| |
Seniman Bali
Kadek Suartaya
Konon seorang raja Bali
pernah meminta kepada seorang dalang wayang kulit terkenal untuk enunjukkan
kepiawaiannya. Namun jika dalam pementasannya dalang itu tak mampu membuat
raja tertawa, ia akan dibunuh. Maka seluruh kemampuannya melucu dikerahkan
oleh sang dalang. Namun raja tetap merengut. Suasana menjadi tegang. Tetapi
tiba-tiba sang dalang, yang ketakutan, berimprovisasi. Entah dari mana
ilham itu muncul, dengan cerdik dan spontan ia merobek bagian tengah kelirnya
dan menjulurkan kepalanya sembari cengar-cengir celingukan. Tawa raja
pun meledak
.....selengkapnya
|
Hak Cipta Kesenian
Bali
I
Made Bandem
Akhir 1977, sebuah misi
kesenian Bali, dari sebuah desa, mengadakan perlawatan panjang ke Eropa
dan Amerika Serikat, mementaskan tari-tarian Bali di Paris, London, New
York, Montreal, dan San Fransisco, dengan sambutan meriah dari penonton.
Namun pada akhir perjalanan mereka, anggota sekaa itu menderita kerugian
US$ 13.000 akibat honorarium mereka untuk dua minggu terakhir tak dilunasi,
sampai sekarang. Rekaman pergelaran mereka, berupa album Nonsach, kini
masih beredar luas dan digemari ribuan pecinta gamelan Bali di luar negeri.
.....selengkapnya
|
Tak Ada Lagi Ketulusan
Masa Lalu
Putu
Wirata Dwikora
Orang Bali tidak menolak
perubahan, tapi mereka tentu tidak mau identitas kebudayaannya lenyap,
seperti budaya Maya dan Inca di Amerika Latin, atau budaya Hawaii yang
cuma jadi ornamen pariwisata. Atau tengoklah contoh yang lebih dekat: Majapahit
yang agung akhirnya berkeping karena intrik-intrik dalam istana, diikuti
perubahan kultural dengan kehancuran budaya Hindu, setelah dibangun berabad-abad.
.....selengkapnya
|
Mengidamkan PKB yang
Komplet
Nyoman
Tusthi Eddy
Sekali waktu pernah terlontar
gagasan untuk untuk menyertakan seni kontemporer dalam Pesta Kesenian Bali
(PKB). Tak pelak ide ini menimbulkan pro dan kontra, dengan muara akhir
yang tak tuntas. Tentang perlu atau tidaknya seni kontemporer diikutkan
dalam PKB, akhirnya cuma berhenti sebagai wacana argumentatif. Dalam kenyataannya
hingga kini seni kontemporer hanyalah riak kecil di tengah gemerlap seni
tradisional dan seni kerajinan yang berorientasi ke komersialisme.
.....selengkapnya
|
|
|