Ketika
Taksu Melorot ke Perut
Di tengah gairah berkesenian
di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian
baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Bali terperangkap
panangkeb?
Apa to, igel-igelan cara
janine, lintang onyed! Gamelane magrudugan, monyer!” kritik tajam, yang
menyiratkan tari dan karawitan sekarang asal-asalan, sehingga kehilangan
pesona itu, datang dari panari Legong piawai asal Banjar Kelandis, Denpasar,
Ni Ketut Ciblun. Setelah kemerdekaan hingga dasawarsa 1960-an, Ciblun memang
dikenal sebagai penari kondang yang kharismatik. Ia selalu berpasangan
dengan Ni Ketut Polok, penari yang kemudian disunting pelukis Belgia yang
menetap di Pantai Sanur, Le Mayeur.
Di usia senja, Ciblun, yang
kini di lingkungan desanya akrab disapa Odah Tut itu, gundah tak alang
kepalang. Hanya dengan bahasa ringkas dan sederhana dia dapat menilai seni
tari dan tabuh Bali kini. Katanya, tari-tarian Bali yang marak berkembang
kini terlalu onyed (lemah). Gamelannya pun dinilai magrudugan (iramanya
kencang tak karuan) dan monyer (genit). Di mata Ciblun, karenanya, tari-tarian
Bali kini praktis tak lagi bertaksu, tak bertenaga dan berkharisma. “Kudiang
nagih mataksu? Tiang nenten mresidayang nolih (Bagaimana hendak bertaksu,
melihat saja pun saya tak sudi),” sambungnya.
Dalam penilaian Ida Pedanda
Gede Putra Singarsa dari Geria Kemenuh, Bongkasa, Badung, taksu seni Bali
kini hanya diselamatkan di pura dan banjar-banjar tertentu. Sedangkan
di panggung-panggung pertunjukan umum seni Bali praktis sudah tak bertaksu
lagi. Ida Pedanda yang dikenal sebagai dalang wayang Ramayana bertaksu
ini menilai: kekurangsuntukan, kekurangsungguhan itulah sebagai biang keladi
penyebab pudarnya taksu seni Bali itu. “Kebanyakan ingin cepat terkenal
dan dapat duit banyak dari berkesenian. Ini godaan yang membahayakan, mengancam
taksu malecat (sirna),” tunjuk Ida Pedanda.
Di kalangan seni pewayangan,
Ida Pedanda memberi contoh, kini ada kecenderungan para dalang terlalu
berkompromi dengan selera pasar yang cuma menghibur. Akibatnya, banyolan-banyolan
porno pun diumbar. Pendalaman cerita ditepikan. Penyajian tutur, nasihat
penuh nilai etika dan moral, disepelekan “Saya sedih melihat dalang-dalang
yang tak lagi menegakkan dharmaning pawayangan dengan benar dan ajeg,”
keluh Ida Pedanda yang kini berusia 85 tahun ini. Panorama serupa juga
dinilai terjadi di jagat drama gong, arja, hingga topeng yang belakangan
cenderung lebih mengedepankan banyolan-banyolan porno dan membadut daripada
merespons situasi mutakhir secara cerdas.
Materi. Itu, memang, dijauhi
taksu, terutama bila dijadikan motivasi berkesenian. Di masa lampau, seniman-seniman
Bali berkesenian untuk persembahan dan pemujaan. Dengan seni yang dikuasainya
itulah seniman ber-yadnya. Dengan dasar senilah mereka membebaskan dirinya
dari keterikatan duniawi. “Bilapun ada bayaran, itu terserah orang yang
meminta seniman pentas. Bukan seniman yang pasang tarif,” kata Ida Pedanda.
Tak jarang, dari sejumlah sesari (uang) yang dihaturkan si pengundang,
hanya diambil sebagian oleh si seniman.
Karena dasarnya untuk ber-yadnya,
tak urung seni yang dipersembahkan itu pun diupayakan berkualitas prima.
Belajar seni jadi sungguh-sungguh, bukan sekadar sambilan, meskipun juga
tetap bertani. Ketotalan jadi harga mati. Penghayatan dan penjiwaan jadi
syarat utama. Disiplin pun tak bisa ditawar-tawar. Penari Legong tangguh
asal Banjar Kedaton, Denpasar, Ni Reneng dan Ni Cawan, misalnya, tak jarang
kena lecut lidi dari guru-gurunya manakala tak disiplin ataupun lengah
menguasai gerakan-gerakan tari yang diajarkan.
Pencarian seorang seniman,
kata Ida Wayan Oka Granoka, pendiri sekaligus pengasuh Sanggar Kreativitas
Seni Bajra Sandhi, dalam persepsi Bali lebih ke dalam dirinya daripada
kepuasan-kepuasan duniawi. Ini menjadikan taksu sebagai energi dan daya
kreatif sang seniman bersinar memancar. Namun kini percepatan ekonomi yang
berdasar pada modal (kapitalis) rupanya kian menggiring seniman untuk berkesenian
di lapisan kulit daripada mengebor energi taksu dirinya. Seni menjadi industri
yang dikemas seragam sebagaimana produksi pabrik. Atas nama efisiensi dan
paket maka pertunjukan yang baku berdurasi 3 jam, misalnya, dimampatkan
jadi cuma 30 menit. Perenungan hilang. Seni sebagai pencerahan yang menyadarkan
lantas kian kabur. “Kita di Bali ikut-ikutan terperangkap dalam pesona
fisik-biotik duniawi, berkesenian hanya untuk urusan perut,” tandas Oka
Granoka. Akibatnya, lanjut Granoka, “Sang Hyang Taksu yang mestinya memancar
malah kena panangkeb (pembungkus) sehingga redup.”
Ciri-cirinya
yang ditengarai seniman serbabisa asal desa budaya Budakeling, Karangasem,
ini antara lain berupa ukuran ekonomi sebagai dasar penilaian keberhasilan
seorang seniman, bukan hasil pencapaian estetis yang tercermin dalam karya-karya
ciptaan sang seniman. Keberhasilan suatu pagelaran seni pun lebih dinilai
dari banyaknya jumlah orang yang menonton daripada nilai-nilai yang diusungnya.
Akibatnya, “Kreasi-kreasi baru yang diciptakan menjadi cuma jalan di tempat,
berputar-putar, mandeg, malah merosot,” sebut Granoka.
Terjadi kemeriahan, memang.
Namun praktis pula tak terjadi pertumbuhan penciptaan baru yang berpengaruh.
Pentas-pentas seni kolosal dalam arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ramai
dipadati penonton namun hingga hampir 25 tahun usianya belum ada seniman
besar yang dilahirkan. Di jagat seni rupa, pameran-pameran lukisan marak,
sepertinya tiada hari terlewatkan tanpa pameran lukisan, namun praktis
tak ada yang menonjol. Dalam bidang sastra, pasantian-pasantian bertumbuh
pesat namun meluputkan pendalaman nilai dan makna atas karya-karya susastra
yang dilagukan. Di dunia musik, sejumlah kreasi baru dan festival digelar
namun luput menghasilkan eksplorasi komposisi baru. “Mungkin karena saking
banyaknya sudah ada musik di Bali lantas para seniman bingung, mau menciptakan
apalagi, semuanya sudah ada, sehingga menjadi cuma mengulang-ulang pencapaian
lama,” tengara seniman teater yang juga penekun musik, Kadek Suardana.
Kecemasan terhadap hilangnya
taksu seni Bali sungguh bukan ‘lagu’ baru, memang. Pada dasawarsa 1950-an
sejumlah cendekiawan Bali telah mengisyaratkan ‘lagu’ senada. Majalah Indonesia,
misalnya, pada tahun 1952 pernah menerbitkan satu nomor khusus tentang
Bali. Di sana sinyal-sinyal pendangkalan dalam seni Bali sudah mulai didenyarkan.
Ini sungguh beda dengan tulisan-tulisan yang dipublikasikan para penulis
Eropa tiga sampai empat dasawarsa sebelumnya. Pada awal-awal masa kolonial
Belanda di Bali disuratkan, seni-seni Bali masih murni sebagai seni persembahan.
Malah di bidang musik ada pencapaian baru dengan diperkenalkannya gong
kebyar dari kawasan Bali Utara, Buleleng, dengan tokoh tenar, I Gede Manik.
Gong kebyar ini, nyatanya, berpengaruh sangat luas hingga kini. Pembaruan
ini belum lagi disusul pencapaian baru yang setara sampai sekarang.
Penulis
Nour Bakti dalam Majalah Indonesia Nomor Bali mencatat, tak terhindarkan,
memang, pengaruh kolonial Belanda dalam segala aspek kehidupan di Bali,
tak terkecuali dalam jagat kesenian. Nilai kepraktisan dan efisiensi langgam
Barat mulai diperkenalkan oleh kolonial. Seni pun tak luput disusupi nilai-nilai
baru ini. Dari sinilah tercatat dimulai pemampatan dalam seni-seni pertunjukan
Bali. Kondisi ini ditengarai kian runyam semasa penjajahan Jepang. Rakyat
dilarang mendalami seni tradisi dan klasik Bali, bahkan sejumlah upacara
dilarang digelar.
Semasa kemerdekaan hingga
akhir 1950-an, gairah penciptaan kembali tumbuh lewat sekaa sebunan di
banjar-banjar. Di antaranya, tercatat nama-nama guru seni tari dan tabuh
yang sudah kondang sejak 1920-an, seperti I Nyoman Kaler dari Pamogan (Denpasar),
I Wayan Lotering dari Kuta (Badung), AA Gde Oka dari Saba (Gianyar), dll.
Muncullah penari-penari tangguh generasi Ni Cawan, Ni Reneng, Ni Ciblun,
Ni Polok, hingga penabuh I Wayan Berata, I Nyoman Rembang, dan yang lain.
Ketika politik pemerintahan
nasional berpindah dari tangan Soekarno ke Soeharto, sekaa sebunan dan
banjar sebagai lahan persemaian seni kian pudar. Perannya diambil alih
lembaga pendidikan formal. Kokar (Konservatori Karawitan Indonesia) dan
ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Denpasar berkibar. Ketika Bali dipimpin
budayawan Prof Dr IB Mantra, kedua lembaga pendidikan seni formal ini mendapat
porsi dominan sehingga mewarnai PKB yang dilangsungkan saban tahun sejak
1978 hingga kini. Kedua lembaga formal ini seperti menjadi pusat orientasi
pengembangan dan pembinaan seni tari dan tabuh di Bali.
PKB pula menjadikan seni
pertunjukan Bali berpindah dari kalangan yang akrab menyatu dengan penonton
ke panggung permanen yang berjarak. Desain panggung Ardha Candra di Taman
Budaya Abiankapas, Denpasar, yang luas dan menjadi arena pertunjukan utama
dalam PKB tak urung ‘memaksa’ para perancang pertunjukan mendesain seni-seni
kolosal, bukan seni tunggal yang menjadi kebiasaan pada era sebelumnya.
Seni pertunjukan Bali yang semula imajinatif lantas menjadi semarak dengan
garapan visual. Penari-penari ditata untuk menggambarkan gelombang air,
lautan api, atau bahkan jajaran pohon-pohon, padahal semua itu dalam teater
Bali semula hanya ada dalam bayangan yang dilukiskan dengan kata-kata sehingga
penonton kreatif membayang-bayangkan omongan para pemain di kalangan.
PKB yang sempat disegani
pada awal-awalnya belakangan menjadikan banyak lulusan Kokar (kini SMKI)
dan ASTI (kini STSI) Denpasar menjadi pelatih seni di kabupaten-kabupaten
se-Bali untuk dipentaskan dalam ajang PKB. Tak urung mereka lantas membawa-bawa
gaya yang diperoleh di perguruan masing-masing itu. Karya-karya kreasi
kedua lembaga ini direkam dalam pita kaset hingga compact disc (CD) dan
video compact disc (VCD). Semua diperjualbelikan secara luas layaknya produk
industri. Ini menjadikan muncul tudingan: lembaga pendidikan seni tersebut
melakukan penyeragaman seni di Bali, karena menghilangkan corak dan gaya
khas daerah bahkan langgam sekaa-sekaa sebunan.
Di mata Ketua Listibya Bali,
I Gusti Putu Rai Andayana, kondisi demikian menemukan pasangan idealnya
sejak booming pariwisata pada dasawarsa 1980-an. Seni-seni kemasan untuk
pariwisata ini tak jarang malah dinilai mengoyak karakter seni asli. Dari
sini keluh tentang pudarnya taksu seni Bali membubung kian kencang. Polemik
seni sakral versus seni profan atau sekuler pun tak kunjung usai. “Seni
Bali di panggung industri kini praktis tanpa pangrasa (kepekaan rasa),”
tunjuk Oka Granoka.
Ketua
STSI Denpasar, Prof Dr I Wayan Dibia, menepis suara-suara miring ke arah
lembaga yang dipimpinnya. “Kami tak melakukan penyeragaman seni Bali,”
tampiknya. Bila kemudian muncul garapan seni-seni kolosal, itu memang tak
merisaukannya. “Kita tak bisa memaksa semua orang dapat menikmati garapan
seni serius. Mereka itu juga berhak mendapat suguhan seni yang mampu diapresiasi,”
kelitnya.
Soalnya tentu bukan
memaksa atau tidak. Bagi pelukis I Nyoman Erawan, proses dan motivasi penggarapan
produk seni itulah yang penting. “Dasarnya harus konsentrasi penuh dan
jujur, tidak berpretensi komersial. Seniman perlu duit tapi jangan sekali-kali
berkesenian dengan pretensi itu,” ingat Erawan, seraya menambahkan, “Bila
materi jadi motivasinya, niscaya karya seni yang dihasilkan akan hambar,
tak bertenaga, dan tak murni lagi.” Dan, manakala dari kesenjaan usia Ni
Ciblun lantas mencecar seni tari Bali kini onyed dengan tabuhnya yang monyer,
ada baiknya pihak-pihak yang bertanggung jawab kini memang mesti jujur
menjawab. Ya, sejujur penilaian Ni Ciblun yang tanpa pamrih apa-apa –kecuali
untuk ajegnya taksu seni Bali.
I Made Sarjana, I Ketut
Sumarta
|
| Takluk
pada Pakem Sekolah Seni
Lembaga kesenian formal di
Bali dibentuk untuk menyelamatkan kepunahan seni budaya Bali. Ia
juga diharapkan bisa mengkaji seni pertunjukan, misalnya, secara akademis,
sistematis, sehingga lebih memudahkan usaha-usaha pewarisan.
Maka sejak sekolah seni
tari atau seni karwitan didirikan di Denpasar, orang mulai terlibat dalam
usaha penggalian, rekonstruksi, dan pengembangan seni-seni Bali klasik.
Orang lantas mulai bisa belajar gamelan Bali melalui partitur. Orang-orang
luar negeri pun mengaku lebih mudah memahami, mempelajari, karawitan Bali
berkat patitur-patitur itu.
Lembaga kesenian itu lalu
mengajak para mpu seni, maestro tari dan karawitan Bali yang sudah uzur
dan buta huruf itu, untuk bekerjasama, menurunkan ilmu mereka lewat pewarisan
yang lebih terarah dan terencana. Mereka hadir di ruang kuliah, menjadi
dosen tamu luar biasa. Penyerapan dilakukan melalui kaidah-kaidah keilmuan,
sehingga bisa diperoleh cara baku untuk diteruskan kepada ribuan mahasiswa
kelak. Mulai diterbitkan diktat, buku, dan bahasan sistem pemindahan ilmu.
Teknologi multimedia pun
berperan sangat besar. Kehadiran stasiun televisi di Denpasar tahun 1978,
misalnya, pernah dikhawatirkan akan merusak keutuhan seni pertunjukan Bali.
Media elektronik ini buru-buru dituduh akan menjadikan kesenian Bali kehilangan
keunikannya, karena dikemas menyesuaikan dengan jam tayang. Tapi yang muncul
kemudian, banyak kesenian Bali yang nyaris punah justru terangkat oleh
kehadiran teve. Sekaa-sekaa yang dulu ogah-ogahan menari dan menabuh, tampil
bergairah di layar kaca.
Tapi ekses, akibat keinginan
yang berlebihan, muncul. Lembaga seni itu dan penampilan di televisi,
menjadi ukuran, standar baru, seni pertunjukan Bali. Sekaa sebunan di desa-desa
mencoba tunduk pada pakem lembaga itu agar mereka bisa tampil di media
massa elektronik dan mendapat pujian, serta disebut sebagai sekaa yang
berkiblat modern.
Tari pun lebih mengutamakan
penampilan blocking dan komposisi. Ia menjadi tarian massal yang menumpulkan
kemampuan individu. Kamera televisi harus lebih rajin mengambil medium
shoot tinimbang close up. Seledet, lirikan mata, mimik, gesture, tak begitu
penting dihiraukan. Yang lebih penting kemudian adalah koreografer, yang
menyusun blocking dan komposisi itu, bukan keunggulan individu si penari.
Merosotnya kemampuan individu
membuat gerak penari jadi seragam. Yang diutamakan kekompakan, gerak yang
searah, yang padu, yang sama. Yang berbeda dinilai merusak. Pregina pun
kehilangan keberanian untuk menjadi yang lain. Mereka takut berimprovisasi,
dan menjadi sangat tunduk, takluk, pada pakem yang dibuat oleh lembaga
kesenian modern. Tidakkah yang begini-begini ini juga membuat taksu kesenian
Bali melorot?
|