| Mengungkap
Masa Silam Bali
Judul
buku : To Change Bali (Essays in Honour of I Gusti Ngurah Bagus)
Editor
: Adrian Vickers, I Nyoman Darma Putra
Penerbit
: Institute of Social Change and Critical Inquiry University of Wollongong
Tebal,
tahun : 212 halaman, 2000
Lagi, sebuah buku tentang
Bali dari kalangan peneliti asing diterbitkan. Kali ini mencoba membentangkan
‘rahasia’ dan kasus-kasus masa silam sejarah Bali. Judulnya banyak
mendapat kritikan tajam, tapi isinya tetap relevan dipahami.
Lewat
buku ini sembilan sarjana dari dalam maupun luar negeri memberikan suatu
gambaran tentang kehidupan, sejarah, perkembangan, colonial rule, hingga
kebudayaan yang pernah dialami masyarakat Bali di masa lampau. Ini merupakan
usaha yang sangat relevan dari para pakar, terutama dari luar negeri, untuk
membuka ‘rahasia’ dan kasus-kasus masa silam sejarah Bali. Walaupun
buku ini banyak dikritik oleh beberapa tokoh Bali, terutama karena kurang
pasnya judul dibandingkan dengan isinya, namun tetap saja bermanfaat, terutama
bagi yang belum mengenal masa lampau Bali.
Selain itu, buku ini juga
membahas masalah-masalah aktual yang dihadapi Bali, seperti kasus adat,
kasus Tanah Lot dengan Bali Nirwana Resort-nya, Padang Galak, dan lain-lain.
Yang menarik di sini adalah disemaikannya ide-ide agar masyarakat Bali
waspada terhadap kasus-kasus yang merugikan rakyat. Demikian, misalnya,
Carol Warren mengungkap hal ini dalam tulisannya, Adat: The Discourses
of Modernity in Bali.
Dilukiskan pula bahwa masyarakat
Bali, terutama pemeluk Hindu, masih ingat masa silamnya yang pahit dari
zaman Majapahit beserta kejayaan yang pernah dirasakan oleh para leluhurnya.
Namun setelah Majapahit yang kuat itu runtuh, mereka pun pergi berlindung
ke Bali sekaligus guna menghindari serangan dari luar. Pertanyaannya kemudian,
apakah kesetiaan terhadap para leluhur masyarakat Bali itu masih ada? Atau
malah seiring dengan perjalanan waktu yang begitu lama dan perubahan yang
begitu cepat, masyarakat Bali justru sudah lupa jasa-jasa para pahlawan
yang dulu berjuang demi kehormatan dan agama? Helen Creese lewat In Search
of Majapahit: The Transformation of Balinese Identities berusaha memberikan
jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang patut dihargai itu.
Lain lagi dengan Lynette
Parker. Dia menggambarkan bagaimana modernisasi masuk dalam sistem pendidikan.
Sekaligus diungkap pula bagaimana pula dua grup, yaitu tradisional dan
liberal, menerima perubahan walaupun mereka berusaha agar nuansa Bali tetap
berada dalam pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan kasta. Masalah
ini, nyatanya, sampai sekarang masih menjadi sumber konflik di tengah-tengah
masyarakat Bali.
Tokoh Bali GNM Wirjasoeta
mengatakan bahwa ia tidak percaya kasta bila dikaitkan dengan kelahiran.
Justru kasta itu akan diterima bilamana didasari atas “boedi” atau melalui
profesi. Mungkin saja konflik kasta di Bali maupun di India dari zaman
ke zaman menjadi acuan bagi orang dan selalu menimbulkan konflik di kalangan
masyarakatnya. Namun itu semata-mata disebabkan kekurangpahaman pada konsep
catur warna. Sebagai contoh, seorang dari golongan sudra meninggalkan agama
Hindu lantas masuk agama Budha, hanya disebabkan karena masalah kasta.
Hal yang hingga kini masih sensitif ini dibahas H.S. Nordholt dalam artikelnya,
From Wangsa to Bangsa….
I Nyoman Dharma Putra, putra
Bali yang kini sedang melanjutkan studi doktoral di Australia, memfokuskan
pembahasannya pada kesusastraan modern Bali dan Indonesia yang walaupun
berkembang pelan-pelan tetapi mendapatkan tempat khusus dalam sejarah modern
Indonesia. Terutama tentang peran para sastrawan modern dari Bali, seperti
Nyoman Rasta Sindhu, Nyoman Tusti Eddy dan Panji Tisna, dan lain-lain.
Mereka mampu tampil sebagai sastrawan di tingkat Bali maupun tingkat Nasional.
Pada artikel berikutnya,
sejarahwan dari Unud, Nyoman Wijaya, menguraikan tentang kehidupan kota
Denpasar, sekitar tahun 1950-an yang mulanya tidak teratur menjadi teratur
rapi. Dari suara lolongan anjing pada malam hari pelan-pelan berubah menjadi
berisik suara musik dan disko; dari pakaian keseharian yang berupa sarung
menjadi jins buatan luar negeri lengkap dengan perfilman Hollywood. Ini
adalah suatu ilustrasi yang sangat halus tetapi tetap tajam yang diuraikan
oleh Nyoman Wijaya, bagaimana Denpasar berubah dari sebuah kota kuno menjadi
modern. Dan untuk mewujudkan kota Denpasar sebagai ‘Kota Budaya’ yang menjadi
bahan pembicaraan sekarang ini, maka kita perlu belajar dari kesalahan-kesalahan
yang pernah terjadi di masa silam.Tulisan yang didasarkan pada cerpen-cerpen
itu sangat perlu disimak untuk menjadi bahan pertimbangan dan masa persiapan
menjadikan Denpasar sebagai Kota Budaya.
Buku ini di dalamnya memang
banyak mengungkap data dan memberikan paparan tajam, meskipun juga sempat
mendapat kritikan tajam pula dari kalangan cendekiawan Bali sendiri. Namun
demikian, buku ini tetap layak dihargai sebagai sebuah usaha memahami Bali
yang kini sudah masuk ke dalam rekaman ‘sejarah baru’. Memang menarik dicermati
secara teliti, bagaimana Bali manakala dilihat dan dinilai oleh para sarjana
luar, apakah dengan ‘kacamata’ atau ‘tanpa kacamata’. Untuk itu sebaiknya
silakan membaca langsung. Tak terbatas hanya bagi kalangan akademis, bagi
pembaca umum pun tetap perlu mengetahuinya, meskipun semula buku ini dimaksudkan
sebagai persembahan penuh hormat atas jasa-jasa Prof. I Gusti Ngurah Bagus
di dunia studi terhadap Bali.
Dr. Somvir, dosen
tamu Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
|