| |
Paruman
Tradisi
ngayah dengan seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian
bergeser. Di mana titik kisruh ini dimulai? Di tengah gairah berkesenian
di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian
baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Komersialisasi
seni dituding penyebab merosotnya mutu kesenian Bali. Dan turisme menjadi
biang keladi komersialisasi itu. Taksu, yang diyakini membuat kesenian
Bali berwibawa dan penuh pesona, pun pudar karenanya. Tuntutan perut, keinginan
meraup untung berlimpah, jauh lebih penting tinimbang mempertahankan wibawa
karya seni. Apakah kesenian Bali akan pupus?
.......klik
|
Geginan
Bisnis
merias dengan busana payas agung Bali kian mencorong. Upacara yang sambung-menyambung
menjadikan lahan ini kian subur. Omset sebulan bisa mencapai Rp 33 juta.
Demi gengsi, orang Bali kini rela merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah
agar penampilannya elok saat upacara. Tak heran bila bisnis tatarias dan
tatabusana Bali kian berbiak. Hanya dengan modal awal Rp 2,5 juta sudah
bisa jalan. Beragam alasan mengawali bisnis tatarias Bali. Ada karena ketakberdayaan
ekonomi, ada sekadar iseng, ada pula karena jengah. Biaya kursusnya pun
bisa jutaan rupiah.
.......klik
|
Nyama Braya
Umat
Hindu di Banyuwangi tengah membangun pura di Alas Purwo, di Dusun Kutorejo.
Pura ini menjadi penting, bagi mereka yang ingin mengikuti napak tilas
perjalanan spiritual maharsi Hindu yang pernah berkunjung ke Bali. Di tengah
Alas Purwo mengalir Kali Laci yang sering dikatakan seperti seekor ular
berkepala dua. Hulu atau ekornya berada dalam hutan, dan dua kepalanya
di lautan. Ia memang memiliki dua muara, satu di Samudra Indonesia, satu
lagi di Selat Bali.
.......klik
|
Cakepan
Lagi, sebuah buku tentang
Bali dari kalangan peneliti asing diterbitkan. Kali ini mencoba membentangkan
‘rahasia’ dan kasus-kasus masa silam sejarah Bali. Judulnya banyak
mendapat kritikan tajam, tapi isinya tetap relevan dipahami. Selain itu,
buku ini juga membahas masalah-masalah aktual yang dihadapi Bali, seperti
kasus adat, kasus Tanah Lot dengan Bali Nirwana Resort-nya, Padanggalak,
dan lain-lain. Yang menarik di sini adalah disemaikannya ide-ide agar masyarakat
Bali waspada terhadap kasus-kasus yang merugikan rakyat.
.......klik
|
Daa Teruna
Tradisi madelokan di kalangan
teruna-teruni Denpasar dimeriahkan dengan menggojlok pengantin untuk memakan
sebuah pisang bersama. Ini acara yang selalu ditunggu-tunggu. Ujung pisang
yang satu digigit pengantin pria, ujung lain dikulum pengantin wanita.
Mereka harus memakan pisang itu bersama hingga habis, untuk sampai pada
klimkas kedua bibir mereka akan merapat.
.......klik
|
Paras
Paros
Berdasar pawisik, sejumlah
warga berbagai soroh menganggap Pura Batumadeg adalah pura kawitan mereka.
Padahal pura itu diyakini sebagai sthana Dewa Wisnu. Semua warga soroh
itu sudah memiliki pura pusat kawitan masing-masing sehingga hal ini menambah
keyakinan, keberadaan warga sejumlah soroh di Pura Batumadeg lebih merupakan
tanggungjawab ngempon dan bhakti pada Hyang Widhi.
.......klik
|
|
|