| |
Mengebor
Taksu dengan Laku Yoga
Tak mudah membangkitkan
taksu dalam diri. Bila tak jujur, tulus, bakti, dan sungguh-sungguh, maka
taksu justru kian menjauh.
Suatu siang, di tahun 1930-an.
Seorang asing bernama Miguel Covarrubias menelusup masuk sebuah desa di
Tabanan. Ia mencari penari Kebyar Duduk yang sangat masyur, I Ketut Maria.
Setelah bertemu, Miguel lantas menyodorkan selembar foto seorang lelaki
yang sedang menarikan tari Kebyar Duduk ciptaan Maria. Apa komentar seniman
Bali yang juga menciptakan tari Terompong dan Tambulilingan itu?
Hmm, hebat. Penari itu penari
yang baik. Apakah sebabnya saya belum pernah bertemu dengannya?” kata Maria,
menatap Miguel. Tak pelak lagi si Miguel heran alang kepalang. Soalnya,
foto penari yang diperlihatkannya kepada I Maria bukan orang lain. Foto
itu protret diri I Maria sendiri ketika sedang menari di tengah kalangan
(arena pentas). Dan, Maria baru terkekeh girang setelah diyakinkan, foto
itu tiada lain potret dirinya sendiri. Sejenak kemudian ia mengunyah sirihnya
kembali, lalu pergi ke sawah, menunaikan swadharma-nya sehari-hari sebagai
petani. Miguel melongo, ditinggal sendirian. Aneh?
“Itu hal yang sangat biasa
di Bali, seorang penari lantas tidak mengenali dirinya lagi setelah di
panggung,” tulis pelukis Walter Spies dalam buku karangannya bersama Beryl
de Zoete, Dance and Drama in Bali. Dalam buku terbitan 1938 yang kemudian
jadi monumental tersebut, Spies kemudian melukiskan, saat menari seorang
pregina memang sedang menjadi alat bagi “pikiran yang lain”. Sosok raja
Rama yang agung nan anggun, atau sosok raksasa Rahwana yang menyeramkan
di tengah pentas bukan mustahil diperankan seorang yang sehari-hari hanyalah
petani biasa yang saban pagi dan sore bergelimang lumpur huma.
Para
seniman-seniman penari itu, komentar Spies, sangat tidak menarik sama sekali,
dan beberapa saat setelah permainan pertunjukan berakhir lantas mengunyah
sirih, bercakap-cakap dengan teman-temannya. Biasa saja, tak ada rasa istimewa
telah melakonkan Rama atau Rahwana begitu gemilang.
Itu sebabnya, Miguel Covarrubias
meski sudah bermalam-malam menemani I Maria ngobrol mengaku tak mampu juga
memahami pemuda yang sangat pendiam dan biasa itu. Padahal, di tengah kalangan
I Maria sangat memukau. Gerakannya lincah, bertenaga. Seledetan matanya
tajam mempesona. Di kalangan, setelah menari, sosok pendiam I Maria menjadi
berubah total. Di sana, tulis Miguel, I Maria menjadi sosok lain yang bukan
dirinya. Saat menari, ia benar-benar digerakkan oleh “pikiran yang lain”,
energi yang lain namun masih dalam ragawinya. Kenapa bisa? “Itulah Sang
Hyang Taksu malingga,” jelas Ida Pedanda Gede Putra Singarsa dari Geria
Keniten, Bongkasa, Badung.
Seniman Bali yang
mataksu, papar Ida Pedanda, memang lain. Di tengah kalangan atau di panggung
ia akan berubah sesuai dengan karakter yang sedang dilakonkannya. “Baru
bergerak atau bersuara sedikit saja dia sudah memukau penonton,” tandas
Ida Pedanda.
Sulit, memang, mencarikan
padanan kata taksu dalam bahasa lain. Taksu sekaligus mengandung pengertian
energi, kekuatan, pesona, daya pukau, wibawa, dan kharisma sekaligus. Taksu
itulah yang menjadikan gerak ragawi dan atau suara yang keluar dari dalam
jasad seseorang menjadi bertenaga, berdaya pukau, sehingga penonton pun
menjadi terpikat, tergila-gila menyaksikan atau mendengarkannya. Pada dasawarsa
1970-1980-an, penggemar wayang tak merasa jera mesti berjalan kaki berkilo-kilo
meter hanya untuk menyaksikan Dalang Bongkasa ngwayang Ramayana. Mereka
terpukau oleh suara ore (kera) yang penuh, Hanoman, Anggada, hingga Kumbakarna
saat menangis. Pernah suatu kali, saking miripnya suara ore yang disuarakan
Dalang Bongkasa ini, anjing-anjing di sekitar sampai memburu arena pentas
wayang. Kawanan anjing ini tentu mengira itu suara ore beneran.
Dari mana Dalang Bongkasa
belajar menyuarakan ore hingga memukau para penontonnya di Italia, Jepang,
Paris, bahkan Vatikan? “Dari kakiang (kakek) saya yang juga dalang,” tandas
Ida Pedanda Gede Putra Singarsa yang populer di kalangan sisya-nya dengan
sebutan Ida Pedanda Dalang Bongkasa ini. Sejak kecil sang kakiang sudah
mengkondisikan agar mewarisi bakatnya itu. Nyatanya, hanya dengan mendengar,
mengamati langsung setiap kali sang kakiang ngwayang, kemampuan itu lantas
dikuasainya. “Entah bagaimana, suara itu langsung saja keluar dari bibir
saya saat ngwayang,” tutur Ida Pedanda yang sudah ngwayang sejak tahun
1917 ini.
Bagi Ida Pedanda, setiap
orang sebenarnya punya potensi nangiang (membangkitkan) taksu yang ada
dalam dirinya. Namun potensi itu akan lebih cepat bangkit bila orang bersangkutan
punya bakat. Di luar itu dasar untuk membangkitkan taksu dalam diri adalah
kejujuran, ketulusan, dan ketotalan penuh untuk berkonsentrasi menekuni
bidang seni bersangkutan. “Tanpa kejujuran jangan coba-coba mengharapkan
Sang Hyang Taksu mencegan (muncul) di dirimu,” ingat Ida Pedanda.
Secara teknis, lanjut Ida
Pedanda, memang ada sarana dari luar yang bisa digunakan membangkitkan
taksu seseorang. Misalnya, dengan makan biyu mas (pisang kecil berwarna
kuning keemasan), telur ayam hitam, dan kunang-kunang. Masing-masing satu.
Semuanya lantas ditelan saat hari Purnama sebagai pangenteg jaya buddhi
(penegak budi unggul). Sebelumnya tentu biyu mas tersebut telah diberi
mantra Pasupati lengkap dengan banten (sajen) khusus Pasupati oleh sang
nabe (guru). Mantra ini berupa mantra penghidup yang berisi permohoan kehadapan
Hyang Siwa, Tuhan Mahakuasa, sebagai Pasupati agar bekenan menghidupkan
energi taksu yang ada dalam diri sang sisya (murid). Rangkaian ritus ini
diakhiri dengan natab banten tadi.
Cuma,
ingat Ida Pedanda, “Semua upaya itu akan sia-sia belaka bila yang bersangkutan
tidak mau jujur, tidak tulus, dan tidak berkonsentrasi penuh pada bidang
yang ditekuninya.” Berpulang pada kesungguhan, kesuntukan, dan ketotalan
diri sendiri pula, akhirnya. Seorang nabe (guru) sesungguhnya cuma mencoba
membantu mengobarkan api yang ada dalam diri seorang sisya (murid). Namun,
bila dalam diri si sisya tak ada bara atau bila si sisya tak mau menghidupkan
bara yang ada dalam dirinya sendiri, maka seorang nabe tetap tak akan mampu
memberi si sisya api. Api taksu tak bisa dipindahkan, tak juga sembarang
orang bisa diberikan. “Taksu itu pingit (rahasia dan keramat),” jelas Ida
Pedanda.
Seorang seniman yang bertaksu,
dia seorang yang dalam pustaka-pustaka lontar disebutkan sebagai dibya
caksu, laku, gerak, dan suaranya utama, benar. Itu sebabnya, Ida Pedanda
berulang kali menekankan pentingnya kejujuran, ketulusan, dan kesepenuhhatian
dalam berkesenian. “Bila itu hilang pada seseorang, taksu-nya juga akan
melecat jadi campah (hambar),” jelas Ida Pedanda.
Pada benda-benda, seperti
tapel (topeng), barong, misalnya, taksu itu dibangkitkan pula dengan jalan
mem-Pasupati. Saat itu, seorang pendeta akan berkonsentrasi penuh padat
memohon kehadapan Hyang Siwa sebagai Pasupati agar malingga (hadir) memberi
energi taksu pada benda tadi. Namun jauh sebelumnya seorang sangging (seniman
pahat) yang akan membuat tapel atau barong tersebut sesungguhnya telah
melewati tahapan-tahapan tapa, brata, dan yoga. Awalnya, dipilih hari baik
untuk memilih kayu. Kayu yang hendak digunakan pun tak sembarangan. Penakik
tapel I Wayan Tangguh dari Banjar Mukti, Singapadu (Gianyar), misalnya,
senantiasa ingin mengetahui asal-usul kayu yang hendak ditakiknya. Paling
awal, ia akan bertanya, siapa yang akan memakai tapel tersebut. Dari sini
dia baru memilih bahan kayu, lalu menakik, memberi karakter. Dengan begitu,
tapel-tapel hasil takikan Tangguh menjadi benar-benar tangguh.
Ada kalanya seorang penakik
tapel bakal menjalani tapa-brata saat menakik kayu tersebut, sehingga karakter
yang hendak dipahatkan ke dalam kayu menjadi ‘hidup’. Usai itu, onggokan
topeng itu diupacarai, di-Pasupati, diberi tenaga gaib sehingga hidup.
Hasilnya, tentu saja sangat berbeda dengan topeng, barong, ataupun rangda-rangda
yang dijual di toko-toko kesenian di pinggir jalan untuk kalangan turis.
Ini belum usai. Masih ada satu tahapan penting lagi. Namanya mintonin atau
ngrehang. Saat itu topeng yang sudah di-Pasupati akan ditaruh di hulu kuburan
keramat, di gerbang masuk Pura Dalem yang tenget (angker). Kenapa di hulu
kuburan atau di Pura Dalem?
Seniman
serba bisa asal Desa Budakeling, Karangasem, Ida Wayan Oka Granoka menjelaskan,
Dewa Taksu itu adalah Durga. Dalam kosmologi Bali, Durga berstana di Pura
Dalem. Wujudnya dilukiskan dalam mitologi Bali sangat aeng kabinawa (luar
biasa menyeramkan). Durga sebagai Dewi Taksu merupakan energi mahasakti,
berkilau selayak kilat. Beliau-lah yang memberi perlindungan kepada balian
siddhi (dukun mumpuni) dan pragina dibya caksu, karenanya Beliau di-sungsung
(dipuja) di Sanggar Taksu, bangunan suci khusus sebagai stana Sang Hyang
Taksu.
Namun dalam penghayatan
para penekun yoga, dalam jagat diri manusia sendiri jualah taksu itu bersemayam.
Kata Granoka, dalam diri manusia energi taksu itu berada di titik simpul
muladara cakra. Persisnya di antara lubang kemaluan dan lubang pantat.
Di sana dia tidur melingkar laksana ular naga, melilit lingga swayambhu
dan menutup pintu sumsumna yang tegak lurus di tulang belakang. Lazim disebut
energi Kundalini. Aksaranya: ANG, sebagai energi ‘tanah’. Karena itu, kata
Granoka, “Nangiang (membangunkan) taksu berarti nangiang sang hyang pramana,
sang jiwa, yang bila tak disadari tertidur di muladara cakra.”
Jalan tunggal ke
arah itu tiada lain: yoga. Maka, menabuh ataupun menari, bagi Granoka sama
dengan beryoga. Seorang penabuh maupun seorang penari yang benar-benar
mataksu, suntuk, tekun, dan tulus penuh, pada dasarnya dia sedang melakoni
tahapan-tahapan yoga. “Masolah Ida mayoga, magamel Ida mayoga (menari Dia
beryoga, menabuh gamelan Dia beryoga),” papar Granoka.
Ada banyak teks tersurat
dalam aneka lontar yang membentangkan pemahaman soal itu. Sebut, misalnya,
Prakempa, Aji Gurnita, hingga Kaputusan Patikelaning Genta Pinara Pitu.
Teks-teks ini mengisyaratkan filosofi tentang nada keheningan, nada Tuhan,
yang tak terdengar telinga ragawi, terkecuali tertangkap oleh ‘telinga
batin’ sang hamba Tuhan yang suci, tulus, jujur, tekun, suntuk penuh konsentrasi
laksana sang yogin. Suara hening inilah yang dituntun diarahkan meniti
ke arah tujuh cakra dalam diri mulai dari muladara di titik paling bawah
hingga akhirnya menembus adnya-cakra di antara kedua alis agak ke atas,
lalu berpendar kemilau di ubun-ubun yang dinamakan sahasra-cakra.
Dalam pemahaman Oka Granoka,
taksu sebagai anugerah Durga, Batara Dalem, itu merupakan ‘api’ pemusnah
segala bentuk leteh, ya kekotoran lahir batin, penyakit, kedengkian, kemunafikan,
dan segala bentuk ketidakpastian. Dia-lah pembangkit Jiwa Sakti, benih
hidup abadi, yang tiada lain Brahman sendiri. Dia mewujud dalam diri, pada
sukma hati (suksma ring sarira). “Dia hadir hanya dalam setiap pribadi
yang tulus jujur bakti,” katanya.
Dari sini bisa dimengerti
mengapa seorang seniman bertaksu sejati pada hari-hari tertentu, atau menjelang
pentas, misalnya, merasa perlu menggelar tapa-brata sebagai bentuk sadana
(laku) yoga. Dari sini pula mudah dipahami kenapa Ida Pedanda Gede Putra
Singarsa menekankan, taksu itu pingit dan bisa saja malecat (lenyap) bila
orang tak lagi jujur, tak lagi tulus. Berpamerih pada hasil material, sejenis
tari-tarian paket atau garapan proyek pesanan dan sejenisnya, jelas bukan
tujuan taksu. Di sana taksu justru kian menjauh.
Bila taksu sudah mamurti
(hidup) dalam diri seorang seniman, maka guna nafsu (rajah) dan kemalasan
(tamah) akan diubah menjadi gina (indah, baik, dan mulia). Maka manusia
pragina pun akan menjadi figur (sakti) yang setia atau teguh pada prinsip
kebajikan, sempurna (siddhi), berhasil (siddha), baik dan menyenangkan
(subha), berwibawa dan hidup (bhawa), kasih sayang (asih) dengan kharisma
yang melakat pada dirinya. “Ia akan tetap disegani karena keunggulan geginan
(kemampuan, bakat, ketrampilan) dan maguna (berguna) dalam kehidupan masyarakat,”
tandas Granoka.
Taksu pragina, lanjutnya,
menampakkan wujud ekspresinya pada mahkota: kepala (hulu), mata, wajah
dan bahu (gulu). Ditunjang dengan keterampilan ragawi lainnya, seperti
gerak tangan (mudra), pengaturan napas (prana) dan tenaga (pramana), maka
gerakan seluruh anggota tubuh para penari dan sesaji suci pun tak pelak
menuntun kembali dewa-dewa ke bumi, sehingga lahirlah rumusan masolah ida
mayoga, menari Dia beryoga.
Pentahapan
yoga memberikan penjelasan, jiwa pribadi menampakkan wujud murninya ketika
bangkit berada pada titik cakra ke-5, 6, dan 7. Posisinya pada pragina
masing-masing: gelang bahu (gulu), permata dahi (cudamani atau patitis),
dan mahkota (gelung). Adapun gelang bahu (gulu) dan tenggorokan merupakan
kunci menarik atau membangkitkan (pasuk-wetu) napas (praman) hidup itu.
Maka, ketika seorang pragina yang bertaksu mengenakan mahkota (ngrangsuk
gelung), sejatinyalah dia telah dapat merasakan “getar hidup” pribadinya.
Terlebih manakala diperciki tirta (wangsuh pada), itu berarti sekujur raga
dan jiwa pragina maupun peralatan seni itu dialiri anugerah Tuhan, sehingga
otot-ototnya terbangun membentuk ekspresi. Disadari atau tidak, pada saat
itu Dia, Dewa Taksu, telah hadir (rawuh) pada sang pragina. Saat itulah
dia dinamakan karawuhan atau katakson, dianugerahi Sang Hyang Taksu.
Ekspresi Sang Hyang Taksu
dapat dilihat pada mata, berupa tetuek (pandangan), nelik (membelalak),
nengneng (tatapan), dll. Juga pada alis, berupa mecuk (merengut) atau kejit
aneh (kerlingan sebelah), dan sejenisnya. Dan, tentu terlihat pada muka
berupa incah cerunguh, semu semita (roman muka), kenyem (senyum), mesem
(mendesem), dll. Namun bagaimana bila sang pragina mengenakan tapel (topeng)?
