| Tak
Polisi, Pelukis pun Jadi
Nyoman Mandra bertekad
melestarikan seni lukis klasik Bali. Karyanya, wayang gaya Kamasan yang
langsing, lancip, ayu, tampan, dan flamboyan. Ia menjadi instruktur melukis
bagi anak-anak sekolah dasar, saban sore, di sanggarnya.
Secarik
kertas bisa mengubah sejarah. Itulah yang dialami Nyoman Mandra, pelukis
wayang klasik gaya Kamasan. Ia hanya menyelesaikan pendidikan sampai SMP.
“Begitu tamat saya berniat menjadi polisi,” kenang Mandra. Surat-surat
lamaran dan surat lulus kesehatan yang dicarinya di Klungkung, segera ia
lengkapi. Bergelantungan naik bus ia berangkat pagi-pagi ke Singaraja untuk
melamar jadi polisi, mewujudkan cita-citanya.
Tapi Hyang Widhi berkehendak
lain. Ketika tiba di tempat melamar, Mandra pucat pasi. Ia hanya bisa bengong
melongo ketika meraba-raba kantong celananya. Ia tak menemukan surat-surat
itu selembar pun. “Semuanya hilang, pasti tercecer di jalan ketika berdesakan
di bus,” kata Mandra.
Tentu ia sangat bersedih,
tak mungkin mengajukan lamaran menjadi polisi tanpa secarik surat pun.
Namun bagaimana pun ia harus kembali ke kampung halamannya, Desa Kamasan,
Klungkung. Kemudian ia putuskan untuk meneruskan melukis saja. Sebenarnya
ia sudah terbiasa melukis wayang sejak umur 6 tahun dengan mencorat-coret
di tanah dan tembok rumah yang masih bersih. “Sejak di kelas dua sekolah
dasar saya mulai menggambar wayang di atas kertas,” ujar bapak tiga anak
ini, dua wanita, yang bungsu lanang.
Ia kini pelukis klasik terpenting
yang dimiliki Bali, di tengah gegap gempita seni lukis abstrak atau instalasi
yang bisa meraup uang ratusan juta rupiah. Selain pelukis, Mandra juga
pendaki gunung. Jika kebanyakan orang mendaki gunung untuk berolahraga
dan kegemaran, Mandra justru memanfaatkannya sebagai olah batin dan kegiatan
spiritual. Delapan kali ia memimpin rombongan pendakian dan persembahyangan
ke Pura Luhur Lempuyang, empat kali ke Gunung Batur, lima kali ke Gunung
Abang, dua kali ke Gunung Agung, dan sekali ke Gunung Batukaru. Tentu berkali-kali
lagi akan dilakukannya bertahun-tahun ke depan.
Di
kaki gunung, Mandra mengajak rombongan sembahyang di pura. Melakukan takwa
pada Hyang Widhi, merasakan kebesaran Tuhan, terus menerus ia lakukan sepanjang
pendakian jika mereka menjumpai tempat atau bangunan suci.
Namun lelaki yang lahir
di Banjar Sangging, Kamasan, tahun 1946 ini, dikenal luas tidak sebagai
pecinta alam,tetapi sebagai pelukis yang mengabdikan seluruh hidupnya demi
seni lukis wayang gaya Kamasan.
Minatnya terhadap seni lukis
sudah sangat menonjol sejak ia bocah. Di bangku SMP ia mulai belajar melukis
di atas kanvas, dibimbing Nyoman Dogol, dan belajar mewarnai pada Nengah
Numbreg. Sejak Dogol meninggal tahun 1963, Mandra belajar melukis sendiri.
“Saya belajar dari peninggalan-peninggalan lukisan lama,” akunya.
Sejak tahun 1963 ia melakukan
pameran beruntun di berbagai penjuru dunia, seperti Belanda, Jepang, dan
Amerika Serikat. Karya-karyanya terpajang di gedung-gedung penting: di
gedung MPR Jakarta, di gedung Unesco. Dari sekian pamerannya, yang berkesan
justru ketika ia berpameran bersama anak-anak asuhnya, Agustus 1981, di
kampus ITB, Bandung.
Mandra memang guru yang
terlalu baik. Ia memandang pengabdian sebagai pelukis dan guru sama penting.
