| |
Mengidamkan
PKB yang Komplet
Nyoman Tusthi Eddy
Sekali waktu pernah terlontar
gagasan untuk untuk menyertakan seni kontemporer dalam Pesta Kesenian Bali
(PKB). Tak pelak ide ini menimbulkan pro dan kontra, dengan muara akhir
yang tak tuntas. Tentang perlu atau tidaknya seni kontemporer diikutkan
dalam PKB, akhirnya cuma berhenti sebagai wacana argumentatif. Dalam kenyataannya
hingga kini seni kontemporer hanyalah riak kecil di tengah gemerlap seni
tradisional dan seni kerajinan yang berorientasi ke komersialisme.
Jika PKB berhenti pada penyajian
keaslian Bali yang diwakili oleh bentuk-bentuk kesenian tradisional dan
seni kerajinan (yang sebagian besar juga seni kerajinan tradisional),
maka Bali dalam konteks kekinian belum utuh. Bali hanya menimbulkan imaji
seni tradisional. Timbul kesan Bali tidak potensial mengekspresikan seni
kekinian. Bali seakan-akan menampik seni kekinian demi keaslian dirinya.
Dalam sejarahnya seni tradisional
Bali telah lama bersentuhan dengan unsur-unsur seni luar Bali. Dalam teater
kita bisa mengambil Arja Sampik sebagai contoh. Di sini tampak kreativitas
para pekerja seni dalam mengadaptasi unsur kebudayaan asing (Cina) ke dalam
kebudayaan daerahnya (Bali). Dengan berbagai polesan tradisi Bali kisah
Sampik lulus dalam kebudayaan Bali.
Unsur-unsur seni kontemporer
pun telah lama menyentuh Bali. Hal ini paling jelas kelihatan dalam seni
rupa; dan yang terakhir adalah seni sastra. Maka Bali akan timpang jika
PKB-nya hanya menyajikan seni tradisional.
Secara formal PKB memang
tidak pernah menampik kehadiran seni modern atau seni kontemporer. Tetapi
selama ini PKB kurang memberikan situasi kondusif kepada seni modern. Seni
modern atau seni kontemporer – lebih-lebih yang bermuatan kultur Bali –
bukan saja perlu diberikan ruang-tampil, tetapi juga situasi kondusif agar
terus tumbuh dan berkembang guna melengkapi PKB dari tahun ke tahun.
Seni kontemporer yang berproses
dari seni eksperimen bermuatan kultur Bali, seperti Body Cak garapan Wayan
Dibia dan Keith Terry, telah lahir dan ikut ambil bagian dalam PKB. Nyatanya,
seni ini tidak merusak tatanan PKB, sehingga tidak perlu dicemaskan memasukkan
karya seni yang serupa ke dalam PKB. Dengan demikian makna Bali dalam sebuah
pesta kesenian yang berlabel Bali bisa utuh.
Dari
sudut kepariwisataan dan hiburan, seni modern, seni kontemporer, seni eksperimen,
dan sejenisnya, dalam konteks PKB memang kurang memperoleh perhatian publik.
Karya seni semacam ini umumnya minus penonton. Namun dari sudut pembinaan
kebudayaan seyogianya kesenian tadi harus ditampilkan, sehingga PKB tampil
komplit.
PKB yang komplet harus ditunjukkan
dengan penampilan wajah Bali seutuhnya dalam seni tradisional dan modern,
dengan penyajian yang berimbang. Hal ini untuk menghapus kesan, Bali hanyalah
sendratari, drama gong, arja, gong kebyar, dan sejenisnya. Bali juga punya
berbagai karya seni berlabel modern dan layak tampil dalam PKB.
Satu hal lagi yang tak boleh
dikesampingkan saat ini adalah, memberikan tempat layak kepada sastra Bali
modern. Sebuah yayasan bernama Yayasan Rancage telah memberikan penghargaan
layak kepada khazanah sastra Bali modern. Sangat ironis jika PKB tidak
memberikan tempat semestinya. Cukup banyak karya sastra Bali modern yang
layak digelar dalam PKB. Nyastra dalam PKB mestinya nyastra (Bali) yang
komplet; bukan cuma kakawin, kidung, dan babad.
Penampilan jenis-jenis kesenian
secara berimbang dan utuh adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan
kualitas PKB. Dengan begitu kesenian Bali dapat dinikmati secara alegoris
dalam satu ruang dan waktu yang menunjukkan perjalanannya dari akar-akar
tradisinya menuju era globalisasi yang semakin menguat. Hanya dengan PKB
yang komplet kita bisa berbicara tentang Bali yang utuh dalam konteks kesemestaan.
|
Artikel
Bale Bengong lainnya
Seniman Bali
Kadek
Suartaya
Konon seorang raja Bali
pernah meminta kepada seorang dalang wayang kulit terkenal untuk enunjukkan
kepiawaiannya. Namun jika dalam pementasannya dalang itu tak mampu membuat
raja tertawa, ia akan dibunuh. Maka seluruh kemampuannya melucu dikerahkan
oleh sang dalang. Namun raja tetap merengut. Suasana menjadi tegang. Tetapi
tiba-tiba sang dalang, yang ketakutan, berimprovisasi. Entah dari mana
ilham itu muncul, dengan cerdik dan spontan ia merobek bagian tengah kelirnya
dan menjulurkan kepalanya sembari cengar-cengir celingukan. Tawa raja
pun meledak
.....selengkapnya
|
Hak Cipta Kesenian
Bali
I
Made Bandem
Akhir 1977, sebuah misi
kesenian Bali, dari sebuah desa, mengadakan perlawatan panjang ke Eropa
dan Amerika Serikat, mementaskan tari-tarian Bali di Paris, London, New
York, Montreal, dan San Fransisco, dengan sambutan meriah dari penonton.
Namun pada akhir perjalanan mereka, anggota sekaa itu menderita kerugian
US$ 13.000 akibat honorarium mereka untuk dua minggu terakhir tak dilunasi,
sampai sekarang. Rekaman pergelaran mereka, berupa album Nonsach, kini
masih beredar luas dan digemari ribuan pecinta gamelan Bali di luar negeri.
.....selengkapnya
|
Tak Ada Lagi Ketulusan
Masa Lalu
Putu
Wirata Dwikora
Orang Bali tidak menolak
perubahan, tapi mereka tentu tidak mau identitas kebudayaannya lenyap,
seperti budaya Maya dan Inca di Amerika Latin, atau budaya Hawaii yang
cuma jadi ornamen pariwisata. Atau tengoklah contoh yang lebih dekat: Majapahit
yang agung akhirnya berkeping karena intrik-intrik dalam istana, diikuti
perubahan kultural dengan kehancuran budaya Hindu, setelah dibangun berabad-abad.
.....selengkapnya
|
|
|