logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 RERACIKAN - RINGKASAN ISI 
 
 
Paruman
Tradisi ngayah dengan seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian bergeser. Di mana titik kisruh ini dimulai? Di tengah gairah berkesenian di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Komersialisasi seni dituding penyebab merosotnya mutu kesenian Bali. Dan turisme menjadi biang keladi komersialisasi itu. Taksu, yang diyakini membuat kesenian Bali berwibawa dan penuh pesona, pun pudar karenanya. Tuntutan perut, keinginan meraup untung berlimpah, jauh lebih penting tinimbang mempertahankan wibawa karya seni. Apakah kesenian Bali akan pupus?
.......klik

Geginan
geginanBisnis merias dengan busana payas agung Bali kian mencorong. Upacara yang sambung-menyambung menjadikan lahan ini kian subur. Omset sebulan bisa mencapai Rp 33 juta. Demi gengsi, orang Bali kini rela merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah agar penampilannya elok saat upacara. Tak heran bila bisnis tatarias dan tatabusana Bali kian berbiak. Hanya dengan modal awal Rp 2,5 juta sudah bisa jalan. Beragam alasan mengawali bisnis tatarias Bali. Ada karena ketakberdayaan ekonomi, ada sekadar iseng, ada pula karena jengah. Biaya kursusnya pun bisa jutaan rupiah.
.......klik

Nyama Braya
brayaUmat Hindu di Banyuwangi tengah membangun pura di Alas Purwo, di Dusun Kutorejo. Pura ini menjadi penting, bagi mereka yang ingin mengikuti napak tilas perjalanan spiritual maharsi Hindu yang pernah berkunjung ke Bali. Di tengah Alas Purwo mengalir Kali Laci yang sering dikatakan seperti seekor ular berkepala dua. Hulu atau ekornya berada dalam hutan, dan dua kepalanya di lautan. Ia memang memiliki dua muara, satu di Samudra Indonesia, satu lagi di Selat Bali.
.......klik
Cakepan
Lagi, sebuah buku tentang Bali dari kalangan peneliti asing diterbitkan. Kali ini mencoba membentangkan ‘rahasia’ dan kasus-kasus masa silam sejarah  Bali. Judulnya banyak mendapat kritikan tajam, tapi isinya tetap relevan dipahami. Selain itu, buku ini juga membahas masalah-masalah aktual yang dihadapi Bali, seperti kasus adat, kasus Tanah Lot dengan Bali Nirwana Resort-nya, Padanggalak, dan lain-lain. Yang menarik di sini adalah disemaikannya ide-ide agar masyarakat Bali waspada terhadap kasus-kasus yang merugikan rakyat.
.......klik

Daa Teruna 
Tradisi madelokan di kalangan teruna-teruni Denpasar dimeriahkan dengan menggojlok pengantin untuk memakan sebuah pisang bersama. Ini acara yang selalu ditunggu-tunggu. Ujung pisang yang satu digigit pengantin pria, ujung lain dikulum pengantin wanita. Mereka harus memakan pisang itu bersama hingga habis, untuk sampai pada klimkas kedua bibir mereka akan merapat.
.......klik
paras-parosParas Paros
Berdasar pawisik, sejumlah warga berbagai soroh menganggap Pura Batumadeg adalah pura kawitan mereka. Padahal pura itu diyakini sebagai sthana Dewa Wisnu. Semua warga soroh itu sudah memiliki pura pusat kawitan masing-masing sehingga hal ini menambah keyakinan, keberadaan warga sejumlah soroh di Pura Batumadeg lebih merupakan tanggungjawab ngempon dan bhakti pada Hyang Widhi.
.......klik
 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD
Kirim pertanyaan dan pendapat anda seputar Bali
Surat anda akan dimuat dalam rubrik Sewalapatra - Surat Pembaca
edisi cetak dan edisi web
Kirimkan ke:
red@saradbali.com