logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
PARUMAN
SAJIAN UTAMA
 
 

Ketika Taksu Melorot ke Perut

Di tengah gairah berkesenian di Bali, keluhan tentang hilangnya taksu pun merebak kencang. Tak ada pencapaian baru. Seni persembahan berubah dominan jadi seni untuk perut. Bali terperangkap panangkeb?

Apa to, igel-igelan cara janine, lintang onyed! Gamelane magrudugan, monyer!” kritik tajam, yang menyiratkan tari dan karawitan sekarang asal-asalan, sehingga kehilangan pesona itu, datang dari panari Legong piawai asal Banjar Kelandis, Denpasar, Ni Ketut Ciblun. Setelah kemerdekaan hingga dasawarsa 1960-an, Ciblun memang dikenal sebagai penari kondang yang kharismatik. Ia selalu berpasangan dengan Ni Ketut Polok, penari yang kemudian disunting pelukis Belgia yang menetap di Pantai Sanur, Le Mayeur.
Di usia senja, Ciblun, yang kini di lingkungan desanya akrab disapa Odah Tut itu, gundah tak alang kepalang. Hanya dengan bahasa ringkas dan sederhana dia dapat menilai seni tari dan tabuh Bali kini. Katanya, tari-tarian Bali yang marak berkembang kini terlalu onyed (lemah). Gamelannya pun dinilai magrudugan (iramanya kencang tak karuan) dan monyer (genit). Di mata Ciblun, karenanya, tari-tarian Bali kini praktis tak lagi bertaksu, tak bertenaga dan berkharisma. “Kudiang nagih mataksu? Tiang nenten mresidayang nolih (Bagaimana hendak bertaksu, melihat saja pun saya tak sudi),” sambungnya.
Dalam penilaian Ida Pedanda Gede Putra Singarsa dari Geria Kemenuh, Bongkasa, Badung, taksu seni Bali kini hanya diselamatkan di pura dan banjar-banjar tertentu. Sedangkan di panggung-panggung pertunjukan umum seni Bali praktis sudah tak bertaksu lagi. Ida Pedanda yang dikenal sebagai dalang wayang Ramayana bertaksu ini menilai: kekurangsuntukan, kekurangsungguhan itulah sebagai biang keladi penyebab pudarnya taksu seni Bali itu. “Kebanyakan ingin cepat terkenal dan dapat duit banyak dari berkesenian. Ini godaan yang membahayakan, mengancam taksu malecat (sirna),” tunjuk Ida Pedanda.
Di kalangan seni pewayangan, Ida Pedanda memberi contoh, kini ada kecenderungan para dalang terlalu berkompromi dengan selera pasar yang cuma menghibur. Akibatnya, banyolan-banyolan porno pun diumbar. Pendalaman cerita ditepikan. Penyajian tutur, nasihat penuh nilai etika dan moral, disepelekan “Saya sedih melihat dalang-dalang yang tak lagi menegakkan dharmaning pawayangan dengan benar dan ajeg,” keluh Ida Pedanda yang kini berusia 85 tahun ini. Panorama serupa juga dinilai terjadi di jagat drama gong, arja, hingga topeng yang belakangan cenderung lebih mengedepankan banyolan-banyolan porno dan membadut daripada merespons situasi mutakhir secara cerdas.
Materi. Itu, memang, dijauhi taksu, terutama bila dijadikan motivasi berkesenian. Di masa lampau, seniman-seniman Bali berkesenian untuk persembahan dan pemujaan. Dengan seni yang dikuasainya itulah seniman ber-yadnya. Dengan dasar senilah mereka membebaskan dirinya dari keterikatan duniawi. “Bilapun ada bayaran, itu terserah orang yang meminta seniman pentas. Bukan seniman yang pasang tarif,” kata Ida Pedanda. Tak jarang, dari sejumlah sesari (uang) yang dihaturkan si pengundang, hanya diambil sebagian oleh si seniman.
Karena dasarnya untuk ber-yadnya, tak urung seni yang dipersembahkan itu pun diupayakan berkualitas prima. Belajar seni jadi sungguh-sungguh, bukan sekadar sambilan, meskipun juga tetap bertani. Ketotalan jadi harga mati. Penghayatan dan penjiwaan jadi syarat utama. Disiplin pun tak bisa ditawar-tawar. Penari Legong tangguh asal Banjar Kedaton, Denpasar, Ni Reneng dan Ni Cawan, misalnya, tak jarang kena lecut lidi dari guru-gurunya manakala tak disiplin ataupun lengah menguasai gerakan-gerakan tari yang diajarkan.

 Pencarian seorang seniman, kata Ida Wayan Oka Granoka, pendiri sekaligus pengasuh Sanggar Kreativitas Seni Bajra Sandhi, dalam persepsi Bali lebih ke dalam dirinya daripada kepuasan-kepuasan duniawi. Ini menjadikan taksu sebagai energi dan daya kreatif sang seniman bersinar memancar. Namun kini percepatan ekonomi yang berdasar pada modal (kapitalis) rupanya kian menggiring seniman untuk berkesenian di lapisan kulit daripada mengebor energi taksu dirinya. Seni menjadi industri yang dikemas seragam sebagaimana produksi pabrik. Atas nama efisiensi dan paket maka pertunjukan yang baku berdurasi 3 jam, misalnya, dimampatkan jadi cuma 30 menit. Perenungan hilang. Seni sebagai pencerahan yang menyadarkan lantas kian kabur. “Kita di Bali ikut-ikutan terperangkap dalam pesona fisik-biotik duniawi, berkesenian hanya untuk urusan perut,” tandas Oka Granoka. Akibatnya, lanjut Granoka, “Sang Hyang Taksu yang mestinya memancar malah kena panangkeb (pembungkus) sehingga redup.”
Ciri-cirinya yang ditengarai seniman serbabisa asal desa budaya Budakeling, Karangasem, ini antara lain berupa ukuran ekonomi sebagai dasar penilaian keberhasilan seorang seniman, bukan hasil pencapaian estetis yang tercermin dalam karya-karya ciptaan sang seniman. Keberhasilan suatu pagelaran seni pun lebih dinilai dari banyaknya jumlah orang yang menonton daripada nilai-nilai yang diusungnya. Akibatnya, “Kreasi-kreasi baru yang diciptakan menjadi cuma jalan di tempat, berputar-putar, mandeg, malah merosot,” sebut Granoka.
Terjadi kemeriahan, memang. Namun praktis pula tak terjadi pertumbuhan penciptaan baru yang berpengaruh. Pentas-pentas seni kolosal dalam arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ramai dipadati penonton namun hingga hampir 25 tahun usianya belum ada seniman besar yang dilahirkan. Di jagat seni rupa, pameran-pameran lukisan marak, sepertinya tiada hari terlewatkan tanpa pameran lukisan, namun praktis tak ada yang menonjol. Dalam bidang sastra, pasantian-pasantian bertumbuh pesat namun meluputkan pendalaman nilai dan makna atas karya-karya susastra yang dilagukan. Di dunia musik, sejumlah kreasi baru dan festival digelar namun luput menghasilkan eksplorasi komposisi baru. “Mungkin karena saking banyaknya sudah ada musik di Bali lantas para seniman bingung, mau menciptakan apalagi, semuanya sudah ada, sehingga menjadi cuma mengulang-ulang pencapaian lama,” tengara seniman teater yang juga penekun musik, Kadek Suardana.
Kecemasan terhadap hilangnya taksu seni Bali sungguh bukan ‘lagu’ baru, memang. Pada dasawarsa 1950-an sejumlah cendekiawan Bali telah mengisyaratkan ‘lagu’ senada. Majalah Indonesia, misalnya, pada tahun 1952 pernah menerbitkan satu nomor khusus tentang Bali. Di sana sinyal-sinyal pendangkalan dalam seni Bali sudah mulai didenyarkan. Ini sungguh beda dengan tulisan-tulisan yang dipublikasikan para penulis Eropa tiga sampai empat dasawarsa sebelumnya. Pada awal-awal masa kolonial Belanda di Bali disuratkan, seni-seni Bali masih murni sebagai seni persembahan. Malah di bidang musik ada pencapaian baru dengan diperkenalkannya gong kebyar dari kawasan Bali Utara, Buleleng, dengan tokoh tenar, I Gede Manik. Gong kebyar ini, nyatanya, berpengaruh sangat luas hingga kini. Pembaruan ini belum lagi disusul pencapaian baru yang setara sampai sekarang.
Penulis Nour Bakti dalam Majalah Indonesia Nomor Bali mencatat, tak terhindarkan, memang, pengaruh kolonial Belanda dalam segala aspek kehidupan di Bali, tak terkecuali dalam jagat kesenian. Nilai kepraktisan dan efisiensi langgam Barat mulai diperkenalkan oleh kolonial. Seni pun tak luput disusupi nilai-nilai baru ini. Dari sinilah tercatat dimulai pemampatan dalam seni-seni pertunjukan Bali. Kondisi ini ditengarai kian runyam semasa penjajahan Jepang. Rakyat dilarang mendalami seni tradisi dan klasik Bali, bahkan sejumlah upacara dilarang digelar.
Semasa kemerdekaan hingga akhir 1950-an, gairah penciptaan kembali tumbuh lewat sekaa sebunan di banjar-banjar. Di antaranya, tercatat nama-nama guru seni tari dan tabuh yang sudah kondang sejak 1920-an, seperti I Nyoman Kaler dari Pamogan (Denpasar), I Wayan Lotering dari Kuta (Badung), AA Gde Oka dari Saba (Gianyar), dll. Muncullah penari-penari tangguh generasi Ni Cawan, Ni Reneng, Ni Ciblun, Ni Polok, hingga penabuh I Wayan Berata, I Nyoman Rembang, dan yang lain.
Ketika politik pemerintahan nasional berpindah dari tangan Soekarno ke Soeharto, sekaa sebunan dan banjar sebagai lahan persemaian seni kian pudar. Perannya diambil alih lembaga pendidikan formal. Kokar (Konservatori Karawitan Indonesia) dan ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Denpasar berkibar. Ketika Bali dipimpin budayawan Prof Dr IB Mantra, kedua lembaga pendidikan seni formal ini mendapat porsi dominan sehingga mewarnai PKB yang dilangsungkan saban tahun sejak 1978 hingga kini. Kedua lembaga formal ini seperti menjadi pusat orientasi pengembangan dan pembinaan seni tari dan tabuh di Bali.
PKB pula menjadikan seni pertunjukan Bali berpindah dari kalangan yang akrab menyatu dengan penonton ke panggung permanen yang berjarak. Desain panggung Ardha Candra di Taman Budaya Abiankapas, Denpasar, yang luas dan menjadi arena pertunjukan utama dalam PKB tak urung ‘memaksa’ para perancang pertunjukan mendesain seni-seni kolosal, bukan seni tunggal yang menjadi kebiasaan pada era sebelumnya. Seni pertunjukan Bali yang semula imajinatif lantas menjadi semarak dengan garapan visual. Penari-penari ditata untuk menggambarkan gelombang air, lautan api, atau bahkan jajaran pohon-pohon, padahal semua itu dalam teater Bali semula hanya ada dalam bayangan yang dilukiskan dengan kata-kata sehingga penonton kreatif membayang-bayangkan omongan para pemain di kalangan.
PKB yang sempat disegani pada awal-awalnya belakangan menjadikan banyak lulusan Kokar (kini SMKI) dan ASTI (kini STSI) Denpasar menjadi pelatih seni di kabupaten-kabupaten se-Bali untuk dipentaskan dalam ajang PKB. Tak urung mereka lantas membawa-bawa gaya yang diperoleh di perguruan masing-masing itu. Karya-karya kreasi kedua lembaga ini direkam dalam pita kaset hingga compact disc (CD) dan video compact disc (VCD). Semua diperjualbelikan secara luas layaknya produk industri. Ini menjadikan muncul tudingan: lembaga pendidikan seni tersebut melakukan penyeragaman seni di Bali, karena menghilangkan corak dan gaya khas daerah bahkan langgam sekaa-sekaa sebunan.
Di mata Ketua Listibya Bali, I Gusti Putu Rai Andayana, kondisi demikian menemukan pasangan idealnya sejak booming pariwisata pada dasawarsa 1980-an. Seni-seni kemasan untuk pariwisata ini tak jarang malah dinilai mengoyak karakter seni asli. Dari sini keluh tentang pudarnya taksu seni Bali membubung kian kencang. Polemik seni sakral versus seni profan atau sekuler pun tak kunjung usai. “Seni Bali di panggung industri kini praktis tanpa pangrasa (kepekaan rasa),” tunjuk Oka Granoka.
Ketua STSI Denpasar, Prof Dr I Wayan Dibia, menepis suara-suara miring ke arah lembaga yang dipimpinnya. “Kami tak melakukan penyeragaman seni Bali,” tampiknya. Bila kemudian muncul garapan seni-seni kolosal, itu memang tak merisaukannya. “Kita tak bisa memaksa semua orang dapat menikmati garapan seni serius. Mereka itu juga berhak mendapat suguhan seni yang mampu diapresiasi,” kelitnya.
 Soalnya tentu bukan memaksa atau tidak. Bagi pelukis I Nyoman Erawan, proses dan motivasi penggarapan produk seni itulah yang penting. “Dasarnya harus konsentrasi penuh dan jujur, tidak berpretensi komersial. Seniman perlu duit tapi jangan sekali-kali berkesenian dengan pretensi itu,” ingat Erawan, seraya menambahkan, “Bila materi jadi motivasinya, niscaya karya seni yang dihasilkan akan hambar, tak bertenaga, dan tak murni lagi.” Dan, manakala dari kesenjaan usia Ni Ciblun lantas mencecar seni tari Bali kini onyed dengan tabuhnya yang monyer, ada baiknya pihak-pihak yang bertanggung jawab kini memang mesti jujur menjawab. Ya, sejujur penilaian Ni Ciblun yang tanpa pamrih apa-apa –kecuali untuk ajegnya taksu seni Bali.
I Made Sarjana, I Ketut Sumarta


