencorong. Upacara yang sambung-menyambung menjadikan
lahan ini kian subur. Omset sebulan bisa mencapai Rp 33 juta.
Lunas sudah jengah Ni Nyoman
Menuh (45) terbayar. Lewat upacara perkawinan anaknya, Gede Danarta (25)
dengan Ni Ketut Rani (24) yang asal Klungkung, ibu yang sehari-hari bekerja
sebagai pedagang di Pasar Badung tersebut bisa juga akhirnya mewujudkan
impiannya mapayas agung. Inilah busana kebesaran adat Bali yang di masa
lampau cuma menjadi ‘hak’ kaum ningrat. “Yah, tiang liang pisan (Saya bahagia
sekali),” tutur Menuh lirih. Air matanya luruh, tipis.
Ketika melangsungkan upacara
pernikahan dengan Gede Darna 26 tahun silam, Menuh begitu tergiur ingin
tampil elok dengan payas agung, layaknya para putri kalangan puri dan geria.
Baginya, upacara perkawinan hanyalah berlangsung sekali. Karenanya, dia
menginginkan membuatnya menjadi megah. Kalau bukan saat natab banten perkawinan,
lantas kapan lagi dia akan dapat merasakan nikmatnya mengenakan busana
berprada kemilau bungah itu? Sayangnya, ibunya melarang keras. “Awak tani
kelen, tilesang awake. Eda ngeden-ngedenang panyambat gumi (Jadi anak petani
totok, tahu dirilah. Jangan membikin geger orang lain),” begitu ibunya
mengingatkan, dulu. Sejak itu Menuh terus bertekad: suatu ketika payas
agung itu mesti bisa dikenakan oleh keturunannya.
Ketika hidupnya kini serba
berkecukupan, ia pun dengan leluasa mewujudkan rasa jengah-nya. Dengan
mengalokasikan dana Rp 1 juta, jadilah anak semata wayang dengan pasangannya
itu berbusana megah di hari upacara perkawinannya. Pasangan pengantin itu
tampak bagai Sang Hyang Semara menggamit Dewi Ratih. “Tiang liang (Saya
bahagia),” Menuh berucap berkali-kali menatap anak dan menantunya elok
mapayas agung.
Seperempat abad lampau,
orang kebanyakan sekelas Menuh tak mudah memang mewujudkan impiannya mengenakan
payas agung. Busana jenis ini masih khas ‘milik’ para menak. Orang kebanyakan
tak berani mencoba mewujudkan. Bukan saja gunjingan bakal mencecar ke arahnya,
tapi juga tohokan istilah mamada-mada, menanding-nandingi. Maksudnya, tentu
saja, menandingi penampilan kaum menak. Ini tak diperbolehkan. Cibiran
dan makian jadi buahnya, seperti menimpa Nyoman Menuh. Waktu menyampaikan
keinginan mapayas agung di hari perkawinannya, ibunya memberondong
Menuh dengan makian. “Sekarang zamannya sudah berubah. Kalau punya uang
mau berias semegah apa pun tak ada melarang. Tapi dulu tidak. Orang biasa
tak boleh mapayas agung. Mamada-mada namanya,” jelas Nyoman Rinadi,
pemilik Salon Rina di kawasan Jalan Madura, Pekambingan, Denpasar.
Begitulah zaman telah berubah.
Orang bebas mengekspresikan diri. Tak ada lagi halangan orang punya keinginan
berbusana dan berias semegah apa pun. Yang menjadi soal begitu penting
hanya satu: uang. Etika kepantasan diukur hanya dari satu kata: uang. Tak
ada lagi tudingan mamada-mada. Akibatnya, kini orang berbusana agung saat
upacara perkawinan menjadi marak. Bahkan, tak sedikit kalangan bukan Bali
minta dirias mengenakan payas agung saat hari perkawinannya. Mereka latah
mapayas agung karena terpikat pada kemegahannya. Orang-orang asing pun
tak ketinggalan. Penyanyi rock kondang, Mick Jegger, contohnya. Ketika
tahun 1990-an lalu melaksanakan perkawinan secara Hindu dengan Jery Hall
di Ubud, dia mapayas agung bak kalangan puri. Jadinya, hampir semua penata
rias mengaku pernah merias orang yang bukan orang Bali dengan tatarias
dan busana kebesaran keturunan raja-raja Bali dulu itu.
Kini,
memang, tak lagi ada larangan mengenakan busana atau berias adat Bali.
Hanya yang perlu diwanti-wanti jangan sampai melecehkan. Misalnya, karena
suasana dan tempat pemakaian yang tidak tepat. “Jangan sampai payas agung
dipakai orang hanya untuk gagah-gagahan, seperti oleh pembawa pemukul gong
dalam suatu acara peresmian, misalnya. Bila tujuannya tidak sesuai, sebaiknya
jangan, agar tak terkesan melecehkan Bali,” ketus Anak Agung Ayu Ketut
Agung, pemilik Salon Agung di Jalan Anggrek, Denpasar.
Di mata wanita yang akrab
dipanggil Ibu Agung itu, arus global telah menjadikan payas agung begitu
marak sejak beberapa tahun belakangan ini. Perubahan menyeluruh mempengaruhi
cara pikir dan cara pandang orang. Tradisi yang dulu berdiri kokoh tumbang
tak berdaya. Tatanilai pun bergeser, dari tatanilai tradisi ke tata
nilai ekonomi. Status ekonomi seseorang sangat menentukan: “Asal ada uang
apa pun jadi,” begitu orang sering berkata. Ditambah lagi tingkat perekonomian
orang Bali semakin baik. Kloplah sudah perubahan itu terjadi.
Perubahan yang sangat mencolok
itu terlihat pada daerah-daerah pariwisata karena umumnya tingkat pertumbuhan
ekonomi mereka lebih tinggi. Maka menjadi logis bila undangan merias ke
daerah-daerah subur pariwisata, seperti Ubud, Sukawati, Celuk, dan sekitarnya
di Gianyar secara kuantitas lebih tinggi. Nyoman Rinadi yang sudah keliling
Bali merias pengantin mengaku paling sering mendapat pesanan dari
Ubud. “Pesanan merias ke Ubud paling banyak. Sebulan tiang (saya) bisa
tiga kali merias ke Ubud,” kata Rinadi, yang tinggal di Pekambingan ini.
Minat masyarakat Bali berias
ke salon, dalam catatan Ibu Agung, dimulai sejak 1980-an. Saat ia mulai
buka usaha salon tahun 1982 tak banyak ada salon kecantikan. Perlahan
tapi pasti sejak itu kecenderungan ke salon meningkat. Orang pun melihat
peluang bisnis yang lebar. Kursus-kursus kecantikan jadi sesak. Paling
tidak 75 orang ditamatkan dari kursus ini setiap periode pelulusan yang
mencakup 3-4 bulan sekali. Salon Agung sendiri mengikutkan 30-50 orang
siswanya menempuh ujian negara bidang tata rias kecantikan, setiap periode.
Sampai kini dalam registrasinya tercatat 960 siswa tamat dari Salon Agung.
Banyak di antara mereka tercatat sudah membuka salon kecantikan sendiri.
Tak
pelak persaingan bisnis salon kecantikan ini jadi kian sengit. Tak cuma
di jalan-jalan besar beraspal, hingga ke gang-gang sempit pun salon bertaburan.
Aneka kiat layanan memuaskan pelanggan pun ditebar. Ibu Agung, misalnya,
memberi nilai unggul pada kecepatan layanan dalam merias. Awalnya sepasang
pengantin dirias minimal dua jam. Kini dipercepat jadi cuma satu jam. Bahkan
45 menit. Tentu saja dengan kualitas riasan yang tetap prima, tahan lama.
Selebihnya tak ada promosi khusus. “Paling hanya dengan memberikan kartu
nama kepada setiap yang datang ke salon saya, atau cerita dari mulut ke
mulut oleh pelanggan yang puas,” ucap Ibu Agung.
Toh, permintaan merias tetap
tinggi. Dalam musim sepi saja sebulan dapat dipastikan ada panggilan merias
2-3 pasang pengantin. Musim sepi ini cuma berlangsung sebulan setelah Hari
Raya Galungan. Dalam tradisi Bali dalam kurun sebulan setelah Galungan
ini biasanya sangat dihindarkan melangsungkan perkawinan karena dikhawatirkan
akan membawa petaka. Namun setelah Buda Kliwon Pahang yang dikenal dengan
sebutan Pegat Uwakan, ‘musim kawin’ itu pun berlangsung kembali.
Bila tak merias pengantin,
para pemilik salon kecantikan juga melayani panggilan merias penari. Tak
heran bila bagi yang sudah kondang seperti Salon Agung, omset sebulannya
bisa mencapai Rp 33 juta. Kalau musim ramai, jumlah itu jelas berlipat-lipat
karena jadwal sebulan bisa sangat penuh. “Sehari bisa merias pengantin
di 2-3 lokasi,” jelas Ibu Agung.
Di satu lokasi saja dia
tak cuma merias sepasang pengantin melainkan bisa mencapai 10 orang. Maklum,
orang Bali biasanya melangsungkan upacara manusa yadnya sekaligus. Saat
hari upacara perkawinan bisa saja sekaligus digelar upacara matatah, potong
gigi. Sepasang pengantin bisa saja disertai 5-10 orang matatah. Ini menjadikan
penata rias utama justru sering merasa kewalahan. Asisten pun ditenteng.
Hasrat tampil elok, megah,
mempesona dalam setiap upacara mendorong kecenderungan berhias ke salon
semakin tinggi di Bali. Kondisi itu kian disempurnakan oleh dorongan gengsi.
Maka jadilah Bali lahan subur bisnis salon. “Memang, orang sekarang sangat
haus dengan gengsi. Mereka berani mengorbankan uang jutaan rupiah asal
penampilannya bergengsi,” kata Nyoman Rinadi. Tak keliru bila kian berderet
panjang orang menjadikan bisnis tatarias, khususnya tatarias pengantin
Bali, sebagai topangan hidup.
I Made Sarjana
|
| Mematut
Diri dengan Gengsi
Demi gengsi, orang Bali
kini rela merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah agar penampilannya elok
saat upacara. Tak heran bila bisnis tatarias dan tatabusana Bali kian berbiak.
Hanya dengan modal awal Rp 2,5 juta sudah bisa jalan.
Amatlah
lentur, sesungguhnya, tatarias Bali. Sebagaimana halnya dalam upacara,
tatarias Bali pun mengenal pemilah-milahan nista, madya, utama. Artinya:
sederhana, sedang, dan besar atau megah, sesuai dengan kemampuan. Dengan
begitu, orang Bali yang tak berpunya sekalipun tetap bisa melangsungkan
upacara dengan biaya yang sangat irit. Yang terpenting ketulusan, keikhlasan.
Dalam berbusana pemilahan
nista, madya, utama itu cuma dibedakan lewat aksesoris yang menyertai busana
itu. Busana agung laki-laki, misalnya, di kepalanya mengenakan gelungan
(mahkota), sedangkan yang sederhana memakai udeng (ikat kepala). Pada busana
wanita, dibedakan oleh pemakaian patitis. Pada bagian badan yang membedakan
biasanya aksesoris berupa bahan-bahan dari kulit, seperti badong, gelang-gelang,
dan sebagainya. Begitulah kocek yang dirogoh untuk keperluan berias seperti
itu tergantung dari kualitas dan jenis bahan yang digunakan, termasuk disain
dan motifnya. “Karena dorongan gengsi, kini busana dalam upacara tertentu
pun dibikin semua jadi megah,” sebut pemilik salon, Nyoman Rinadi.
Saat
upacara digelar, kini orang Bali tak cuma sibuk mempersiapkan perangkat
sesajen untuk persembahan, tapi juga sibuk dipatut-patut oleh penata rias
dan busana demi gengsi. Ini menjadikan tarif penata rias dan busana di
Bali jadi mahal. Nyoman Rinadi, misalnya, mematok harga Rp 500.000 sampai
Rp 750.000 untuk riasan dan busana tingkat utama. Rp 350.000 sampai
Rp 500.000 untuk tingkat madya. Sedangkan tingkatan nista cukup Rp 150.000
sampai Rp 350.000. Sementara Pusat Kecantikan Andy Puspita di bilangan
Jalan Kepundung, Denpasar, memasang harga Rp 800.000 untuk tingkat utama;
Rp 700.000 yang madia; dan Rp 400.000 untuk nista.
Penentuan tarif yang berbeda
dilakukan Salon Agung di kawasan Kreneng, Denpasar. Ibu Agung, pemiliknya,
memasang tarif Rp 500.000 sampai Rp 1.500.000 untuk sekali datang ke tempat
klien yang berada di seputaran Denpasar. Kalau di luar Denpasar angka itu
bisa melambung sampai Rp 3.000.000. Apalagi di luar Bali bisa mencapai
Rp 7.000.000. Salon ini tidak membedakan tingkatan busana nista, madia,
utama. “Patokan yang kami gunakan hanya sekali kehadiran di lokasi si pemesan,”
ujar Ibu Agung. Soalnya, ia menambahkan, “Jika saya merias di salon saja
target setara bisa dipenuhi, padahal dengan datang ke pemesan waktu yang
dibutuhkan juga sama.”
Yang bikin tarif Salon Agung
mahal, katanya, harga busana yang disewakan. Seperangkat busana, tergantung
jenis dan kualitasnya, dibeli dengan harga Rp 1.000.000 sampai Rp 5.000.000.
Sekali dipakai perlengkapan yang harganya mahal itu sudah rusak karena
kena air atau kena sesuatu yang merusak. Akibatnya, busana itu jadi langsung
kelihatan jelek, tak mulus lagi. Biaya memperbaikinya pun mahal, bisa setengah
dari harga beli baru. Meskipun demikian, Ibu Agung mengaku jarang memperbaiki
busana koleksinya. “Sekali pakai, sesudah itu hanya digunakan untuk keperluan
latihan anak didik di salon kami,” paparnya.
Kini setidaknya dia mengoleksi
25 set busana adat Bali anyar yang dinamakan payas agung. Busana-busana
itu juga disewakan. Harga sewanya bervariasi, mengikuti jenis bahan, desain,
dan motifnya. “Biasanya orang yang minta dirias langsung menyewa busana
pada saya biar pas,” katanya.
Namun tak jarang pula manakala
diundang cuma merias, dia juga berjaga-jaga dengan alternatif busana koleksinya.
Ketika kemudian terbukti busana yang dimiliki kliennya tak pas, Ibu Agung
pun tak segan meminjamkan secara gratis busana yang dia bawa. Ini, boleh
jadi, juga sebagai trik mempromosikan jasa salonnya. “Saya anggap madana
punia (berderma) saja,” tuturnya.
Memang bisnis di Bali tidak
dapat murni bisnis. Terdapat budaya madana punia atau manyama braya (berkekerabatan)
di dalamnya. Ini menjadikan harga yang semula telah dipatok tidak kaku.
Dewa Ayu Wedana Asih yang lebih banyak merias dan menyewakan pakaian tari,
misalnya, mengaku sering sulit menentukan harga bila berhadapan dengan
teman-temannya. “Berapa ya?” begitu sering jawabnya ketika ditanya ongkos
atau biaya sewa.
Standar tarif sewa pakaian
biasanya setengah dari ongkos rias komplit, dalam arti rias plus busana.
Bisa juga setengah dari harga busana. Tarif itu berkisar Rp 250.000 sampai
Rp 500.000. Itu karena pihak pemilik busana harus mengeluarkan biaya
perbaikan busana yang tinggi, Rp 250.000 sampai Rp 1.000.000. Selain itu,
seorang penata rias biasanya juga mengajak asisten –bisa karyawan tetap
atau tenaga free lance. Ibu Agung, misalnya, yang kini memperkerjakan tidak
kurang dari 10 pekerja di salonnya sering membawa seorang karyawannya untuk
membantu merias ke tempat pelanggan. Meskipun sebagai karyawan tetap sudah
dibayar Rp 300.000 per bulan, tapi ketika disertakan merias ke tempat si
pemesan, karyawan tadi tetap mendapat tambahan 20 % dari total upah merias.
Sedangkan Rinadi memberikan 25 persen dari total upah merias.
Mudah direka-reka, memang,
hasil jasa tatarias busana Bali jauh lebih lumayan ketimbang pelayanan
salon lain, misalnya creambath atau facial. Nengah Charni, misalnya, karyawan
yang cukup diandalkan Ibu Agung sebagai asisten, mengaku lebih senang dan
selalu berharap dapat order merias pengantin. “Karena tidak begitu banyak
waktu dihabiskan agar memperoleh penghasilan lumayan,” katanya. Dalam waktu
satu jam saja bisa memperoleh uang lumayan dibandingkan memberikan pelayanan
creambath yang minimal dua jam dengan bayaran cuma Rp 5-7 ribu. Padahal,
“Mengerjakan creambath itu capek sekali,” katanya, malu-malu.
Tatarias model Bali diakui
jauh lebih rumit dibandingkan tatarias Eropa maupun Jawa. Padahal, ongkos
tatarias Eropa maupun Jawa lebih mahal daripada tatarias Bali. Yakni, Rp
1.500.000 sampai Rp 3.000.000. Tapi umumnya kalangan penata rias di Bali
ini rata-rata mengaku lebih girang merias model Bali. “Meskipun tatarias
Eropa dan Jawa itu lebih mahal dan lebih mudah saya tetap lebih senang
merias pengantin Bali, karena lebih sreg,” kata Nyoman Rinadi.
Modal usaha salon tidaklah
banyak. Ketika membuka usaha salon tahun 1982, Ibu Agung mengaku hanya
bermodal Rp 1.500.000. Itu sudah termasuk bangunan. Ketika itu peralatan
yang dimiliki hanya sebuah bad, gunting, sisir, dan peralatan lain yang
penting untuk sebuah salon. Kini untuk membuka salon cukup dengan modal
Rp 2.500.000. “Dengan modal segitu sudah bisa buka salon. Di luar bangunan.
Bahan dan obat-obatan nanti bisa dibeli sedikit-sedikit,” jelas Ibu Agung.
Anda ingin mencobanya?
I Made Sarjana
|
| Bersaing
Menjual Paket
Beragam alasan mengawali
bisnis tatarias Bali. Ada karena ketakberdayaan ekonomi, ada sekadar iseng,
ada pula karena jengah. Biaya kursusnya pun bisa jutaan rupiah.
Nengah Carni bingung. Setamat
SD di desanya, Kubu, Bangli, ia ingin melanjutkan studi, tapi urung. Penghasilan
orangtuanya sebagai petani panyakap (penggarap) tak memungkinkannya bersekolah
lebih tinggi.
Macet di jalan sekolahan,
Carni berpikir jalan hidupnya sudah buntu. Tapi ternyata tidak. Ada sebuah
keluarga yang berbaik hati membawanya ke Denpasar. Karena ia masih kecil,
baru tamat SD, Carni pun sekadar disuruh membantu pekerjaan di rumah atau
menjaga rumah di saat mereka bekerja. Waktu berlalu tidak begitu lama,
Carni tumbuh begitu cepat, perkembangan fisiknya lebih cepat dari usianya.
Ia kelihatan seperti gadis remaja. Keluarga itu justru kasihan melihatnya.
Akhirnya mereka memutuskan agar Carni kursus kecantikan di Salon Agung.
Di
salon itu, hanya kursus selama 6 bulan Carni lulus ujian. Ibu Agung, pemilik
Salon Agung, melihat Carni berbakat dan rajin. Dia pun diangkat sebagai
karyawan tetap di salon yang berlokasi di kawasan Kreneng, Denpasar, itu.
Kini sudah dua tahun dara Bangli ini bekerja bersama Ibu Agung. Wajahnya
tampak seperti gadis dewasa. Orang tidak akan percaya bila sebenarnya umurnya
baru 16 tahun. Ia kini menjadi seorang dari enam asisten andal Ibu Agung,
dan sering diajak merias pengantin.
Carni hanyalah satu di antara
ratusan orang yang ingin menggeluti dunia salon. Berbagai alasan dikemukakan
mengenai ketertarikan mereka menggeluti dunia memperelok wajah itu. Ibu
Agung sendiri memulai bisnisnya dari rasa kurang puas terhadap hasil periasnya
saat matatah, upacara potong gigi. Waktu itu ia masih sekolah di
Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Denpasar. Ia kecewa riasan dirinya
tidak bagus. Ia jengah, lantas bersumpah pada dirinya sendiri. “Saya akan
rias orang-orang menjadi cantik,” ia mengenang janjinya, hampir dua dasawarsa
lampau.
Agung pun sembunyi-sembunyi
kursus kecantikan dengan menyalahgunakan uang SPP sekolah calon guru SD
itu. Sebab keluarganya, khususnya ayahnya, hanya menginginkan anaknya menjadi
orang pintar. Karena itu harus sekolah yang benar, dan harus sekolah di
sekolah yang lulusannya cepat mendapat pekerjaan. Ia pun terpaksa sekolah
di tempat itu padahal ia sendiri sebenarnya tidak setuju. Tapi terpaksa
ia lakukan. Setelah tamat tahun 1980, ia sempat menjadi guru di SD 5 Negeri
Denpasar. Tahun 1982 ia menyelesaikan kursusnya. Tidak selang beberapa
lama membuka Salon Agung. Kini wanita bernama lengkap Anak Agung Ayu Ketut
Agung itu tak cuma sebagai guru di sekolah tatarias dan tatabusana miliknya.
Di sini ia sebagai penilik sekolah, sambil tetap merias dan mendidik orang
yang ingin trampil di bidang persalonan. “Sumpah saya terwujud sudah,”
ujarnya, tergelak.
Tahun 1984, Nyoman Rinadi
menyelesaikan kursus kecantikan di Salon Agung. Ia mengikuti kursus itu
karena hobi. Sebelumnya Rinadi sering diminta saudara-saudara dekatnya
atau teman-temannya merias. Karena begitu seringnya merias orang menambah
Rinadi semakin ingin menyuntuki bidang itu. Kursuslah ia. Rinadi yang istri
seorang kontraktor ini semula cuma berpikir: ketrampilan merias dapat digunakan
membantu saudara atau teman-temannya, untuk manyama braya. Kini ia malah
suntuk membuka Salon Rina dengan mempekerjakan dua karyawan. “Untuk urusan
rias pengantin saya memanggil teman-teman yang pernah saya ajar secara
informal,” katanya.
Lain
lagi Gusti Ayu Sri Handayani (33). Saudagar buah di Jalan Ternate, Denpasar,
ini berasal dari Tejakula, Buleleng. Setelah 20 tahun sebagai saudagar
buah dan kini telah punya banyak karyawan untuk mengurus usahanya, ia kursus
kecantikan di Pusat Pendidikan Kecantikan Andy Puspita. “Hanya sekadar
iseng agar ada kegiatan. Mungkin saja jika nanti sudah mahir dan punya
modal akan mencoba membuka salon,” kelitnya.
Meskipun alasan-alasan awal
menekuni jagat persalonan berbeda-beda, namun yang jelas, kini bisnis tatarias
dan tatabusana Bali memang menggiurkan. Karena semakin lama orang semakin
sadar harus mengurus dirinya, menata penampilan karena tuntutan kemajuan
zaman atau tuntutan kerja. Bisa jadi itu juga membuat pusat-pusat kursus
kecantikan selalu penuh didatangi orang. Lihat saja kesibukan di tempat-tempat
kursus kecantikan ini. Begitu banyak salon memberikan layanan jasa kursus
kecantikan, misalnya Salon Agung, Salon Purnama, Andy Puspita, Salon Surya,
Salon Mico, dan masih banyak lagi.
Tempat kursus ini biasanya
menawarkan pendidikan dalam bentuk-bentuk paket. Ada paket perawatan kulit,
paket perawatan rambut, paket tatarias dan busana pengantin Bali, paket
pengantin Jawa, pengantin Eropa, dan lain-lain. Peserta didik dikenai beaya
bervariasi antara Rp 1.000.000 sampai Rp 1.500.000. Dengan biaya sebesar
itu diberikan paket-paket dasar plus satu paket rias pengantis yang dipilih
oleh peserta kursus. Dari paket yang ditawarkan, rias pengantin Bali-lah
yang paling digemari.
Salon Andy Puspita memungut
biaya Rp 1.250.000, dapat diangsur tiga kali. Paketnya mencakup perawatan
kulit, perawatan rambut, dan rias pengantin. Lama pendidikan tidak dibatasi,
sampai bisa. Jika peserta kursus bermaksud melanjutkan ke paket lain, dikenai
biaya tambahan Rp 350.000 per paket. Berbeda dengan itu adalah Salon Agung.
Salon Agung memberikan diskon 50 persen. Ia hanya memungut dana Rp 500.000.
Tambahan paket-paket tertentu kadang diberikan gratis.
Persaingan bisnis tatarias
dan tatabusana Bali semakin ketat, memang. Ini belum lagi diramaikan oleh
para lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Dulu, STSI hanya memberikan
mata kuliah tatarias cantik dan badut untuk kepentingan penari, kini mata
kuliah tatarias pengantin juga diberikan. Setamat dari perguruan tinggi
seni itu bukan mustahil mereka juga bakal terjun ke bisnis mempercantik
wajah ini. Tradisi upacara dan gelar seni yang tak surut-surut di Bali
rupanya juga menggelembungkan bisnis mempermolek penampilan.
I Made Sarjana
|
Malem,
Bahan Kosmetik Bali
Masih
ingat kakek dan nenek menginang sirih dulu, hingga keluar ludah berwarna
merah bak gincu? Semasa belum ada gincu aneka merk sebaigamana adanya kini,
campuran sirih, kapur, gambir, dan buah pinang yang biasanya dikunyah generasi
kakek-nenek dulu itulah yang digunakan sebagai bahan pemerah bibir. Sebagai
kosmetik untuk muka digunakan boreh miik, bahan rempah-rempah beraroma
harum. Kini boreh miik sudah digantikan dengan dasar bedak.
Sepanjang yang dipahami
penekun tatarias Bali, AA Ayu Ketut Agung, dua bahan itulah yang secara
umum dikenal untuk memperelok wajah di masa lampau. Meskipun Bali mengenal
tradisi tatarias yang kuat, terutama di kalangan puri, namun sejauh ini
belum ditemukan secara pasti bahan-bahan kosmetik khas Bali, kecuali sirih
inang dan boreh miik tadi. Lontar-lontar yang bersangkutan dengan tatarias
umumnya memberi porsi lebih pada tatabusana ketimbang kosmetika. Dalam
Panji Amalat Rasmi dan Tantu Panggelaran, misalnya, ditonjolkan tatabusana.
Soal kosmetika? “Sangat sedikit kita dapat informasi,” kata Ibu Agung.
Satu-satunya bahan kosmetika
Bali yang tak tergantikan kini adalah malem alias cairan lilin. “Memang
ada jelly yang sama fungsinya dengan malem, tapi tidak bagus. Lebih bagus
menggunakan malem,” ungkap Agung sambil menunjukkan sebotol bahan berwarna
hitam menyerupai cream.
Malem Bali terbuat dari
kemiri, sarang tawon, dan beberapa bahan lainnya. Semua ini lantas digoreng
sehingga bercampur menjadi satu. Bila sudah dingin bahan itu berbentuk
seperti cairan lilin yang mencair. Bahan ini digunakan untuk melengketkan
rambut bagian depan agar mudah diatur ke samping dan tetap pada posisinya.
MS
|
|
|