| |
| Gindal
Gindul Celuluk Gundul
Saat yang paling mengerikan
di Bali setelah perang kemerdekaan adalah menjelang akhir 1965. Waktu itu
ribuan orang komunis disembelih dengan kelewang, banyak yang dikepruk ramai-ramai
dengan batu. Rumah mereka dibakar. Menjelang petang, suasana desa tegang,
di kota pun serem. Jalan-jalan dijaga dan diblokir tameng, satgas Partai
Nasional Indonesia (PNI), yang mengenakan pakaian hitam, berikat kepala
merah. Selepas senja, anak-anak dan wanita langsung masuk kamar, tak bisa
segera tidur, karena selalu diselimuti perasaan was-was.
Tapi
bukan Bali namanya, jika kendati dalam suasana genting seperti itu, masyarakatnya
tidak berkesenian. Sejumlah anak muda di Desa Kesiman, Denpasar, tetap
saja asyik dengan kesenian pertunjukan. Mereka menggabungkan diri dalam
sekaa Gindal Gindul.
Di zaman itu belum ada drama
gong. Sekaa Gindal Gindul menyuguhkan cerita berjudul Gindal dan Gindul,
tentang dua pembantu rumah tangga dengan suka dukanya hidup di rumah majikan.
Lakon dikemas menjadi seni pertunjukan Bali gado-gado. Ada celuluk, rangda,
romansa, nyanyi, tari, tawa, serius, marah, dan jenaka. Pokoknya meriah,
yang penting penonton senang.
Suatu malam Gindal Gindul
pentas ke Desa Jagapati, Badung. Tak jauh, kurang lebih 10 km utara Kesiman.
Tapi bukan persoalan jarak itu yang jadi masalah. Selama pertunjukan tak
ada masalah, begitu pula ketika mereka naik truk pulang selepas tengah
malam melewati Desa Penatih, Tonja.
Masalah muncul tatkala setiba
di Kesiman mereka tahu tapel celuluk lenyap. Tentu bukan hilang karena
dicuri, tapi semua yakin celuluk itu jatuh dalam perjalanan pulang. Biasanya,
celuluk itu diletakkan di depan, di atas kap sopir. Selalu saja ada yang
suka rela memegangnya. Nah, di situ masalahnya. Karena tak ada petugas
tetap yang bertanggung jawab memegang celuluk itu di atas kap, maka tak
seorang pun merasa bertanggung jawab atas kehilangan itu.
Mencari celuluk itu menelusuri
sepanjang jalan? Wah, malam gelap pekat, semua takut. Apalagi tadi dalam
perjalanan pulang mereka mellihat banyak tameng duduk-duduk jaga di tepi
jalan. Salah-salah leher mereka tertebas diduga orang komunis kesasar.
Maka diputuskan untuk menelusuri jejak celuluk itu besok pagi.
Ketika keputusan itu disepakati,
di Desa Tonja, kurang lebih 4 km utara Kesiman, para tameng lagi sibuk
berdiri menghunus kelewang di tengah jalan. Sasaran mereka, benda putih
berkilat dengan rumbai-rumbai hitam merah putih, tergeletak di tengah jalan.
Tak ada yang langsung berani bergerak mengamati benda itu, sebelum akhirnya
seseorang dengan membusungkan dada menyabetkan kelewang ke benda itu.
Tas.. tas...tas.... kelewang
itu menebas tiga kali. Benda itu terguling-guling. Tameng-tameng itu serentak
memburu, ramai-ramai menebaskan kelewang. Kini jelas sudah sosoknya: bukan
komunis, tapi seekor celuluk. Kelewang pun semakin ramai ditebaskan. Rumbai-rumbai
celuluk itu putus berserakan di jalan. Mereka yakin, yang ditebas itu adalah
leak yang jadi celuluk.
Tapi, tak ada suara mengaduh
kesakitan. Tak jua ada darah berceceran. Ini pasti celuluk sangat sakti.
Tebasan kelewang pun semakin ganas, meninggalkan percikan api ketika pedang-pedang
itu menebas batu.
Capek menebaskan kelewang,
tameng-tameng itu mengungkitnya dengan ujung pedang. Kalau itu sungguh-sungguh
celuluk, pasti sudah tewas oleh sabetan ramai-ramai. Benar, celuluk itu
tak diam. Pasti sudah mati. Mulai ada yang berani memegang langsung dengan
tangan.
Wah..... ternyata cuma tapel
celuluk. Mereka tertawa terbahak-bahak. Tapi masih ada juga tameng yang
serius diam dengan mulut terkatup rapat. Ia tak yakin itu tapel celuluk.
Bisa-bisa itu sungguh-sungguh celuluk. Topeng itu akhirnya digantung di
tiang balai banjar. Rambutnya putus tak karuan. Dahinya yang botak
retak dan koyak. Ia kini sungguh-sungguh telah berubah menjadi celuluk
gundul.
Keesokan harinya, ketika
beberapa anggota sekaa Gindal Gindul menelusuri jalan ke Desa Jagapati,
mereka memang menemukan celuluk itu tetap tergantung di balai banjar Tonja.
Tentu tak sulit mereka memintanya kembali, setelah menjelaskan celuluk
itu terjatuh dari truk tadi malam.
Sejak itu santer terdengar
kabar, sekaa Gindal Gindul punya penari celuluk sakti mandraguna. Ditebas
ramai-ramai oleh tameng Desa Tonja tak apa-apa. Kemudian digantung
pun tetap hidup. Sejak itu sekaa Gindal Gindul jadi kelompok seni pertunjukan
tersohor dan laris.
Tapi kendati punya celuluk
sakti dan laris, toh mereka tak kuasa melawan popularitas drama gong. Memang,
Gindal Gindul akhirnya bubar, dilibas drama gong.
|
|
Tersiram
Hujan di Pamiosan
Paling kesal kalau pas menyelenggarakan
upacara adat hujan turun tanpa kompromi. Semua jadi becek tak karuan, seperti
dialami Made Kaler. Ia sedih dan gondok ketika menyelenggarakan upacara
ngaben di rumahnya di Padangsambian, Denpasar Barat hujan lebat turun.
Kendati menggerutu terus, akhirnya toh ia berdoa, pasrah, dan
menyerahkan semua pada Hyang Widhi: silakan hujan menjelang upacara, tapi
tolong redalah pas di hari H.
Tapi cuaca di awal April
tahun ini susah diajak berunding. Di hari H hujan terus turun. Tenda-tenda
terpal pun mulai tak kuat lagi ngaturang ayah. Beberapa sisinya robek tak
kuat menahan air. Atap plastik itu menggelembung ke bawah menampung air.
Lingkungan becek membuat banyak kegiatan ngadat dan terhambat. Pikiran
dan perasaan semakin kalut ketika Ida Pedanda datang muput karya. Pedanda
datang dengan tenang seperti tak hirau gojogan hujan. Ketika disapa mengapa
ia muput juga, tak menunggu hujan reda, dengan enteng Pedanda menjawab,
“Wah, kalau ditunggu justru tak bakalan endang (reda).”
Tapi, “Waduh terpal di bale
pamiosan Ida Pedanda mulai menggelembung, jangan-jangan nanti…,’’ bisik
Made Kaler. Pengiring Ida Pedanda yang duduk persis di belakang pendeta
pun melihat kepanikan Kaler. Ia mendongak ke atas, benar, terpal itu berat
oleh air hujan hingga menggelembung ke bawah. Orang-orang di sekitar
bale pemiosan itu juga dibuat bingung, harus diapakan terpal itu sementara
hujan lebat tak juga reda. “Biarkan saja, nanti tiang yang matur ke Ida
Pedanda,’’ sahut Pengiring itu.
Pedanda naik ke pamiosan,
langsung mempersiapkan puja. “Kalau ditunggu, terpal itu akan jebol.”
Kaler kemudian memberanikan diri memberitahu Pengiring Pedanda. Ketika
ada jeda, cepat-cepat sang Pengiring memberitahu Ida Pedanda tentang kemungkinan
terpal yang ambruk setiap saat, dan memuntahkan air hujan tepat di atas
Ida Pedanda. Tapi Ida Pedanda tenang, hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Ia tetap jua tenang ketika menyampaikan puja penutup. Sementara gelembung
terpal makin membesar, membuat Pengiring dan tuan rumah kian berdebar .
Usai menghaturkan puja mantra,
suguhan untuk Ida Pedanda disiapkan. Made Kaler memohon Ida Pedanda pindah
untuk menikmati hidangan di tempat yang sudah disediakan. Tapi Pedanda
hanya tersenyum, dan mengatakan tak perlu pindah, langsung saja di bale
pemiosan. Kaler memberanikan diri menyampaikan tentang terpal yang setiap
saat bisa ambrol. Kembali Pedanda hanya tersenyum. Akhirnya Pedanda disuguhi
hidangan di bale peamiosan itu. Tak terjadi apa-apa, sampai Ida Pedanda
berkemas turun dari pamiosan.
Semua lega ketika Pedanda
bebas dari air muntahan terpal. Tapi baru beberapa meter Ida Pedanda berlalu,
terpal itu lepas dari ikatannya dan persis jatuh menimpa bebantenan tempat
Ida Pedanda tadi mapuja. Byuuurrrr...... suara itu keras sekali terdengar.
Empat orang pengiring yang akan ngelebar banten di bale pamiosan itu hendak
dibawa ke gria untuk haturan Ida Pedanda tersiram hujan basah kuyup.
“Wah kalian yang jadi gantinya,
untung bukan Ida Pedanda yang tersiram,’’ ujar istri Wayan Kaler tersenyum
syukur. Tawa campur haru pun menggema.
Jung, AS
|
|
|