 
Takluk pada Pakem Sekolah Seni

Lembaga kesenian formal di Bali dibentuk untuk menyelamatkan kepunahan  seni budaya Bali. Ia juga diharapkan bisa mengkaji seni pertunjukan, misalnya, secara akademis, sistematis, sehingga lebih memudahkan usaha-usaha pewarisan.
Maka sejak sekolah seni tari atau seni karwitan didirikan di Denpasar, orang mulai terlibat dalam usaha penggalian, rekonstruksi, dan pengembangan seni-seni Bali klasik. Orang lantas mulai bisa belajar gamelan Bali melalui partitur. Orang-orang luar negeri pun mengaku lebih mudah memahami, mempelajari, karawitan Bali berkat patitur-patitur itu.
Lembaga kesenian itu lalu mengajak para mpu seni, maestro tari dan karawitan Bali yang sudah uzur dan buta huruf itu, untuk bekerjasama, menurunkan ilmu mereka lewat pewarisan yang lebih terarah dan terencana. Mereka hadir di ruang kuliah, menjadi dosen tamu luar biasa. Penyerapan dilakukan melalui kaidah-kaidah keilmuan, sehingga bisa diperoleh cara baku untuk diteruskan kepada ribuan mahasiswa kelak. Mulai diterbitkan diktat, buku, dan bahasan sistem pemindahan ilmu.
Teknologi multimedia pun berperan sangat besar. Kehadiran stasiun televisi di Denpasar tahun 1978, misalnya, pernah dikhawatirkan akan merusak keutuhan seni pertunjukan Bali. Media elektronik ini buru-buru dituduh akan menjadikan kesenian Bali kehilangan keunikannya, karena dikemas menyesuaikan dengan jam tayang. Tapi yang muncul kemudian, banyak kesenian Bali yang nyaris punah justru terangkat oleh kehadiran teve. Sekaa-sekaa yang dulu ogah-ogahan menari dan menabuh, tampil bergairah di layar kaca.
Tapi ekses, akibat keinginan yang berlebihan, muncul. Lembaga seni itu dan  penampilan di televisi, menjadi ukuran, standar baru, seni pertunjukan Bali. Sekaa sebunan di desa-desa mencoba tunduk pada pakem lembaga itu agar mereka bisa tampil di media massa elektronik dan mendapat pujian, serta disebut sebagai sekaa yang berkiblat modern.
Tari pun lebih mengutamakan penampilan blocking dan komposisi. Ia menjadi tarian massal yang menumpulkan kemampuan individu. Kamera televisi harus lebih rajin mengambil medium shoot tinimbang close up. Seledet, lirikan mata, mimik, gesture, tak begitu penting dihiraukan. Yang lebih penting kemudian adalah koreografer, yang menyusun blocking dan komposisi itu, bukan keunggulan individu si penari.
Merosotnya kemampuan individu membuat gerak penari jadi seragam. Yang diutamakan kekompakan, gerak yang searah, yang padu, yang sama. Yang berbeda dinilai merusak. Pregina pun kehilangan keberanian untuk menjadi yang lain. Mereka takut berimprovisasi, dan menjadi sangat tunduk, takluk, pada pakem yang dibuat oleh lembaga kesenian modern. Tidakkah yang begini-begini ini juga membuat taksu kesenian Bali melorot?


Artkel PARUMAN lainnya:

Dulu Ngayah, Kini Mayah
Tradisi ngayah dengan seni kini beralih jadi serba mayah. Motivasi berkesenian bergeser. Di mana titik kisruh ini dimulai?

Kontemporer = Tradisi?
Seni kontemporer di Bali? Ini mungkin pertanyaan mudah yang sulit dicarikan jawabannya. Soalnya, apa yang disebutkan kontemporer oleh kalangan pengamat seni di Bali, setelah dirunut-runut ternyata berakar pada tradisi juga –akhirnya.

Tiada Lagi Maestro?
Jika pertanyaan dilontarkan kepada khalayak Bali, “Apakah yang mereka inginkan dari kesenian Bali?” Salah satu jawabannya mungkin, “Kita rindu kelahiran kembali maestro seni.”

Susastra, Seni Anak Tiri
Tak cuma rumah tangga mengenal anak tiri. Jagat seni di Bali pun, disengaja atau tidak, memiliki anak tiri. Dialah seni susastra dan seni vokal. Di tengah gempita perkembangan seni tabuh dan tari, seni susastra dan vokal malah kian saru, kabur dan suram.


Mengebor Taksu dengan Laku Yoga
Tak mudah membangkitkan taksu dalam diri. Bila tak jujur, tulus, bakti, dan sungguh-sungguh, maka taksu justru kian menjauh.

Dewa Seni Menjaga Taksu
Pemahat Wayan Pendet  dikenal sebagai seniman yang sangat yakin akan pilihannya dalam berkesenian. Sahabat pelukis Ida Bagus Made  ini adalah guru bagi anak-anak muda sedesanya di Nyuh Kuning, Ubud. Pendet peletak dasar takikan khas Nyuhkuning: patung-patung binatang yang serius dan jenaka.

Pertanyaan Baru dalam Kesenian Bali
Seputar akhir tahun 1980-an, pernah sangat populer seni kriya pulasan, yang dikenal dengan patung pop art. Bentuknya menyerupai patung-patung atau topeng nenek moyang Meksiko atau New Zealand seperti Marcado, Mauri, Aztec, Varuna.

PKB, Tuwah Amonto
Ketika tahun 1979 Ida Bagus Mantra menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama kali, tak sedikit orang yang tidak setuju. Komentar yang muncul waktu itu antara lain, untuk apa kesenian Bali dihimpun, disatukan, lalu digelar? Itu tak lagi asli, karena direkayasa.


kembali ke indeks paruman
 
 
 
   © Copy Right  SARAD, 2000 - all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD