logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
O R T I
SURAT DARI REDAKSI
 
 
Demokrasi di SARAD

caper1 -foto cover: wayan diantha caper2 - foto cover: widnyana sudibya

Memilih yang terbagus di antara yang baik ternyata tak mudah. Sama sulitnya dengan memilih yang terbaik di antara yang jele-jelek. Ada pemeo mengatakan, seseorang yang bermata dua, pasti raja di antara orang buta atau bermata picak. Nah, kalau semuanya bermata dua, tentu tak mudah memilih hanya seorang untuk jadi raja. Harus lewat seleksi pemilihan, yang memang bisa berlarut-larut, sehingga mufakat tak tercapai. Akhirnya, ya voting.
Di SARAD, pemungutan suara selalu terjadi kalau sudah sampai pada rapat redaksi khusus memilih cover. Perancang grafis kami selalu menyediakan lebih dari tiga caper (calon cover) untuk dipilih. Entah mengapa, setiap rapat memilih caper, kami selalu antusias, semua — reporter dan redaktur —  tiba-tiba jadi seniman grafis, jauh lebih pintar dibanding si perancang caper. Bermacam-macamlah komentar mereka. Yang ditilik mulai dari warna, komposisi, penempatan teks banner, atau persoalan kroping foto. Karena ini masalah estetika, semua mengajukan pilihan berdasarkan rasa. Kadang kalau ditanya, mengapa mereka memilih yang ini, tidak yang itu, jawabnya enteng, “Ya karena saya memang suka yang itu, tidak yang ini.”
SARAD edisi Juni yang tengah Anda genggam ini, kulit mukanya diputuskan melalui debat sengit dan panjang. Rapat penentuan caper yang dimulai selepas senja, baru berakhir menjelang pukul dua dinihari. Yang dibahas cuma satu, soal caper itu tadi. Setelah melalui penentuan nominasi dari lima caper, muncul dua caper unggulan. Keduanya memang mirip, tapi tak bisa dibilang sama. Satu caper mengetengahkan penari tupeng keras, yang lain penari tupeng dukuh duduk bersila, mengisyaratkan sedang menunggu kehadiran mahapatih atau petinggi negara.
Kami terbelah menjadi dua faksi. Yang setuju dukuh mengajukan alasan, cover itu lebih bersuasana kerakyatan, dekat di hati, sedap di mata, ramah, dan santai. Yang memilih tupeng keras mengatakan, cover ini serius, cocok dengan karakter SARAD yang tengah mencoba mengajak pembaca memahami Bali yang benar dan kaya watak. Karena mufakat tak didapat, kami pun voting. Repotnya, yang voting itu jumlahnya genap, yang setuju dengan menolak pun selalu seimbang. Akhirnya, kembali lagi adu argumentasi
Menjelang pukul dua dini hari, reporter SARAD yang paling sibuk di lapangan mengejar narasumber, Made Sarjana, tertidur pulas, saking letih. Ketika itulah voting dilakukan, tentu saja, kelompok Sarjana kalah, karena seorang anggotanya lelap tertidur. Sudah dibangunkan, tapi ia cuma menggeliat.
Nah, Pembaca, yang menang akhirnya faksi tupeng dukuh. Tapi persoalan tak selesai, karena Sarjana terbangun menjelang rapat bubar. Ia protes tidak diikutkan dalam voting terakhir. Tapi palu pimpinan sidang redaksi sudah diketuk. “Makanya, kalau sidang jangan tidur,” saran kami menenangkan Sarjana.
Kisah ini sebenarnya sejarah yang terulang ketika kami kesulitan memutuskan untuk memasang satu dari dua karikatur karya Jango Paramartha di SARAD 4 edisi April. Ada faksi yang suka karikatur dengan lampu teplok. Faksi lain memilih karikatur dengan gambar orang Bali mengikuti jejak domino di jembatan. Karena lagi-lagi ketika voting suara genap seimbang, dan tak ada yang ketiduran, kami akhirnya membangunkan Sugeng yang lelap tidur, untuk ikut voting memutuskan.
Sambil mengucek-ngucek mata karena ngantuk, Sugeng memilih karikatur dengan jembatan domino itu.“Saya suka jembatan, karena kalau ada jembatan Jawa-Bali, saya gampang mudik,” alasannya. Lalu, “Sudah ya Pak, saya ngantuk, mau tidur lagi.”
Pembaca, Sugeng adalah office boy di kantor SARAD, tamatan SMP dari Jember dua tahun lalu. Di SARAD, untuk urusan tertentu, hak suaranya sama dengan reporter dan redaksi. Ini semata untuk menerapkan gaya demokrasi yang unik dan otentik SARAD. Sehingga Anda, Pembaca, selalu mendapatkan sajian SARAD yang terbaik.
 


sketsa: Jango Paramartha sketsa: Jango Paramartha



"Matur dahat suksma"
Terimakasih !


 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD