| |
Luh
Sasih Pregina Mencéng
Yang
Pung Pregina Nengklung
Alit Arini
Pregina
Ngaluncit
Gung Inten
Pregina
Cerpenis
Luh
Sasih ‘Pregina Mencéng’
Jika
Anda ingin tahu bagaimana mengatur agar tubuh tetap bugar, cobalah tanya
Luh Sasih Arini. Pregina drama gong, yang di pentas akrab dipanggil Mongkég
ini, dengan senang hati akan memberi resep agar tetap bugar dan selalu
tampil manis. Sebagai pregina drama gong ia dituntut memiliki stamina prima.
Ia bekerja di dua waktu, siang dan malam, di banyak tempat. Siang ia bekerja
sebagai karyawan di SLTP 2 Denpasar. Kalau malam, nah, ia bisa ada di mana-mana,
bersama grupnya, Sekaa Drama Gong Bhara Budaya. Siang sebagai pegawai tata
usaha dan malam sebagai pregina, menuntut kebugaran dan keceriaan. Dan
Mongkég menjalaninya tanpa keluhan, melakoninya dengan keceriaan.
Beberapa bulan belakangan
ini kegiatan manggungnya sangat tinggi, hampir setiap hari ia ngigel
(menari) hingga dini hari. “Jika manggung jauh, bisa-bisa sampai di rumah
pukul enam pagi,’’ ucapnya. Seringkali ia hanya isitirahat satu jam, sebelum
berangkat ke sekolah, menunaikan kewajiban sebagai pegawai. Di sekolah
ia tetap berseri-seri, lincah dan gesit. Tentu tak ada yang menduga, beberapa
jam lalu ia menghibur penonton sampai terpingkal-pingkal. Tak pernah
jatuh sakit? “Paling hanya pilek dan batuk-batuk,’’ lontar Mongkég
yang dalam drama gong perannya sebagai dayang mencéng ceréngcéng
(cerewet ceriwis) ini.
Justru karena tampil mencéng
ia menjadi terkenal dan melambung, setelah main bersama pregina drama gong
top seperti Gede Yudana (pemeran raja buduh), Dollar, Petruk, Gangsar,
dan Gingsir. Luh Sasih sendiri tak menyangka dengan nama Mongkég
ia menjadi pemain beken. Padahal nama itu muncul begitu saja. Dalam sebuah
pementasan, seorang raja bertanya, “Nyen adane (siapa namamu) Luh?’’ Spontan
Luh Sasih menyahut, “Adan tiange wantah I Luh Mongkég”. Jawaban
itu begitu saja meluncur dari bibirnya, tanpa ia persiapkan. Nama Mongkeg
pun muncul spontan, yang kini menjadi merk dagang Bhara Budaya. “Akhirnya
nama Mongkég menyatu dengan saya,” ujar ibu seorang anak ini.
Kini Mongkég tak
hanya berperan sebagai dayang mencéng, tapi juga menengahi perselisihan
teman-temannya di Bhara Budaya, tempat ia dan suaminya, Gede Yudana, bergabung.
“Mencéng begini bisa juga saya sebagai penengah,’’ kata Mongkég,
eh Luh Sasih , tertawa.
Jung Iryana
indeks
ida-dane
|
Yang
Pung ‘Pregina Néngklung’
Apakah ada beda pencak silat
dengan seni tari? “Tak ada. Sama saja,” sergap Nyoman Suarsa, pregina
yang populer dengan panggilan akrab Yang Pung. Lho? Yang satu olah
raga, satunya lagi olah seni. Masak kagak beda? “Silat dan tari sama-sama
mengandalkan kekuatan kaki. Prinsip gerak silat terutama dekat sekali dengan
tari baris dan jauk,” jelasnya sambil memainkan beberapa jurus silat, lalu
membandingkannya dengan gerak tari jauk, di rumahnya, Wangaya Kelod, Denpasar.
Bila dikaitkan dengan tabuh
pengiring, tari Bali bisa dikelompokkan dua jenis: penari yang mengikuti
gerak musik pengiring, dan penabuh mengikuti gerak penari. Tari baris dan
jauk termasuk kelompok kedua: musiklah yang mengikuti gerak penari. “Seni
pencak silat persis seperti itu. Penabuh harus benar-benar konsentrasi
dan terus meningkatkan kualitas refleknya agar dapat mengiringi gerak pesilat,”
kata pelopor arja muani Sanggar Printing Mas ini.
Pencak
silat sebagai sebuah seni pertunjukan sangat digemari di awal tahun ‘60-an.
Pertunjukan janger bahkan hampir selalu disertai penampilan pencak silat,
ditonton penuh gairah oleh anak-anak, tua muda. Di Pesta Kesenian Bali
tahun ini, Yang Pung berniat mengembalikan pamor seni pencak silat ini.
Akan tampil jago-jago silat dari seluruh Bali, unjuk kebolehan dalam pertunjukan
adu ketangkasan antarkabupaten selepas pukul sepuluh pagi.
Tapi Yang Pung menilai,
penampilan pencak silat pertama kali di pesta seni ini sungguh terlambat.
“Kita kecolongan sama PON, yang lebih dulu menampilkan seni bela diri ini,”
katanya.
Tak apalah telat, yang penting
masyarakat terhibur. Apalagi bunyi musik pengiringnya yang khas: téng-téng-klung.......
téng-téng-téng-téng-klung..... sangat menghibur.
“Mungkin karena musik pengiringnya berbunyi tengklung-tengklung, maka orang
Bali yang pintar pencak silat, dulu, disebut hebat néngklung,”
kata Yang Pung tergelak, sambil mengibaskan tangan dan memainkan kaki.
Néngklung. Eiitt...yakkk..!
MS
indeks
ida-dane
|
Alit
Arini ‘Pregina Ngaluncit’
Ternyata
taksu itu tak cuma satu. “Taksu itu ada tiga macam,” jelas Ni Ketut Alit
Arini, SST. Yang pertama disebut taksu goda, biasanya dimiliki penari yang
sering memerankan tokoh prabu, raja gila, pokoknya harus dimiliki pregina
yang hendak memerankan tokoh ganteng-ganteng, cakep, bagus genjing. Yang
kedua namanya taksu empu, dimiliki oleh pregina pemeran punta, kartala,
codong. Lalu, ada taksu manik, yang harus dimiliki pemeran galuh, putri,
atau peran cantik jegeg-jegeg. Tentu kalau seorang pregina hendak memerankan
tokoh apa pun, kalau penampilannya ingin memukau dan memikat penonton tanpa
mata mereka berkedip, ya harus memiliki ketiga taksu itu.
Dari mana Arini paham soal
ketiga jenis taksu ini? “Guru saya, Pak Nyoman Kaler, yang mengajarkan,”
jawab pemilik Sanggar Warini ini, yang kendati usianya sudah 57 tahun,
masih tetap lincah menari. Kaler juga mengajarkan, kecantikan seorang penari
bukan satu-satunya rahmat yang membuatnya jadi penari bertaksu. “Yang penting
adalah, bagaimana kita menguasai kemampuan berekspresi yang disebut masemita,”
katanya mengulang kembali pelajaran sang guru. “Jika sebagai penari wajah
kita tak terlalu cantik, yang berlatihlah terus teknik menguasai masemita.”
Arini menyodorkan contoh.
Ketika seorang penari nyeledet (melirik), penonton tak semata menyaksikan
mata, melainkan seluruh wajah penari. Maka seorang penari harus bisa menempatkan
unsur manis atau daya tarik lain, bibir misalnya. Si penari harus mencoba
mariepkan (memicingkan) mata ketika hendak nyeledet disertai sapuan senyum
tipis. “Ekspresi begini disebut ngeluncit,” jelas Arini lagi.
Ilmu ngaluncit ini tentu
hanya penting kalau lagi pas pentas. Kalau lagi tak naik panggung, Arini
menyibukkan diri di sanggarnya, melatih menari anak-anak kerabat, tetangga,
di lingkungan tempat tinggalnya di Banjar Lebah, Denpasar. “Dulu, saya
harus hilir mudik memanggil anak-anak agar mau belajar magambel.
Ada yang bermain layang-layang, ada main kelereng, ada yang........ ya
macam-macamlah,” ungkap Arini mengenang tahun 1994, awal sanggarnya punya
seperangkat gamelan. “Tapi, kini suara gamelan itu yang memanggil mereka.
Asal ada suara gamelen, mereka pasti datang berlatih. Suara gamelan
itu kini jadi kulkul untuk mereka,” kata Arini berderai tawa.
Anak-anak itu, atas keinginan
sendiri, ngayah kalau ada piodalan di pura. Arini mengaku sangat senang
dan beruntung menuai hasil ini. Sebagai pregina, ia memang wanita beruntung,
lahir dari keluarga penabuh. Ayahnya, Wayan Saplug, dan pamannya, Wayan
Rindi, adalah penabuh terompong terkenal. Arini juga beruntung mendapat
asuhan maestro tari legong Ni Reneng. Dan Kaler, sang guru, adalah legenda
dalam pentas peradaban seni tari Bali. Tak heran, jika Arini kemudian
pintar nyeledet, dan terampil ngaluncit.
Made Sarjana
indeks
ida-dane
|
Gung
Inten ‘Pregina’ Cerpenis
Sepotong kisah tentang kematian
tak harus menjadikan seseorang meratap dalam sedu sedan. Bisa saja ia menyulap
kesedihan jadi keceriaan. Itulah yang terjadi di SMU 7 Denpasar, ketika
sekolah itu dinyatakan sebagai juara umum Pekan Seni Remaja (PSR) tahun
ini. Gara-gara cerpen tentang kematian, sekolah di Jalan Kamboja, Kreneng,
Denpasar, ini, menyabet nilai lebih.
Sang penulis kisah, Anak
Agung Inten Dian Sarastin (16), yang paling bahagia, tentu. Cerpen berbahasa
Bali karyanya, berjudul Mustikaning Ayu Manik, menjadi pemungkas dalam
PSR tahun ini. “Ketika cerpen itu dinyatakan juara dan dimuat di koran,
kami belum percaya itu karya saya. Soalnya, nama penulis memang ada, tapi
alamat sekolahnya keliru,” ujar Inten. Bersama sang ayah, ia mendatangi
panitia PSRKetika panitia menyatakan penulisnya adalah siswa SMU 7, Inten
berkata pelan, “Kalau begitu, itu kan saya.”
Cerpen
itu berkisah tentang kematian bibi Inten, Ayu Manik, yang tiba-tiba rebah
di dapur, pagi-pagi, ketika tengah mengerjakan tugas sehari-hari. “Saya
tak mengerti, mengapa orang yang sehat tiba-tiba bisa mati, tanpa pesan
apa pun sebelumnya,” katanya menggeleng-geleng. Terus memikirkan tentang
kematian itu, Inten menuangkannya menjadi cerpen, dan diikutkan PSR.
Sebenarnya Inten bukanlah
cerpenis semata. Ia juga pregina (penari) yang menguasai setidaknya sepuluh
jenis tari. Sebagai pengarang, puteri pasangan Anak Agung Putra Semadi
dengan Anak Agung Anom ini sudah mengantongi tiga penghargaan. Dengan cerpen
Yasa Kerti, Inten menyabet juara II penulisan cerpen bahasa Bali ketika
duduk di bangku SMP, dalam rangka PSR. Ia juga merebut juara II penulisan
cerpen berbahasa Indonesia ketika HUT SMUN 7 baru lalu, dengan cerpen berjudul
Suaraku Pilihanku. “Yang paling menggembirakan, penghargaan ketiga, karena
mengantar sekolah saya jadi juara umum,” ujar remaja asal Desa Pejeng Kangin,
Gianyar, ini.
MS
indeks
ida-dane
|
|
|