Seniman
Bali
Kadek Suartaya
Konon seorang raja Bali pernah
meminta kepada seorang dalang wayang kulit terkenal untuk enunjukkan kepiawaiannya.
Namun jika dalam pementasannya dalang itu tak mampu membuat raja tertawa,
ia akan dibunuh. Maka seluruh kemampuannya melucu dikerahkan oleh sang
dalang. Namun raja tetap merengut. Suasana menjadi tegang. Tetapi tiba-tiba
sang dalang, yang ketakutan, berimprovisasi. Entah dari mana ilham itu
muncul, dengan cerdik dan spontan ia merobek bagian tengah kelirnya dan
menjulurkan kepalanya sembari cengar-cengir celingukan. Tawa raja
pun meledak.
Kisah tentang Dalang Buricek
itu adalah sebuah model pengharkatan penguasa terhadap seni dan seniman.
Karena, setelah raja berhasil dibuat tertawa terpingkal-pingkal, Buricek
amat disayangi dan diberikan berbagai hadiah. Walau cerita ini mungkin
hanya sebuah mitos tentang kehidupan seorang maestro, namun setidaknya
pesan yang ingin dilontarkan dapat dijadikan sebuah penyadaran bahwa seniman
dengan jagat seninya memang sudah sewajarnya dimuliakan secara proporsional.
Begitu penting arti seni
dan harkat seniman tersirat pula saat konfrontasi kerajaan Gianyar versus
Klungkung pada pertengahan abad ke- 19. Saat itu di wilayah kekuasaan kerajaan
Gianyar kesenian berkembang begitu semarak yang ikut menyumbangkan dukungan
terhadap prestise bagi keagungan raja dan kerajaan. Masa itu para seniman
terkemuka di Gianyar adalah orang-orang atau tokoh-tokoh masyarakat yang
amat dekat dengan pusat kekuasaan.
Demikianlah, karena begitu
dianggap strategisnya peranan seniman bagi kejayaan dinasti Gianyar saat
itu, sebagai taktik politik kerajaan Klungkung untuk menundukkan Gianyar,
maka beberapa orang seniman andal Gianyar diculik dan di-selong alias dibuang
ke Nusa Penida. Terbukti kemudian, sepeninggal para seniman itu pamor Gianyar
menyurut dan dalam sebuah peperangan dapat ditaklukkan oleh Klungkung.
Jadi rasional juga jargon
yang berungkap bahwa harkat sebuah bangsa bisa diukur dari tinggi rendah
seni budayanya. Sebab pada kenyataannya keadiluhungan suatu seni
budaya adalah ekspresi dan manifestasi dari tata nilai, prilaku dan dinamika
berpikir masyarakatnya. Atau keluhuran produk seni budaya bisa menjadi
pencitraan holistik budaya dari sebuah bangsa. Begitu strategisnya kedudukan
kesenian sebagai pilar penyangga atau identitas sebuah bangsa, sehingga
ia, seni dan seniman, sejak dulu mendapat perhatian dari penguasa.
Memang,
seni dan seniman sering menjadi alat legitimasi kekuasaan seperti misalnya,
dulu, saat seni sastra bersifat istana sentris. Dalam Pararaton misalnya,
Ken Arok yang begundal tengik, maling dan perampas istri orang dan kemudian
menjadi raja, diriwayatkan sebagai anak Dewa Brahma. Ini bisa dimengerti
karena pujangga yang menulis karya sastra itu diperintah dan digaji bahkan
kehidupan keluarganya ditanggung oleh raja, Ken Arok sendiri. Dalam bingkai
nafsu kekuasaan dan kiat politik mungkin itu sah-sah saja seperti juga
Soeharto membikin film-film kolosal pengkultusan dirinya itu.
Saat-saat memanasnya suhu
politik di negeri kita, Pemilu misalnya, seni dan seniman ikut dilibatkan
berkiprah memeriahkan pesta demokrasi tersebut. Maka yang berada
di atas mimbar bukan saja para juru kampanye atau tokoh politik, namun
juga artis film atau bintang nyanyi. Ini berarti potensi seni dan seniman
sebagai penyampai gagasan telah didaulat menjadi alat. Di Bali, pada tahun
1960-an, pernah dimeriahkan hingar-bingarnya pementasan Janger yang sarat
nuansa politis.
Sebenarnyalah para seniman
Bali bukan petualang politik praktis. Tapi lewat konsepsi rwabhineda yang
menjadi tema utama kreativitas dan penyajian seninya ia menjadi guru politik
kehidupan yang mahaarif. Ngayah adalah landasan penyerahan diri seniman
Bali. Dengan budaya ngayah seniman Bali mempersembahkan dirinya kepada
Ida Sang Hyang Widhi, berinteraksi dalam suka dan duka di tengah masyarakat,
dan tak henti-henti menyadarkan kita agar peduli dengan alam lingkungan.
Namun kini sebagai bagian
dari peradaban global, masyarakat Bali pun terbawa gelombang arus transformasi
budaya. Konsekuensinya adalah terjadi pergeseran-pergeseran nilai. Semua
ini tentu berimplikasi terhadap prilaku dan pola berpikir masyarakatnya.
Misalnya ada kecendrungan sadar sesadar-sadarnya akan arti ekomomi-uang
dan pasar.
Tengok misalnya bisnis kesenian
dalam gemerincing jagat pariwisata kita. Selain berimbas positif bagi sebagian
orang, di sisi lain menghadirkan pula dampak yang getir bagi kalangan seniman
yang “ngayah” dalam gemuruh jagat pelancongan itu. Para seniman seni pertunjukan
kita misalnya, bukan hanya menjadi sapi perahan tapi juga sekaligus
sapi potong yang dijajakan ke sana ke sini, masih dengan truk.
Mungkin ada segelintir seniman
Bali yang sudah mengecap kemakmuran. Syukurlah. Bukan nasib dan keberuntungan
yang mesti mengusik kecemburuan para seniman lainnya. Sebab konpensasi
keseimbangan hidup mokshartam jagadditaya ca iti dharmah kiranya menjadi
pengendalian diri di mana semua orang, setiap seniman, telah memiliki dan
harus menyadari dharmanya masing-masing dalam teater kehidupan ini. Jika
tidak ada gereget falsafah itu, barangkali sudah dulu-dulu denyut kesenian
di gumi Bali ini sudah tak berdetak.
Penulis adalah dosen karawitan
STSI Denpasar
|