logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 SASULUH - CERMIN 
 
 
Tak Polisi, Pelukis pun Jadi

Nyoman Mandra bertekad melestarikan seni lukis klasik Bali. Karyanya, wayang gaya Kamasan yang langsing, lancip, ayu, tampan, dan flamboyan. Ia menjadi instruktur melukis bagi anak-anak sekolah dasar, saban sore, di sanggarnya.

Nyoman Mandra dan anak didik. Guru yang terlalu baik - foto: Aryantha SoethamaSecarik kertas bisa mengubah sejarah. Itulah yang dialami Nyoman Mandra, pelukis wayang klasik gaya Kamasan. Ia hanya menyelesaikan pendidikan sampai SMP. “Begitu tamat saya berniat menjadi polisi,” kenang Mandra. Surat-surat lamaran dan surat lulus kesehatan yang dicarinya di Klungkung, segera ia lengkapi. Bergelantungan naik bus ia berangkat pagi-pagi ke Singaraja untuk melamar jadi polisi, mewujudkan cita-citanya.
Tapi Hyang Widhi berkehendak lain. Ketika tiba di tempat melamar, Mandra pucat pasi. Ia hanya bisa bengong melongo ketika meraba-raba kantong celananya. Ia tak menemukan surat-surat itu selembar pun. “Semuanya hilang, pasti tercecer di jalan ketika berdesakan di bus,” kata Mandra.
Tentu ia sangat bersedih, tak mungkin mengajukan lamaran menjadi polisi tanpa secarik surat pun. Namun bagaimana pun ia harus kembali ke kampung halamannya, Desa Kamasan, Klungkung. Kemudian ia putuskan untuk meneruskan melukis saja. Sebenarnya ia sudah terbiasa melukis wayang sejak umur 6 tahun dengan mencorat-coret di tanah dan tembok rumah yang masih bersih. “Sejak di kelas dua sekolah dasar saya mulai menggambar wayang di atas kertas,” ujar bapak tiga anak ini, dua wanita, yang bungsu lanang.
Ia kini pelukis klasik terpenting yang dimiliki Bali, di tengah gegap gempita seni lukis abstrak atau instalasi yang bisa meraup uang ratusan juta rupiah. Selain pelukis, Mandra juga pendaki gunung. Jika kebanyakan orang mendaki gunung untuk berolahraga dan kegemaran, Mandra justru memanfaatkannya sebagai olah batin dan kegiatan spiritual. Delapan kali ia memimpin rombongan pendakian dan persembahyangan ke Pura Luhur Lempuyang, empat kali ke Gunung Batur, lima kali ke Gunung Abang, dua kali ke Gunung Agung, dan sekali ke Gunung Batukaru. Tentu berkali-kali lagi akan dilakukannya bertahun-tahun ke depan.
Memberi bimbingan melukis. Panggilan hidup - foto: Widnyana SudibyaDi kaki gunung, Mandra mengajak rombongan sembahyang di pura. Melakukan takwa pada Hyang Widhi, merasakan kebesaran Tuhan, terus menerus ia lakukan sepanjang pendakian jika mereka menjumpai tempat atau bangunan suci.
Namun lelaki yang lahir di Banjar Sangging, Kamasan, tahun 1946 ini, dikenal luas tidak sebagai pecinta alam,tetapi sebagai pelukis yang mengabdikan seluruh hidupnya demi seni lukis wayang gaya Kamasan.
Minatnya terhadap seni lukis sudah sangat menonjol sejak ia bocah. Di bangku SMP ia mulai belajar melukis di atas kanvas, dibimbing Nyoman Dogol, dan belajar mewarnai pada Nengah Numbreg. Sejak Dogol meninggal tahun 1963, Mandra belajar melukis sendiri. “Saya belajar dari peninggalan-peninggalan lukisan lama,” akunya.
Sejak tahun 1963 ia melakukan pameran beruntun di berbagai penjuru dunia, seperti Belanda, Jepang, dan Amerika Serikat. Karya-karyanya terpajang di gedung-gedung penting: di gedung MPR Jakarta, di gedung Unesco. Dari sekian pamerannya, yang berkesan justru ketika ia berpameran bersama anak-anak asuhnya, Agustus 1981, di kampus ITB, Bandung.
