logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 SEWALAPATRA
SURAT PEMBACA
 
 


Salut dan Sukses
Salut buat Sarad, semoga terus berbenah untuk lebih maju, Semoga tetap "yarad Bali". 
I Made Sudiana
Denpasar, Indonesia
mades@dps.mega.net.id
 

Selamat dan sukses selalu, senang bisa baca tentang Bali (tiang anak Bali-Lombok) 
I Nyoman Widya
Vienna, Austria
Idhik@hotmail.com
 

Om Swastyastu
Semoga Hyang Widhi memberkati kita semua.. Yang jelas SARAD adalah salah satu media yang kita inginkan dan kita impikan bersama. Semoga masih ada lagi media-media lain yang akan muncul dengan format berbeda, yang akan memberi kita sesuatu yang baru dan berguna bagi perkembangan agama dan kebudayaan kita..Salut buat SARAD semoga isi dan materinya bertambah lagi.
Salam Damai.
Ngakan Made Sudana P.
Jakarta, Indonesia
made@bu.astra.co.i
 

 Selamat dan terima kasih atas kehadiranmu SARA. Saya senantiasa brdoa, semoga lebih berkembang. Tolong SARAD agar mencermati juga masalah perubahan-perubahan kultur budaya, prilaku akibat masuknya budaya asing yang heterogen. Terus terang aku menyayangkan jika sampai Bali terkoyak-koyak oleh budaya asing terutama perilaku generasi mudanya. 
Penyajian bahasa, layout/disain (web-nya) aku salut. Sangat menarik (maaf layout ini apakah sama dengan edisi majalahnya?) Bagaimana kalau SARAD dibuat dalam edisi elektronik (CD/file berformat *.pdf dari adobe acrobat). Sayang jika sesuatu yang bernilai tinggi dan merupakan karya besar yang patut dinikmati dan dijadikan kajian cermin anak cucu kita nanti. Apalagi foto-fotonya bisa jadi saksi/nostalgia di kemudian hari. Tentu banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan.
Selamat berprestasi.....merdeka.
Yogi Nada
Surabaya, Indonesia
yogi_nada@yahoo.com
 

Om Swastyastu,
Selamat atas penerbitan majalah SARAD edisi web yang telah terhitung 5 edisi. Melalui artikel-artikel SARAD kami yang di seberang Pasifik juga bisa mengetahui permasalahan terkini maupun tradisional di Bali sehingga tidak merasa ketinggalan. Kami sampaikan selamat sekali lagi dan semoga majalah SARAD sukses selalu.
Om Santi Santi Santi Om.
Ida Ayu A. Nilawati Wada
Tokyo, Jepang
bali@tokyo.email.ne.jp

Penerjemahan Weda
Ketika hadir dalam acara Dharma Santi Nyepi 1922 Saka di Prambanan beberapa bulan lalu, Presiden Gus Dur sempat menyampaikan harapan menarik. Di sana dijelaskan agar umat Hindu segera menerbitkan kitab-kitab Weda ke dalam bahasa Indonesia, sehingga ajaran Weda tersebut dapat dibaca secara langsung oleh umat. Ini gagasan sekaligus harapan Kepala Negara yang sangat simpatik, menyejukkan, dan relevan bagi Hindu di Tanah Air. 
Terkait itu, saya lantas bertanya-tanya: apakah ide harapan itu sudah mulai ditindaklanjuti secara konkret? Beberapa waktu berselang setelah itu di sebuah harian lokal Bali saya membaca ada upaya membentuk tim penerjemah Weda. Sudah sejauh mana jalannya? 
Terus terang saja, daripada pihak-pihak tertentu tak bosan-bosan menghujat Parisada, saling menyalahkan sesama umat, apa tidak sebaiknya mendukung program nyata menerjemahkan kitab suci Weda ini (termasuk di bali lontar-lontar utama) ke dalam bahasa Indonesia sehingga bisa dinikmati oleh segenap umat. Misalnya, bagaimana kalau dilakukan pengumpulan dana Rp 1.000 (seribu rupiah) dari umat untuk maksud tersebut. Mekanismenya bisa saja dibikin kesepakatan dulu oleh lembaga umat, asalkan kemudian benar-benar dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada publik. Saya kira umat tak akan terlalu keberatan dan hasil dananya pasti juga gede. 
Saya juga usulkan, agar dalam penerbitan terjemahan Weda tersebut disertakan pula teks asli dalam bahasa dan aksara aslinya, baru kemudian terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan huruf Latin. Hal ini perlu untuk memberi peluang bagi pembaca yang ingin mengenal teks asli untuk memberikan penafsiran lain, selain penafsiran makna oleh tim penerjemah. 
Sejauh ini saya memang sering membaca komentar yang menyebutkan kembali ke Weda. Saya jadi bingung, apa maksudnya? Apakah selama ini kehidupan keagamaan di Bali memang tak sesuai Weda? Rasanya tidaklah begitu. Ironisnya, tanpa maksud melecehkan, apakah mereka yang mengatakan kembali ke Weda tersebut memang benar-benar semuanya sudah membaca Weda, atau sekadar ikut-ikutan tanpa tahu isinya? Semoga memang bukan atas dasar sekadar latah, soalnya di Bali, bahkan di negeri ini, rasanya sudah sangat biasa orang latah; satu bilang A lantas dipublikasikan, eh tahu-tahunya semua bilang A –padahal omongan si A juga tak benar.
Putu Januardara
Jl Danau Tamblingan
Sanur, Bali

Hati-hati Budaya Jalan 
Saya pembaca setia SARAD sejak nomor 1, dan sangat tertarik dengan ulasan mendalam SARAD Nomor 2/Tahun I, Februari 2000. Dalam PARUMAN yang membahas soal tergusurnya budaya air masyarakat Bali oleh budaya jalan dibentangkan secara jelas akibat-akibat riil yang bisa muncul –yang nyatanya memang merugikan masyarakat Bali sendiri. Selayaknya para pengambil keputusan di daerah ini memperhatikan betul isyarat awal yang disampaikan SARAD tersebut. 
Terkait dengan itu, suatu perubahan yang sudah pasti terlihat adalah pergeseran orientasi dari Ulun Danu di Batur sebagai sumber air di Bali ke Bandara Ngurah Rai di Tuban. Kini pusat orientasi dan distribusi sosial di Bali tampak sudah diambil alih oleh Bandara. Maka manakala Bandara direncanakan akan diperluas seyogyanya masyarakat Bali secara bersama-sama mewaspadainya. Jargon yang digunakan memang menggunakan istilah kapasitas dan target angka kunjungan wisatawan. Namun akibat serta risiko yang dihadapi Bali siapa yang menanggung? Pembabatan hutan bakau untuk perluasan Bandara, misalnya, siapa yang menanggung akibatnya, mengingat hutan bakau itu juga sebagai paru-paru kota bahkan Bali? Saya tak mendengar ada penggantiannya dalam areal yang sama luasnya? 
Lagi pula kalau dasar pertimbangannya ekonomi, benarkah masyarakat Bali yang untung? Bukankah secara ekonomi, pusat mengambil terlalu banyak dari Bali? Bandara, misalnya, apa yang bisa didapatkan Bali dari sini secara ekonomi dalam arti langsung, sementara parkir saja tak tersentuh Pemda Badung padahal areal Bandara jelas berada di wilayah Badung. Katanya kini era otonomi daerah, tapi kok semua aset pusat di Bali masih saja dikukuhi pusat?
Sudah sepatutnya semua pihak mengkaji sungguh-sungguh isyarat yang dipaparkan di SARAD tersebut bila tak ingin Bali ini ‘tenggelam’ dalam multimakna. Terima kasih.
Susila Darma
Jl Anyelir, Denpasar
 

