logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
IDE DANE - TOKOH 
 
 
Luh Sasih Pregina Mencéng
Yang Pung Pregina Nengklung
Alit Arini Pregina Ngaluncit
Gung Inten Pregina Cerpenis


Luh Sasih ‘Pregina Mencéng’

Luh Sasih Mongkeg Arini - foto: Widnyana SudibyaJika Anda ingin tahu bagaimana mengatur agar tubuh tetap bugar, cobalah tanya Luh Sasih Arini. Pregina drama gong, yang di pentas akrab dipanggil Mongkég ini, dengan senang hati akan memberi resep agar tetap bugar dan selalu tampil manis. Sebagai pregina drama gong ia dituntut memiliki stamina prima. Ia bekerja di dua waktu, siang dan malam, di banyak tempat. Siang ia bekerja sebagai karyawan di SLTP 2 Denpasar. Kalau malam, nah, ia bisa ada di mana-mana, bersama grupnya, Sekaa Drama Gong Bhara Budaya. Siang sebagai pegawai tata usaha dan malam sebagai pregina, menuntut kebugaran dan keceriaan. Dan Mongkég menjalaninya tanpa keluhan, melakoninya dengan keceriaan.
Beberapa bulan belakangan ini kegiatan manggungnya sangat tinggi, hampir  setiap hari ia ngigel (menari) hingga dini hari. “Jika manggung jauh, bisa-bisa sampai di rumah pukul enam pagi,’’ ucapnya. Seringkali ia hanya isitirahat satu jam, sebelum berangkat ke sekolah, menunaikan kewajiban sebagai pegawai. Di sekolah ia tetap berseri-seri, lincah dan gesit. Tentu tak ada yang menduga, beberapa jam lalu ia menghibur penonton sampai terpingkal-pingkal.  Tak pernah jatuh sakit? “Paling hanya pilek dan batuk-batuk,’’ lontar Mongkég yang dalam drama gong perannya sebagai  dayang mencéng ceréngcéng (cerewet ceriwis)  ini.
Justru karena tampil mencéng ia menjadi terkenal dan melambung, setelah main bersama pregina drama gong top seperti Gede Yudana (pemeran raja buduh), Dollar, Petruk, Gangsar, dan Gingsir. Luh Sasih sendiri tak menyangka dengan nama Mongkég ia menjadi pemain beken. Padahal nama itu muncul begitu saja. Dalam sebuah pementasan, seorang raja bertanya, “Nyen adane (siapa namamu) Luh?’’ Spontan Luh Sasih menyahut, “Adan tiange wantah I Luh Mongkég”.  Jawaban itu begitu saja meluncur dari bibirnya, tanpa ia persiapkan. Nama Mongkeg pun muncul spontan, yang kini menjadi merk dagang Bhara Budaya. “Akhirnya nama Mongkég menyatu dengan saya,” ujar ibu seorang anak ini.
Kini Mongkég tak hanya berperan sebagai dayang mencéng, tapi juga menengahi perselisihan teman-temannya di Bhara Budaya, tempat ia dan suaminya, Gede Yudana, bergabung. “Mencéng begini bisa juga saya sebagai penengah,’’ kata Mongkég, eh Luh Sasih , tertawa.
Jung Iryana

indeks ida-dane



Yang Pung ‘Pregina Néngklung’

Apakah ada beda pencak silat dengan seni tari?  “Tak ada. Sama saja,” sergap Nyoman Suarsa, pregina yang populer dengan panggilan akrab Yang Pung.  Lho? Yang satu olah raga, satunya lagi olah seni. Masak kagak beda?  “Silat dan tari sama-sama mengandalkan kekuatan kaki. Prinsip gerak silat terutama dekat sekali dengan tari baris dan jauk,” jelasnya sambil memainkan beberapa jurus silat, lalu membandingkannya dengan gerak tari jauk, di rumahnya, Wangaya Kelod, Denpasar.
Bila dikaitkan dengan tabuh pengiring, tari Bali bisa dikelompokkan dua jenis: penari yang mengikuti gerak musik pengiring, dan penabuh mengikuti gerak penari. Tari baris dan jauk termasuk kelompok kedua: musiklah yang mengikuti gerak penari. “Seni pencak silat persis seperti itu. Penabuh harus benar-benar konsentrasi dan terus meningkatkan kualitas refleknya agar dapat mengiringi gerak pesilat,” kata pelopor arja muani Sanggar Printing Mas ini.
I Nyoman Yang Pung Suarsa - foto: Widnyana SudibyaPencak silat sebagai sebuah seni pertunjukan sangat digemari di awal tahun ‘60-an. Pertunjukan janger bahkan hampir selalu disertai penampilan pencak silat, ditonton penuh gairah oleh anak-anak, tua muda. Di Pesta Kesenian Bali tahun ini, Yang Pung berniat mengembalikan pamor seni pencak silat ini. Akan tampil jago-jago silat dari seluruh Bali, unjuk kebolehan dalam pertunjukan adu ketangkasan antarkabupaten selepas pukul sepuluh pagi.
Tapi Yang Pung menilai, penampilan pencak silat pertama kali di pesta seni ini sungguh terlambat. “Kita kecolongan sama PON, yang lebih dulu menampilkan seni bela diri ini,” katanya.
Tak apalah telat, yang penting masyarakat terhibur. Apalagi bunyi musik pengiringnya yang khas: téng-téng-klung....... téng-téng-téng-téng-klung..... sangat menghibur.  “Mungkin karena musik pengiringnya berbunyi tengklung-tengklung, maka orang Bali yang pintar pencak silat, dulu, disebut hebat néngklung,”  kata Yang Pung tergelak, sambil mengibaskan tangan dan memainkan kaki. Néngklung. Eiitt...yakkk..!
MS

indeks ida-dane



Alit Arini ‘Pregina Ngaluncit’

Ternyata taksu itu tak cuma satu. “Taksu itu ada tiga macam,” jelas Ni Ketut Alit Arini, SST. Yang pertama disebut taksu goda, biasanya dimiliki penari yang sering memerankan tokoh prabu, raja gila, pokoknya harus dimiliki pregina yang hendak memerankan tokoh ganteng-ganteng, cakep, bagus genjing. Yang kedua namanya taksu empu, dimiliki oleh pregina pemeran punta, kartala, codong. Lalu, ada taksu manik, yang harus dimiliki pemeran galuh, putri, atau peran cantik jegeg-jegeg. Tentu kalau seorang pregina hendak memerankan tokoh apa pun, kalau penampilannya ingin memukau dan memikat penonton tanpa mata mereka berkedip, ya harus memiliki ketiga taksu itu.
Dari mana Arini paham soal ketiga jenis taksu ini? “Guru saya, Pak Nyoman Kaler, yang mengajarkan,” jawab pemilik Sanggar Warini ini, yang kendati usianya sudah 57 tahun, masih tetap lincah menari. Kaler juga mengajarkan, kecantikan seorang penari bukan satu-satunya rahmat yang membuatnya jadi penari bertaksu. “Yang penting adalah, bagaimana kita menguasai kemampuan berekspresi yang disebut masemita,” katanya mengulang kembali pelajaran sang guru. “Jika sebagai penari wajah kita tak terlalu cantik, yang berlatihlah terus teknik menguasai masemita.”
Arini menyodorkan contoh. Ketika seorang penari nyeledet (melirik), penonton tak semata menyaksikan mata, melainkan seluruh wajah penari. Maka seorang penari harus bisa menempatkan unsur manis atau daya tarik lain, bibir misalnya. Si penari harus mencoba mariepkan (memicingkan) mata ketika hendak nyeledet disertai sapuan senyum tipis. “Ekspresi begini disebut ngeluncit,” jelas Arini lagi.
Ilmu ngaluncit ini tentu hanya penting kalau lagi pas pentas. Kalau lagi tak naik panggung, Arini menyibukkan diri di sanggarnya, melatih menari anak-anak kerabat, tetangga, di lingkungan tempat tinggalnya di Banjar Lebah, Denpasar. “Dulu, saya harus  hilir mudik memanggil anak-anak agar mau belajar magambel. Ada yang bermain layang-layang, ada main kelereng, ada yang........ ya macam-macamlah,” ungkap Arini mengenang tahun 1994, awal sanggarnya punya seperangkat gamelan. “Tapi, kini suara gamelan itu yang memanggil mereka. Asal ada  suara gamelen, mereka pasti datang berlatih. Suara gamelan itu kini jadi kulkul untuk mereka,” kata Arini berderai tawa.
Anak-anak itu, atas keinginan sendiri, ngayah kalau ada piodalan di pura. Arini mengaku sangat senang dan beruntung menuai hasil ini. Sebagai pregina, ia memang wanita beruntung, lahir dari keluarga penabuh. Ayahnya, Wayan Saplug, dan pamannya, Wayan Rindi, adalah penabuh terompong terkenal. Arini juga beruntung mendapat asuhan maestro tari legong Ni Reneng. Dan Kaler, sang guru, adalah legenda dalam pentas peradaban seni tari Bali. Tak heran,  jika Arini kemudian pintar nyeledet, dan terampil ngaluncit.
Made Sarjana

indeks ida-dane



Gung Inten ‘Pregina’ Cerpenis

Sepotong kisah tentang kematian tak harus menjadikan seseorang meratap dalam sedu sedan. Bisa saja ia menyulap kesedihan jadi keceriaan. Itulah yang terjadi di SMU 7 Denpasar, ketika sekolah itu dinyatakan sebagai juara umum Pekan Seni Remaja (PSR) tahun ini. Gara-gara cerpen tentang kematian, sekolah di Jalan Kamboja, Kreneng, Denpasar, ini, menyabet nilai lebih.
Sang penulis kisah, Anak Agung Inten Dian Sarastin (16), yang paling bahagia, tentu. Cerpen berbahasa Bali karyanya, berjudul Mustikaning Ayu Manik, menjadi pemungkas dalam PSR tahun ini. “Ketika cerpen itu dinyatakan juara dan dimuat di koran, kami belum percaya itu karya saya. Soalnya, nama penulis memang ada, tapi alamat sekolahnya keliru,” ujar Inten. Bersama sang ayah, ia mendatangi panitia PSRKetika panitia menyatakan penulisnya adalah siswa SMU 7, Inten berkata pelan, “Kalau begitu, itu kan saya.”
Anak Agung Inten Dian Sarastin - foto: Widnyana SudinyaCerpen itu berkisah tentang kematian bibi Inten, Ayu Manik, yang tiba-tiba rebah di dapur, pagi-pagi, ketika tengah mengerjakan tugas sehari-hari. “Saya tak mengerti, mengapa orang yang sehat tiba-tiba bisa mati, tanpa pesan apa pun sebelumnya,” katanya menggeleng-geleng. Terus memikirkan tentang kematian itu, Inten menuangkannya menjadi cerpen, dan diikutkan PSR.
Sebenarnya Inten bukanlah cerpenis semata. Ia juga pregina (penari) yang menguasai setidaknya sepuluh jenis tari. Sebagai pengarang, puteri pasangan Anak Agung Putra Semadi dengan Anak Agung Anom ini sudah mengantongi tiga penghargaan. Dengan cerpen Yasa Kerti, Inten menyabet juara II penulisan cerpen bahasa Bali ketika duduk di bangku SMP, dalam rangka PSR. Ia juga merebut juara II penulisan cerpen berbahasa Indonesia ketika HUT SMUN 7 baru lalu, dengan cerpen berjudul  Suaraku Pilihanku. “Yang paling menggembirakan, penghargaan ketiga, karena mengantar sekolah saya jadi juara umum,” ujar remaja asal Desa Pejeng Kangin, Gianyar, ini.
MS

indeks ida-dane


 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD