| Pura
Batumadeg, Bukan Pura Kawitan
Berdasar pawisik, sejumlah
warga dari berbagai soroh menganggap Pura Batumadeg adalah pura kawitan
mereka. Padahal pura itu diyakini sebagai sthana Dewa Wisnu.
Mangku Dugdug, lelaki tua
dari desa Budakeling Karangasem itu, menghabiskan sebagian usianya melakoni
dharma sebagai tukang banten. Berbagai pura kahyangan jagat di Bali,
bahkan hingga ke Pura Semeru Agung, Jawa Timur, dia datangi bersama sanak
keluarga untuk ngaturang ayah sebagai tukang banten. Di Pura Besakih dia
sangat akrab dengan para jro mangku dan krama pamaksan karena saban tahun,
saat pelaksanaan upacara Batara Turun Kabeh pada Purnama Kadasa, dia selalu
tangkil.
We Mangku, begitu dia akrab
dipanggil, suatu hari tangkil ke Pura Batumadeg di kawasan Pura Agung Besakih
bersama warga dadia, keluarga besar di desanya. Namun kedatangannya kala
itu bukan untuk ngayah membuat banten. Lalu? “Mangku Dudug sekeluarga pedek
tangkil karena mendapat petunjuk niskala, kelengkapan upacara nuntun di
lingkungan dadia di desanya, warga Pasek Gaduh, sepatutnya ngaturang piuning
ke Pura Batumadeg” kata Jro Mangku Sri Wenten, pemangku Pura Batumadeg
yang muput upacara atur piuning itu, menjelaskan.
Pawisik,
petunjuk atau firasat seperti dialami We Mangku ini, sering dialami oleh
warga dadia di Bali. Tak jarang kejadian seperti itu justru membuka jalan
bagi warga dadia untuk menemukan jejak leluhur mereka. Tapi, seberapa jauh
pawisik semacam itu bisa diyakini kebenarannya? Jro Mangku Sri Wenten menyarankan,
selain jalan niskala, sebaiknya ditempuh jalan sekala, dengan melakukan
pencarian dasar sastra berupa kajian lontar dan pembuktian sejarah sehingga
pawisik tidak akan membawa warga menjadi fanatik lalu memandang rendah
warga lain. Padahal, menurut pandangan Jro Mangku Sri Wenten, keberadaan
pura padharman di kawasan Pura Besakih merupakan bukti para leluhur di
masa lalu sangat mementingkan persatuan antarwarga soroh di Bali.
Prihal seringnya warga soroh
matur piuning ke Pura Batumadeg, sehubungan dengan rangkaian karya di pura
dadia mereka, diakui kebenarannya oleh Jro Mangku Sri Wenten. “Tetapi saya
tekankan kepada warga yang pedek tangkil itu, Pura Batumadeg bukan pura
kawitan sebagaimana dengan pura padharman lain yang ada di Besakih,” ujar
Jro Mangku, sembari menambahkan, pura Batumadeg adalah salah satu pura
catur lokapala yang menempati arah utara sebagai sthana Dewa Wisnu. Hingga
saat ini belum ditemukan dasar sastra atau prasasti yang menyebutkan pura
Batumadeg sebagai linggih kawitan. Selain bangunan meru tumpang sembilan
di sisi paling barat pura — yang dalam beberapa buku disebutkan sebagai
linggih Ida Batara Manik Angkeran — palinggih-palinggih lain tidak disebutkan
sebagai linggih kawitan. Jro Mangku lebih menerima pendapat yang menilai
keberadaan kawitan di Pura Batumadeg sebagai pembagian tugas ngempon, meliputi
tanggungjawab memelihara palinggih dan melaksanakan aci yang dibebankan
kepada warga soroh kala itu.
Pandangan ini didukung kenyataan,
selain aci piodalan tetap di Batumadeg, setiap enam bulan pada Soma Manis
Tolu, oleh krama banjar pemaksan Batumadeg bersama pangempon dari Kabupaten
Bangli, secara khusus dilakukan pula upacara dadia ngaturang piodal yang
diselenggarakan sehari setelah Purnama Karo. “Seingat saya, sejak dulu
telah dilaksanakan upacara itu dan tercatat ada sebelas warga soroh yang
turut ngaturang piodal,” kata Jro Mangku.
Ia
lalu merinci, sebelas warga soroh yang dimaksud meliputi Satria Taman Bali,
Wang Bang Pinatih, Pasek Ketewel, Tangkas Kori Agung, Dukuh Suladri, Pasek
Gaduh, Pasek Kayu Selem, Pasek Brejo, Pulasari, Pasek Batudingding dan
Sangging. Jumlah warga soroh ini, menurut Jro Mangku, sangat mungkin bisa
bertambah di kemudian hari. “Ada beberapa warga lain yang sudah bertemu
dengan saya untuk memperoleh kepastian tentang keberadaan leluhur mereka
di Pura Batumadeg, namun mereka belum yakin karena hingga kini belum mendapat
bukti tertulis berupa prasasti,” ungkapnya ditemani Jro Mangku Suyasa,
pemangku Pura Merajan Kanginan Besakih.
Semua warga soroh itu sebenarnya
sudah memiliki pura pusat kawitan masing-masing sehingga hal ini menambah
keyakinannya bahwa keberadaan warga sejumlah soroh di Pura Batumadeg lebih
merupakan tanggungjawab ngempon dan bhakti kehadapan Hyang Widhi yang bersthana
di pura Batumadeg. “Pura Merajan Kanginan pun, dalam beberapa sumber sastra
dan buku hasil penelitian, disebutkan pula sebagai merajan Ida Batara Manik
Angkeran,” kata Jro Mangku Suyasa. Pembuktian semacam ini tentu semakin
menambah keyakinan, bahwa warga soroh, di masa lalu, mendapat peran dan
tanggungjawab penting dalam menjaga kelestarian tempat suci.
Widnyana Sudibya
|