Ekspresi langsung muka tentu tak akan terlihat. Apakah itu berarti isyarat
taksu tak bisa terdeteksi?
Nanti dulu. Ida Wayan Oka
Granoka menunjukkan, pada pragina yang matapel, di sini sangat penting
memperhatikan bahu (gulu). “Di situlah seorang yang peka akan melihat isyarat
taksu. Bahu itu jadi kunci, di situlah rumahnya,” ungkapnya. Seniman-seniman
wayah (kawakan) segera akan dapat mencermati taksu pragina, walaupun dia
menonton atau mengapresiasi tarian dari belakang. “Gerak bahu itulah yang
akan diperhatikan,” paparnya.
Dan, dari sinilah rupanya
penari legong kawakan asal Klandis (Denpasar), Ni Ketut Ciblun, lantas
dengan mudah menuding penari-penari di Bali kini lintang onyed, sangat
lunglai. “Sing mataksu (tak bertaksu),” cetusnya.
KS
|
| Dewa
Seni Menjaga Taksu
Pemahat Wayan Pendet
dikenal sebagai seniman yang sangat yakin akan pilihannya dalam berkesenian.
Sahabat pelukis Ida Bagus Made ini adalah guru bagi anak-anak muda
sedesanya di Nyuh Kuning, Ubud. Pendet peletak dasar takikan khas Nyuhkuning:
patung-patung binatang yang serius dan jenaka.
Ketika zaman berubah, anak
didiknya mulai tergoda memperoleh banyak uang dari kesibukan memahat. Mereka
menerima patung pesanan yang dikerjakan massal. “Tapi sebelum mereka menjatuhkan
pilihan, anak-anak itu datang kepada saya,” kenang Pendet. “Mereka bertanya,
apakah saya tidak keberatan jika mereka mengerjakan patung pesanan?”
Apa jawab Pendet? “Silakan,
setiap seniman punya pilihan hidup. Apa pun kalian boleh lakoni.” Tapi
dalam hati Pendet tentu bersedih, mereka yang ia didik akhirnya tak kuat
dengan godaan dalam berkesenian.
Sejak itulah, di pertengahan
tahun 1980-an, Bali mulai mengenal aneka patung binatang untuk cinderamata.
Ada patung kodok berselancar, kodok berpayung, atau patung dolpin yang
sangat terkenal itu. Dan Pendet tetap saja menakik kayu untuk patung seni.
Bersama pemahat sedesanya, seperti Mangku Tama, Mangku Masa, ia mulai menyadari,
pahatan gaya khas Nyuhkuning bakalan lenyap kalau tidak diselamatkan. Mereka
kemudian membangun museum patung di sebelah Pura Desa, menampung patung
terbaik karya pemahat Nyuhkuning, kebanyakan patung binatang. Jumlahnya
tak banyak, hanya 30 patung.
Jika ada yang bertanya,
apakah Pendet tak khawatir seni pahat Nyuhkuning punah karena ia “merestui”
anak-anak didiknya mengerjakan patung pesanan, ia akan menjawab kalem,
“Tak akan ada yang lenyap. Saya percaya ada Dewa Seni yang akan menyelamatkan
seni apa pun di Bali.”
Pendet memang pemahat yang
optimis. Karena itu ia tetap dekat dengan murid-muridnya yang memilih jalan
pintas berkesenian untuk mendapatkan banyak dolar. “Pilihan apa pun yang
kita jalankan, akan menghasilkan pahala yang setimpal,” ujar pematung yang
doyan lawar daun belimbing ini kalem.
Ida Bagus Made, Wayan Pendet,
Mangku Masa, Mangku Tama, sudah almarhum. Di alam sana mungkin mereka sudah
menjadi pengiring Dewa Seni yang bertugas menjaga taksu kesenian Bali.
AS
|
| Pertanyaan
Baru dalam Kesenian Bali
Seputar akhir tahun 1980-an,
pernah sangat populer seni kriya pulasan, yang dikenal dengan patung pop
art. Bentuknya menyerupai patung-patung atau topeng nenek moyang Meksiko
atau New Zealand seperti Marcado, Mauri, Aztec, Varuna. Salah seorang pedagang
patung dari Desa Mas kemudian mengklaim patung-patung pop art itu adalah
hak ciptanya yang ia berikan kepada Laurel Burch di San Fransisco. Ketika
seorang asing bernama Pier I memesan patung pop art sejenis ke perajin
Bali, antara lain ke Garuda di Batubulan, Gianyar, tak ayal Pier I digugat
sebagai penjiplak.
Tak jelas bagaimana akhir
dari sengketa itu, namun yang lebih menarik dari kisah itu
adalah, di Bali seni untuk tujuan komersial menjadi lahan sangat penting
dan menjanjinkan, bisnis besar yang mendatangkan keuntungan berlipat-lipat.
Padahal banyak yang berkomentar, pedagang dari Desa Mas itu dan Laurel
Burch tentu tak pantas menyatakan patung-patung Aztec, Maori, Marcado,
sebagai ciptaan mereka. Sama halnya dengan, siapakah yang berhak menyatakan
patung boma atau topeng dalem itu ciptaannya?
Patung pop art dengan warna
berkibar benderang norak itu sekarang memang tidak lagi se-pop sepuluh
tahun silam, namun ia tetap menyisakan persoalan: di Bali urusan hak cipta
seni adalah sesuatu yang tidak gampang, rumit, pelik. Anehnya, seniman
sendiri kurang mendukung. I Togog, penemu patung pulasan mini knock down
pohon pisang, kelapa, rambutan, tak pernah peduli gagasannya ditiru oleh
hampir seluruh perajin di Bali. Malah ia senang, karena berarti ia turut
memberi makan dan penghasilan bagi ribuan mulut dan perut orang Bali. I
Cokot pun tak pernah sewot karya-karyanya dijiplak. Yang dikagumi, diundang
ke Istana Negara berpameran, tetap saja Togog, Cokot, bukan penjiplak atau
maling-maling itu.
Namun kasus gugatan patung
pop art itu mulai menyodorkan pertanyaan baru, benarkah orang Bali telah
berubah dalam menciptakan dan memperdagangkan karya seni mereka? Benarkah
pariwisata penyebabnya? Betulkan perubahan pandangan itu kemudian menular
pada sudut pandang mereka menilai adat dan tradisi?
Seni memberikan keharuman
nama, bisnis kesenian memberikan limpahan uang. Di Bali, mulai bermunculan
seniman yang melakoni keduanya: menjadi tenar dan kaya. Sesuatu yang acap
kali dikambinghitamkan sebagai penyebab seni tak lagi bertaksu.
AS
|
| PKB,
Tuwah Amonto
Ketika
tahun 1979 Ida Bagus Mantra menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama
kali, tak sedikit orang yang tidak setuju. Komentar yang muncul waktu itu
antara lain, untuk apa kesenian Bali dihimpun, disatukan, lalu digelar?
Itu tak lagi asli, karena direkayasa. Seni pertunjukan Bali, sudah hadir
dan hidup di tengah masyarakatnya. Ia ada di desa-desa, jadi tak usah dipaksa-paksa
di bawa ke ibu kota.
Tapi Mantra tetap melangkah.
Ia menyusun sendiri skenario PKB, membukanya sendiri, pidato sendiri. Kepada
pers ia mengaku, gagasan penyelenggaraan PKB muncul antara lain setelah
ia melihat di beberapa negara ada pesta kesenian yang digelar secara teratur.
Ia menyebut Australia, Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa yang
teratur menyelenggarakan pesta kesenian.
Tapi Mantra ketika itu sangat
tertutup ihwal pembiayaan PKB. Soalnya muncul kritik, orang Bali berkesenian
nyaris tanpa memikirkan biaya, karena mereka melakoninya sebagai wujud
ngayah. PKB dinilai sebagai pemborosan. Tapi akhirnya toh biaya itu
harus dibuka kepada publik, karena itu menyangkut uang rakyat. Bukan Mantra
yang menyampaikan, tetapi asistennya. Orang kaget ketika disebut biayanya
kala itu lebih Rp 100 juta. “Wah, itu sudah proyek besar namanya,” komentar
orang-orang.
Tudingan PKB sebagai pesta
kesenian yang boros, semakin gencar. Mantra kemudian menjabarkan, PKB pun
punya tujuan ekonomi. Ini ia lontarkan setelah PKB berlangsung tujuh kali.
Ia menyebut, di arena PKB para perajin bisa memamerkan karyanya. Di situ
terjadi transaksi, ajang niaga. Muncul desain-desain baju baru, desain
perak yang memikat. PKB kemudian dijadikan ajang bisnis. Ketika itulah
mulai muncul bermacam barang dagangan di seputar arena PKB. Muncul pedagang
kaki lima, dagang sandal jepit, tas, gantungan kunci, baju, celana, handuk.
Ramai dan hiruk pikuk.
Orang berkomentar, masih
layakkah PKB dikatakan sebagai arena pesta kesenian? Apa bedanya PKB dengan
pameran pembangunan yang diselengarakan ketika HUT Proklamasi di bulan
Agustus? Mana hasil-hasil masterpiece dari PKB? Sudahkah karya-karya terbaik,
lukisan, patung, dibeli oleh Pemda Bali? Sudahkah seni pertunjukan langka
dan terbaik yang tampil di PKB didokumentasikan? Bagaimana caranya jika
ada yang ingin melihat kembali dokumen-dokumen itu? Mengapa PKB tak lagi
menjadi peristiwa kesenian yang membanggakan?
Mantra lantas mengungkapkan.
Ia sebenarnya ingin mencari karya-karya seni terbaik dari PKB. Karya-karya
itu dibeli Pemda, kemudian dipamerkan keliling ke kabupaten-kabupaten.
“Sehingga masyarakat kita tahu dan bisa membedakan, mana seni yang bagus,
mana pula seni turistik,” ujarnya ketika itu. Tapi niat luhur itu tak pernah
terwujud. Para penerus PKB lebih melihat pesta kesenian ini sebagai sebuah
proyek rutin. Perlahan-lahan dan pasti, sulit membedakan, PKB itu sungguh-sungguh
sebuah peristiwa kesenian rakyat yang menjadi arena pertunjukan karya-karya
puncak, atau cuma sekedar hiburan?
Seni kriya dan pertunjukan
terbaik tak hadir di PKB. Ia tak bisa menjadi barometer kesenian Bali.
Ia cuma barometer keramaian. Ia kemudian menjadi peristiwa kesenian untuk
birokrat, setelah berhasil memukau pejabat-pejabat Jakarta. Setiap pembukaannya,
ada pawai, selalu dihadiri pejabat penting dan petinggi negara. Mantra,
sang arsitek, tak lagi sendiri. Lambat laun, PKB menjadi sebuah siasat
untuk menyenangkan pejabat pusat. Peserta pawai kesenian lebih menentingkan
tampil di depan panggung kehormatan, dibanding menunjukkan kepada publik
kesenian yang mereka perankan.
Maka sebagai peristiwa kesenian
dan hiburan di Bali kini, layak jika banyak orang berkomentar, “PKB tuwah
amonto, cuma sebegitu!”
AS
|
Artkel
PARUMAN lainnya:
Ketika Taksu
Melorot ke Perut
Di tengah gairah berkesenian
di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian
baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Bali terperangkap
panangkeb?
Takluk
pada Pakem Sekolah Seni
Lembaga kesenian
formal di Bali dibentuk untuk menyelamatkan kepunahan seni budaya
Bali. Ia juga diharapkan bisa mengkaji seni pertunjukan, misalnya, secara
akademis, sistematis, sehingga lebih memudahkan usaha-usaha pewarisan.
|
|
Dulu Ngayah,
Kini Mayah
Tradisi ngayah
dengan seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian bergeser.
Di mana titik kisruh ini dimulai?
Kontemporer
= Tradisi?
Seni kontemporer di Bali?
Ini mungkin pertanyaan mudah yang sulit dicarikan jawabannya. Soalnya,
apa yang disebutkan kontemporer oleh kalangan pengamat seni di Bali, setelah
dirunut-runut ternyata berakar pada tradisi juga –akhirnya.
Tiada
Lagi Maestro?
Jika pertanyaan dilontarkan
kepada khalayak Bali, “Apakah yang mereka inginkan dari kesenian Bali?”
Salah satu jawabannya mungkin, “Kita rindu kelahiran kembali maestro seni.”
Susastra,
Seni Anak Tiri
Tak cuma rumah tangga mengenal
anak tiri. Jagat seni di Bali pun, disengaja atau tidak, memiliki anak
tiri. Dialah seni susastra dan seni vokal. Di tengah gempita perkembangan
seni tabuh dan tari, seni susastra dan vokal malah kian saru, kabur dan
suram.
....selengkapnya
|
kembali
ke indeks paruman
|
|