Besakih, oh, Besakih (1)
Membaca SARAD Nomor 4/Tahun I, edisi April 2000, hati saya jadi terenyuh. Betapa Pura Kahyangan Jagat terbesar di Bali, bahkan di Nusantara, itu memendam persoalan yang sedemikian ironis. Di satu sisi umat Hindu di Tanah Air begitu menghormati, di sisi lain dari kalangan umat sendiri pula begitu ‘tega’ mempermainkan kawasan yang disebutkan SARAD sebagai hulu dan ‘yang tersuci’ di Bali tersebut. Sekaligus sebagai ‘Tanah Air’ Bali. 
Terus terang, semula saya rada ragu menerima kenyataan yang diungkapkan oleh SARAD. Namun setelah pada saat panyineban karya Batara Turun Kabeh yang lalu saya kebetulan juga hadir di Pura Agung Besakih, sungguh keraguan saya itu pun sirna. Pihak pangemong Pura Agung Besakih setelah usai acara mengumumkan jumlah dana punia yang didapat selama karya, termasuk aturan dari pihak Pemda Bali. Yang bikin saya tidak habis mengerti, di sana diumumkan dana yang diberikan oleh pihak Pemda Bali tersebut ternyata harus dikembalikan lagi. Kalau saya tak salah dengar dan tak salah ingat, besarnya sekitar Rp 200 juta. 
Yang bikin saya tak habis mengerti, kenapa dana itu harus dikembalikan lagi ke Pemda Bali? Soalnya, di satu sisi saya membaca dan mendengar, kabarnya sisa dana punia umat yang diperoleh lewat beberapa kali karya agung di Besakih kini dipegang pihak Pemda Bali sampai Rp 3 miliar (saya anggap saja jumlah ini benar, karena sampai detik ini tak ada klarifikasi dari pihak Pemda Bali, entah siapa yang berwenang menjawabnya. Kalau dikatakan tak membaca atau tak mendengar, itu tentu mustahil karena sedemikian ramainya diperbincangkan di media massa). Padahal lagi, dana yang dipinjamkan Pemda Bali tersebut –dan harus dikembalikan lagi—konon justru berasal dari dana punia umat itu. Benarkah ini? 
Saya mohon, agar pihak berwenang yang kini mengelola sisa dana punia umat yang kini konon dikelola oknum di Pemda Bali (Gubernuran) tersebut secara jantan membeberkannya di media massa. Sesungguhnya, apa sih yang ditakutkan? Bertanggung jawablah secara terbuka, jangan pura-pura buta bongol. Hanya dengan keterbukaan akan membikin orang lain tak menaruh curiga pada Anda (saya terpaksa sebut Anda, karena hingga kini tak jelas, entah siapa yang berwenang, siapa yang mengatasnamakan simpanan dana itu di bank, kalau memang ditaruh di bank). Semoga Anda dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan oleh Hyang Widhi dengan berlaku terbuka kepada umat. Ingatlah, itu bukan uang Anda. Itu uang umat yang dihaturkan kepada Ida Batara di Pura Agung Besakih. 
Umumkanlah secara terbuka di media massa: berapa dana masuk, berapa dikeluarkan, untuk apa saja, atas nama siapa, bagaimana prosedur pencairannya, dan lain-lain  secara lengkap. Dan, akhirnya yang lebih penting: segeralah kembalikan kepada pihak pangemong Pura Agung Besakih untuk mengelolanya, sehingga kalau ada karya lagi tak perlu merengek-rengek sebagaimana menjelang Batara Turun Kabeh yang lalu. Jangan dibalik-balik: orang minta duitnya sendiri kok malah susah atau dipersusah.
Nyoman Wenten
Jl Kenyeri, Denpasar
 

Besakih, Oh, Besakih (2)
Haru, girang, tersentuh, penasaran, kagum. Begitulah perasaan saya ketika membaca laporan utama (paruman) SARAD edisi April 2000 tentang Pura Agung Besakih. Saya tak habis-habisnya berpikir, kok masih saja tega-teganya ada orang yang sampai menjadikan pura terbesar itu sebagai ‘proyek’? Bahkan sampai mencarikan dana pinjaman ke pihak asing hanya untuk memperbaikinya? Begitu tak peduli, begitu miskinnyakah kita di Bali, sampai ngurus pura, tempat suci, sendiri tak mampu? Masa sih para insinyur arsitek asli Bali yang kini masih menetap di Bali tak ada rasa bakti untuk tidak mengambil fee dari tempat ibadah semacam Besakih? 
Mohon semua pihak sadar dan introspeksi dirilah. Saya yakin masih banyak yang ngayah dengan amat sangat tulus. Mohon yang berniat tidak tulus, yang mengaku ngayah tapi nyatanya dapat gaji dari menjadikan Besakih sebagai projek, sadarlah. Malulah pada para sameton kita yang benar-benar tulus ngayah. Sekali lagi, tunjukkanlah bakti Anda, untuk pura yang disungsung gumi. 
Melalui surat ini saya menghimbau dan mengingatkan, jangan terbuai oleh nikmat sesaat namun akhirnya sesat sepanjang hayat. Bahkan, sampai anak cucu ikut menanggung karma Anda. Apalagi kalau sampai ada dari kalangan kampus, atau mereka yang bergelar sarjana ikut juga memetik keuntungan dari proyek Besakih, sepatutnya sangat malu dengan para panglingsir yang tak tamat sekolah dasar namun beliau-beliau ngayah dengan penuh bakti tulus.
Semoga kita semua tetap dalam asung kerta waranugraha Ida Batara-Batari sami.
Om Santi Santi Santi Om.
Prasistha Adnyana
Jl Pahlawan, Singaraja


Kirim surat, pertanyaan dan pendapat anda seputar Bali
 Surat anda akan dimuat dalam rubrik Sewalapatra - Surat Pembaca
edisi cetak dan edisi web
Kirimkan ke:
red@saradbali.com


Rubrik TATTWA, SUSILA , UPAKARA dan DRESTA adalah rubrik konsultasi
menyangkut berbagai hal berkaitan dengan Hindu, Adat dan Budaya Bali
Kirimkan pertanyaan anda ke redaksi untuk mendapat jawaban dari narasumber Sarad
"Matur dahat suksma"
Terimakasih !


 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD