Demokrasi
di SARAD
Memilih yang terbagus di
antara yang baik ternyata tak mudah. Sama sulitnya dengan memilih yang
terbaik di antara yang jele-jelek. Ada pemeo mengatakan, seseorang yang
bermata dua, pasti raja di antara orang buta atau bermata picak. Nah, kalau
semuanya bermata dua, tentu tak mudah memilih hanya seorang untuk jadi
raja. Harus lewat seleksi pemilihan, yang memang bisa berlarut-larut, sehingga
mufakat tak tercapai. Akhirnya, ya voting.
Di SARAD, pemungutan suara
selalu terjadi kalau sudah sampai pada rapat redaksi khusus memilih cover.
Perancang grafis kami selalu menyediakan lebih dari tiga caper (calon cover)
untuk dipilih. Entah mengapa, setiap rapat memilih caper, kami selalu antusias,
semua — reporter dan redaktur — tiba-tiba jadi seniman grafis, jauh
lebih pintar dibanding si perancang caper. Bermacam-macamlah komentar mereka.
Yang ditilik mulai dari warna, komposisi, penempatan teks banner, atau
persoalan kroping foto. Karena ini masalah estetika, semua mengajukan pilihan
berdasarkan rasa. Kadang kalau ditanya, mengapa mereka memilih yang ini,
tidak yang itu, jawabnya enteng, “Ya karena saya memang suka yang itu,
tidak yang ini.”
SARAD edisi Juni yang tengah
Anda genggam ini, kulit mukanya diputuskan melalui debat sengit dan panjang.
Rapat penentuan caper yang dimulai selepas senja, baru berakhir menjelang
pukul dua dinihari. Yang dibahas cuma satu, soal caper itu tadi. Setelah
melalui penentuan nominasi dari lima caper, muncul dua caper unggulan.
Keduanya memang mirip, tapi tak bisa dibilang sama. Satu caper mengetengahkan
penari tupeng keras, yang lain penari tupeng dukuh duduk bersila, mengisyaratkan
sedang menunggu kehadiran mahapatih atau petinggi negara.
Kami terbelah menjadi dua
faksi. Yang setuju dukuh mengajukan alasan, cover itu lebih bersuasana
kerakyatan, dekat di hati, sedap di mata, ramah, dan santai. Yang memilih
tupeng keras mengatakan, cover ini serius, cocok dengan karakter SARAD
yang tengah mencoba mengajak pembaca memahami Bali yang benar dan kaya
watak. Karena mufakat tak didapat, kami pun voting. Repotnya, yang voting
itu jumlahnya genap, yang setuju dengan menolak pun selalu seimbang. Akhirnya,
kembali lagi adu argumentasi
Menjelang pukul dua dini
hari, reporter SARAD yang paling sibuk di lapangan mengejar narasumber,
Made Sarjana, tertidur pulas, saking letih. Ketika itulah voting dilakukan,
tentu saja, kelompok Sarjana kalah, karena seorang anggotanya lelap tertidur.
Sudah dibangunkan, tapi ia cuma menggeliat.
Nah, Pembaca, yang menang
akhirnya faksi tupeng dukuh. Tapi persoalan tak selesai, karena Sarjana
terbangun menjelang rapat bubar. Ia protes tidak diikutkan dalam voting
terakhir. Tapi palu pimpinan sidang redaksi sudah diketuk. “Makanya, kalau
sidang jangan tidur,” saran kami menenangkan Sarjana.
Kisah ini sebenarnya sejarah
yang terulang ketika kami kesulitan memutuskan untuk memasang satu dari
dua karikatur karya Jango Paramartha di SARAD 4 edisi April. Ada faksi
yang suka karikatur dengan lampu teplok. Faksi lain memilih karikatur dengan
gambar orang Bali mengikuti jejak domino di jembatan. Karena lagi-lagi
ketika voting suara genap seimbang, dan tak ada yang ketiduran, kami akhirnya
membangunkan Sugeng yang lelap tidur, untuk ikut voting memutuskan.
Sambil mengucek-ngucek mata
karena ngantuk, Sugeng memilih karikatur dengan jembatan domino itu.“Saya
suka jembatan, karena kalau ada jembatan Jawa-Bali, saya gampang mudik,”
alasannya. Lalu, “Sudah ya Pak, saya ngantuk, mau tidur lagi.”
Pembaca, Sugeng adalah office
boy di kantor SARAD, tamatan SMP dari Jember dua tahun lalu. Di SARAD,
untuk urusan tertentu, hak suaranya sama dengan reporter dan redaksi. Ini
semata untuk menerapkan gaya demokrasi yang unik dan otentik SARAD. Sehingga
Anda, Pembaca, selalu mendapatkan sajian SARAD yang terbaik.
"Matur
dahat suksma"
Terimakasih !
|