logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 PARAS-PAROS - SOSIAL 
 
 
Pura Batumadeg, Bukan Pura Kawitan

Berdasar pawisik, sejumlah warga dari berbagai soroh menganggap Pura Batumadeg adalah pura kawitan mereka. Padahal pura itu diyakini sebagai sthana Dewa Wisnu.

Mangku Dugdug, lelaki tua dari desa Budakeling Karangasem itu, menghabiskan sebagian usianya melakoni dharma sebagai tukang banten.  Berbagai pura kahyangan jagat di Bali, bahkan hingga ke Pura Semeru Agung, Jawa Timur, dia datangi bersama sanak keluarga untuk ngaturang ayah sebagai tukang banten. Di Pura Besakih dia sangat akrab dengan para jro mangku dan krama pamaksan karena saban tahun, saat pelaksanaan upacara Batara Turun Kabeh pada Purnama Kadasa, dia selalu tangkil.
We Mangku, begitu dia akrab dipanggil, suatu hari tangkil ke Pura Batumadeg di kawasan Pura Agung Besakih bersama warga dadia, keluarga besar di desanya. Namun kedatangannya kala itu bukan untuk ngayah membuat banten. Lalu? “Mangku Dudug sekeluarga pedek tangkil karena mendapat petunjuk niskala, kelengkapan upacara nuntun di lingkungan dadia di desanya, warga Pasek Gaduh, sepatutnya ngaturang piuning ke Pura Batumadeg” kata Jro Mangku Sri Wenten, pemangku Pura Batumadeg yang muput upacara atur piuning itu, menjelaskan.
Piodalan di Pura Batumadeg. Pura Catur Lokapala - foto: Widnyana SudibyaPawisik, petunjuk atau firasat seperti dialami We Mangku ini, sering dialami oleh warga dadia di Bali. Tak jarang kejadian seperti itu justru membuka jalan bagi warga dadia untuk menemukan jejak leluhur mereka. Tapi, seberapa jauh pawisik semacam itu bisa diyakini kebenarannya? Jro Mangku Sri Wenten menyarankan, selain jalan niskala, sebaiknya ditempuh jalan sekala, dengan melakukan pencarian dasar sastra berupa kajian lontar dan pembuktian sejarah sehingga pawisik tidak akan membawa warga menjadi fanatik lalu memandang rendah warga lain. Padahal, menurut pandangan Jro Mangku Sri Wenten, keberadaan pura padharman di kawasan Pura Besakih merupakan bukti para leluhur di masa lalu sangat mementingkan persatuan antarwarga soroh di Bali.
Prihal seringnya warga soroh matur piuning ke Pura Batumadeg, sehubungan dengan rangkaian karya di pura dadia mereka, diakui kebenarannya oleh Jro Mangku Sri Wenten. “Tetapi saya tekankan kepada warga yang pedek tangkil itu, Pura Batumadeg bukan pura kawitan sebagaimana dengan pura padharman lain yang ada di Besakih,” ujar Jro Mangku, sembari menambahkan, pura Batumadeg adalah salah satu pura catur lokapala yang menempati arah utara sebagai sthana Dewa Wisnu. Hingga saat ini belum ditemukan dasar sastra atau prasasti yang menyebutkan pura Batumadeg sebagai linggih kawitan. Selain bangunan meru tumpang sembilan di sisi paling barat pura — yang dalam beberapa buku disebutkan sebagai linggih Ida Batara Manik Angkeran — palinggih-palinggih lain tidak disebutkan sebagai linggih kawitan. Jro Mangku lebih menerima pendapat yang menilai keberadaan kawitan di Pura Batumadeg sebagai pembagian tugas ngempon, meliputi tanggungjawab memelihara palinggih dan melaksanakan aci yang dibebankan kepada warga soroh kala itu.
Pandangan ini didukung kenyataan, selain aci piodalan tetap di Batumadeg, setiap enam bulan pada Soma Manis Tolu, oleh krama banjar pemaksan Batumadeg bersama pangempon dari Kabupaten Bangli, secara khusus dilakukan pula upacara dadia ngaturang piodal yang diselenggarakan sehari setelah Purnama Karo. “Seingat saya, sejak dulu telah dilaksanakan upacara itu dan tercatat ada sebelas warga soroh yang turut ngaturang piodal,” kata Jro Mangku.
Jro Mangku Sri Wenten - foto: Widnyana SudibyaIa lalu merinci, sebelas warga soroh yang dimaksud meliputi Satria Taman Bali, Wang Bang Pinatih, Pasek Ketewel, Tangkas Kori Agung, Dukuh Suladri, Pasek Gaduh, Pasek Kayu Selem, Pasek Brejo, Pulasari, Pasek Batudingding dan Sangging. Jumlah warga soroh ini, menurut Jro Mangku, sangat mungkin bisa bertambah di kemudian hari. “Ada beberapa warga lain yang sudah bertemu dengan saya untuk memperoleh kepastian tentang keberadaan leluhur mereka di Pura Batumadeg, namun mereka belum yakin karena hingga kini belum mendapat bukti tertulis berupa prasasti,” ungkapnya ditemani Jro Mangku Suyasa, pemangku Pura Merajan Kanginan Besakih.
Semua warga soroh itu sebenarnya sudah memiliki pura pusat kawitan masing-masing sehingga hal ini menambah keyakinannya bahwa keberadaan warga sejumlah soroh di Pura Batumadeg lebih merupakan tanggungjawab ngempon dan bhakti kehadapan Hyang Widhi yang bersthana di pura Batumadeg. “Pura Merajan Kanginan pun, dalam beberapa sumber sastra dan buku hasil penelitian, disebutkan pula sebagai merajan Ida Batara Manik Angkeran,” kata Jro Mangku Suyasa. Pembuktian semacam ini tentu semakin menambah keyakinan, bahwa warga soroh, di masa lalu, mendapat peran dan tanggungjawab penting dalam menjaga kelestarian tempat suci.
Widnyana Sudibya


 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD