logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000 No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 BALE BENGONG - KOLOM 
 
 
Seniman Bali
Kadek Suartaya

Konon seorang raja Bali pernah meminta kepada seorang dalang wayang kulit terkenal untuk enunjukkan kepiawaiannya. Namun jika dalam pementasannya dalang itu tak mampu membuat raja tertawa, ia akan dibunuh. Maka seluruh kemampuannya melucu dikerahkan oleh sang dalang. Namun raja tetap merengut. Suasana menjadi tegang. Tetapi tiba-tiba sang dalang, yang ketakutan, berimprovisasi. Entah dari mana ilham itu muncul, dengan cerdik dan spontan ia merobek bagian tengah kelirnya dan menjulurkan kepalanya sembari cengar-cengir celingukan. Tawa raja  pun meledak.
Kisah tentang Dalang Buricek itu adalah sebuah model pengharkatan penguasa terhadap seni dan seniman. Karena, setelah raja berhasil dibuat tertawa terpingkal-pingkal, Buricek amat disayangi dan diberikan berbagai hadiah. Walau cerita ini mungkin hanya sebuah mitos tentang kehidupan seorang maestro, namun setidaknya pesan yang ingin dilontarkan dapat dijadikan sebuah penyadaran bahwa seniman dengan jagat seninya memang sudah sewajarnya dimuliakan secara proporsional.
Begitu penting arti seni dan harkat seniman tersirat pula saat konfrontasi kerajaan Gianyar versus Klungkung pada pertengahan abad ke- 19. Saat itu di wilayah kekuasaan kerajaan Gianyar kesenian berkembang begitu semarak yang ikut menyumbangkan dukungan terhadap prestise bagi keagungan raja dan kerajaan. Masa itu para seniman terkemuka di Gianyar adalah orang-orang atau tokoh-tokoh masyarakat yang amat dekat dengan pusat kekuasaan.
Demikianlah, karena begitu dianggap strategisnya peranan seniman bagi kejayaan dinasti Gianyar saat itu, sebagai taktik politik kerajaan Klungkung untuk menundukkan Gianyar, maka beberapa orang seniman andal Gianyar diculik dan di-selong alias dibuang ke Nusa Penida. Terbukti kemudian, sepeninggal para seniman itu pamor Gianyar menyurut dan dalam sebuah peperangan dapat ditaklukkan oleh Klungkung.
Jadi rasional juga jargon yang berungkap bahwa harkat sebuah bangsa bisa diukur dari tinggi rendah seni budayanya. Sebab pada kenyataannya  keadiluhungan suatu seni budaya adalah ekspresi dan manifestasi dari tata nilai, prilaku dan dinamika berpikir masyarakatnya. Atau keluhuran produk seni budaya bisa menjadi pencitraan holistik budaya dari sebuah bangsa. Begitu strategisnya kedudukan kesenian sebagai pilar penyangga atau identitas sebuah bangsa, sehingga ia, seni dan seniman, sejak dulu mendapat perhatian dari penguasa.
Memang, seni dan seniman sering menjadi alat legitimasi kekuasaan seperti misalnya, dulu, saat seni sastra bersifat istana sentris. Dalam Pararaton misalnya, Ken Arok yang begundal tengik, maling dan perampas istri orang dan kemudian menjadi raja, diriwayatkan sebagai anak Dewa Brahma. Ini bisa dimengerti karena pujangga yang menulis karya sastra itu diperintah dan digaji bahkan kehidupan keluarganya ditanggung oleh raja, Ken Arok sendiri. Dalam bingkai nafsu kekuasaan dan kiat politik mungkin itu sah-sah saja seperti juga Soeharto membikin film-film kolosal pengkultusan dirinya itu.
Saat-saat memanasnya suhu politik di negeri kita, Pemilu misalnya, seni dan seniman ikut dilibatkan berkiprah  memeriahkan pesta demokrasi tersebut. Maka yang berada di atas mimbar bukan saja para juru kampanye atau tokoh politik, namun juga artis film atau bintang nyanyi. Ini berarti potensi seni dan seniman sebagai penyampai gagasan telah didaulat menjadi alat. Di Bali, pada tahun 1960-an, pernah dimeriahkan hingar-bingarnya pementasan Janger yang sarat nuansa politis.
Sebenarnyalah para seniman Bali bukan petualang politik praktis. Tapi lewat konsepsi rwabhineda yang menjadi tema utama kreativitas dan penyajian seninya ia menjadi guru politik kehidupan yang mahaarif. Ngayah adalah landasan penyerahan diri seniman Bali. Dengan budaya ngayah seniman Bali mempersembahkan dirinya kepada Ida Sang Hyang Widhi, berinteraksi dalam suka dan duka di tengah masyarakat, dan tak henti-henti menyadarkan kita agar peduli dengan alam lingkungan.
Namun kini sebagai bagian dari peradaban global, masyarakat Bali pun terbawa gelombang arus transformasi budaya. Konsekuensinya adalah terjadi pergeseran-pergeseran nilai. Semua ini tentu berimplikasi terhadap prilaku dan pola berpikir masyarakatnya. Misalnya ada kecendrungan sadar sesadar-sadarnya akan arti ekomomi-uang dan pasar.
Tengok misalnya bisnis kesenian dalam gemerincing jagat pariwisata kita. Selain berimbas positif bagi sebagian orang, di sisi lain menghadirkan pula dampak yang getir bagi kalangan seniman yang “ngayah” dalam gemuruh jagat pelancongan itu. Para seniman seni pertunjukan kita misalnya,  bukan hanya menjadi sapi perahan tapi juga sekaligus sapi potong yang dijajakan ke sana ke sini, masih dengan truk.
Mungkin ada segelintir seniman Bali yang sudah mengecap kemakmuran. Syukurlah. Bukan nasib dan keberuntungan yang mesti mengusik kecemburuan para seniman lainnya. Sebab konpensasi keseimbangan hidup mokshartam jagadditaya ca iti dharmah kiranya menjadi pengendalian diri di mana semua orang, setiap seniman, telah memiliki dan harus menyadari dharmanya masing-masing dalam teater kehidupan ini. Jika tidak ada gereget falsafah itu, barangkali sudah dulu-dulu denyut kesenian di gumi Bali ini sudah tak berdetak.

Penulis adalah dosen karawitan STSI Denpasar


Artikel Bale Bengong lainnya

Hak Cipta Kesenian Bali
I Made Bandem
Akhir 1977, sebuah misi kesenian Bali, dari sebuah desa, mengadakan perlawatan panjang ke Eropa dan Amerika Serikat, mementaskan tari-tarian Bali di Paris, London, New York, Montreal, dan San Fransisco, dengan sambutan meriah dari penonton. Namun pada akhir perjalanan mereka, anggota sekaa itu menderita kerugian US$ 13.000 akibat honorarium mereka untuk dua minggu terakhir tak dilunasi, sampai sekarang. Rekaman pergelaran mereka, berupa album Nonsach, kini masih beredar luas dan digemari ribuan pecinta gamelan Bali di luar negeri.
.....selengkapnya
Tak Ada Lagi Ketulusan Masa Lalu
Putu Wirata Dwikora
Orang Bali tidak menolak perubahan, tapi mereka tentu tidak mau identitas kebudayaannya lenyap, seperti budaya Maya dan Inca di Amerika Latin, atau budaya Hawaii yang cuma jadi ornamen pariwisata. Atau tengoklah contoh yang lebih dekat: Majapahit yang agung akhirnya berkeping karena intrik-intrik dalam istana, diikuti perubahan kultural dengan kehancuran budaya Hindu, setelah dibangun berabad-abad.
.....selengkapnya
Mengidamkan PKB yang Komplet
Nyoman Tusthi Eddy
Sekali waktu pernah terlontar gagasan untuk untuk menyertakan seni kontemporer dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Tak pelak ide ini menimbulkan pro dan kontra, dengan muara akhir yang tak tuntas. Tentang perlu atau tidaknya seni kontemporer diikutkan dalam PKB, akhirnya cuma berhenti sebagai wacana argumentatif. Dalam kenyataannya hingga kini seni kontemporer hanyalah riak kecil di tengah gemerlap seni tradisional dan seni kerajinan yang berorientasi ke komersialisme.
.....selengkapnya

 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD