logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 SASIH - KALENDER UPACARA 
 
 
Tumpek, Kesadaran Alam Manusia Bali

Moyang Bali mengajarkan agar manusia senantiasa ingat pada jasa alam lingkungan bagi kehidupan. Mengingkari alam, berarti memporandakan hidup.

Manusia sejagat boleh saja bersepakat menjadikan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau Hari Bumi, setelah para pakar dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) pecinta alam bertemu di Stocholm, Swedia, 28 tahun silam. Para aktivis lingkungan kemudian boleh-boleh saja begitu gempita menggelar seminar, poster, spanduk, hingga renungan dan doa bagi keselamatan bumi saban tanggal 5 Juni itu. Namun para moyang manusia Bali yang tak pernah menjejakkan kaki di Benua Eropa itu dan tak juga pernah berseminar, sejak berabad-abad lampau telah melakonkan secara nyata dan ajeg wawasan kesadaran lingkungan. Wujudnya dilaksanakan dalam bentuk peringatan hari keagamaan yang dinamakan Tumpek.
Hari Tumpek dalam sitem kalender Pawukon Bali jatuh saban hari Saniscara (Sabtu) yang bertepatan dengan Kliwon dalam siklus lima harian (pancawara). Ini berarti hari terakhir dalam putaran tujuh harian atau pekan (saptawara), yakni Saniscara, bertemu dengan hari terakhir pancawara, Kliwon. Tak heran bila ada yang mengartikan Tumpek itu sama dengan tumpuk, puncak, atau ujung. Maksudnya, mungkin puncak pertemuan siklus tujuh dengan siklus lima itu. Selain pertemuan hari terakhir saptawara (siklus tujuh) dengan pancawara (siklus lima), juga ada pertemuan pancawara dengan triwara (siklus tiga). Dari sini lahirlah Hari Kajeng Kliwon, saban 15 hari sekali.
Tetua manusia Bali di masa lampau memang memberi makna dan renungan spiritual istimewa pada pertemuan hari-hari terakhir atau puncak itu. Makna dan renungan itu diwujudkan dalam bentuk kesadaran puji syukur persembahan (yadnya) berupa banten. Banten mungkin juga berasal dari kosa kata Bali baan enten, artinya ‘dengan kesadaran’ atau ‘untuk mengingat’. Nyatanya, dengan banten itulah manusia Bali menyadari dan menyadarkan dirinya terhadap keberadaan Sang Maha Pencipta, Hyang Paramakawi, atas anugerah hidup-Nya di alam semesta ini. Di alam semesta (bhuwana agung) yang terdiri dari lima unsur utama berupa tanah (pertiwi), air (apah), sinar (teja), angin (bayu), dan ether (akasa) ini manusia (bhuwana alit) hidup bersama-sama dengan tetumbuhan dan binatang. Disadari, tanpa tetumbuhan dan binatang manusia tak akan mampu menyambung hidup. Dari sini lahirlah ajaran yang mengingatkan agar manusia senantiasa menjaga kelestarian alam, senantiasa menjaga harmoni dengan lingkungan justru agar hidup manusia itu terjamin kelangsungannya. Jika manusia mengabaikan alam, memporandakan lingkungan, sejatinyalah manusia berarti mengancam kelangsungan hidupnya sendiri.
Senyatanya, memang, sifat manusia (bhuwana alit) kebanyakan didominasi sifat rajah dan tamah yang senantiasa serakah daripada sifat satwa yang arif bijak. Keserakahan ini mengakibatkan manusia sibuk dengan segala kebutuhan-kebutuhan duniawi, bahkan sering sampai melupakan keberadaan dirinya yang sesungguhnya berasal dari alam semesta (bhuwana agung). Padahal, alam semesta (bhuwana agung) inilah yang senantiasa menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan manusia.
Hakikat hubungan manusia (bhuwan alit) dengan alam semesta (bhuwana agung) yang demikianlah menjadi sebab mengapa moyang manusia Bali kemudian mewujudkan pengakuan dengan upapira (aktivitas nyata berupa penyelamatan dan pemeliharaan). Di samping itu juga dengan upakara (sarana-sarana material dari alam yang dibutuhkan untuk kegiatan upacara justru untuk mendekatkan manusia dengan sesamanya dan dengan alam) dan uparengga (pemahaman dan penghayatan makna filosofis). Di sini juga termasuk banten sebagai wujud nyata untuk mengingat relasi tersebut. Dari kesadaran ini lahirlah Hari Tumpek.
Di masyarakat Baduwi Dalam, Jawa Barat, yang sistem kalendernya hingga kini serupa dengan Bali, Tumpek sama dengan Saniscara (Sabtu). Namun moyang Bali merinci Hari Tumpek yang jatuh saban Saniscara (Sabtu)-Kliwon itu setiap lima pekan (= 35 hari, 1 bulan Bali), mulai wuku (pekan) Landep, lalu Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, dan terakhir Wayang. Demikianlah secara umum hingga kini lantas dikenal ada Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang. Masing-masing Tumpek ini jatuh saban 210 hari sekali, atau dalam setahun kalender Gregorian (Masehi) rata-rata diperingati dua kali.
Tumpek Landep –tahun 2000 ini jatuh pada 3 Juni dan 30 Desember—digelar untuk mengingat dan memberikan pengakuan terhadap unsur bumi yang merupakan sumber bahan baku logam, seperti besi, baja, emas, perak, tembaga. Dari bahan-bahan logam inilah manusia membuat teknologi, entah elektronik, otomotif, hingga pesawat berbagai fungsi, satelit. Juga termasuk peralatan sehari-hari semisal pisau, silet, parang, cangkul, sabit, dll. Dengan bahan logam yang dikandung perut bumi ini pula manusia membuat aneka perhiasan, kini juga membangun gedung, membuat jembatan, dll.
Lewat Tumpek Landep ini manusia diwajibkan agar rajin dan gemar ngupapira (memelihara dan menggunakan) alat-alat teknologi dengan baik dan benar untuk kesejahteraan dan keselamatan, bukan malah menghancurkan kehidupan. Bila kemudian manusia Bali mempersembahkan sajen (banten) pada benda-benda teknologi tersebut tentu bukan berarti manusia Bali memuja atau menyembahyangi benda tersebut, melainkan mengucap puji syukur ke hadapan Hyang Widhi, Tuhan Mahaesa, dalam manifestasi-Nya sebagai Hyang Pasupati.
Lalu, lewat Tumpek Wariga (ada juga menyebut dengan nama Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh atau Tumpek Atag) manusia Bali menyadari dan memberi pengakuan terhadap unsur tanaman/tetumbuhan sebagai kebutuhan pokok dalam pembentukan tubuh manusia yang dikonsumsi sehari-hari. Dari tanaman/tetumbuhan ini pula manusia mendapatkan kayu untuk alat-alat rumah tangga, mulai dari kursi, meja, almari, hingga bangunan perumahan, obat-obatan, dll. Saat itu tetumbuhan di-atag diberikan banten sebagai wujud puji syukur manusia Bali kehadapan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Hyang Sangkara. Dalam laku nyata sehari-hari manusia diwajibkan rajin ngupapira (menanam dan memelihara) tanaman dan tetumbuhan.
Karena manusia juga tak bisa lepas dari binatang dan hewan sebagai sumber kebutuhan protein hewani, sebagai bahan obat-obatan, serta penjaga keseimbangan ekosistem alam maka digelarlah Hari Tumpek Uye. Saat ini manusia Bali memuja Hyang Widhi, Tuhan Mahaesa, sebagai Hyang Rudra lewat persembahan upacara khusus terhadap hewan-hewan piaraan (kandang). Lewat Tumpek Uye atau Tumpek Kandang ini manusia diwajibkan rajin ngupapira (memelihara) binatang peliharaan dan sejenisnya.
Begitulah, guna mengingat dan memberi pengakuan terhadap semua unsur tadi (tetumbuhan, binatang, dan logam) yang dipergunakan sebagai sumber atau bahan produk seni-budaya, seperti gamelan, wayang, perhiasan, alat-alat musik, dll. Moyang Bali lantas menciptakan Hari Tumpek Wayang. Lewat pemujaan ke hadapan Hyang Widhi, Tuhan Mahaesa, dalam manifestasi sebagai Hyang Iswara, manusia Bali diwajibkan agar ngupapira (memelihara) kesenian dan kebudayaan justru buat meluhurkan jiwa rohani. Dan, lantas Tumpek Kuningan digelar buat mengingat dan mengakui jasa para leluhur yang telah menyebarkan ajaran-ajaran suci, memberikan tuntunan serta bimbingan ke arah kesucian dan keheningan batin. Cara praktisnya: rajinlah menghayati karya-karya susastra-agama serta lakonkan tapa, brata, yoga, samadhi dengan tekun dan rajin.
Senyatanya, memang, Bali memvisikan lingkungan itu dalam cakupan yang lebih luas daripada hasil pertemuan para pakar dan aktivis pecinta lingkungan di Stockholm, Swedia, 5 Juni 1972 silam. Nun jauh abad sebelum manusia-manusia yang menamakan dirinya modern mencanangkan Hari Bumi itu, moyang Bali telah menyadari dan melakoni penyelamatan lingkungan bumi itu. Bahkan juga lingkungan sosial dan seni budaya, hingga keheningan batin. Dengan yadnya itulah manusia Bali mewujudkan pengakuannya terhadap anugerah Tuhan di alam semesta ini. Adakah kini Anda masih menyadari dan melakoni kearifan itu dengan patuh –atau malah telah mengingkarinya?


Incaran Gelombang, Gempa, dan Merana

Kini saatnya Anda lepas dari musim penghujan. Kalen-der Bali menunjukkan, bulan Juni 2000 ini persis berte-patan dengan sasih Sada, bulan terakhir, bulan keduabelas. Dalam kondisi normal, sasih Sada yang berlangsung sejak 2 Juni hingga 1 Juli 2000 ini cuaca umumnya cerah. Langit benderang sepanjang hari, sehingga matahari bersinar penuh ke bumi.
Pengaruh (ngunya) watak sasih Katiga yang panas terik terhadap sasih Sada kali ini bisa menjadikan bulan ini terasa panas di siang hari dan gerah –atau bisa juga dingin— ketika malam. Ditambah lagi watak sasih Sada yang ditandai dengan benderangnya langit, maka klop sudah hujan bakalan sulit turun. Perubahan cuaca yang drastis dari musim penghujan sebelumnya ke terik ini bukan mustahil membuat pergeseran pada lapisan kerak bumi. Bila ini terjadi, berarti bumi bakal diincar guncangan gempa –entah lokasinya di mana.
Petani-petani Bali pada sasih Sada ini biasanya mulai melangsungkan upacara Nyungsung di Pura Subak atau Ulun Suwi. Tujuannya, memohon agar hama (merana) tak merusak tanaman. Maklum, sasih Sada ini memang dikenal banyak membiakkan hama yang mengancam panen. Jentik atau telor serangga, termasuk nyamuk, biasanya akan meretas pada sasih ini.
Angin laut juga kencang. Gelombang laut, karenanya, bisa besar dan deras, terutama di bagian selatan Bali. Ada baiknya Anda lebih berhati-hati bila hendak melakukan perjalanan lewat laut, karena gelombang dahsyat bisa saja mengincar tiba-tiba.
 

 
 
 
   © Copy Right  SARAD, 2000 - all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD