| Menghargai
Pekerja dengan Dispensasi Adat
Di Bali karyawan sering
absen karena mengikuti acara adat. Agar tak terjadi benturan antara karyawan
dengan pengusaha, para manajer perlu diberi pengetahuan tentang adat dan
budaya Bali.
Tiba-tiba, tung.... tung...
tung.... kulkul dipukul di balai banjar. Pan Mara baru saja bangun tidur.
Belum lepas pukul enam pagi. Ia tengah bersiap-siap mandi, sarapan, lalu
pergi ke kantor. Begitulah kebiasannya sebagai pegawai negeri. Apalagi
hari ini Senin, ia harus berangkat lebih awal. Tapi di depan pintu kamar
mandi ia terhenyak mendengar bunyi kulkul itu. “Aduh, ada yang meninggal,”
desisnya. Bunyi kentongan tiga kali itu adalah berita kematian.
Mara cuma cuci muka, bergegas
mengenakan kain dan selempot ke rumah duka. Di pinggang ia selipkan belakas
(parang). Dari tetangganya ia tahu, siapa yang meninggal tadi malam. Tapi
ia tak lantas berangkat, justru balik lagi ke rumah. “Saya harus beritahu
kepada bos jika telat masuk kantor dan tak bisa ikut apel,’’ ujar Mara
kepada tetangganya. Ia sengaja menyempatkan diri menghubungi bosnya
yang semestinya ia jemput pagi itu. Maklum, Made Mara sopir di sebuah instansi
pemerintah di Niti Mandala Renon. Hadir pagi merupakan kesehariannya.
Situasi seperti ini sering
menggelisahkan Made Mara. Sebagai orang Bali ia tak bisa lepas dari kegiatan
adat dan agama. Seperti pagi itu, ketika harus berangkat kerja, ia mesti
datang rumah duka anggota banjar. “Toh kegiatan di rumah duka biasanya
hanya berlangsung dua jam, sehingga meski telat masuk kerja, tidak mesti
harus libur,’’ kilah Made Mara. Kecuali, jika itu kegiatan adat besar seperti
pernikahan, potong gigi hingga ngaben, ia minta izin tidak masuk sehari.Piodalan
di sanggahnya ia cuti. Jika upacara kematian salah seorang anggota banjar,
ia cukup berkabar lewat telpon, menyampaikan kalau telat masuk kantor.
Hal ini sudah menjadi tradisi
di banjarnya di wilayah Denpasar Barat. Pagi, ketika kentongan dipukul
membawa kabar kematian, warga sibuk netek tiing, mempersiapkan keperluan
upacara penguburan siang hari. Warga sibuk memotong dan membelah bambu
menjadi ancak saji.
Bagi
Mara pekerjaan adat seperti itu bukan beban, tapi ia mulai sulit membagi
waktu dan menyesuaikan diri antara adat dan tugas kantor. “Keduanya sulit
ditinggal dan sama-sama penting,’’ ucap Mara. Kadangkala ia berandai-andai
dengan teman sesama sopir, bisa bekerja tanpa terikat, sehingga antara
pekerjaan mencari sesuap nasi dengan adat bisa berlangsung baik. Temannya
di kantor pernah dipanggil atasan, lantaran sering minta izin tidak masuk
kantor. Alasannya, melangsungkan kerja adat ngaben, diteruskan seminggu
karena dua keluarga satu banjar berturut-turut melangsungkan upacara pernikahan.
Benturan kesibukan adat
dengan kerja banyak dialami karyawan swasta atau negeri di Bali. Apalagi
karyawan bersangkutan memiliki keterikatan kuat dengan adat, misalnya sebagai
prajuru baik di banjar maupun di desa adat. Ini diakui Ir. IGK Budiarta,
Bendesa Adat Pemogan, Denpasar. Sebagai bendesa adat dan juga karyawan
di perusahaan swasta, ia bisa memahami kesulitan untuk menyeimbangkan antara
adat dan kerja. Sebab ia menilai ada perubahan mendasar dialami masyarakat
Bali, dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Dalam masyarakat
agraris dulu, kegiatan adat dan agama bukan kendala. Tapi di zaman industri
manusia diatur oleh kerja. Masalah ini jangan dibebankan pada karyawan
semata, tapi juga beban pengusaha. “Jika pengusaha hanya berpikir untung
belaka, tanpa mau memahami adat dan budaya Bali, maka pengusaha ini hanya
mencari enaknya saja di Bali,’’ lontar Budiarta. Ia mengusulkan, para pengusaha
di Bali ditatar budaya dan adat Bali. Tujuannya, agar posisi karyawan menyangkut
membagi waktu antara tugas adat dan pekerjaan perusahaan, bisa dipahami
manajer. “Misalnya, ada dispensasi tidak hadir satu atau dua jam, karena
mengantar mayat ke kuburan siang hari,’’ ungkap Rektor Universitas Dwijendra
ini.
Ia juga tak sependapat jika
Bali dikatakan banyak libur hanya karena tenaga kerja Bali banyak yang
minta izin melangsungkan kegiatan adat. “Orang Bali jika minta cuti ataupun
izin tidak untuk bersantai, tapi pasti untuk kegiatan yang bersifat sosial,
baik di banjar atau di keluarga,’’ tegasnya. Justru tenaga kerja Bali ini
bisa membina dan meningkatkan kualitas diri melalui kegiatan adat yang
mereka ikuti.
Ketidakpahaman pengusaha
terhadap adat dan budaya Bali berakibat pada lemahnya pola-pola penyelesaian
permasalahan ketenagakerjaan. Sehingga yang sering menjadi kambing hitam
akhirnya tenaga kerja. “Jika mau menghitung dengan cermat, hari izin orang
Bali akan sama dengan tenaga kerja pemeluk agama lain,’’ ucapnya.
Budiartha, yang juga manajer
human resources pada PT. Canning Indonesia Products (CIP) ini, berpendapat,
pengaturan kepentingan adat dan kerja bisa ditempuh melalui kesepakatan
kerja bersama antara pengusaha dan pekerja. Memberikan kesempatan pekerja
untuk melaksanakan kegiatan adat dan agamanya, membuat karyawan merasa
dihargai sebagai pekerja.
Jung Iryana
PERBINCANGAN PRIHAL
DRESTA
Untuk edisi selanjutnya,
rubrik Dresta ini akan tampil sebagai rubrik tanya jawab/konsultasi
Silakan Pembaca menyampaikan
persoalan Dresta/Adat Hindu-Bali kepada kami,
Redaksi akan menyerahkannya
kepada ahli, agamawan,
rohaniwan, untuk menjawabnya.
Tujukan pertanyaan Anda
ke Redaksi SARAD
Jl. Gatot Subroto 236, Denpasar
80239
BALI - INDONESIA
telepon 423388, atau faks.
427070
Sangat bagus jika pertanyaan
dikirim lewat e-mail ke
red@saradbali.com
|