|
Seni
Masa Silam
Bali tak punya arti tanpa
kesenian. Memang, orang datang ke pulau ini, konon, karena masyarakatnya
sangat ramah, murah senyum, terbuka, santai, dan gampang diajak berkongsi.
Tapi sunggingan bibir tak sepenuhnya bisa melahirkan keindahan. Maka senilah
yang membuat orang terlena dan berlama-lama di sini, bukan cuma sapaan
dan keterbukaan. Ketika kesenian itu berdegup sepanjang waktu dan hadir
di setiap sudut, menjadi sebuah akar kultur, para pendatang itu kemudian
menghela nafas dalam-dalam, “Ini dia eksotisme yang khas Bali!”
Di Bali apa pun bisa diolah
menjadi seni. Ada seloroh, kalau mau, tiang listrik pun hendak diukir oleh
orang Bali. Tak cuma suasana batin yang teduh sanggup menjadi karya seni
yang besar. Kemarahan, penghancuran, kehilangan, kenestapaan, bisa menjadi
karya seni kriya, karawitan, atau tari, yang memikat. Karena itu orang
menyebut, di Bali itu seni adalah kehidupan, membawa jiwa dan fisik, roh
dan raga. Seperti juga hidup yang dibalut susah dan senang, sedih dan gembira,
bahagia dan derita, begitu pula karya-karya seni di Bali. Ia, seni itu,
menjadi besar, ditempatkan di wilayah puncak, sehingga bisa menjadi tuntunan
hidup, memberi arah. Hampir tak ada seni di Bali yang tidak bermula dari
filosofi tentang jagat (buana agung) dan manusia (buana alit). Maka jika
orang Bali tidak berkesenian, mereka merasa seperti tidak hidup, atau hidup
tanpa arah dan tujuan, tanpa filosofi. Inilah yang oleh orang Bali dirasakan
sebagai hidup yang hambar: raga tidak menyatu dengan jiwa.
Seni pun kemudian tak cuma
sebatas kreativitas. Ia baru punya arti jika diterima oleh Sang Penuntun
dan yang dituntun. Sedahsyat apa pun sebuah karya cipta, jika tak diniatkan
untuk dipersembahkan, ia akan diledek, dianggap sesuatu yang muskil, dan
tak sepantasnya ada. Kenikmatan seorang seniman terletak pada sedalam apa,
sejauh mana, karyanya sungguh-sungguh dirasakan dan dimiliki banyak orang.
Tidak pada seberapa banyak ia mendapatkan materi balik dari yang ia ciptakan.
Dan waktu menjadi sangat
penting. Ia tak hanya menentukan umur karya seni, tapi juga apakah ia diterima
atau ditolak zaman. Jika ia lolos dalam cobaan waktu, ia menciptakan sebuah
peradaban kesenian baru. Di Bali, yang begini tak disebut sebagai sesuatu
yang kontemporer, namun jauh lebih dari itu: sesuatu yang menjadikan seni
sebagai ukuran kecermatan dan kesetiaan hidup. Dengan begitu seni menjadi
sesuatu yang membebaskan, yang membahagiakan.
Karena waktu menjadi ukuran,
dan karya seni merupakan peradaban, di Bali seni tradisi memegang peran
sangat penting. Ia merupakan ihwal dan ujung, sehingga apa pun harus dimulai
dan diakhiri dengan seni. Berkesenian menjadi tradisi. Yang digeluti pun
seni tradisi. Seniman yang mencoba bergiat ke luar dari jalur seni tradisi
akan dipelototi sebagai kegiatan tidak untuk seni. Bukan untuk kehidupan,
cuma main-main.
Yang tumbuh subur pun akhirnya
cuma seni masa silam. Sejak gong kebyar dikenal luas di Bali mulai awal
1900-an, nyaris tak tumbuh seni yang bisa disebut melahirkan peradaban
baru. Para seniman sibuk mengolah seni masa lalu itu, mengemasnya bolak-balik,
kiri kanan, atas bawah, cuma untuk bisa menghasilkan rasa yang lain. Dan
sesuatu yang lain tidak selalu bisa disebut baru. Bisa jadi ia cuma pengulangan,
atau memperkaya satu sudut dari berjuta elemen yang mungkin bisa diolah.
Hingga kini, ketika orang
sibuk membahas sekian kemungkinan baru untuk milenium ketiga, Bali masih
jua berkutat dengan seni masa lalu itu. Para seniman, koreografer, komposer,
pelukis, punya pemeo baru: seni tradisi sebagai sumber inspirasi. Bukankah
ini sebuah sikap, seunik apa pun karya cipta mereka harus selalu membawa
masa silam? Ada kecemasan, menyingkirkan seni tradisi berarti melawan arus,
siap ditolak. Dalam pergulatan moral dan kreativitas, penolakan bisa berarti
pengucilan. Di Bali, siapa pun takut sepenuh mati disingkirkan tradisi.
Persoalannya tak lagi cuma sebatas seni, tapi sudah menelusup masuk ke
hakikat hidup, berbiak ke masalah hidup setelah si seniman mati, kepada
anak cucu. Sudah masuk ke persoalan karmapala, ke masalah reinkarnasi.
Leluhur orang Bali berkesenian
memang untuk anak cucu. Tidak untuk satu zaman, bukan untuk satu tempat.
Kesenian mereka melampaui ambang batas waktu, dinikmati oleh seluruh warna
bangsa di dunia. Maka yang besar sebenarnya adalah para leluhur itu, anak
cucu ini cuma penerus. Sebagai penerus pun mereka ternyata tak jua sanggup
melebihi sang leluhur. Karena setiap yang mereka hasilkan, jika ditakar
dengan seni masa silam itu, selalu tak kuasa melebihi. Lukisan, tari, karawitan,
selalu berkiblat ke masa lalu. Tak pernah muncul yang bisa disebut karya
masa kini yang berdiri sendiri, yang mandiri, yang bisa ditegakkan sebagai
ciptaan murni otentik saat ini.
Kalau begitu, tidakkah kerdil
seni kita masa kini jika ditimbang-timbang dengan seni masa lalu itu? Tapi
seniman kita sekarang toh tetap merasa hebat ketika sanggup menciptakan
tari kreasi baru, seni kemasan yang inspirasinya mereka sebut bersumber
dari seni tradisi. Ialah karya yang menimba dari sumur seni yang tak pernah
kering kendati sudah berpuluh abad usianya.
Tak ada salahnya jika kemudian
dengan gamang orang bertanya: di Bali apakah ada karya cipta seni masa
kini yang sepenuhnya terbebas dari balutan keindahan masa silam?
Anda seniman? Silakan menjawab
kegamangan itu.
Selamat
membaca.
|