| Membangun
Pura di Alas Purwo
Umat Hindu di Banyuwangi
tengah membangun pura di Alas Purwo, di Dusun Kutorejo. Pura ini menjadi
penting, bagi mereka yang ingin mengikuti napak tilas perjalanan spiritual
maharsi Hindu yang pernah berkunjung ke Bali.
Alas Purwo di Jawa Timur
bukan sembarang hutan. Ia hutan perawan yang dikenal sangat tenget (angker).
Orang awam yang memasuki alas ini akan merasa seperti berada di sebuah
wilayah tanpa tapal batas, tak ada arah. Di hutan ini banyak ditemukan
peninggalan suci zaman kerajaan, petilasan misalnya, yang saat ini banyak
dikunjungi, dan dimanfaatkan sebagai tempat mencari wahyu hidup.
Konon,
di tempat inilah banyak peninggalan dan kekuatan kerajaan Majapahit diamankan
sebelum akhirnya runtuh di tangan kerajaan Demak. Alas ini juga diyakini
sebagai pertapaan orang-orang suci, para maharsi Majapahit. Cerita lain
menyatakan, guru-guru suci Hindu pun sebelum menyeberang ke Bali,
bersemadi di hutan ini. Tak aneh, siapa pun yang datang ke Alas Purwo saat
ini, akan bertemu dengan orang-orang yang sedang nglakoni urip, wahyu hidup.
Tak sedikit yang sudah melakoninya bertahun-tahun.
Di tepi barat kawasan Alas
Purwo terdapat sebuah dusun kecil bernama Kutorejo, merupakan bagian dari
12 dusun lain yang ada di Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegal Delimo, Kabupaten
Banyuwangi. Dusun alit ini memendam keunikan sejarah kebangkitan agama
Hindu di Tanah Jawa. Agama Hindu telah berkembang pesat di dusun ini sejak
1976. “Kami kembali memeluk Hindu karena semata-mata panggilan spiritual
untuk kembali ke ajaran leluhur waktu,’’ tutur Sugondho, salah seorang
tokoh umat setempat. Paido, warga Kutorejo pertama yang berani menyatakan
menganut agama Hindu saat itu, mengiyakan pernyataan Sugondo. Maklum, masa-masa
awal mereka kembali ke Hindu tak mudah. Harus hati-hati, karena mesti menghadapi
berbagai tekanan orang-orang sekitar.
Tak heran jika kemudian
umat Hindu di dusun ini melaksanakan ibadah dengan fasilitas terbatas.
Biasanya mereka mengunjungi petilasan-petilasan suci yang ada di Alas Purwo
seperti Pura Luhur Gapura di Tanggul Asri, Pura Gunung Tugu, Bekas Besanten
(tempat Pande), Kuburan Dawa di Kutorejo, Kuburan Mbah Lancing di Purwo,
Kahyangan Kucur, dan juga Lingga Manik Puncak Purwo. Kondisi sulit dan
serba terbatas ini tidak membuat mereka patah semangat. Awal tahun 70-an,
umat Hindu di dusun ini mencapai 300 KK. “Kalaupun sekarang tinggal 106
KK bukan karena mereka mundur dan pindah agama, tapi karena banyak yang
bertransmigrasi ke Sumatera, Irian Jaya, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku,’’
aku Sugondho mantan ketua PHDI desa setempat. Pesatnya perkembangan agama
Hindu di sini juga berkat kerja keras PHDI Kabupaten Banyuwangi yang tidak
bosan-bosan memberikan pembinaan kepada umat Hindu,’’ tegas pamong Pura
Giri Seloka ini.
Untuk meningkatkan kesradaan
umat, banyak kegiatan keumatan dilaksanakan, seperti anjangsana (dharma
shanti) keliling rutin seminggu sekali, pitra puja saat ada kematian dilaksanakan
selama tujuh hari berturut-turut, persembahyangan purnama-tilem, kliwonan
dan hari-hari besar lainnya,’’ kata Trubus tokoh muda lulusan Sekolah Pendidikan
Guru Agama Hindu (SPGAH) Blitar. “Pada acara-acara tersebut disamping diisi
dharmawacana atau upanisad juga diadakan dharmatula,’’ jelas sekretaris
panitia pembangunan Pura Penataran Giri Purwo ini.
Melihat banyaknya umat Hindu
dan tuntutan kebutuhan umat, kemudian dibangun pura Guru Selaka sebagai
sentral kegiatan umat. Di pura kecil dan sederhana inilah segala aktivitas
keagamaan umat dipusatkan, yang saat ini sudah tidak mencukupi lagi. Dengan
semangat umat yang bulat dan atas dukungan dari PHDI Kabupaten Banyuwangi,
serta bantuan rombongan tirtha yatra/dharma yatra dari Bali yang diprakarsai
I Nyoman Parbhasana dan I Ketut Arsana, dibangunlah pura baru yang lebih
besar bernama Pura Penataran Giri Purwo di atas lahan 2 hektar.Dusun Kutorejo
dipi;ih sebagai tempat pembangunan pura mengingat umat Hindu di dusun ini
jumlahnya cukup banyak, mempunyai tingkat kesadaran berdharma dan kesradaan
tinggi sehingga siap menjadi pengempon utama pura kelak. Lokasi yang dipilih
juga sangat strategis karena suasananya cukup hening, dekat dengan Alas
Purwo dan mudah dijangkau umat karena terletak di tepi jalan utama pintu
masuk menuju kawasan Alas Purwo.
Pembangunan Pura Penataran
Giri Purwo mengambil bentuk padmasana dengan relief Candi Jawa tanpa meninggalkan
filosofi ajaran Hindu. Menurut Parbasana, arsitek pura tersebut, pola tersebut
dipilih untuk pendekatan budaya setempat, karena untuk pengembangan agama
pendekatan budaya dan sosial masyarakat sangat penting, disamping untuk
menghilangkan kesan membalikan tanah Jawa.
Dari tempat Pura Penataran
Giri Purwo inilah diharapkan umat bisa menghaturkan bhakti dan memohon
petunjuk serta bimbingan ke hadapan Sang Pencipta dan para leluhur dan
para maharesi yang berstana di seluruh kawasan Alas Purwo. Di tempat ini
pula umat dapat mohon kekuatan untuk membangkitkan kembali agama Hindu
sebagai ajaran leluhur di tanah Jawa. “Pembangunan Pura Penataran Giri
Purwo ini juga telah diawali dengan berbagai rangkaian upacara yang panjang,
baik di Bali maupun di tempat-tempat suci di Tanah Jawa khususnya di kawasan
Alas Purwo ini,’’ jelas Ketut Arsana, tokoh muda dari Ubud Bali yang ikut
terlibat penuh dalam awal pembangunan pura ini.
Menatap raut muka dan kepolosan
umat di dusun ini, nampak sekali tersirat semangat sangat kuat akan kesadaran
dan keinginan untuk bangkit kembali ke ajaran leluhur, Hindu. Hanya karena
keterbatasan kemampuan membuat keinginan memiliki pura besar dan sempurna
selama ini sulit diwujudkan. Namun mereka selalu optimis suatu waktu nanti
akan memilikinya. Seperti yang diungkapkan Trubus, sekretaris panitia pembangunan
pura, “Kami, umat Hindu di sini, ingin sekali bisa maju seperti saudara
kami di Bali. Kami ingin memiliki tempat suci yang layak pula. Namun kami
hanya punya tekad dan semangat, selebihnya tidak.’’
Mata pencaharian umat di
dusun ini kebanyakan petani, buruh, dan tukang batu, yang hidupnya tergolong
sebagai masyarakat berekonomi lemah. Karena itu mereka sangat berterima
kasih bila ada saudara-saudara sedharma yang peduli kepada mereka
di Banyuwangi untuk membantu mewujudkan pembangunan Pura Penataran Giri
Purwo tersebut.
Pada Purnama Kesanga, 20
Maret lalu, pembangunan pura yang baru rampung padmasanannya itu dilanjutkan
kembali, ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan pagar tembok
penyengker. “Kami saat ini masih sangat kekurangan dana. Untuk itu kami
tetap berharap ada umat sedharma di Bali mau mengulurkan tangan membantu,’’
ungkap Sugondho. Ia pun menitipkan nomor rekening untuk umat yang ingin
berdana punia melalui BCA Cabang Muncar, Banyuwangi, dengan nomor rekening
3520134367 atas nama Bapak Bunidi dengan alamat RT2/RW2 Desa Purwosari,
Kecamatan Tegal Delimo, Banyuwangi.
Eko Susiadi
|
| Kali
Laci: Satu Hulu Dua Muara
Tak begitu banyak yang tahu,
kalau di tengah Alas Purwo mengalir sungai dengan air sangat jernih dan
bening. Bagi mereka yang sudah beberapa kali ke alas ini, dan mampir ke
sungai, sangat yakin, ini adalah sungai misterius dan sakral.
Warga di sekitar Alas Purwo,
dan mereka yang pernah melakukan tapa semadi, percaya, ditemukannya Kali
Laci di tengah alas itu bukan peristiwa biasa, tapi merupakan tanda alam.
“Ditemukannya sungai ini berarti di tanah Jawa akan ada awal perubahan
zaman. Ini sangat diyakini oleh orang di sekitar alas ini sebagai kelahiran
zaman kejayaan leluhur,’’ ujar seorang warga Banyuwangi yang berkali-kali
melakukan semadi di alas itu, tapi enggan ditulis namanya.
Kali Laci ini secara fisik
sering dikatakan seperti seekor ular yang memiliki dua kepala. Hulu atau
ekornya berada di dalam hutan, dan dua kepalanya di lautan. Ia memang memiliki
dua muara, satu di Samudra Indonesia, satu lagi di Selat Bali.
Dua muara ini tak banyak
yang tahu sebelumnya. Banyak yang menduga, kedua muara itu bersumber dari
dua hulu. Karena keangkeran Alas Purwo, tak banyak yang berani masuk, sehingga
tak ada yang tahu, kalau dua muara itu berasal dari satu hulu: Kali Laci.
“Banyak orang tak mengindahkan pantangan jika mau masuk Alas Purwo, akhirnya
tersesat di tengah hutan lebat ini,’’ ujar Trubus. Di tengah hutan di ujung
selatan Banyuwangi ini terdapat sebuah gunung bernama Gunung Linggama,
tingginya kurang lebih 300 meter. Di kaki gunung inilah hulu Kali Laci
yang membelah Alas Purwo itu.
Hingga kini tak banyak yang
tahu lebih mendalam tentang Kali Laci ini. Keanggkeran Alas Purwo memudarkan
niat orang untuk menelusuri sungai ini. Mungkin, jika pura sudah dibangun
di sini, alas ini akan menjadi lebih ramah untuk dikunjungi, tak lagi membuat
jantung orang berdegup kencang oleh keangkerannya.
Pura itu kelak akan membuka
sekian misteri Alas Purwo. Kisah perjalanan rsi dan mpu Jawa ke Bali juga
akan kian terkuak. Kali Laci mungkin kelak akan menyuguhkan catatan sejarah
baru.
Eko Susiadi
|