| Tumpek,
Kesadaran Alam Manusia Bali
Moyang Bali mengajarkan
agar manusia senantiasa ingat pada jasa alam lingkungan bagi kehidupan.
Mengingkari alam, berarti memporandakan hidup.
Manusia sejagat boleh saja
bersepakat menjadikan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia
atau Hari Bumi, setelah para pakar dan lembaga swadaya masyarakat (LSM)
pecinta alam bertemu di Stocholm, Swedia, 28 tahun silam. Para aktivis
lingkungan kemudian boleh-boleh saja begitu gempita menggelar seminar,
poster, spanduk, hingga renungan dan doa bagi keselamatan bumi saban tanggal
5 Juni itu. Namun para moyang manusia Bali yang tak pernah menjejakkan
kaki di Benua Eropa itu dan tak juga pernah berseminar, sejak berabad-abad
lampau telah melakonkan secara nyata dan ajeg wawasan kesadaran lingkungan.
Wujudnya dilaksanakan dalam bentuk peringatan hari keagamaan yang dinamakan
Tumpek.
Hari
Tumpek dalam sitem kalender Pawukon Bali jatuh saban hari Saniscara (Sabtu)
yang bertepatan dengan Kliwon dalam siklus lima harian (pancawara). Ini
berarti hari terakhir dalam putaran tujuh harian atau pekan (saptawara),
yakni Saniscara, bertemu dengan hari terakhir pancawara, Kliwon. Tak heran
bila ada yang mengartikan Tumpek itu sama dengan tumpuk, puncak, atau ujung.
Maksudnya, mungkin puncak pertemuan siklus tujuh dengan siklus lima itu.
Selain pertemuan hari terakhir saptawara (siklus tujuh) dengan pancawara
(siklus lima), juga ada pertemuan pancawara dengan triwara (siklus tiga).
Dari sini lahirlah Hari Kajeng Kliwon, saban 15 hari sekali.
Tetua manusia Bali di masa
lampau memang memberi makna dan renungan spiritual istimewa pada pertemuan
hari-hari terakhir atau puncak itu. Makna dan renungan itu diwujudkan dalam
bentuk kesadaran puji syukur persembahan (yadnya) berupa banten. Banten
mungkin juga berasal dari kosa kata Bali baan enten, artinya ‘dengan kesadaran’
atau ‘untuk mengingat’. Nyatanya, dengan banten itulah manusia Bali menyadari
dan menyadarkan dirinya terhadap keberadaan Sang Maha Pencipta, Hyang Paramakawi,
atas anugerah hidup-Nya di alam semesta ini. Di alam semesta (bhuwana agung)
yang terdiri dari lima unsur utama berupa tanah (pertiwi), air (apah),
sinar (teja), angin (bayu), dan ether (akasa) ini manusia (bhuwana alit)
hidup bersama-sama dengan tetumbuhan dan binatang. Disadari, tanpa tetumbuhan
dan binatang manusia tak akan mampu menyambung hidup. Dari sini lahirlah
ajaran yang mengingatkan agar manusia senantiasa menjaga kelestarian alam,
senantiasa menjaga harmoni dengan lingkungan justru agar hidup manusia
itu terjamin kelangsungannya. Jika manusia mengabaikan alam, memporandakan
lingkungan, sejatinyalah manusia berarti mengancam kelangsungan hidupnya
sendiri.
Senyatanya, memang, sifat
manusia (bhuwana alit) kebanyakan didominasi sifat rajah dan tamah yang
senantiasa serakah daripada sifat satwa yang arif bijak. Keserakahan ini
mengakibatkan manusia sibuk dengan segala kebutuhan-kebutuhan duniawi,
bahkan sering sampai melupakan keberadaan dirinya yang sesungguhnya berasal
dari alam semesta (bhuwana agung). Padahal, alam semesta (bhuwana agung)
inilah yang senantiasa menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan manusia.
Hakikat hubungan manusia
(bhuwan alit) dengan alam semesta (bhuwana agung) yang demikianlah menjadi
sebab mengapa moyang manusia Bali kemudian mewujudkan pengakuan dengan
upapira (aktivitas nyata berupa penyelamatan dan pemeliharaan). Di samping
itu juga dengan upakara (sarana-sarana material dari alam yang dibutuhkan
untuk kegiatan upacara justru untuk mendekatkan manusia dengan sesamanya
dan dengan alam) dan uparengga (pemahaman dan penghayatan makna filosofis).
Di sini juga termasuk banten sebagai wujud nyata untuk mengingat relasi
tersebut. Dari kesadaran ini lahirlah Hari Tumpek.
Di masyarakat Baduwi Dalam,
Jawa Barat, yang sistem kalendernya hingga kini serupa dengan Bali, Tumpek
sama dengan Saniscara (Sabtu). Namun moyang Bali merinci Hari Tumpek yang
jatuh saban Saniscara (Sabtu)-Kliwon itu setiap lima pekan (= 35 hari,
1 bulan Bali), mulai wuku (pekan) Landep, lalu Wariga, Kuningan, Krulut,
Uye, dan terakhir Wayang. Demikianlah secara umum hingga kini lantas dikenal
ada Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye,
dan Tumpek Wayang. Masing-masing Tumpek ini jatuh saban 210 hari sekali,
atau dalam setahun kalender Gregorian (Masehi) rata-rata diperingati dua
kali.
Tumpek Landep –tahun 2000
ini jatuh pada 3 Juni dan 30 Desember—digelar untuk mengingat dan memberikan
pengakuan terhadap unsur bumi yang merupakan sumber bahan baku logam, seperti
besi, baja, emas, perak, tembaga. Dari bahan-bahan logam inilah manusia
membuat teknologi, entah elektronik, otomotif, hingga pesawat berbagai
fungsi, satelit. Juga termasuk peralatan sehari-hari semisal pisau, silet,
parang, cangkul, sabit, dll. Dengan bahan logam yang dikandung perut bumi
ini pula manusia membuat aneka perhiasan, kini juga membangun gedung, membuat
jembatan, dll.
Lewat Tumpek Landep ini
manusia diwajibkan agar rajin dan gemar ngupapira (memelihara dan menggunakan)
alat-alat teknologi dengan baik dan benar untuk kesejahteraan dan keselamatan,
bukan malah menghancurkan kehidupan. Bila kemudian manusia Bali mempersembahkan
sajen (banten) pada benda-benda teknologi tersebut tentu bukan berarti
manusia Bali memuja atau menyembahyangi benda tersebut, melainkan mengucap
puji syukur ke hadapan Hyang Widhi, Tuhan Mahaesa, dalam manifestasi-Nya
sebagai Hyang Pasupati.
Lalu,
lewat Tumpek Wariga (ada juga menyebut dengan nama Tumpek Uduh, Tumpek
Bubuh atau Tumpek Atag) manusia Bali menyadari dan memberi pengakuan terhadap
unsur tanaman/tetumbuhan sebagai kebutuhan pokok dalam pembentukan tubuh
manusia yang dikonsumsi sehari-hari. Dari tanaman/tetumbuhan ini pula manusia
mendapatkan kayu untuk alat-alat rumah tangga, mulai dari kursi, meja,
almari, hingga bangunan perumahan, obat-obatan, dll. Saat itu tetumbuhan
di-atag diberikan banten sebagai wujud puji syukur manusia Bali kehadapan
Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Hyang Sangkara. Dalam laku nyata
sehari-hari manusia diwajibkan rajin ngupapira (menanam dan memelihara)
tanaman dan tetumbuhan.
Karena manusia juga tak
bisa lepas dari binatang dan hewan sebagai sumber kebutuhan protein hewani,
sebagai bahan obat-obatan, serta penjaga keseimbangan ekosistem alam maka
digelarlah Hari Tumpek Uye. Saat ini manusia Bali memuja Hyang Widhi, Tuhan
Mahaesa, sebagai Hyang Rudra lewat persembahan upacara khusus terhadap
hewan-hewan piaraan (kandang). Lewat Tumpek Uye atau Tumpek Kandang ini
manusia diwajibkan rajin ngupapira (memelihara) binatang peliharaan dan
sejenisnya.
Begitulah, guna mengingat
dan memberi pengakuan terhadap semua unsur tadi (tetumbuhan, binatang,
dan logam) yang dipergunakan sebagai sumber atau bahan produk seni-budaya,
seperti gamelan, wayang, perhiasan, alat-alat musik, dll. Moyang Bali lantas
menciptakan Hari Tumpek Wayang. Lewat pemujaan ke hadapan Hyang Widhi,
Tuhan Mahaesa, dalam manifestasi sebagai Hyang Iswara, manusia Bali diwajibkan
agar ngupapira (memelihara) kesenian dan kebudayaan justru buat meluhurkan
jiwa rohani. Dan, lantas Tumpek Kuningan digelar buat mengingat dan mengakui
jasa para leluhur yang telah menyebarkan ajaran-ajaran suci, memberikan
tuntunan serta bimbingan ke arah kesucian dan keheningan batin. Cara praktisnya:
rajinlah menghayati karya-karya susastra-agama serta lakonkan tapa, brata,
yoga, samadhi dengan tekun dan rajin.
Senyatanya, memang, Bali
memvisikan lingkungan itu dalam cakupan yang lebih luas daripada hasil
pertemuan para pakar dan aktivis pecinta lingkungan di Stockholm, Swedia,
5 Juni 1972 silam. Nun jauh abad sebelum manusia-manusia yang menamakan
dirinya modern mencanangkan Hari Bumi itu, moyang Bali telah menyadari
dan melakoni penyelamatan lingkungan bumi itu. Bahkan juga lingkungan sosial
dan seni budaya, hingga keheningan batin. Dengan yadnya itulah manusia
Bali mewujudkan pengakuannya terhadap anugerah Tuhan di alam semesta ini.
Adakah kini Anda masih menyadari dan melakoni kearifan itu dengan patuh
–atau malah telah mengingkarinya?
|