Salut dan Sukses
Salut buat Sarad, semoga
terus berbenah untuk lebih maju, Semoga tetap "yarad Bali".
I
Made Sudiana
Denpasar,
Indonesia
mades@dps.mega.net.id
Selamat dan sukses selalu,
senang bisa baca tentang Bali (tiang anak Bali-Lombok)
I
Nyoman Widya
Vienna,
Austria
Idhik@hotmail.com
Om Swastyastu
Semoga Hyang Widhi memberkati
kita semua.. Yang jelas SARAD adalah salah satu media yang kita inginkan
dan kita impikan bersama. Semoga masih ada lagi media-media lain yang akan
muncul dengan format berbeda, yang akan memberi kita sesuatu yang baru
dan berguna bagi perkembangan agama dan kebudayaan kita..Salut buat SARAD
semoga isi dan materinya bertambah lagi.
Salam Damai.
Ngakan
Made Sudana P.
Jakarta,
Indonesia
made@bu.astra.co.i
Selamat dan terima
kasih atas kehadiranmu SARA. Saya senantiasa brdoa, semoga lebih berkembang.
Tolong SARAD agar mencermati juga masalah perubahan-perubahan kultur budaya,
prilaku akibat masuknya budaya asing yang heterogen. Terus terang aku menyayangkan
jika sampai Bali terkoyak-koyak oleh budaya asing terutama perilaku generasi
mudanya.
Penyajian bahasa, layout/disain
(web-nya) aku salut. Sangat menarik (maaf layout ini apakah sama dengan
edisi majalahnya?) Bagaimana kalau SARAD dibuat dalam edisi elektronik
(CD/file berformat *.pdf dari adobe acrobat). Sayang jika sesuatu yang
bernilai tinggi dan merupakan karya besar yang patut dinikmati dan dijadikan
kajian cermin anak cucu kita nanti. Apalagi foto-fotonya bisa jadi saksi/nostalgia
di kemudian hari. Tentu banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan.
Selamat berprestasi.....merdeka.
Yogi
Nada
Surabaya,
Indonesia
yogi_nada@yahoo.com
Om Swastyastu,
Selamat atas penerbitan
majalah SARAD edisi web yang telah terhitung 5 edisi. Melalui artikel-artikel
SARAD kami yang di seberang Pasifik juga bisa mengetahui permasalahan terkini
maupun tradisional di Bali sehingga tidak merasa ketinggalan. Kami sampaikan
selamat sekali lagi dan semoga majalah SARAD sukses selalu.
Om Santi Santi Santi Om.
Ida
Ayu A. Nilawati Wada
Tokyo,
Jepang
bali@tokyo.email.ne.jp
Penerjemahan Weda
Ketika hadir dalam acara
Dharma Santi Nyepi 1922 Saka di Prambanan beberapa bulan lalu, Presiden
Gus Dur sempat menyampaikan harapan menarik. Di sana dijelaskan agar umat
Hindu segera menerbitkan kitab-kitab Weda ke dalam bahasa Indonesia, sehingga
ajaran Weda tersebut dapat dibaca secara langsung oleh umat. Ini gagasan
sekaligus harapan Kepala Negara yang sangat simpatik, menyejukkan, dan
relevan bagi Hindu di Tanah Air.
Terkait itu, saya lantas
bertanya-tanya: apakah ide harapan itu sudah mulai ditindaklanjuti secara
konkret? Beberapa waktu berselang setelah itu di sebuah harian lokal Bali
saya membaca ada upaya membentuk tim penerjemah Weda. Sudah sejauh mana
jalannya?
Terus terang saja, daripada
pihak-pihak tertentu tak bosan-bosan menghujat Parisada, saling menyalahkan
sesama umat, apa tidak sebaiknya mendukung program nyata menerjemahkan
kitab suci Weda ini (termasuk di bali lontar-lontar utama) ke dalam bahasa
Indonesia sehingga bisa dinikmati oleh segenap umat. Misalnya, bagaimana
kalau dilakukan pengumpulan dana Rp 1.000 (seribu rupiah) dari umat untuk
maksud tersebut. Mekanismenya bisa saja dibikin kesepakatan dulu oleh lembaga
umat, asalkan kemudian benar-benar dipertanggungjawabkan secara terbuka
kepada publik. Saya kira umat tak akan terlalu keberatan dan hasil dananya
pasti juga gede.
Saya juga usulkan, agar
dalam penerbitan terjemahan Weda tersebut disertakan pula teks asli dalam
bahasa dan aksara aslinya, baru kemudian terjemahan dalam bahasa Indonesia
dengan huruf Latin. Hal ini perlu untuk memberi peluang bagi pembaca yang
ingin mengenal teks asli untuk memberikan penafsiran lain, selain penafsiran
makna oleh tim penerjemah.
Sejauh ini saya memang sering
membaca komentar yang menyebutkan kembali ke Weda. Saya jadi bingung, apa
maksudnya? Apakah selama ini kehidupan keagamaan di Bali memang tak sesuai
Weda? Rasanya tidaklah begitu. Ironisnya, tanpa maksud melecehkan, apakah
mereka yang mengatakan kembali ke Weda tersebut memang benar-benar semuanya
sudah membaca Weda, atau sekadar ikut-ikutan tanpa tahu isinya? Semoga
memang bukan atas dasar sekadar latah, soalnya di Bali, bahkan di negeri
ini, rasanya sudah sangat biasa orang latah; satu bilang A lantas dipublikasikan,
eh tahu-tahunya semua bilang A –padahal omongan si A juga tak benar.
Putu
Januardara
Jl
Danau Tamblingan
Sanur,
Bali
Hati-hati Budaya Jalan
Saya pembaca setia SARAD
sejak nomor 1, dan sangat tertarik dengan ulasan mendalam SARAD Nomor 2/Tahun
I, Februari 2000. Dalam PARUMAN yang membahas soal tergusurnya budaya air
masyarakat Bali oleh budaya jalan dibentangkan secara jelas akibat-akibat
riil yang bisa muncul –yang nyatanya memang merugikan masyarakat Bali sendiri.
Selayaknya para pengambil keputusan di daerah ini memperhatikan betul isyarat
awal yang disampaikan SARAD tersebut.
Terkait dengan itu, suatu
perubahan yang sudah pasti terlihat adalah pergeseran orientasi dari Ulun
Danu di Batur sebagai sumber air di Bali ke Bandara Ngurah Rai di Tuban.
Kini pusat orientasi dan distribusi sosial di Bali tampak sudah diambil
alih oleh Bandara. Maka manakala Bandara direncanakan akan diperluas seyogyanya
masyarakat Bali secara bersama-sama mewaspadainya. Jargon yang digunakan
memang menggunakan istilah kapasitas dan target angka kunjungan wisatawan.
Namun akibat serta risiko yang dihadapi Bali siapa yang menanggung? Pembabatan
hutan bakau untuk perluasan Bandara, misalnya, siapa yang menanggung akibatnya,
mengingat hutan bakau itu juga sebagai paru-paru kota bahkan Bali? Saya
tak mendengar ada penggantiannya dalam areal yang sama luasnya?
Lagi pula kalau dasar pertimbangannya
ekonomi, benarkah masyarakat Bali yang untung? Bukankah secara ekonomi,
pusat mengambil terlalu banyak dari Bali? Bandara, misalnya, apa yang bisa
didapatkan Bali dari sini secara ekonomi dalam arti langsung, sementara
parkir saja tak tersentuh Pemda Badung padahal areal Bandara jelas berada
di wilayah Badung. Katanya kini era otonomi daerah, tapi kok semua aset
pusat di Bali masih saja dikukuhi pusat?
Sudah sepatutnya semua pihak
mengkaji sungguh-sungguh isyarat yang dipaparkan di SARAD tersebut bila
tak ingin Bali ini ‘tenggelam’ dalam multimakna. Terima kasih.
Susila
Darma
Jl
Anyelir, Denpasar
Besakih, oh, Besakih (1)
Membaca SARAD Nomor 4/Tahun
I, edisi April 2000, hati saya jadi terenyuh. Betapa Pura Kahyangan Jagat
terbesar di Bali, bahkan di Nusantara, itu memendam persoalan yang sedemikian
ironis. Di satu sisi umat Hindu di Tanah Air begitu menghormati, di sisi
lain dari kalangan umat sendiri pula begitu ‘tega’ mempermainkan kawasan
yang disebutkan SARAD sebagai hulu dan ‘yang tersuci’ di Bali tersebut.
Sekaligus sebagai ‘Tanah Air’ Bali.
Terus terang, semula saya
rada ragu menerima kenyataan yang diungkapkan oleh SARAD. Namun setelah
pada saat panyineban karya Batara Turun Kabeh yang lalu saya kebetulan
juga hadir di Pura Agung Besakih, sungguh keraguan saya itu pun sirna.
Pihak pangemong Pura Agung Besakih setelah usai acara mengumumkan jumlah
dana punia yang didapat selama karya, termasuk aturan dari pihak Pemda
Bali. Yang bikin saya tidak habis mengerti, di sana diumumkan dana yang
diberikan oleh pihak Pemda Bali tersebut ternyata harus dikembalikan lagi.
Kalau saya tak salah dengar dan tak salah ingat, besarnya sekitar Rp 200
juta.
Yang bikin saya tak habis
mengerti, kenapa dana itu harus dikembalikan lagi ke Pemda Bali? Soalnya,
di satu sisi saya membaca dan mendengar, kabarnya sisa dana punia umat
yang diperoleh lewat beberapa kali karya agung di Besakih kini dipegang
pihak Pemda Bali sampai Rp 3 miliar (saya anggap saja jumlah ini benar,
karena sampai detik ini tak ada klarifikasi dari pihak Pemda Bali, entah
siapa yang berwenang menjawabnya. Kalau dikatakan tak membaca atau tak
mendengar, itu tentu mustahil karena sedemikian ramainya diperbincangkan
di media massa). Padahal lagi, dana yang dipinjamkan Pemda Bali tersebut
–dan harus dikembalikan lagi—konon justru berasal dari dana punia umat
itu. Benarkah ini?
Saya mohon, agar pihak berwenang
yang kini mengelola sisa dana punia umat yang kini konon dikelola oknum
di Pemda Bali (Gubernuran) tersebut secara jantan membeberkannya di media
massa. Sesungguhnya, apa sih yang ditakutkan? Bertanggung jawablah secara
terbuka, jangan pura-pura buta bongol. Hanya dengan keterbukaan akan membikin
orang lain tak menaruh curiga pada Anda (saya terpaksa sebut Anda, karena
hingga kini tak jelas, entah siapa yang berwenang, siapa yang mengatasnamakan
simpanan dana itu di bank, kalau memang ditaruh di bank). Semoga Anda dikaruniai
keselamatan dan kesejahteraan oleh Hyang Widhi dengan berlaku terbuka kepada
umat. Ingatlah, itu bukan uang Anda. Itu uang umat yang dihaturkan kepada
Ida Batara di Pura Agung Besakih.
Umumkanlah secara terbuka
di media massa: berapa dana masuk, berapa dikeluarkan, untuk apa saja,
atas nama siapa, bagaimana prosedur pencairannya, dan lain-lain secara
lengkap. Dan, akhirnya yang lebih penting: segeralah kembalikan kepada
pihak pangemong Pura Agung Besakih untuk mengelolanya, sehingga kalau ada
karya lagi tak perlu merengek-rengek sebagaimana menjelang Batara Turun
Kabeh yang lalu. Jangan dibalik-balik: orang minta duitnya sendiri kok
malah susah atau dipersusah.
Nyoman
Wenten
Jl
Kenyeri, Denpasar
Besakih, Oh, Besakih (2)
Haru, girang, tersentuh,
penasaran, kagum. Begitulah perasaan saya ketika membaca laporan utama
(paruman) SARAD edisi April 2000 tentang Pura Agung Besakih. Saya tak habis-habisnya
berpikir, kok masih saja tega-teganya ada orang yang sampai menjadikan
pura terbesar itu sebagai ‘proyek’? Bahkan sampai mencarikan dana pinjaman
ke pihak asing hanya untuk memperbaikinya? Begitu tak peduli, begitu miskinnyakah
kita di Bali, sampai ngurus pura, tempat suci, sendiri tak mampu? Masa
sih para insinyur arsitek asli Bali yang kini masih menetap di Bali tak
ada rasa bakti untuk tidak mengambil fee dari tempat ibadah semacam Besakih?
Mohon semua pihak sadar
dan introspeksi dirilah. Saya yakin masih banyak yang ngayah dengan amat
sangat tulus. Mohon yang berniat tidak tulus, yang mengaku ngayah tapi
nyatanya dapat gaji dari menjadikan Besakih sebagai projek, sadarlah. Malulah
pada para sameton kita yang benar-benar tulus ngayah. Sekali lagi, tunjukkanlah
bakti Anda, untuk pura yang disungsung gumi.
Melalui surat ini saya menghimbau
dan mengingatkan, jangan terbuai oleh nikmat sesaat namun akhirnya sesat
sepanjang hayat. Bahkan, sampai anak cucu ikut menanggung karma Anda. Apalagi
kalau sampai ada dari kalangan kampus, atau mereka yang bergelar sarjana
ikut juga memetik keuntungan dari proyek Besakih, sepatutnya sangat malu
dengan para panglingsir yang tak tamat sekolah dasar namun beliau-beliau
ngayah dengan penuh bakti tulus.
Semoga kita semua tetap
dalam asung kerta waranugraha Ida Batara-Batari sami.
Om Santi Santi Santi Om.
Prasistha
Adnyana
Jl
Pahlawan, Singaraja
Kirim surat, pertanyaan
dan pendapat anda seputar Bali
Surat
anda akan dimuat dalam rubrik Sewalapatra - Surat Pembaca
edisi cetak dan edisi web
Kirimkan ke:
red@saradbali.com
Rubrik TATTWA,
SUSILA
, UPAKARA dan DRESTA
adalah rubrik konsultasi
menyangkut berbagai hal
berkaitan dengan Hindu, Adat dan Budaya Bali
Kirimkan pertanyaan anda
ke redaksi untuk mendapat jawaban dari narasumber Sarad
"Matur
dahat suksma"
Terimakasih !
|