Sebagai guru ia memberi pelajaran melukis wayang bagi ratusan anak-anak
sekolah dasar di sanggarnya di Kamasan sejak tahun 1977. Pelajaran dimulai
pk.15.00 selama dua jam penuh, di sebuah bangunan Bali beratap ilalang,
berdinding gedek berukuran 5 x 10 m2. “Sekolah” melukis itu cuma satu kelas.
Anak-anak pemula dan yang sudah belajar selama tiga tahun bergabung. Tak
ada angkatan seperti sekolah atau kursus. Tak ada pemisahan kelas. Tapi
kalau dihitung-hitung, sejak sanggar itu berdiri, sudah 250 anak “tamat”
dari sana, mencakup tujuh angkatan. Ada anak didik yang dulu belajar di
sanggar itu, kini menyerahkan anaknya untuk juga berguru pada Mandra. “Saya
bahkan sudah punya murid bercucu,” jelas Mandra. Maksudnya, yang dulu menyerahkan
anaknya belajar, kini juga mengantar cucunya ke sanggar itu.
Sebagai guru dan panutan
di antara pelukis wayang Kamasan, Mandra mengaku lebih mudah mendidik anak-anak
di tahun 1970-an dibanding sekarang. Ia menyadari, televisi banyak menyita
perhatian anak didiknya, sehingga konsentrasi dan niat belajar melukis
buyar. Tapi Mandra tak menyalahkan televisi. Ia justru memperbaiki dan
meningkatkan kinerja mengajar. “Saya harus lebih nyinyir dibanding dulu,
harus lebih cerwet, mesti lebih tekun, dan menyediakan lebih banyak waktu
untuk mendidik mereka,” ujarnya.
Karena begitu banyak ia
punya murid, pedagang lukisan wayang di kota Klungkung pun suka memanfaatkan
kondisi ini. Jika seseorang membeli lukisan, si pedagang akan berpromosi,
“Ini karya murid Nyoman Mandra, lihat lukisannya, bagus, halus, rapi.”
Pembeli akan meneliti detail lukisan itu, namun tentu tak sanggup membedakan
apakah itu karya murid Mandra atau bukan. Semestinya ia membeli langsung
karya Mandra, tapi harganya mahal, termahal di antara seluruh karya pelukis
Kamasan.
Mandra guru yang sangat
tekun dan begitu sabar. Ia memberi pelajaran, membimbing, membuat contoh
garis, dan memperbaiki karya anak-anak itu satu per satu. Ia seperti seorang
ayah bagi 40 anak di satu kelas, yang belajar melukis di sanggarnya saban
sore. Sering ia menuntun anak-anak itu duduk santai di lantai teras kelas.
“Tapi kalau saya lagi sibuk, misalnya ada kegiatan adat, anak-anak saya
liburkan,” katanya. Jika hari Minggu anak-anak itu masuk pagi, tidak untuk
belajar melukis, tapi bergotongroyong membersihkan balai banjar Sangging,
tempat Mandra tercatat sebagai warganya.
Jika orang-orang berkunjung
ke sanggarnya, yang terkesan tidak cuma Mandra sebagai pelukis, tapi bagaimana
ia melakoni hidup sehari-hari sebagai guru anak-anak yang belajar tanpa
bayar. Ia disegani sebagai orang yang sangat gigih melestarikan seni lukis
klasik wayang Kamasan lewat pendidikan yang terencana. “Cita-cita saya
memang melestarikan seni lukis Kamasan,” akunya. “Itu sudah saya tekadkan
sejak tahun 1977.”
Ketika itu perhatian pada
seni lukis Kamasan sangat kecil. Bahkan menurut Mandra, nyaris punah. Banyak
anak muda yang berhenti melukis dan beralih ke kerajinan perak, membuat
bokor. Sebab waktu itu bokor, sangku, dibutuhkan oleh masyarakat Bali untuk
upacara adat dan agama. Terampil di kerajinan perak lebih menjamin kelangsungan
hidup tinimbang menjadi pelukis.
Tahun 1963 Gunung Agung
meletus. Sawah-sawah di Kamasan terkubur debu letusan gunung. Desa Tangkas,
tetangga Kamasan, bahkan diurug lahar. Rakyat susah cari makan. Keadaan
paceklik. Ekonomi kian sulit ketika dua tahun kemudian meledak peristiwa
G-30-S/PKI. Banyak pelukis wayang banting haluan waktu itu. Mereka beralih
ke kerajinan perak karena orang-orang Bali masih ada yang membelinya untuk
keperluan upacara. “Seingat saya hanya lima orang yang bertahan melukis
wayang,” kenang Mandra. Baru setelah turisme tumbuh, seni lukis wayang
klasik Bali itu kembali bernafas. Wisatawan mulai membelinya.
Sekarang
bahkan banyak lukisan wayang yang dibuat asal jadi, biar bisa dijual murah
untuk cinderamata. Justru kerajinan perak kini sangat kurang diminati wisatawan
asing. Tak heran, banyak orang Kamasan mendua: mengerjakan perak kalau
lagi ada pesanan, lalu melukis wayang jika memang lukisan yang lagi laku.
Jika akhirnya kini seni
lukis Kamasan bertahan, dan wisatawan ramai membeli, semua itu memberi
kepuasan jiwa bagi Mandra. Ini memang hasil perjuangan yang menjadi panggilan
hidupnya. Anak asuhnya memperoleh berbagai penghargaan dari lomba seni
lukis internasional. Antara lain sebuah medali emas untuk lomba lukis anak-anak
yang diselenggarakan Unesco, 7 medali perak, 6 medali perunggu, dan 24
tanda penghargaan internasional dan nasional.
Tentu ia bahagia anak-anak
asuhnya berhasil di panggung internasional. Banyak di antara mereka bahkan
yang kini hidup semata-mata dari melukis. Mereka sudah pasang papan nama
di depan rumahnya, mengikuti jejak sang guru. Karena itu orang tua yang
menyuruh anak-anaknya berguru pada Nyoman Mandra berujar, ”Datanglah
ke Pak Man, mintalah makan di sana.” Anak-anak yang belajar pada Mandra
tidak semata untuk bisa melukis, tapi mulai mengenal bagaimana melukis
sebagai nafkah untuk penghidupan kelak. Jika mereka belajar menarik garis,
pada akhirnya itu akan sangat berarti bagi perekonomian keluarga.
Tak ada kesan formal belajar
di sanggar Mandra. Anak-anak kalau jenuh menggambar diberi kebebasan bermain,
memanjat pohon mangga di halaman yang di tengahnya ada kolam bundar dengan
bunga teratai putih. “Saya senang kalau melihat anak-anak bercanda,” kata
Mandra. Kelas pun penuh tawa riang, banyak canda. Di dinding tergantung
papan kecil berisi nama-nama yang menjadi donatur. Para donatur juga membeli
karya anak-anak itu. Uangnya sebagian untuk si anak. Mereka mulai mengenal,
dengan melukis bisa mendapatkan uang, bisa untuk beli sepatu atau seragam
sekolah.
Sebulan setelah anak-anak
itu belajar, ayahnya akan datang secara khusus pada Mandra, menyampaikan
harapan si anak bisa dibimbing terus sebaik mungkin seperti Mandra mengurus
anak sendiri. Pertama kali belajar si anak datang sendiri, kendati itu
atas niat orang tua. “Soalnya bisa repot kalau langsung orang tuanya yang
datang. Ya kalau si anak betah, jika tidak, tentu tak enak perasaan si
ayah yang sudah capek-capek mengantarnya ke saya, kemudian anaknya kabur
dari kelas dan tak sudi kembali,” ujar Mandra.Anak lanang Mandra yang bungsu,
Komang (16) ikut belajar di sanggar itu.
Kendati Mandra punya bengkel
kerja untuk menyelesaikan lukisan pesanan yang digarap kolektif, namun
ia senantiasa mengarahkan anak didiknya untuk menjadi pelukis mandiri.
Ia sadar, tukang gosok kanvas, pemberi warna, atau penghalus terakhir,
dikerjakan oleh orang-orang yang tak perlu memiliki kemampuan mandiri dalam
melukis. Namun Mandra tetap menginginkan, generasi penerus seni lukis wayang
Kamasan hendaklah mereka yang bisa melukis sendiri tanpa bantuan siapa
pun, seperti yang dilakukan Mandra kalau ia melukis. Karena itu ia pantang
membubuhkan namanya di kanvas karya murid-muridnya, atau karya yang dikerjakan
kolektif, seberapa pun mirip karya Mandra dengan karya itu. Ia juga tak
mau meminta bantuan siapa pun kalau lukisan itu memang dikerjakannya sendiri,
atas nama dirinya. Ia membedakan dengan tegas mana karya kolektif, mana
pula karya pribadi.
Mandra sering memperoleh
pesanan lukisan dari hotel berbintang. Ia juga acap menerima pesanan dari
panitia seminar internasional di Denpasar yang membutuhkan map bergambar
wayang Kamasan untuk kit seminar. “Semua itu kami kerjakan secara kolektif,”
katanya. Mandra bertugas ngorten (membuat sket dengan pensil), lalu anggota
sanggar, terdiri dari ibu-ibu, anak-anak SD, SMP, SMA, dan remaja yang
tak meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, akan menyelesaikannya. Maka
Mandra adalah seorang guru, pelukis, manajer, dan pencipta lapangan kerja.
Sebagai orang desa, Nyoman
Mandra menikmati peran itu dengan bahagia.
AS
|
| Goresan
Sepenuh Hati dari Kamasan
Karya-karya Nyoman Mandra
adalah wayang-wayang yang langsing, lancip, ayu, tampan, dan flamboyan.
Garis-garisnya sangat halus, lembut, jelas, dan menyiratkan keheningan.
Kepada murid-muridnya ia selalu menekankan, “Kalau menggambar wayang, pensil
kalian harus selalu runcing!” Ia sangat kuat dengan detail. Semua goresannya
adalah hasil gerakan tangan yang sangat teliti dan sepenuh hati.
Karya-karyanya
yang ia simpan di ruang khusus tak begitu banyak. Tapi lukisan-lukisan
itu, sebagian hitam putih, seperti Bisma Gugur, atau Sutasoma yang berwarna
klasik khas Kamasan, menyiratkan goresan sepenuh jiwa. Karya-karya Mandra,
yang mengambil tema cerita Mahabharata, seperti bentangan filosofi yang
ditumpahkan ke kanvas, menjadi detail garis yang mencerminkan kehalusan
dan keluhuran budi.Berdiri di depan karyanya, penikmat diajak merenung,
menelusuri setiap tarikan garis, lalu bergumam, “Ini sekumpulan garis seperti
jiwa terbang melayang, tapi tajam dengan asal usul yang jelas. “
Garis tipis, runcing, langsing,
juga menjadi ciri karya-karya murid Nyoman Mandra. Dua anak didiknya yang
paling menguasai kemahiran sang guru adalah Made Diartha dan Wayan Pande
Sumantra. Diarta bahkan pelukis wayang hitam putih terbaik saat ini di
Kamasan. Dan Sumantra pelukis yang sangat produktif. Kedua murid ini punya
bengkel kerja di rumah masing-masing. Tapi jika Mandra mendapat pesanan
dalam jumlah besar, mereka bekerjasama. Mandra, Diarta, dan Sumantra, bertugas
ngorten (membuat sket), lalu anggota sanggar lain, beberapa wanita dan
ibu-ibu, meneruskannya dengan pewarnaan. Finishing, atau nyawi, dikontrol
langsung oleh Mandra.
Sebagai karya kolektif,
tentu gaya Mandra tak bisa tampil sepenuhnya. Namun wayang-wayang yang
nirus langsing lancip masih kuat menampakkan ciri khasnya. Bagi mereka
yang terbiasa dengan seni lukis wayang klasik Kamasan, bisa langsung mengetahui,
mana karya Nyoman Mandra dan anak asuhnya, mana pula karya pelukis lain,
yang biasanya tarikan garisnya kasar, tebal, terburu-buru, dan banyak kesalahan.
Kendati lukisan wayang Kamasan
menjadi karya seni massal, tapi karya-karya Nyoman Mandra dan anak asuhnya,
punya ciri khas dan pesona sendiri. Mereka menyuguhkan garis ekspresi keheningan.
AS
|