logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 TAWAH-TAWAH - OH, BALIKU 
 
 
Gindal Gindul Celuluk Gundul

Saat yang paling mengerikan di Bali setelah perang kemerdekaan adalah menjelang akhir 1965. Waktu itu ribuan orang komunis disembelih dengan kelewang, banyak yang dikepruk ramai-ramai dengan batu. Rumah mereka dibakar. Menjelang petang, suasana desa tegang, di kota pun serem. Jalan-jalan dijaga dan diblokir tameng, satgas Partai Nasional Indonesia (PNI), yang mengenakan pakaian hitam, berikat kepala merah. Selepas senja, anak-anak dan wanita langsung masuk kamar, tak bisa segera tidur, karena selalu diselimuti perasaan was-was.
sketsa: Prayatna SudibyaTapi bukan Bali namanya, jika kendati dalam suasana genting seperti itu, masyarakatnya tidak berkesenian. Sejumlah anak muda di Desa Kesiman, Denpasar, tetap saja asyik dengan kesenian pertunjukan. Mereka menggabungkan diri dalam sekaa Gindal Gindul.
Di zaman itu belum ada drama gong. Sekaa Gindal Gindul menyuguhkan cerita berjudul Gindal dan Gindul, tentang dua pembantu rumah tangga dengan suka dukanya hidup di rumah majikan. Lakon dikemas menjadi seni pertunjukan Bali gado-gado. Ada celuluk, rangda, romansa, nyanyi, tari, tawa, serius, marah, dan jenaka. Pokoknya meriah, yang penting penonton senang.
Suatu malam Gindal Gindul pentas ke Desa Jagapati, Badung. Tak jauh, kurang lebih 10 km utara Kesiman. Tapi bukan persoalan jarak itu yang jadi masalah. Selama pertunjukan tak ada masalah, begitu pula ketika mereka naik truk pulang selepas tengah malam melewati Desa Penatih, Tonja.
Masalah muncul tatkala setiba di Kesiman mereka tahu tapel celuluk lenyap. Tentu bukan hilang karena dicuri, tapi semua yakin celuluk itu jatuh dalam perjalanan pulang. Biasanya, celuluk itu diletakkan di depan, di atas kap sopir. Selalu saja ada yang suka rela memegangnya. Nah, di situ masalahnya. Karena tak ada petugas tetap yang bertanggung jawab memegang celuluk itu di atas kap, maka tak seorang pun merasa bertanggung jawab atas kehilangan itu.
Mencari celuluk itu menelusuri sepanjang jalan? Wah, malam gelap pekat, semua takut. Apalagi tadi dalam perjalanan pulang mereka mellihat banyak tameng duduk-duduk jaga di tepi jalan. Salah-salah leher mereka tertebas diduga orang komunis kesasar. Maka diputuskan untuk menelusuri jejak celuluk itu besok pagi.
Ketika keputusan itu disepakati, di Desa Tonja, kurang lebih 4 km utara Kesiman, para tameng lagi sibuk berdiri menghunus kelewang di tengah jalan. Sasaran mereka, benda putih berkilat dengan rumbai-rumbai hitam merah putih, tergeletak di tengah jalan. Tak ada yang langsung berani bergerak mengamati benda itu, sebelum akhirnya seseorang dengan membusungkan dada menyabetkan kelewang ke benda itu.
Tas.. tas...tas.... kelewang itu menebas tiga kali. Benda itu terguling-guling. Tameng-tameng itu serentak memburu, ramai-ramai menebaskan kelewang. Kini jelas sudah sosoknya: bukan komunis, tapi seekor celuluk. Kelewang pun semakin ramai ditebaskan. Rumbai-rumbai celuluk itu putus berserakan di jalan. Mereka yakin, yang ditebas itu adalah leak yang jadi celuluk.
Tapi, tak ada suara mengaduh kesakitan. Tak jua ada darah berceceran. Ini pasti celuluk sangat sakti. Tebasan kelewang pun semakin ganas, meninggalkan percikan api ketika pedang-pedang itu menebas batu.
Capek menebaskan kelewang, tameng-tameng itu mengungkitnya dengan ujung pedang. Kalau itu sungguh-sungguh celuluk, pasti sudah tewas oleh sabetan ramai-ramai. Benar, celuluk itu tak diam. Pasti sudah mati. Mulai ada yang berani memegang langsung dengan tangan.
Wah..... ternyata cuma tapel celuluk. Mereka tertawa terbahak-bahak. Tapi masih ada juga tameng yang serius diam dengan mulut terkatup rapat. Ia tak yakin itu tapel celuluk. Bisa-bisa itu sungguh-sungguh celuluk. Topeng itu akhirnya digantung di tiang balai banjar. Rambutnya putus tak karuan.  Dahinya yang botak retak dan koyak. Ia kini sungguh-sungguh telah berubah menjadi celuluk gundul.
Keesokan harinya, ketika beberapa anggota sekaa Gindal Gindul menelusuri jalan ke Desa Jagapati, mereka memang menemukan celuluk itu tetap tergantung di balai banjar Tonja. Tentu tak sulit mereka memintanya kembali, setelah menjelaskan celuluk itu terjatuh dari truk tadi malam.
Sejak itu santer terdengar kabar, sekaa Gindal Gindul punya penari celuluk sakti mandraguna. Ditebas ramai-ramai oleh  tameng Desa Tonja tak apa-apa. Kemudian digantung pun tetap hidup. Sejak itu sekaa Gindal Gindul jadi kelompok seni pertunjukan tersohor dan laris.
Tapi kendati punya celuluk sakti dan laris, toh mereka tak kuasa melawan popularitas drama gong. Memang, Gindal Gindul akhirnya bubar, dilibas drama gong.


Tersiram Hujan di Pamiosan

Paling kesal kalau pas menyelenggarakan upacara adat hujan turun tanpa kompromi. Semua jadi becek tak karuan, seperti dialami Made Kaler. Ia sedih dan gondok ketika menyelenggarakan upacara ngaben di rumahnya di Padangsambian, Denpasar Barat hujan lebat turun. Kendati  menggerutu terus, akhirnya toh  ia berdoa, pasrah, dan menyerahkan semua pada Hyang Widhi: silakan hujan menjelang upacara, tapi tolong redalah pas di hari H.
Tapi cuaca di awal April tahun ini susah diajak berunding. Di hari H hujan terus turun. Tenda-tenda terpal pun mulai tak kuat lagi ngaturang ayah. Beberapa sisinya robek tak kuat menahan air. Atap plastik itu menggelembung ke bawah menampung air.   Lingkungan becek membuat banyak kegiatan ngadat dan terhambat. Pikiran dan perasaan semakin kalut ketika Ida Pedanda datang muput karya. Pedanda datang dengan tenang seperti tak hirau gojogan hujan. Ketika disapa mengapa ia muput juga, tak menunggu hujan reda, dengan enteng Pedanda menjawab, “Wah, kalau ditunggu justru tak bakalan endang (reda).”
Tapi, “Waduh terpal di bale pamiosan Ida Pedanda mulai menggelembung, jangan-jangan nanti…,’’ bisik Made Kaler. Pengiring Ida Pedanda yang duduk persis di belakang pendeta pun melihat kepanikan Kaler. Ia mendongak ke atas, benar, terpal itu berat oleh air hujan hingga menggelembung ke bawah.  Orang-orang di sekitar bale pemiosan itu juga dibuat bingung, harus diapakan terpal itu sementara hujan lebat tak juga reda. “Biarkan saja, nanti tiang yang matur ke Ida Pedanda,’’ sahut Pengiring itu.
Pedanda naik ke pamiosan, langsung mempersiapkan puja. “Kalau ditunggu, terpal itu akan jebol.”  Kaler kemudian memberanikan diri memberitahu Pengiring Pedanda. Ketika ada jeda, cepat-cepat sang Pengiring memberitahu Ida Pedanda tentang kemungkinan terpal yang ambruk setiap saat, dan memuntahkan air hujan tepat di atas Ida Pedanda. Tapi Ida Pedanda tenang, hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia tetap jua tenang ketika menyampaikan puja penutup. Sementara gelembung terpal makin membesar, membuat Pengiring dan tuan rumah kian berdebar .
Usai menghaturkan puja mantra, suguhan untuk Ida Pedanda disiapkan. Made Kaler memohon Ida Pedanda pindah untuk menikmati hidangan di tempat yang sudah disediakan. Tapi Pedanda hanya tersenyum, dan mengatakan tak perlu pindah, langsung saja di bale pemiosan. Kaler memberanikan diri menyampaikan tentang terpal yang setiap saat bisa ambrol. Kembali Pedanda hanya tersenyum. Akhirnya Pedanda disuguhi hidangan di bale peamiosan itu. Tak terjadi apa-apa, sampai Ida Pedanda berkemas turun dari pamiosan.
Semua lega ketika Pedanda bebas dari air muntahan terpal. Tapi baru beberapa meter Ida Pedanda berlalu, terpal itu lepas dari ikatannya dan persis jatuh menimpa bebantenan tempat Ida Pedanda tadi mapuja. Byuuurrrr...... suara itu keras sekali terdengar. Empat orang pengiring yang akan ngelebar banten di bale pamiosan itu hendak dibawa ke gria untuk haturan Ida Pedanda tersiram hujan basah kuyup.
“Wah kalian yang jadi gantinya, untung bukan Ida Pedanda yang tersiram,’’ ujar istri Wayan Kaler tersenyum syukur. Tawa campur haru pun menggema.
Jung, AS


 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD