logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
PARUMAN
SAJIAN UTAMA
 
 
Mengebor Taksu dengan Laku Yoga

Tak mudah membangkitkan taksu dalam diri. Bila tak jujur, tulus, bakti, dan sungguh-sungguh, maka taksu justru kian menjauh.

Suatu siang, di tahun 1930-an. Seorang asing bernama Miguel Covarrubias menelusup masuk sebuah desa di Tabanan. Ia mencari penari Kebyar Duduk yang sangat masyur, I Ketut Maria. Setelah bertemu, Miguel lantas menyodorkan selembar foto seorang lelaki yang sedang menarikan tari Kebyar Duduk ciptaan Maria. Apa komentar seniman Bali yang juga menciptakan tari Terompong dan Tambulilingan itu?
Hmm, hebat. Penari itu penari yang baik. Apakah sebabnya saya belum pernah bertemu dengannya?” kata Maria, menatap Miguel. Tak pelak lagi si Miguel heran alang kepalang. Soalnya, foto penari yang diperlihatkannya kepada I Maria bukan orang lain. Foto itu protret diri I Maria sendiri ketika sedang menari di tengah kalangan (arena pentas). Dan, Maria baru terkekeh girang setelah diyakinkan, foto itu tiada lain potret dirinya sendiri. Sejenak kemudian ia mengunyah sirihnya kembali, lalu pergi ke sawah, menunaikan swadharma-nya sehari-hari sebagai petani. Miguel melongo, ditinggal sendirian. Aneh?
“Itu hal yang sangat biasa di Bali, seorang penari lantas tidak mengenali dirinya lagi setelah di panggung,” tulis pelukis Walter Spies dalam buku karangannya bersama Beryl de Zoete, Dance and Drama in Bali. Dalam buku terbitan 1938 yang kemudian jadi monumental tersebut, Spies kemudian melukiskan, saat menari seorang pregina memang sedang menjadi alat bagi “pikiran yang lain”. Sosok raja Rama yang agung nan anggun, atau sosok raksasa Rahwana yang menyeramkan di tengah pentas bukan mustahil diperankan seorang yang sehari-hari hanyalah petani biasa yang saban pagi dan sore bergelimang lumpur huma.
Para seniman-seniman penari itu, komentar Spies, sangat tidak menarik sama sekali, dan beberapa saat setelah permainan pertunjukan berakhir lantas mengunyah sirih, bercakap-cakap dengan teman-temannya. Biasa saja, tak ada rasa istimewa telah melakonkan Rama atau Rahwana begitu gemilang.
Itu sebabnya, Miguel Covarrubias meski sudah bermalam-malam menemani I Maria ngobrol mengaku tak mampu juga memahami pemuda yang sangat pendiam dan biasa itu. Padahal, di tengah kalangan I Maria sangat memukau. Gerakannya lincah, bertenaga. Seledetan matanya tajam mempesona. Di kalangan, setelah menari, sosok pendiam I Maria menjadi berubah total. Di sana, tulis Miguel, I Maria menjadi sosok lain yang bukan dirinya. Saat menari, ia benar-benar digerakkan oleh “pikiran yang lain”, energi yang lain namun masih dalam ragawinya. Kenapa bisa? “Itulah Sang Hyang Taksu malingga,” jelas Ida Pedanda Gede Putra Singarsa dari Geria Keniten, Bongkasa, Badung.
 Seniman Bali yang mataksu, papar Ida Pedanda, memang lain. Di tengah kalangan atau di panggung ia akan berubah sesuai dengan karakter yang sedang dilakonkannya. “Baru bergerak atau bersuara sedikit saja dia sudah memukau penonton,” tandas Ida Pedanda.
Sulit, memang, mencarikan padanan kata taksu dalam bahasa lain. Taksu sekaligus mengandung pengertian energi, kekuatan, pesona, daya pukau, wibawa, dan kharisma sekaligus. Taksu itulah yang menjadikan gerak ragawi dan atau suara yang keluar dari dalam jasad seseorang menjadi bertenaga, berdaya pukau, sehingga penonton pun menjadi terpikat, tergila-gila menyaksikan atau mendengarkannya. Pada dasawarsa 1970-1980-an, penggemar wayang tak merasa jera mesti berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk menyaksikan Dalang Bongkasa ngwayang Ramayana. Mereka terpukau oleh suara ore (kera) yang penuh, Hanoman, Anggada, hingga Kumbakarna saat menangis. Pernah suatu kali, saking miripnya suara ore yang disuarakan Dalang Bongkasa ini, anjing-anjing di sekitar sampai memburu arena pentas wayang. Kawanan anjing ini tentu mengira itu suara ore beneran.
Dari mana Dalang Bongkasa belajar menyuarakan ore hingga memukau para penontonnya di Italia, Jepang, Paris, bahkan Vatikan? “Dari kakiang (kakek) saya yang juga dalang,” tandas Ida Pedanda Gede Putra Singarsa yang populer di kalangan sisya-nya dengan sebutan Ida Pedanda Dalang Bongkasa ini. Sejak kecil sang kakiang sudah mengkondisikan agar mewarisi bakatnya itu. Nyatanya, hanya dengan mendengar, mengamati langsung setiap kali sang kakiang ngwayang, kemampuan itu lantas dikuasainya. “Entah bagaimana, suara itu langsung saja keluar dari bibir saya saat ngwayang,” tutur Ida Pedanda yang sudah ngwayang sejak tahun 1917 ini.
Bagi Ida Pedanda, setiap orang sebenarnya punya potensi nangiang (membangkitkan) taksu yang ada dalam dirinya. Namun potensi itu akan lebih cepat bangkit bila orang bersangkutan punya bakat. Di luar itu dasar untuk membangkitkan taksu dalam diri adalah kejujuran, ketulusan, dan ketotalan penuh untuk berkonsentrasi menekuni bidang seni bersangkutan. “Tanpa kejujuran jangan coba-coba mengharapkan Sang Hyang Taksu mencegan (muncul) di dirimu,” ingat Ida Pedanda.
Secara teknis, lanjut Ida Pedanda, memang ada sarana dari luar yang bisa digunakan membangkitkan taksu seseorang. Misalnya, dengan makan biyu mas (pisang kecil berwarna kuning keemasan), telur ayam hitam, dan kunang-kunang. Masing-masing satu. Semuanya lantas ditelan saat hari Purnama sebagai pangenteg jaya buddhi (penegak budi unggul). Sebelumnya tentu biyu mas tersebut telah diberi mantra Pasupati lengkap dengan banten (sajen) khusus Pasupati oleh sang nabe (guru). Mantra ini berupa mantra penghidup yang berisi permohoan kehadapan Hyang Siwa, Tuhan Mahakuasa, sebagai Pasupati agar bekenan menghidupkan energi taksu yang ada dalam diri sang sisya (murid). Rangkaian ritus ini diakhiri dengan natab banten tadi.
Cuma, ingat Ida Pedanda, “Semua upaya itu akan sia-sia belaka bila yang bersangkutan tidak mau jujur, tidak tulus, dan tidak berkonsentrasi penuh pada bidang yang ditekuninya.” Berpulang pada kesungguhan, kesuntukan, dan ketotalan diri sendiri pula, akhirnya. Seorang nabe (guru) sesungguhnya cuma mencoba membantu mengobarkan api yang ada dalam diri seorang sisya (murid). Namun, bila dalam diri si sisya tak ada bara atau bila si sisya tak mau menghidupkan bara yang ada dalam dirinya sendiri, maka seorang nabe tetap tak akan mampu memberi si sisya api. Api taksu tak bisa dipindahkan, tak juga sembarang orang bisa diberikan. “Taksu itu pingit (rahasia dan keramat),” jelas Ida Pedanda.
Seorang seniman yang bertaksu, dia seorang yang dalam pustaka-pustaka lontar disebutkan sebagai dibya caksu, laku, gerak, dan suaranya utama, benar. Itu sebabnya, Ida Pedanda berulang kali menekankan pentingnya kejujuran, ketulusan, dan kesepenuhhatian dalam berkesenian. “Bila itu hilang pada seseorang, taksu-nya juga akan melecat jadi campah (hambar),” jelas Ida Pedanda.
Pada benda-benda, seperti tapel (topeng), barong, misalnya, taksu itu dibangkitkan pula dengan jalan mem-Pasupati. Saat itu, seorang pendeta akan berkonsentrasi penuh padat memohon kehadapan Hyang Siwa sebagai Pasupati agar malingga (hadir) memberi energi taksu pada benda tadi. Namun jauh sebelumnya seorang sangging (seniman pahat) yang akan membuat tapel atau barong tersebut sesungguhnya telah melewati tahapan-tahapan tapa, brata, dan yoga. Awalnya, dipilih hari baik untuk memilih kayu. Kayu yang hendak digunakan pun tak sembarangan. Penakik tapel I Wayan Tangguh dari Banjar Mukti, Singapadu (Gianyar), misalnya, senantiasa ingin mengetahui asal-usul kayu yang hendak ditakiknya. Paling awal, ia akan bertanya, siapa yang akan memakai tapel tersebut. Dari sini dia baru memilih bahan kayu, lalu menakik, memberi karakter. Dengan begitu, tapel-tapel hasil takikan Tangguh menjadi benar-benar tangguh.
Ada kalanya seorang penakik tapel bakal menjalani tapa-brata saat menakik kayu tersebut, sehingga karakter yang hendak dipahatkan ke dalam kayu menjadi ‘hidup’. Usai itu, onggokan topeng itu diupacarai, di-Pasupati, diberi tenaga gaib sehingga hidup. Hasilnya, tentu saja sangat berbeda dengan topeng, barong, ataupun rangda-rangda yang dijual di toko-toko kesenian di pinggir jalan untuk kalangan turis. Ini belum usai. Masih ada satu tahapan penting lagi. Namanya mintonin atau ngrehang. Saat itu topeng yang sudah di-Pasupati akan ditaruh di hulu kuburan keramat, di gerbang masuk Pura Dalem yang tenget (angker). Kenapa di hulu kuburan atau di Pura Dalem?
Seniman serba bisa asal Desa Budakeling, Karangasem, Ida Wayan Oka Granoka menjelaskan, Dewa Taksu itu adalah Durga. Dalam kosmologi Bali, Durga berstana di Pura Dalem. Wujudnya dilukiskan dalam mitologi Bali sangat aeng kabinawa (luar biasa menyeramkan). Durga sebagai Dewi Taksu merupakan energi mahasakti, berkilau selayak kilat. Beliau-lah yang memberi perlindungan kepada balian siddhi (dukun mumpuni) dan pragina dibya caksu, karenanya Beliau di-sungsung (dipuja) di Sanggar Taksu, bangunan suci khusus sebagai stana Sang Hyang Taksu.
Namun dalam penghayatan para penekun yoga, dalam jagat diri manusia sendiri jualah taksu itu bersemayam. Kata Granoka, dalam diri manusia energi taksu itu berada di titik simpul muladara cakra. Persisnya di antara lubang kemaluan dan lubang pantat. Di sana dia tidur melingkar laksana ular naga, melilit lingga swayambhu dan menutup pintu sumsumna yang tegak lurus di tulang belakang. Lazim disebut energi Kundalini. Aksaranya: ANG, sebagai energi ‘tanah’. Karena itu, kata Granoka, “Nangiang (membangunkan) taksu berarti nangiang sang hyang pramana, sang jiwa, yang bila tak disadari tertidur di muladara cakra.”
  Jalan tunggal ke arah itu tiada lain: yoga. Maka, menabuh ataupun menari, bagi Granoka sama dengan beryoga. Seorang penabuh maupun seorang penari yang benar-benar mataksu, suntuk, tekun, dan tulus penuh, pada dasarnya dia sedang melakoni tahapan-tahapan yoga. “Masolah Ida mayoga, magamel Ida mayoga (menari Dia beryoga, menabuh gamelan Dia beryoga),” papar Granoka.
Ada banyak teks tersurat dalam aneka lontar yang membentangkan pemahaman soal itu. Sebut, misalnya, Prakempa, Aji Gurnita, hingga Kaputusan Patikelaning Genta Pinara Pitu. Teks-teks ini mengisyaratkan filosofi tentang nada keheningan, nada Tuhan, yang tak terdengar telinga ragawi, terkecuali tertangkap oleh ‘telinga batin’ sang hamba Tuhan yang suci, tulus, jujur, tekun, suntuk penuh konsentrasi laksana sang yogin. Suara hening inilah yang dituntun diarahkan meniti ke arah tujuh cakra dalam diri mulai dari muladara di titik paling bawah hingga akhirnya menembus adnya-cakra di antara kedua alis agak ke atas, lalu berpendar kemilau di ubun-ubun yang dinamakan sahasra-cakra.
Dalam pemahaman Oka Granoka, taksu sebagai anugerah Durga, Batara Dalem, itu merupakan ‘api’ pemusnah segala bentuk leteh, ya kekotoran lahir batin, penyakit, kedengkian, kemunafikan, dan segala bentuk ketidakpastian. Dia-lah pembangkit Jiwa Sakti, benih hidup abadi, yang tiada lain Brahman sendiri. Dia mewujud dalam diri, pada sukma hati (suksma ring sarira). “Dia hadir hanya dalam setiap pribadi yang tulus jujur bakti,” katanya.
Dari sini bisa dimengerti mengapa seorang seniman bertaksu sejati pada hari-hari tertentu, atau menjelang pentas, misalnya, merasa perlu menggelar tapa-brata sebagai bentuk sadana (laku) yoga. Dari sini pula mudah dipahami kenapa Ida Pedanda Gede Putra Singarsa menekankan, taksu itu pingit dan bisa saja malecat (lenyap) bila orang tak lagi jujur, tak lagi tulus. Berpamerih pada hasil material, sejenis tari-tarian paket atau garapan proyek pesanan dan sejenisnya, jelas bukan tujuan taksu. Di sana taksu justru kian menjauh.
Bila taksu sudah mamurti (hidup) dalam diri seorang seniman, maka guna nafsu (rajah) dan kemalasan (tamah) akan diubah menjadi gina (indah, baik, dan mulia). Maka manusia pragina pun akan menjadi figur (sakti) yang setia atau teguh pada prinsip kebajikan, sempurna (siddhi), berhasil (siddha), baik dan menyenangkan (subha), berwibawa dan hidup (bhawa), kasih sayang (asih) dengan kharisma yang melakat pada dirinya. “Ia akan tetap disegani karena keunggulan geginan (kemampuan, bakat, ketrampilan) dan maguna (berguna) dalam kehidupan masyarakat,” tandas Granoka.
Taksu pragina, lanjutnya, menampakkan wujud ekspresinya pada mahkota: kepala (hulu), mata, wajah dan bahu (gulu). Ditunjang dengan keterampilan ragawi lainnya, seperti gerak tangan (mudra), pengaturan napas (prana) dan tenaga (pramana), maka gerakan seluruh anggota tubuh para penari dan sesaji suci pun tak pelak menuntun kembali dewa-dewa ke bumi, sehingga lahirlah rumusan masolah ida mayoga, menari Dia beryoga.
Pentahapan yoga memberikan penjelasan, jiwa pribadi menampakkan wujud murninya ketika bangkit berada pada titik cakra ke-5, 6, dan 7. Posisinya pada pragina masing-masing: gelang bahu (gulu), permata dahi (cudamani atau patitis), dan mahkota (gelung). Adapun gelang bahu (gulu) dan tenggorokan merupakan kunci menarik atau membangkitkan (pasuk-wetu) napas (praman) hidup itu. Maka, ketika seorang pragina yang bertaksu mengenakan mahkota (ngrangsuk gelung), sejatinyalah dia telah dapat merasakan “getar hidup” pribadinya. Terlebih manakala diperciki tirta (wangsuh pada), itu berarti sekujur raga dan jiwa pragina maupun peralatan seni itu dialiri anugerah Tuhan, sehingga otot-ototnya terbangun membentuk ekspresi. Disadari atau tidak, pada saat itu Dia, Dewa Taksu, telah hadir (rawuh) pada sang pragina. Saat itulah dia dinamakan karawuhan atau katakson, dianugerahi Sang Hyang Taksu.
Ekspresi Sang Hyang Taksu dapat dilihat pada mata, berupa tetuek (pandangan), nelik (membelalak), nengneng (tatapan), dll. Juga pada alis, berupa mecuk (merengut) atau kejit aneh (kerlingan sebelah), dan sejenisnya. Dan, tentu terlihat pada muka berupa incah cerunguh, semu semita (roman muka), kenyem (senyum), mesem (mendesem), dll. Namun bagaimana bila sang pragina mengenakan tapel (topeng)? Ekspresi langsung muka tentu tak akan terlihat. Apakah itu berarti isyarat taksu tak bisa terdeteksi?
Nanti dulu. Ida Wayan Oka Granoka menunjukkan, pada pragina yang matapel, di sini sangat penting memperhatikan bahu (gulu). “Di situlah seorang yang peka akan melihat isyarat taksu. Bahu itu jadi kunci, di situlah rumahnya,” ungkapnya. Seniman-seniman wayah (kawakan) segera akan dapat mencermati taksu pragina, walaupun dia menonton atau mengapresiasi tarian dari belakang. “Gerak bahu itulah yang akan diperhatikan,” paparnya.
Dan, dari sinilah rupanya penari legong kawakan asal Klandis (Denpasar), Ni Ketut Ciblun, lantas dengan mudah menuding penari-penari di Bali kini lintang onyed, sangat lunglai. “Sing mataksu (tak bertaksu),” cetusnya.
KS


 
Dewa Seni Menjaga Taksu

Pemahat Wayan Pendet  dikenal sebagai seniman yang sangat yakin akan pilihannya dalam berkesenian. Sahabat pelukis Ida Bagus Made  ini adalah guru bagi anak-anak muda sedesanya di Nyuh Kuning, Ubud. Pendet peletak dasar takikan khas Nyuhkuning: patung-patung binatang yang serius dan jenaka.
Ketika zaman berubah, anak didiknya mulai tergoda memperoleh banyak uang dari kesibukan memahat. Mereka menerima patung pesanan yang dikerjakan massal. “Tapi sebelum mereka menjatuhkan pilihan, anak-anak itu datang kepada saya,” kenang Pendet. “Mereka bertanya, apakah saya tidak keberatan jika mereka mengerjakan patung pesanan?”
Apa jawab Pendet? “Silakan, setiap seniman punya pilihan hidup. Apa pun kalian boleh lakoni.” Tapi dalam hati Pendet tentu bersedih, mereka yang ia didik akhirnya tak kuat dengan godaan dalam berkesenian.
Sejak itulah, di pertengahan tahun 1980-an, Bali mulai mengenal aneka patung binatang untuk cinderamata. Ada patung kodok berselancar, kodok berpayung, atau patung dolpin yang sangat terkenal itu. Dan Pendet tetap saja menakik kayu untuk patung seni. Bersama pemahat sedesanya, seperti Mangku Tama, Mangku Masa, ia mulai menyadari, pahatan gaya khas Nyuhkuning bakalan lenyap kalau tidak diselamatkan. Mereka kemudian membangun museum patung di sebelah Pura Desa, menampung patung terbaik karya pemahat Nyuhkuning, kebanyakan patung binatang. Jumlahnya tak banyak, hanya 30 patung.
Jika ada yang bertanya, apakah Pendet tak khawatir seni pahat Nyuhkuning punah karena ia “merestui” anak-anak didiknya mengerjakan patung pesanan, ia akan menjawab kalem, “Tak akan ada yang lenyap. Saya percaya ada Dewa Seni yang akan menyelamatkan seni apa pun di Bali.”
Pendet memang pemahat yang optimis. Karena itu ia tetap dekat dengan murid-muridnya yang memilih jalan pintas berkesenian untuk mendapatkan banyak dolar. “Pilihan apa pun yang kita jalankan, akan menghasilkan pahala yang setimpal,” ujar pematung yang doyan lawar daun belimbing ini kalem.
Ida Bagus Made, Wayan Pendet, Mangku Masa, Mangku Tama, sudah almarhum. Di alam sana mungkin mereka sudah menjadi pengiring Dewa Seni yang bertugas menjaga taksu kesenian Bali.
AS


Pertanyaan Baru dalam Kesenian Bali

Seputar akhir tahun 1980-an, pernah sangat populer seni kriya pulasan, yang dikenal dengan patung pop art. Bentuknya menyerupai patung-patung atau topeng nenek moyang Meksiko atau New Zealand seperti Marcado, Mauri, Aztec, Varuna. Salah seorang pedagang patung dari Desa Mas kemudian mengklaim patung-patung pop art itu adalah hak ciptanya yang ia berikan kepada Laurel Burch di San Fransisco. Ketika seorang asing bernama Pier I memesan patung pop art sejenis ke perajin Bali, antara lain ke Garuda di Batubulan, Gianyar, tak ayal Pier I digugat sebagai penjiplak.
Tak jelas bagaimana akhir dari   sengketa itu, namun yang lebih menarik dari kisah itu adalah, di Bali seni untuk tujuan komersial menjadi lahan sangat penting dan menjanjinkan, bisnis besar yang mendatangkan keuntungan berlipat-lipat. Padahal banyak yang berkomentar, pedagang dari Desa Mas itu dan Laurel Burch tentu tak pantas menyatakan patung-patung Aztec, Maori, Marcado, sebagai ciptaan mereka. Sama halnya dengan, siapakah yang berhak menyatakan patung boma atau topeng dalem itu ciptaannya?
Patung pop art dengan warna berkibar benderang norak itu sekarang memang tidak lagi se-pop sepuluh tahun silam, namun ia tetap menyisakan persoalan: di Bali urusan hak cipta seni adalah sesuatu yang tidak gampang, rumit, pelik. Anehnya, seniman sendiri kurang mendukung. I Togog, penemu patung pulasan mini knock down pohon pisang, kelapa, rambutan, tak pernah peduli gagasannya ditiru oleh hampir seluruh perajin di Bali. Malah ia senang, karena berarti ia turut memberi makan dan penghasilan bagi ribuan mulut dan perut orang Bali. I Cokot pun tak pernah sewot karya-karyanya dijiplak. Yang dikagumi, diundang ke Istana Negara berpameran, tetap saja Togog, Cokot, bukan penjiplak atau maling-maling itu.
Namun kasus gugatan patung pop art itu mulai menyodorkan pertanyaan baru, benarkah orang Bali telah berubah dalam menciptakan dan memperdagangkan karya seni mereka? Benarkah pariwisata penyebabnya? Betulkan perubahan pandangan itu kemudian menular pada sudut pandang mereka menilai adat dan tradisi?
Seni memberikan keharuman nama, bisnis kesenian memberikan limpahan uang. Di Bali, mulai bermunculan seniman yang melakoni keduanya: menjadi tenar dan kaya. Sesuatu yang acap kali dikambinghitamkan sebagai penyebab seni tak lagi bertaksu.
AS


PKB, Tuwah Amonto

Ketika tahun 1979 Ida Bagus Mantra menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama kali, tak sedikit orang yang tidak setuju. Komentar yang muncul waktu itu antara lain, untuk apa kesenian Bali dihimpun, disatukan, lalu digelar? Itu tak lagi asli, karena direkayasa. Seni pertunjukan Bali, sudah hadir dan hidup di tengah masyarakatnya. Ia ada di desa-desa, jadi tak usah dipaksa-paksa di bawa ke ibu kota.
Tapi Mantra tetap melangkah. Ia menyusun sendiri skenario PKB, membukanya sendiri, pidato sendiri. Kepada pers ia mengaku, gagasan penyelenggaraan PKB muncul antara lain setelah ia melihat di beberapa negara ada pesta kesenian yang digelar secara teratur. Ia menyebut Australia, Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa yang teratur menyelenggarakan pesta kesenian.
Tapi Mantra ketika itu sangat tertutup ihwal pembiayaan PKB. Soalnya muncul kritik, orang Bali berkesenian nyaris tanpa memikirkan biaya, karena mereka melakoninya sebagai wujud ngayah. PKB dinilai sebagai pemborosan.  Tapi akhirnya toh biaya itu harus dibuka kepada publik, karena itu menyangkut uang rakyat. Bukan Mantra yang menyampaikan, tetapi asistennya. Orang kaget ketika disebut biayanya kala itu lebih Rp 100 juta. “Wah, itu sudah proyek besar namanya,” komentar orang-orang.
Tudingan PKB sebagai pesta kesenian yang boros, semakin gencar. Mantra kemudian menjabarkan, PKB pun punya tujuan ekonomi. Ini ia lontarkan setelah PKB berlangsung tujuh kali. Ia menyebut, di arena PKB para perajin bisa memamerkan karyanya. Di situ terjadi transaksi, ajang niaga. Muncul desain-desain baju baru, desain perak yang memikat. PKB kemudian dijadikan ajang bisnis. Ketika itulah mulai muncul bermacam barang dagangan di seputar arena PKB. Muncul pedagang kaki lima, dagang sandal jepit, tas, gantungan kunci, baju, celana, handuk. Ramai dan hiruk pikuk.
Orang berkomentar, masih layakkah PKB dikatakan sebagai arena pesta kesenian? Apa bedanya PKB dengan pameran pembangunan yang diselengarakan ketika HUT Proklamasi di bulan Agustus? Mana hasil-hasil masterpiece dari PKB? Sudahkah karya-karya terbaik, lukisan, patung, dibeli oleh Pemda Bali? Sudahkah seni pertunjukan langka dan terbaik yang tampil di PKB didokumentasikan? Bagaimana caranya jika ada yang ingin melihat kembali dokumen-dokumen itu? Mengapa PKB tak lagi menjadi peristiwa kesenian yang membanggakan?
Mantra lantas mengungkapkan. Ia sebenarnya ingin mencari karya-karya seni terbaik dari PKB. Karya-karya itu dibeli Pemda, kemudian dipamerkan keliling ke kabupaten-kabupaten. “Sehingga masyarakat kita tahu dan bisa membedakan, mana seni yang bagus, mana pula seni turistik,” ujarnya ketika itu. Tapi niat luhur itu tak pernah terwujud. Para penerus PKB lebih melihat pesta kesenian ini sebagai sebuah proyek rutin. Perlahan-lahan dan pasti, sulit membedakan, PKB itu sungguh-sungguh sebuah peristiwa kesenian rakyat yang menjadi arena pertunjukan karya-karya puncak, atau cuma sekedar hiburan?
Seni kriya dan pertunjukan terbaik tak hadir di PKB. Ia tak bisa menjadi barometer kesenian Bali. Ia cuma barometer keramaian. Ia kemudian menjadi peristiwa kesenian untuk birokrat, setelah berhasil memukau pejabat-pejabat Jakarta. Setiap pembukaannya, ada pawai, selalu dihadiri pejabat penting dan petinggi negara. Mantra, sang arsitek, tak lagi sendiri. Lambat laun, PKB menjadi sebuah siasat untuk menyenangkan pejabat pusat. Peserta pawai kesenian lebih menentingkan tampil di depan panggung kehormatan, dibanding menunjukkan kepada publik kesenian yang mereka perankan.
Maka sebagai peristiwa kesenian dan hiburan di Bali kini, layak jika banyak orang berkomentar, “PKB tuwah amonto, cuma sebegitu!”
AS


Artkel PARUMAN lainnya:

Ketika Taksu Melorot ke Perut
Di tengah gairah berkesenian di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Bali terperangkap panangkeb?

Takluk pada Pakem Sekolah Seni

Lembaga kesenian formal di Bali dibentuk untuk menyelamatkan kepunahan  seni budaya Bali. Ia juga diharapkan bisa mengkaji seni pertunjukan, misalnya, secara akademis, sistematis, sehingga lebih memudahkan usaha-usaha pewarisan.

Dulu Ngayah, Kini Mayah
Tradisi ngayah dengan seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian bergeser. Di mana titik kisruh ini dimulai?

Kontemporer = Tradisi?
Seni kontemporer di Bali? Ini mungkin pertanyaan mudah yang sulit dicarikan jawabannya. Soalnya, apa yang disebutkan kontemporer oleh kalangan pengamat seni di Bali, setelah dirunut-runut ternyata berakar pada tradisi juga –akhirnya.

Tiada Lagi Maestro?
Jika pertanyaan dilontarkan kepada khalayak Bali, “Apakah yang mereka inginkan dari kesenian Bali?” Salah satu jawabannya mungkin, “Kita rindu kelahiran kembali maestro seni.”

Susastra, Seni Anak Tiri
Tak cuma rumah tangga mengenal anak tiri. Jagat seni di Bali pun, disengaja atau tidak, memiliki anak tiri. Dialah seni susastra dan seni vokal. Di tengah gempita perkembangan seni tabuh dan tari, seni susastra dan vokal malah kian saru, kabur dan suram.
....selengkapnya


kembali ke indeks paruman
 
 
 
   © Copy Right  SARAD, 2000 - all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD