logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - PRIHAL PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 K O N E - MITOS 
 
 
Bahu Sakit? Gosokkan  ke Lumbung

kone1Ketika rekan-rekannya sibuk mengangkut hasil panen, Wayan Tinggar diam termangu menonton. Ia hanya duduk di pematang memandang orang-orang mengangkat padi ke pikulan. Ia ingin ikut ambil bagian, tapi tengkuk dan bahunya terasa nyeri begitu ia mulai menggerakkan leher. Untuk menoleh pun, memutar kepala, ia tak sanggup. Otot-otot di pundak kiri pegal kaku. Kalau ada yang memanggil, Tinggar tak kuasa menoleh, ia harus memutar badan untuk berhadapan dengan
orang yang memanggilnya.
Ketut Kledit, karib Tinggar yang biasanya menggali padas di tebing barat desa, menghampirinya.
"Kok bengong sendiri? Tak ikut mengangkut hasil panen?"
Tinggar menggeleng. "Ini, bahuku sakit sekali," ujarnya memegang bahu dan tengkuknya yang kiri.
"Wah, pasti kamu pegal mengangkut panen yang banyak ya?"
"Tidak juga. Kemarin bahuku biasa-biasa saja, masih bisa memikul padi dan rumput. Tapi bangun tadi pagi tiba-tiba sakit bukan main. Aku bahkan tak bisa menoleh. Tengkuk rasanya nyeri.
"Wah, kalau begitu kamu pasti salah tidur. Diurut saja."
"Diurut bagaimana? Dipegang saja sakit kok."
Tinggar mengaku, siang ini ia akan ke puskesmas. "Kata istriku, di puskesmas aku akan disuntik dengan obat penghilang rasa sakit. Lalu ditambah obat manjur biar ototku lemas tanpa mesti diurut," ujar Tinggar.
"Ke puskesmas? Tak usah. Aku punya obat mujarab."
"Apa pula itu?" tanya Tinggar penuh harap.
"Kau boleh percaya atau tidak, tapi aku sudah mencobanya. Dan manjur."
"Beri aku kalau begitu. Apa itu? Pil, jamu, atau loloh?"
"Bukan. Di rumahmu masih ada lumbung kan? Nah, gosokkan berkali-kali bahumu yang sakit itu ke bale lumbung, pasti sembuh."
"Ah, mana bisa. Pasti tambah sakit!"
"Aku pernah mencobanya, sembuh. Kalau ak percaya ya sudah. Tapi, apa salahnya kau coba."
kone2Tinggar lalu menyodok-nyodokkan bahunya di bale lumbung. Sakit, tapi ditahan-tahan. Yang ia rasa justru perih menyengat. Ketika ia raba bahunya, wah, berdarah. Sebitan kecil seperti tusuk gigi menancap di bahunya. Tak begitu dalam, tapi sakitnya bukan main.
Istrinya datang ketika Tinggar berkali-kali mengaduh. "Kubilang apa, ke puskesmas saja. Kok tahyul si Kledit kamu percaya. Kamu sendiri pernah bilang, Si Kledit itu tukang bual, pembohong besar, suka mempermainkan orang. Kok sekarang justru kamu yang percaya?"
Tinggar cuma diam. Bahunya panas dan perih. Ia meringis menahan sakit.


 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD