| |
| Dulu
Ngayah, Kini Mayah
Tradisi ngayah dengan
seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian bergeser. Di mana
titik kisruh ini dimulai?
Untuk apa manusia Bali berkesenian?
Penari Legong tenar asal Banjar Kedaton, Denpasar, Ni Reneng, membuka jawabannya
dalam kalimat pendek padat makna. “Tiang ngigel anggen ngayah ring jagate
tur mabakti ring Ida Hyang (Saya menari untuk ngayah kepada masyarakat
dan mabakti kehadapan Dewata Agung), bukan menjadi pelayan toris (turis),”
katanya suatu kali.
Semasa hidupnya Reneng memang
doyan mengingatkan penari-penari muda agar tidak membayang-bayangkan limpahan
materi manakala menari. Ngayah, mengabdi penuh seluruh dengan segala kesuntukan,
itulah yang dia pertahankan. Tak heran bila dia sering mengaku mabakti,
sembahyang, dengan tarian yang dilakonkannya. “Manakala menari Ida Hyang
terasa malingga (turun) menjejak di kepala saya,” ungkapnya. Maka Ni Reneng
yang semula terkulai di atas dipan yang cuma beralas tikar, di hari-hari
rentanya, menjelang tutup usia, sontak akan terbangun lantas menarikan
gerak-gerak legong yang rumit manakala ada orang yang menemaninya ngobrol
soal tari Bali. Ketika itu dia seolah ‘menjelma’ menjadi sosok lain, dengan
energi jiwa yang kukuh. Tubuh Reneng seolah-olah menjadi pancering jagat,
pusat semesta, di mana seluruh gerak bertumpu pada napasnya. Waktunya menari
pun tak bisa dibatasi. “Daripada waktu menari dibatasi, lebih baik saya
tak menari,” cetusnya.
Mudah dipahami bila Reneng
yang berwajah jelita ini bakal marah tak alang kepalang manakala murid-muridnya
di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) maupun STSI (Sekolah Tinggi
Seni Indonesia) Denpasar tak sungguh-sungguh latihan menari. Dia tak mentoleransi
murid-mudirnya tumbuh menjadi ‘binatang ekonomi’ yang materialistis dengan
lenggak-lenggok tarian sekadarnya. “Bagaimana tak kesal mengajar manusia
yang tak pernah mengasah rasa? Masa manusia kalah sama pohon. Coba lihat
pohon kelapa itu, betapa lentur dan indah gerakannya. Manusia malah kaku.
Ini menyebalkan,” keluhnya suatu kali usai mengajar di SMKI Denpasar.
Hingga
generasi Ni Reneng, Bali sungguh masih bisa mempertahankan taksu-nya di
jagat seni. Kesuntukan menekuni seni, kejujuran kata dan laku, serta kesederhanaan
hidup masih kentara. Namun manakala Reneng meninggal pada 7 September 1993,
saat manusia Bali begitu khusyuk melangsungkan Hari Raya Galungan sebagai
simbolik hari kemenangan dharma atas adharma, Bali sepertinya melewati
hari-hari yang kehilangan generasi bertaksu di jagat seni. Kematian Reneng
yang sunyi dari publikasi sepertinya menjadi pertanda pupusnya taksu seni
pada generasi Bali berikutnya.
Dan, segera setelah Reneng
dipanggil Sang Maha Pencipta, Bali kehilangan satu per satu seniman-seniman
maestro segenerasinya. Mahaguru gambuh asal Desa Pedungan (Denpasar) I
Gede Geruh, menyusul meninggal. Lalu berpulanglah pelukis Ida Bagus Made
Poleng dari Tebesaya (Ubud), dalang I Nyoman Rajeg (Tabanan), seniman pahat
Ida Bagus Mayun (Denpasar), hingga penggesek rebab gambuh, I Made
Lemping, yang 5 Juni lalu meninggal dalam lawatan kesenian gambuh ke Jerman.
Beberapa seniman segenerasi
Reneng ada yang masih hidup, memang. Sebut saja, misalnya, Ni Ketut Ciblun
yang kini sedang renta di rumah asalnya, Banjar Klandis, Denpasar. Ada
juga Ida Pedanda Gede Singarsa di Geria Keniten, Bongkasa, yang dikenal
sebagai dalang Ramayana dengan suara emasnya saat ngore (menyuarakan kera).
Terpaut sedikit di bawah generasi Reneng ini masih ada Jero Suli yang tenar
dengan suara emas luk gregel-nya yang mempesona di jagat seni arja bersama
Jero Puspa di Bongkasa. Di jagat tabuh ada I Wayan Berata dari Banjar Belaluan
(Denpasar) dan I Nyoman Rembang dari Banjar Sesetan (Denpasar) –untuk menyebut
beberapa nama. Namun rata-rata kini usia mereka sudah di atas 70 tahun.
Ida Pedanda Gede Singarsa yang tenar dengan sebutan Dalang Bongkasa, meskipun
masih kuat ngawayang khusus untuk nyapuleger (upacara ruwatan), kini bahkan
sudah menginjak usia 85 tahun –dan boleh jadi dalang satu-satunya dari
generasinya yang masih hidup. Jero Suli sudah sejak lama lunglai, terlilit
sakit lumpuh.
Wajar bila kini muncul kecemasan
terhadap kelangsungan taksu Bali di jagat seni. Soalnya, generasi-generasi
di bawah mereka –yang layak menjadi anak bahkan cucu mereka—sudah sangat
kental bersentuhan dengan industri yang mendewakan materi dan kepraktisan.
Di Bali, sebagaimana dicemaskan Ni Reneng, berwujud sebagai pariwisata.
“Seni kita di Bali memang banyak menyumbang dolar, namun mana persembahan
buat Ida Hyang, buat penghayatan personal?” cetus pembina Sanggar Kreativitas
Seni Bajra Sandhi, Ida Wayan Oka Granoka.
Titik berangkat generasi
yang saling berlainan ini sungguh berbeda, memang. Pada generasi Ni Reneng
yang lahir di awal-awal abad ke-19 itu, Bali sebagai pulau mungil masih
murni dan romantik: hamparan huma menghijau, polos, tak ada polusi, dan
sedikit bangunan. Getaran dan aktivitas spiritual masih utuh. Tak heran
bila laporan-laporan kalangan orang-orang Eropa yang berkelana di Bali
saat itu –mulai kian menderas sejak 1920-an— penuh puja dan puji bagi Bali.
Ungkapan-ungkapan eksotik pun bermunculan, seperti ‘Bali Pulau Surga’,
‘Bali Surga Terakhir’, hingga yang bernada ejekan menyesatkan, semisal
‘Bali Museum Hidup’.
Saat itu, pengajaran seni
masih bertumbuh di puri-puri, geria, dan bale banjar dalam suasana yang
sangat akrab kekeluargaan. Hidup sederhana. Guru-guru seni rela mengajarkan
sepenuh kemampuannya kepada para murid tanpa bayaran. Tradisi belajar mengajar
pun menjadi suatu bentuk yadnya yang murni. Seni menjadi kebutuhan dasar
rohani. Seni menjadikan manusia Bali tak sekadar berjasad. Dia energi hidup
yang memekarkan rasa. Dengan kemekaran rasa yang penuh itulah manusia Bali
memuja Ida Hyang. Itu sebabnya, seni menjadi sesuatu yang hadir dan mengalir
dalam hidup sebagai bentuk pemujaan. Seni menjadikan hidup manusia lengkap.
Tak heran bila jagat bahasa Bali tak mengenal kosa kata seni secara khusus.
Seni, ya hidup itu sendiri. Bukan istilah.
Karena seni mengalir dalam
hidup itu sendiri, maka pembelajaran seni pun berlangsung sejak kanak-kanak
dan dengan penuh kesungguhan, penuh ketotalan. Mereka yang dikenal sebagai
mpu-mpu seni Bali rata-rata sudah suntuk berlatih intensif sejak usia 6-7
tahun. Paling
lambat usia 10 tahun. Mereka juga dilatih para mpu seni di bidangnya. Demikian,
misalnya, bisa dirunut dari generasi yang lahir tahun 1800-an, seperti
I Made ‘Nyarikan’ Sriada dari Banjar Gemeh (Denpasar) bersama Ida Bagus
Boda yang asli Sukawati (Gianyar) namun akhirnya menetap di Kaliungu (Denpasar),
Ida Puria, dan I Legeg sejak usia kanak-kanak sudah suntuk tekun belajar
dari jenis tari Gambuh, Palegongan hingga Patopengan dan Baris dalam lingkungan
puri dan banjar. Dari sini mereka menempa diri dalam disiplin yang keras.
Sriada dan Ida Boda, misalnya, usai latihan pada guru-gurunya lantas latihan
sendiri di depan cermin di rumahnya, saban hari. Dari sini mereka lantas
tumbuh menjadi guru bahkan mpu tari yang kreatif. Tak cuma meneruskan tapi
juga mencipta yang baru, menyempurnakan yang sebelumnya. Dengan demikianlah
seni lantas bertumbuh dalam kualitas utuh dengan akar yang jelas. Kerja
sama Nyarikan Sriada, Ida Boda, Ida Puria, dan I Legeg, misalnya, mengembangkan
Topeng Pajegan menjadi Topeng Panca hingga dikenal sebagaimana adanya sekarang.
Mereka juga mengembangkan tarian Cupak. Sriada sendiri menciptakan tari
Wiranatha dan Baris.
Pada gilirannya, Sriada,
Ida Boda, dkk. malah mengajar tari di lingkungan puri, geria, maupun banjar
di seantero Bali. Dari mereka lahirlah seniman-seniman tari dan tabuh generasi
berikutnya, seperti I Nyoman Kaler dari Pamogan (Denpasar), I Wayan Lotring
dari Kuta (Badung), I Ketut Maria —oleh kalangan penulis asing dikenal
dengan nama I Mario— dari Kesiman namun akhirnya menetap di Tabanan. Juga
lahir I Nyoman Ridet, Ida Bagus Ngurah (Badung) hingga I Wayan Berata,
I Wayan Saplug, I Wayan Rindi, hingga I Made Keredek dari Singapadu (Gianyar)
dan Ni Reneng, dkk. Aliran itu, jadinya, seperti pohon silsilah perguruan
seni yang mekar, ajeg mempertahankan mutu, kukuh mengusung sikap dan prinsip
berkesenian sebagai jalan ngayah dan bakti. Tak ada tarif. Tak ada pula
hak cipta, karena seni yang tercipta adalah persembahan bagi gumine (jagat)
dan Ida Batara. Seni itu milik bersama. Tak ada pengagungan tokoh personal.
Sampai di sana tradisi aguron-guron,
perguruan dalam relasi yang akrab antara guru dengan murid, masih terselamatkan.
Sesudahnya, seakan mulai terputus. Benar generasi Reneng dkk. masih sempat
meneruskan tradisi pembelajaran sebagaimana dilakukan guru-gurunya, namun
generasi yang diajarnya itu kemudian lebih menempa diri di lembaga pendidikan
formal. I Wayan Berata akhirnya menjadi guru tabuh di Kokar (kini SMKI)
sejak sekolah itu berdiri di Denpasar, 1960. Reneng sendiri juga mengajar
di sana, lalu berlanjut mengajar tari di ASTI sejak didirikan, 1967. Pada
momen bersamaan Bali pun kian marak dikepung industri pariwisata. Seni
paket merebak. Reneng merasa sesak. Dia dan generasinya yang setia mengusung
seni sebagai jalan pembebasan dalam laku ngayah dan bakti kian terdesak.
“Dulu semuanya serba ngayah, kini menjadi serba mayah. Dadong lek nepukin
keto (Nenek malu melihat itu),” keluh Reneng saat-saat akhir hidupnya.
Sulit memang merunut kapan
persisnya manusia Bali berkesenian sebagai persembahan atau sebagai jalan
ngayah dan bakti sebagaimana dilakonkan generasi Reneng dan sebelumnya.
Lewat prasasti Bebetin AI yang bertarikh 818 Saka dan prasasti Bedulu yang
bertarikh 890 Saka, sudah bisa dikenali di Bali ada sederet cabang kesenian
tontonan. Antara lain: pamukul (penabuh gamelan), pagending (kelompok penyanyi),
pabunjing (pemain angklung bambu), papadaha atau papadahi (pemukul kendang),
parbanci (peniup seruling), partapukan (seniman topeng), parbwayang (dalang),
atau kaicaka (pemain sandiwara), dll.
Dari Raja Anak Wungsu kita
mengenali ada yang dinamakan agending i haji (penyanyi untuk raja), agending
i ambaran (kelompok penyanyi untuk desa-desa lain lewat nglawang, keliling),
awayang i haji (dalang khusus untuk sang raja), amukul (penabuh gamelan),
anuling (peniup seruling), aringgit (wayang), men-men (seni tontonan),
atapukan (topeng), hingga pirus (lawak), abanuwal (dagelan), dll. Sejauh
itu tak menjadi jelas di mana letak seni-seni tersebut dalam masyarakat
Bali Kuna. Tak juga diketahui pasti, apa fungsinya. Apakah semuanya seni
sakral ataukah juga seni tontonan massal. Kalau ditonton massal, apakah
seniman saat itu dibayar atau tidak, dipesan sebagaimana seni untuk turisme
kini, ataukah tidak.
Satu
hal yang menjadi pasti, pada mulanya seni di Bali dihadirkan memang untuk
kepentingan ritual sakral. Seni tari paling kuna sebagaimana dapat dilihat
dalam tari Sang Hyang, misalnya, diyakini bermula dari peniruan terhadap
gerak-gerik alam. Dari penamaannya, seperti Sang Hyang Dedari (Bidadari),
Sang Hyang Jaran (Kuda), Sang Hyang Bojog (Kera), Sang
Hyang Kuluk (Anjing), Sang Hyang Lelipi (Ular), Sang
Hyang Panyalin (Rotan), dan sejenisnya bisa dikira-kira memang berasal
pada alam. Hingga kini tari Sang Hyang masih disakralkan.
Lewat tari gambuh, masuklah
pengaruh Hindu-Jawa Majapahit dalam seni pertunjukan Bali lewat puri. Meskipun
gambuh sudah ‘di-Bali-kan’, namun seni yang semula eksklusif bagi kalangan
ningrat Bali ini tak urung berpengaruh luas. Gamelan dan gerak tari gambuh
menyusup ke seni-seni pertunjukan yang muncul belakangan. Boleh jadi dari
sini lantas muncul anggapan gambuh-lah sebagai dasar tari Bali. Gambuh
memang ada yang mengartikan sebagai ‘gerak alam’ (dari gam = gerak, dan
buh = alam). Di Desa Pedungan (Denpasar), misalnya, hingga kini gambuh
masih disakralkan, hanya dipentaskan saat-saat tertentu. Di daerah lain,
dari seni ningrat di lingkungan tembok puri –hingga kini puri-puri di Bali
meninggalkan bangunan Bale Pagambuhan— gambuh dipentaskan di jaba tengah
pura, seolah menjembatani dunia sakral dengan dunia sekuler di luar tembok
pura.
Ketika Legong diciptakan
Raja Sukawati I Dewa Agung Made Karna (1775-1825), setelah mendapat wangsit
lewat mimpi saat mayoga di Pura Jogan Agung, Ketewel (dekat Desa Sukawati),
struktur dramatik gambuh tak terhindarkan menelusup pula. Bahkan, dalam
amatan pemerhati tari Bali Prof Dr I Made Bandem, tabuh Semarpagulingan
yang menjadi pengiring utama Legong pun tak urung mendapat pengaruh gambuh.
“Gambuh dengan gamelannya sendiri dan legong dengan gamelan Semarpagulingan
kemudian menjadi klasik sekaligus memberi pengaruh sangat luas pada seni
tabuh dan tari Bali,” urai Bandem suatu kali. Jejak-jejak gambuh dan legong
lantas bisa diendus dalam seni arja hingga joged yang populer. Bahkan,
Pande Made Sukerta dalam Ensiklopedi Karawitan Bali (1999) susunannya menguraikan,
tabuh gambuh menembus relung gong kebyar yang bermula dari Buleleng tahun
1914-1915 –dan berpengaruh sangat luas hingga kini.
Dalam
amatan Oka Granoka, di sinilah titik kisruh itu dimulai. Pencapaian estetis
gong kebyar yang melompat dari Semarpagulingan kini justru mengalir tidak
pada proporsinya, tidak sebagaimana aslinya. “Kini gong kebyar sudah berkembang
tak karuan, asal bereksperimen, main coba-coba tidak pada tempatnya,” tunjuk
Granoka. Dia contohkan, misalnya, Legong yang semula diiringi Semarpagulingan
kini malah dikoyak dengan gong kebyar sehingga temuan estetis nada rambat
yang khas pada Legong malah hilang. Bahkan, ada juga yang mengoyak gambuh
dengan iringan gong kebyar. “Ini sudah keterlaluan, akarnya dari mana?”
cetus Granoka.
Itu belum selesai. Tahun
1995 malah muncul tari Badminton yang digarap berdasarkan pesanan untuk
pembukaan suatu kejuaraan bulutangkis tingkat dunia di Tembau, Denpasar.
Ada pula tari Back to Basic saat para petinggi ABRI riuh mewacanakan tentara
kembali ke barak. Polemik meletus. Tapi dari sini kian benderang sudah:
seni Bali dikemas untuk kepentingan fungsi baru yang sesaat. Seni Bali
dipesan, dipaket, dikemas, dikomersialkan untuk kepentingan praktis, cepat,
dan sekuler. Entah untuk hotel-hotel di Bali, dikirim ke luar negeri sebagai
duta bangsa, atau sekadar memeriahkan pameran dagang. Penyambutan tamu
penting dari Jakarta, tamu negara, atau penyambutan turis, peresmian atau
peletakan batu pertama suatu gedung di Bali terasa tak afdol bila tak dipentaskan
seni tari Bali dengan gamelannya, dan seterusnya.
Kini di Bali seni sepertinya
tak ada yang gratis. Semuanya harus mayah, membayar. Kecuali di pura –dan
itu pun dilakoni hanya oleh seniman-seniman tertentu. Era ngayah,
kini sudah berubah jadi mayah, memang.
I Ketut Sumarta
|
| Kontemporer
= Tradisi?
Seni kontemporer di Bali?
Ini mungkin pertanyaan mudah yang sulit dicarikan jawabannya. Soalnya,
apa yang disebutkan kontemporer oleh kalangan pengamat seni di Bali, setelah
dirunut-runut ternyata berakar pada tradisi juga –akhirnya. Kalau tidak
pada bentuknya, ya jejak tradisi tetap ditemukan pada spiritnya. Spirit
tradisi jualah yang menjadikan karya ‘kontemporer’ itu jadi bermakna, lalu
diburu para kolektor.
Pelukis I Nyoman Gunarsa,
misalnya, melukis secara kontemporer namun jejak seni tradisi wayang yang
dinamis sangat kentara pada karya-karyanya. Perupa Made Wianta juga mengambil
abstraksi dasar-dasar geometris Bali yang berupa segi empat dan segi tiga.
Nyoman Erawan jelas-jelas mengambil tema dan warna berspirit tradisi Bali,
seperti warna tridatu: merah, putih, hitam. Dalam karya-karya instalasi
maupun seni lukis pertunjukannya, seperti Ruwatan Bumi dan Sang Waktu pun
idiom-idiom Bali itu kentara mesti diberikan penafsiran baru.
Di gamelan dan tari lebih
jelas lagi. Yang dinamakan karya kreasi baru akar musikalnya justru tradisi
tulen, cuma disajikan jauh lebih ngepop sehingga bersifat sementara. Bahkan
di seni musik pop Bali sekalipun jejak-jejak melodi tradisi Bali itu jadi
mencolok. Jangankan lagu Kusir Dokar atau Sekar Sandat gubahan AA Made
Cakra, Luh Sekar yang dilantunkan penyanyi pop Bali Widi Widana pun memanfaatkan
warna pentatonik musik tradisi Bali. Justru itu yang menjadikan para penggemar
pop Bali mengincarnya.
Seni kontemporer, jadinya,
di Bali tak ubahnya dengan tradisi yang dikemas baru. Tradisilah yang justru
memberi tenaga hidup seni kontemporer.
KS
|
| Tiada
Lagi Maestro?
Jika pertanyaan dilontarkan
kepada khalayak Bali, “Apakah yang mereka inginkan dari kesenian Bali?”
Salah satu jawabannya mungkin, “Kita rindu kelahiran kembali maestro seni.”
Tatkala kesenian Bali menjadi
nyaris seragam, orang memang menginginkan sesuatu yang lain. Dulu, banyak
lahir seniman seperi I Maria, Ni Reneng, Nyoman Kaler, Cokot, Lempad, Kakul,
yang kini menjadi legenda kesenian Bali. Mereka dikenang sebagai maestro
seni dengan watak khas dan wibawa kuat. Merekalah yang membuat seni menjadi
luhur, dan jangan coba-coba memandangnya dengan sebelah mata. Berkesenian
menjadi pilihan hidup yang harus siap dihadapai dengan konsekuensi seburuk
apa pun.
Sekarang makin banyak tumbuh
sekolah seni atau institusi kesenian. Kursus tari menjamur, sanggar-sanggar
seni kian subur, tapi orang bertanya-tanya: apakah dengan begitu juga akan
semakin mudah melahirkan seorang maestro seni? Apakah dari tempat mengkaji
dan mempraktekkan kesenian itu sanggup melahirkan mpu atau pujangga?
Seorang mpu, maestro seni,
melakoni karma kesenimanan dengan segenap energi hidup. Seniman, kalau
tidak menjadikan berkesenian sebagai pilihan hidup, justru akan memperalat
seni untuk merebut benda, popularitas, kekuasaan, atau menggapai tujuan
politik.
Bagi seorang maestro, seni
itu sendiri adalah hidupnya. Karya-karyanya adalah belahan jiwa. Jika tak
sanggup lagi berkreativitas, ia kehilangan ruh, dirinya macet, mampus.
Agar ia tak buru-buru mati, ia harus terus menerus berkutat dengan renungan-renungan
yang akan memberinya wahyu. Karena melamun terus, acapkali ia tak begitu
hirau dengan dirinya. Ia tampil bersahaja, namun bercahaya dan berwibawa.
Wibawa dan cahaya itu sulit dicari kini pada seniman kita, sehingga banyak
yang berkomentar, sekarang sulit sekali mencari seorang mpu seni.
Zaman keemasan mpu sudah
berlalu. Maestro seni yang dimiliki Bali pun satu per satu berangkat menghadap
Sang Pencipta. Apakah tak bisa diciptakan sebuah zaman untuk melahirkan
kembali mpu seni? Apakah zaman global sekarang dan ke depan akan melahirkan
politikus, pedagang, teknokrat, dan birokrat melulu?
Sungguh tak gampang mengubah
zaman. Karena itu, memang sulit sekali melahirkan seorang maestro.
AS
|
| Susastra,
Seni Anak Tiri
Tak cuma rumah tangga mengenal
anak tiri. Jagat seni di Bali pun, disengaja atau tidak, memiliki anak
tiri. Dialah seni susastra dan seni vokal. Di tengah gempita perkembangan
seni tabuh dan tari, seni susastra dan vokal malah kian saru, kabur dan
suram. Pemerintah daerah di Pulau Dewata ini sepertinya tak tersentuh dengan
kedua seni ini. Padahal, di masa silam seni susastralah yang menjadi hulu
sekaligus mata air inspirasi penciptaan. Susastra dengan seni-seni di hilirnya,
karenannya, memiliki kaitan yang rapat.
Maestro seni pahat, I Cokot,
misalnya, menciptakan patung Sato Ngempu setelah membaca sebuah lontar
kerohanian. I Gusti Nyoman Lempad melukis hampir semua karya-karyanya setelah
mendengar berbagai kisah susastra di Puri Saren, Ubud. Impian Dharmawangsa,
misalnya, digurat setelah dia meresapkan kisah Mahabharata. Lalu lukisan
Sutasoma yang berbadan ramping tipis dilukis seusai dia begitu terpukau
mendengar kisah dalam Kakawin Sutasoma ciptaan Mpu Tantular tentang manusia
Merdeka bernama Sutasoma. Dan, di Desa Kamasan, Klungkung, pelukis-pelukis
wayang mendapat inspirasi penuh dari kisah-kisah susastra-agama yang disurat
di daun lontar.
Seni pertunjukan, seperti
topeng, wayang, arja, hingga drama gong tak luput mengambil lakonnya dari
naskah-naskah sastra. Seni pada zaman lampau di Bali justru dijadikan sebagai
media pendidikan, media penerusan nilai-nilai etika, moral, dan agama yang
semula tersurat dalam sastra. Ketika ‘musim ceramah agama’ belum lazim,
media cetak dan elektronik belum berbiak, senilah yang memberi wejangan
sekaligus mendidik masyarakat. Lewat seni nilai-nilai ditanamkan lalu dimekarkan,
sehingga tak menjadi indoktrinasi. Dengan begitu kebenaran (satyam)
sekaligus berarti mengandung kesucian atau kemuliaan (siwam) dan keindahan
(sundaram). Begitu sebaliknya. Suatu yang indah mestilah benar dan mulia.
Sayangnya kini seni susastra
tak mendapat perhatian serius. Namun dia bertahan hidup justru di tengah-tengah
masyarakat dalam kegiatan nyata keagamaan, atau dalam sekaa-sekaa pasantian.
Sudah sejak beberapa tahun belakangan ini, dia malah berbiak di radio-radio
lewat program berbahasa Bali, seperti Dagang Gantal di RRI Denpasar. Juga
ada acara-acara khusus membaca karya susatra Bali berbentuk geguritan hingga
kakawin di radio-radio swast, seperti Gema Merdeka (Denpasar), Yudha (Denpasar),
Kini Jani (Tabanan), Gelora (Gianyar), Suara Besakih (Karangasem), dll.
Juga berkembang di radio-radio satu meteran (HT) hingga jaringan intercom.
Ini, jadinya, semacam arus kebangkitan dari dalam dengan memanfaatkan media
budaya baru. Akankah ini terus berbiak?
KS
|
Artkel
PARUMAN lainnya:
Ketika Taksu
Melorot ke Perut
Di tengah gairah berkesenian
di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian
baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Bali terperangkap
panangkeb?
Takluk
pada Pakem Sekolah Seni
Lembaga kesenian
formal di Bali dibentuk untuk menyelamatkan kepunahan seni budaya
Bali. Ia juga diharapkan bisa mengkaji seni pertunjukan, misalnya, secara
akademis, sistematis, sehingga lebih memudahkan usaha-usaha pewarisan.
|
|
Mengebor
Taksu dengan Laku Yoga
Tak mudah membangkitkan
taksu dalam diri. Bila tak jujur, tulus, bakti, dan sungguh-sungguh, maka
taksu justru kian menjauh.
Dewa
Seni Menjaga Taksu
Pemahat Wayan Pendet
dikenal sebagai seniman yang sangat yakin akan pilihannya dalam berkesenian.
Sahabat pelukis Ida Bagus Made ini adalah guru bagi anak-anak muda
sedesanya di Nyuh Kuning, Ubud. Pendet peletak dasar takikan khas Nyuhkuning:
patung-patung binatang yang serius dan jenaka.
Pertanyaan
Baru dalam Kesenian Bali
Seputar akhir tahun 1980-an,
pernah sangat populer seni kriya pulasan, yang dikenal dengan patung pop
art. Bentuknya menyerupai patung-patung atau topeng nenek moyang Meksiko
atau New Zealand seperti Marcado, Mauri, Aztec, Varuna.
PKB,
Tuwah Amonto
Ketika tahun 1979 Ida Bagus
Mantra menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama kali, tak sedikit orang
yang tidak setuju. Komentar yang muncul waktu itu antara lain, untuk apa
kesenian Bali dihimpun, disatukan, lalu digelar? Itu tak lagi asli, karena
direkayasa.
....selengkapnya
|
kembali
ke indeks paruman
|
|