Mandra memang guru yang terlalu baik. Ia memandang pengabdian sebagai pelukis dan guru sama penting. Sebagai guru ia memberi pelajaran melukis wayang bagi ratusan anak-anak sekolah dasar di sanggarnya di Kamasan sejak tahun 1977. Pelajaran dimulai pk.15.00 selama dua jam penuh, di sebuah bangunan Bali beratap ilalang, berdinding gedek berukuran 5 x 10 m2. “Sekolah” melukis itu cuma satu kelas. Anak-anak pemula dan yang sudah belajar selama tiga tahun bergabung. Tak ada angkatan seperti sekolah atau kursus. Tak ada pemisahan kelas. Tapi kalau dihitung-hitung, sejak sanggar itu berdiri, sudah 250 anak “tamat” dari sana, mencakup tujuh angkatan. Ada anak didik yang dulu belajar di sanggar itu, kini menyerahkan anaknya untuk juga berguru pada Mandra. “Saya bahkan sudah punya murid bercucu,” jelas Mandra. Maksudnya, yang dulu menyerahkan anaknya belajar, kini juga mengantar cucunya ke sanggar itu.
Sebagai guru dan panutan di antara pelukis wayang Kamasan, Mandra mengaku lebih mudah mendidik anak-anak di tahun 1970-an dibanding sekarang. Ia menyadari, televisi banyak menyita perhatian anak didiknya, sehingga konsentrasi dan niat belajar melukis buyar. Tapi Mandra tak menyalahkan televisi. Ia justru memperbaiki dan meningkatkan kinerja mengajar. “Saya harus lebih nyinyir dibanding dulu, harus lebih cerwet, mesti lebih tekun, dan menyediakan lebih banyak waktu untuk mendidik mereka,” ujarnya.
Karena begitu banyak ia punya murid, pedagang lukisan wayang di kota Klungkung pun suka memanfaatkan kondisi ini. Jika seseorang membeli lukisan, si pedagang akan berpromosi, “Ini karya murid Nyoman Mandra, lihat lukisannya, bagus, halus, rapi.” Pembeli akan meneliti detail lukisan itu, namun tentu tak sanggup membedakan apakah itu karya murid Mandra atau bukan. Semestinya ia membeli langsung karya Mandra, tapi harganya mahal, termahal di antara seluruh karya pelukis Kamasan.
Mandra guru yang sangat tekun dan begitu sabar. Ia memberi pelajaran, membimbing, membuat contoh garis, dan memperbaiki karya anak-anak itu satu per satu. Ia seperti seorang ayah bagi 40 anak di satu kelas, yang belajar melukis di sanggarnya saban sore. Sering ia menuntun anak-anak itu duduk santai di lantai teras kelas. “Tapi kalau saya lagi sibuk, misalnya ada kegiatan adat, anak-anak saya liburkan,” katanya. Jika hari Minggu anak-anak itu masuk pagi, tidak untuk belajar melukis, tapi bergotongroyong membersihkan balai banjar Sangging, tempat Mandra tercatat sebagai warganya.
Jika orang-orang berkunjung ke sanggarnya, yang terkesan tidak cuma Mandra sebagai pelukis, tapi bagaimana ia melakoni hidup sehari-hari sebagai guru anak-anak yang belajar tanpa bayar. Ia disegani sebagai orang yang sangat gigih melestarikan seni lukis klasik wayang Kamasan lewat pendidikan yang terencana. “Cita-cita saya memang melestarikan seni lukis Kamasan,” akunya. “Itu sudah saya tekadkan sejak tahun 1977.”
Ketika itu perhatian pada seni lukis Kamasan sangat kecil. Bahkan menurut Mandra, nyaris punah. Banyak anak muda yang berhenti melukis dan beralih ke kerajinan perak, membuat bokor. Sebab waktu itu bokor, sangku, dibutuhkan oleh masyarakat Bali untuk upacara adat dan agama. Terampil di kerajinan perak lebih menjamin kelangsungan hidup tinimbang menjadi pelukis.
Tahun 1963 Gunung Agung meletus. Sawah-sawah di Kamasan terkubur debu letusan gunung. Desa Tangkas, tetangga Kamasan, bahkan diurug lahar. Rakyat susah cari makan. Keadaan paceklik. Ekonomi kian sulit ketika dua tahun kemudian meledak peristiwa G-30-S/PKI. Banyak pelukis wayang banting haluan waktu itu. Mereka beralih ke kerajinan perak karena orang-orang Bali masih ada yang membelinya untuk keperluan upacara. “Seingat saya hanya lima orang yang bertahan melukis wayang,” kenang Mandra. Baru setelah turisme tumbuh, seni lukis wayang klasik Bali itu kembali bernafas. Wisatawan mulai membelinya.
Tempat pensil dengan ornamen wayang. Karya khas sanggar Nyoman Mandra - foto: Widnyana SudibyaSekarang bahkan banyak lukisan wayang yang dibuat asal jadi, biar bisa dijual murah untuk cinderamata. Justru kerajinan perak kini sangat kurang diminati wisatawan asing. Tak heran, banyak orang Kamasan mendua: mengerjakan perak kalau lagi ada pesanan, lalu melukis wayang jika memang lukisan yang lagi laku.
Jika akhirnya kini seni lukis Kamasan bertahan, dan wisatawan ramai membeli, semua itu memberi kepuasan jiwa bagi Mandra. Ini memang hasil perjuangan yang menjadi panggilan hidupnya. Anak asuhnya memperoleh berbagai penghargaan dari lomba seni lukis internasional. Antara lain sebuah medali emas untuk lomba lukis anak-anak yang diselenggarakan Unesco, 7 medali perak, 6 medali perunggu, dan 24 tanda penghargaan internasional dan nasional.
Tentu ia bahagia anak-anak asuhnya berhasil di panggung internasional. Banyak di antara mereka bahkan yang kini hidup semata-mata dari melukis. Mereka sudah pasang papan nama di depan rumahnya, mengikuti jejak sang guru. Karena itu orang tua yang menyuruh anak-anaknya berguru  pada Nyoman Mandra berujar, ”Datanglah ke Pak Man, mintalah makan di sana.” Anak-anak yang belajar pada Mandra tidak semata untuk bisa melukis, tapi mulai mengenal bagaimana melukis sebagai nafkah untuk penghidupan kelak. Jika mereka belajar menarik garis, pada akhirnya itu akan sangat berarti bagi perekonomian keluarga.
Tak ada kesan formal belajar di sanggar Mandra. Anak-anak kalau jenuh menggambar diberi kebebasan bermain, memanjat pohon mangga di halaman yang di tengahnya ada kolam bundar dengan bunga teratai putih. “Saya senang kalau melihat anak-anak bercanda,” kata  Mandra. Kelas pun penuh tawa riang, banyak canda. Di dinding tergantung papan kecil berisi nama-nama yang menjadi donatur. Para donatur juga membeli karya anak-anak itu. Uangnya sebagian untuk si anak. Mereka mulai mengenal, dengan melukis bisa mendapatkan uang, bisa untuk beli sepatu atau seragam sekolah.
Sebulan setelah anak-anak itu belajar, ayahnya akan datang secara khusus pada Mandra, menyampaikan harapan si anak bisa dibimbing terus sebaik mungkin seperti Mandra mengurus anak sendiri. Pertama kali belajar si anak datang sendiri, kendati itu atas niat orang tua. “Soalnya bisa repot kalau langsung orang tuanya yang datang. Ya kalau si anak betah, jika tidak, tentu tak enak perasaan si ayah yang sudah capek-capek mengantarnya ke saya, kemudian anaknya kabur dari kelas dan tak sudi kembali,” ujar Mandra.Anak lanang Mandra yang bungsu, Komang (16) ikut belajar di sanggar itu.
Kendati Mandra punya bengkel kerja untuk menyelesaikan lukisan pesanan yang digarap kolektif, namun ia senantiasa mengarahkan anak didiknya untuk menjadi pelukis mandiri. Ia sadar, tukang gosok kanvas, pemberi warna, atau penghalus terakhir, dikerjakan oleh orang-orang yang tak perlu memiliki kemampuan mandiri dalam melukis. Namun Mandra tetap menginginkan, generasi penerus seni lukis wayang Kamasan hendaklah mereka yang bisa melukis sendiri tanpa bantuan siapa pun, seperti yang dilakukan Mandra kalau ia melukis. Karena itu ia pantang membubuhkan namanya di kanvas karya murid-muridnya, atau karya yang dikerjakan kolektif, seberapa pun mirip karya Mandra dengan karya itu. Ia juga tak mau meminta bantuan siapa pun kalau lukisan itu memang dikerjakannya sendiri, atas nama dirinya. Ia membedakan dengan tegas mana karya kolektif, mana pula karya pribadi.
Mandra sering memperoleh pesanan lukisan dari hotel berbintang. Ia juga acap menerima pesanan dari panitia seminar internasional di Denpasar yang membutuhkan map bergambar wayang Kamasan untuk kit seminar. “Semua itu kami kerjakan secara kolektif,” katanya. Mandra bertugas ngorten (membuat sket dengan pensil), lalu anggota sanggar, terdiri dari ibu-ibu, anak-anak SD, SMP, SMA, dan remaja yang tak meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, akan menyelesaikannya. Maka Mandra adalah seorang guru, pelukis, manajer, dan pencipta lapangan kerja.
Sebagai orang desa, Nyoman Mandra menikmati peran itu dengan bahagia.
AS


 
Goresan Sepenuh Hati dari Kamasan

Karya-karya Nyoman Mandra adalah wayang-wayang yang langsing, lancip, ayu, tampan, dan flamboyan. Garis-garisnya sangat halus, lembut, jelas, dan menyiratkan keheningan. Kepada murid-muridnya ia selalu menekankan, “Kalau menggambar wayang, pensil kalian harus selalu runcing!” Ia sangat kuat dengan detail. Semua goresannya adalah hasil gerakan tangan yang sangat teliti dan sepenuh hati.
Nyoman Mandra melukis. Punya pesona sendiri - foto: Widnyana SudibyaKarya-karyanya yang ia simpan di ruang khusus tak begitu banyak. Tapi lukisan-lukisan itu, sebagian hitam putih, seperti Bisma Gugur, atau Sutasoma yang berwarna klasik khas Kamasan, menyiratkan goresan sepenuh jiwa. Karya-karya Mandra, yang mengambil tema cerita Mahabharata, seperti bentangan filosofi yang ditumpahkan ke kanvas, menjadi detail garis yang mencerminkan kehalusan dan keluhuran budi.Berdiri di depan karyanya, penikmat diajak merenung, menelusuri setiap tarikan garis, lalu bergumam, “Ini sekumpulan garis seperti jiwa terbang melayang, tapi tajam dengan asal usul yang jelas. “
Garis tipis, runcing, langsing, juga menjadi ciri karya-karya murid Nyoman Mandra. Dua anak didiknya yang paling menguasai kemahiran sang guru adalah Made Diartha dan Wayan Pande Sumantra. Diarta bahkan pelukis wayang hitam putih terbaik saat ini di Kamasan. Dan Sumantra pelukis yang sangat produktif. Kedua murid ini punya bengkel kerja di rumah masing-masing. Tapi jika Mandra mendapat pesanan dalam jumlah besar, mereka bekerjasama. Mandra, Diarta, dan Sumantra, bertugas ngorten (membuat sket), lalu anggota sanggar lain, beberapa wanita dan ibu-ibu, meneruskannya dengan pewarnaan. Finishing, atau nyawi, dikontrol langsung oleh Mandra.
Sebagai karya kolektif, tentu gaya Mandra tak bisa tampil sepenuhnya. Namun wayang-wayang yang nirus langsing lancip masih kuat menampakkan ciri khasnya. Bagi mereka yang terbiasa dengan seni lukis wayang klasik Kamasan, bisa langsung mengetahui, mana karya Nyoman Mandra dan anak asuhnya, mana pula karya pelukis lain, yang biasanya tarikan garisnya kasar, tebal, terburu-buru, dan banyak kesalahan.
Kendati lukisan wayang Kamasan menjadi karya seni massal, tapi karya-karya Nyoman Mandra dan anak asuhnya, punya ciri khas dan pesona sendiri. Mereka menyuguhkan garis ekspresi keheningan.
AS


 
 
 
   © Copy Right  SARAD, 2000 - all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD