| |
 |
Komersialisasi
seni dituding penyebab merosotnya mutu kesenian Bali. Dan turisme menjadi
biang keladi komersialisasi itu. Taksu, yang diyakini membuat kesenian
Bali berwibawa dan penuh pesona, pun pudar karenanya. Tuntutan perut, keinginan
meraup untung berlimpah, jauh lebih penting tinimbang mempertahankan wibawa
karya seni. Apakah kesenian Bali akan pupus ?
Tidak! Ada Dewa
Seni yang akan menjaga dan menyelamatkan agar kesenian Bali tidak merosot
terus.
|
Ketika Taksu
Melorot ke Perut
Di tengah gairah berkesenian
di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian
baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Bali terperangkap
panangkeb?
Takluk
pada Pakem Sekolah Seni
Lembaga kesenian
formal di Bali dibentuk untuk menyelamatkan kepunahan seni budaya
Bali. Ia juga diharapkan bisa mengkaji seni pertunjukan, misalnya, secara
akademis, sistematis, sehingga lebih memudahkan usaha-usaha pewarisan.
|
|
Dulu Ngayah,
Kini Mayah
Tradisi ngayah
dengan seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian bergeser.
Di mana titik kisruh ini dimulai?
Kontemporer
= Tradisi?
Seni kontemporer di Bali?
Ini mungkin pertanyaan mudah yang sulit dicarikan jawabannya. Soalnya,
apa yang disebutkan kontemporer oleh kalangan pengamat seni di Bali, setelah
dirunut-runut ternyata berakar pada tradisi juga –akhirnya.
Tiada
Lagi Maestro?
Jika pertanyaan dilontarkan
kepada khalayak Bali, “Apakah yang mereka inginkan dari kesenian Bali?”
Salah satu jawabannya mungkin, “Kita rindu kelahiran kembali maestro seni.”
Susastra,
Seni Anak Tiri
Tak cuma rumah tangga mengenal
anak tiri. Jagat seni di Bali pun, disengaja atau tidak, memiliki anak
tiri. Dialah seni susastra dan seni vokal. Di tengah gempita perkembangan
seni tabuh dan tari, seni susastra dan vokal malah kian saru, kabur dan
suram.
....selengkapnya
|
|
Mengebor
Taksu dengan Laku Yoga
Tak mudah membangkitkan
taksu dalam diri. Bila tak jujur, tulus, bakti, dan sungguh-sungguh, maka
taksu justru kian menjauh.
Dewa
Seni Menjaga Taksu
Pemahat Wayan Pendet
dikenal sebagai seniman yang sangat yakin akan pilihannya dalam berkesenian.
Sahabat pelukis Ida Bagus Made ini adalah guru bagi anak-anak muda
sedesanya di Nyuh Kuning, Ubud. Pendet peletak dasar takikan khas Nyuhkuning:
patung-patung binatang yang serius dan jenaka.
Pertanyaan
Baru dalam Kesenian Bali
Seputar akhir tahun 1980-an,
pernah sangat populer seni kriya pulasan, yang dikenal dengan patung pop
art. Bentuknya menyerupai patung-patung atau topeng nenek moyang Meksiko
atau New Zealand seperti Marcado, Mauri, Aztec, Varuna.
PKB,
Tuwah Amonto
Ketika tahun 1979 Ida Bagus
Mantra menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama kali, tak sedikit orang
yang tidak setuju. Komentar yang muncul waktu itu antara lain, untuk apa
kesenian Bali dihimpun, disatukan, lalu digelar? Itu tak lagi asli, karena
direkayasa.
....selengkapnya
|
|
|