| Bahu
Sakit? Gosokkan ke Lumbung
Ketika
rekan-rekannya sibuk mengangkut hasil panen, Wayan Tinggar diam termangu
menonton. Ia hanya duduk di pematang memandang orang-orang mengangkat padi
ke pikulan. Ia ingin ikut ambil bagian, tapi tengkuk dan bahunya terasa
nyeri begitu ia mulai menggerakkan leher. Untuk menoleh pun, memutar kepala,
ia tak sanggup. Otot-otot di pundak kiri pegal kaku. Kalau ada yang memanggil,
Tinggar tak kuasa menoleh, ia harus memutar badan untuk berhadapan dengan
orang yang memanggilnya.
Ketut Kledit, karib Tinggar
yang biasanya menggali padas di tebing barat desa, menghampirinya.
"Kok bengong sendiri? Tak
ikut mengangkut hasil panen?"
Tinggar menggeleng. "Ini,
bahuku sakit sekali," ujarnya memegang bahu dan tengkuknya yang kiri.
"Wah, pasti kamu pegal mengangkut
panen yang banyak ya?"
"Tidak juga. Kemarin bahuku
biasa-biasa saja, masih bisa memikul padi dan rumput. Tapi bangun tadi
pagi tiba-tiba sakit bukan main. Aku bahkan tak bisa menoleh. Tengkuk rasanya
nyeri.
"Wah, kalau begitu kamu
pasti salah tidur. Diurut saja."
"Diurut bagaimana? Dipegang
saja sakit kok."
Tinggar mengaku, siang ini
ia akan ke puskesmas. "Kata istriku, di puskesmas aku akan disuntik dengan
obat penghilang rasa sakit. Lalu ditambah obat manjur biar ototku lemas
tanpa mesti diurut," ujar Tinggar.
"Ke puskesmas? Tak usah.
Aku punya obat mujarab."
"Apa pula itu?" tanya Tinggar
penuh harap.
"Kau boleh percaya atau
tidak, tapi aku sudah mencobanya. Dan manjur."
"Beri aku kalau begitu.
Apa itu? Pil, jamu, atau loloh?"
"Bukan. Di rumahmu masih
ada lumbung kan? Nah, gosokkan berkali-kali bahumu yang sakit itu ke bale
lumbung, pasti sembuh."
"Ah, mana bisa. Pasti tambah
sakit!"
"Aku pernah mencobanya,
sembuh. Kalau ak percaya ya sudah. Tapi, apa salahnya kau coba."
Tinggar
lalu menyodok-nyodokkan bahunya di bale lumbung. Sakit, tapi ditahan-tahan.
Yang ia rasa justru perih menyengat. Ketika ia raba bahunya, wah, berdarah.
Sebitan kecil seperti tusuk gigi menancap di bahunya. Tak begitu dalam,
tapi sakitnya bukan main.
Istrinya datang ketika Tinggar
berkali-kali mengaduh. "Kubilang apa, ke puskesmas saja. Kok tahyul si
Kledit kamu percaya. Kamu sendiri pernah bilang, Si Kledit itu tukang bual,
pembohong besar, suka mempermainkan orang. Kok sekarang justru kamu yang
percaya?"
Tinggar cuma diam. Bahunya
panas dan perih. Ia meringis menahan sakit.
|