logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI 
JUNI 2000, No.6 Th.I

 
 SAMATRA 
EDITORIAL
 
 
Seni Masa Silam

Bali tak punya arti tanpa kesenian. Memang, orang datang ke pulau ini, konon, karena masyarakatnya sangat ramah, murah senyum, terbuka, santai, dan gampang diajak berkongsi. Tapi sunggingan bibir tak sepenuhnya bisa melahirkan keindahan. Maka senilah yang membuat orang terlena dan berlama-lama di sini, bukan cuma sapaan dan keterbukaan. Ketika kesenian itu berdegup sepanjang waktu dan hadir di setiap sudut, menjadi sebuah akar kultur, para pendatang itu kemudian menghela nafas dalam-dalam, “Ini dia eksotisme yang khas Bali!” 
Di Bali apa pun bisa diolah menjadi seni. Ada seloroh, kalau mau, tiang listrik pun hendak diukir oleh orang Bali. Tak cuma suasana batin yang teduh sanggup menjadi karya seni yang besar. Kemarahan, penghancuran, kehilangan, kenestapaan, bisa menjadi karya seni kriya, karawitan, atau tari, yang memikat. Karena itu orang menyebut, di Bali itu seni adalah kehidupan, membawa jiwa dan fisik, roh dan raga. Seperti juga hidup yang dibalut susah dan senang, sedih dan gembira, bahagia dan derita, begitu pula karya-karya seni di Bali. Ia, seni itu, menjadi besar, ditempatkan di wilayah puncak, sehingga bisa menjadi tuntunan hidup, memberi arah. Hampir tak ada seni di Bali yang tidak bermula dari filosofi tentang jagat (buana agung) dan manusia (buana alit). Maka jika orang Bali tidak berkesenian, mereka merasa seperti tidak hidup, atau hidup tanpa arah dan tujuan, tanpa filosofi. Inilah yang oleh orang Bali dirasakan sebagai hidup yang hambar: raga tidak menyatu dengan jiwa. 
Seni pun kemudian tak cuma sebatas kreativitas. Ia baru punya arti jika diterima oleh Sang Penuntun dan yang dituntun. Sedahsyat apa pun sebuah karya cipta, jika tak diniatkan untuk dipersembahkan, ia akan diledek, dianggap sesuatu yang muskil, dan tak sepantasnya ada. Kenikmatan seorang seniman terletak pada sedalam apa, sejauh mana, karyanya sungguh-sungguh dirasakan dan dimiliki banyak orang. Tidak pada seberapa banyak ia mendapatkan materi balik dari yang ia ciptakan. 
Dan waktu menjadi sangat penting. Ia tak hanya menentukan umur karya seni, tapi juga apakah ia diterima atau ditolak zaman. Jika ia lolos dalam cobaan waktu, ia menciptakan sebuah peradaban kesenian baru. Di Bali, yang begini tak disebut sebagai sesuatu yang kontemporer, namun jauh lebih dari itu: sesuatu yang menjadikan seni sebagai ukuran kecermatan dan kesetiaan hidup. Dengan begitu seni menjadi sesuatu yang membebaskan, yang membahagiakan. 
Karena waktu menjadi ukuran, dan karya seni merupakan peradaban, di Bali seni tradisi memegang peran sangat penting. Ia merupakan ihwal dan ujung, sehingga apa pun harus dimulai dan diakhiri dengan seni. Berkesenian menjadi tradisi. Yang digeluti pun seni tradisi. Seniman yang mencoba bergiat ke luar dari jalur seni tradisi akan dipelototi sebagai kegiatan tidak untuk seni. Bukan untuk kehidupan, cuma main-main. 
Yang tumbuh subur pun akhirnya cuma seni masa silam. Sejak gong kebyar dikenal luas di Bali mulai awal 1900-an, nyaris tak tumbuh seni yang bisa disebut melahirkan peradaban baru. Para seniman sibuk mengolah seni masa lalu itu, mengemasnya bolak-balik, kiri kanan, atas bawah, cuma untuk bisa menghasilkan rasa yang lain. Dan sesuatu yang lain tidak selalu bisa disebut baru. Bisa jadi ia cuma pengulangan, atau memperkaya satu sudut dari berjuta elemen yang mungkin bisa diolah. 
Hingga kini, ketika orang sibuk membahas sekian kemungkinan baru untuk milenium ketiga, Bali masih jua berkutat dengan seni masa lalu itu. Para seniman, koreografer, komposer, pelukis, punya pemeo baru: seni tradisi sebagai sumber inspirasi. Bukankah ini sebuah sikap, seunik apa pun karya cipta mereka harus selalu membawa masa silam? Ada kecemasan, menyingkirkan seni tradisi berarti melawan arus, siap ditolak. Dalam pergulatan moral dan kreativitas, penolakan bisa berarti pengucilan. Di Bali, siapa pun takut sepenuh mati disingkirkan tradisi. Persoalannya tak lagi cuma sebatas seni, tapi sudah menelusup masuk ke hakikat hidup, berbiak ke masalah hidup setelah si seniman mati, kepada anak cucu. Sudah masuk ke persoalan karmapala, ke masalah reinkarnasi. 
Leluhur orang Bali berkesenian memang untuk anak cucu. Tidak untuk satu zaman, bukan untuk satu tempat. Kesenian mereka melampaui ambang batas waktu, dinikmati oleh seluruh warna bangsa di dunia. Maka yang besar sebenarnya adalah para leluhur itu, anak cucu ini cuma penerus. Sebagai penerus pun mereka ternyata tak jua sanggup melebihi sang leluhur. Karena setiap yang mereka hasilkan, jika  ditakar dengan seni masa silam itu, selalu tak kuasa melebihi. Lukisan, tari, karawitan, selalu berkiblat ke masa lalu. Tak pernah muncul yang bisa disebut karya masa kini yang berdiri sendiri, yang mandiri, yang bisa ditegakkan sebagai ciptaan murni otentik saat ini. 
Kalau begitu, tidakkah kerdil seni kita masa kini jika ditimbang-timbang dengan seni masa lalu itu? Tapi seniman kita sekarang toh tetap merasa hebat ketika sanggup menciptakan tari kreasi baru, seni kemasan yang inspirasinya mereka sebut bersumber dari seni tradisi. Ialah karya yang menimba dari sumur seni yang tak pernah kering kendati sudah berpuluh abad usianya. 
Tak ada salahnya jika kemudian dengan gamang orang bertanya: di Bali apakah ada karya cipta seni masa kini yang sepenuhnya terbebas dari balutan keindahan masa silam? 
Anda seniman? Silakan menjawab kegamangan itu. 
 
 

Selamat membaca. 

 
bali - unik dan otentik
 
TERTUSUK PENITI - Di Pura Agung Besakih, saat upacara Panca Bali Krama 1999 lalu, seorang dari delapan anak-anak penari baris meringis dan terpincang-pincang. Padahal tadi ia dengan gagah bergerak berputar. Seorang pengayah tanggap atas kesulitan si anak, yang ternyata betisnya tertusuk peniti perlengkapan pakaian penari. Akibat  terlalu bersemangat melakukan gerakan berputar, peneiti itu lepas, dan menancap di betisnya. Aduh.... rasanya lebih sakit dibanding tertusuk duri. Tari baris itu tak hendak berhenti, si pengayah pun jongkok mencabut dan merapikan kembali peniti, sembari maju mundur mengikuti gerak si penari.


Pembaca SARAD yth,
Mulai nomor 6 Juni 2000 ini SARAD menambah satu rubrik baru - DRESTA - yang untuk selanjutnya akan dikemas menjadi rubrik Tanya Jawab prihal ADAT melengkapi rubrik tanya jawab prihal Tatwa, Susila dan Upacara yang telah ada.
Dengan penambahan itu, SARAD versi 'online' telah kami tata ulang untuk menyesuaikan link ke setiap rubrik yang ada agar lebih mudah bagi Anda "berselancar" di majalah kesayangan Anda ini.
Selamat membaca.
 
webmaster

 
 ENTER
 klik enter untuk melihat reracikan - isi sajian sarad
 
   Info SARAD   Buku Tamu
© Copy Right  SARAD, 2000 - all rights reserved