logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 DAA-TERUNA - DUNIA REMAJA 
 
 
Nelokin Pengantin Mengulum Pisang

Tradisi madelokan di kalangan teruna-teruni Denpasar dimeriahkan dengan menggojlok pengantin untuk memakan sebuah pisang bersama. Ini acara yang selalu ditunggu-tunggu.

Menjadi pengantin baru idaman ham pir semua orang. Kalau setelah menjadi pengantin lalu digojlok habis-habisan sampai muka bersemu merah, tentu tak ada menyukainya. Tapi, begitulah adat madelokan di antara teruna-teruni untuk rekan mereka yang baru melepas masa lajang. Pasangan ini dikunjungi rekan-rekannya, lalu mereka akan didera habis-habisan dengan kalimat-kalimat sindiran nyerempet-nyerempet cabul.
“De, sudah dapat diskon belum?’’ celetuk Wayan Kariawan (20) dalam satu acara madelokan untuk pasangan pengantin baru di banjarnya di Sesetan, Denpasar. Pengantin yang duduk berpasangan itu langsung tersipu-sipu. Yang wanita bahkan menunduk tersenyum-senyum tak karuan. Hadirin tertawa terpingkal-pingkal, ada yang tertawa ngrikik.
Tak ada yang ganjil dari pertanyaan itu. Tapi kata “diskon” jika ditanyakan bagi sepasang pengantin berarti apakah mereka sudah melakukan hubungan seks pranikah? Kata “diskon” itu adalah bahasa gaul madelokan untuk pengantin baru yang mempertanyakan, apakah si pengantin wanita sudah hamil atau belum. Tentu saja, digoda ramai-ramai, Luh Made Suseni, mempelai wanita, merunduk terus. Sementara Gede Suryawan, mempelai pria, mencoba tertawa-tawa tengal sambil menoleh kiri-kanan cengar-cengir.
Pengantin nunas tirtha. Sudah dapat diskon ? - foto: AgustanayaApalagi ketika beberapa teruna kian gencar menggoda. “Sudah berapa bulan, De?” timpal yang lain. Suseni semakin menundukkan kepalanya. Kalau melihat penampilannya, ia memang tak mengesankan hamil. Namun bukan berarti ia bebas dari tuduhan dan gojlokan bahwa ia tidak memberi diskon pada Gede Suryawan. Alasannya, prilaku Gede Suryawan selama ini yang suka gonta ganti pacar. Mulai dari bajang satu banjar hingga bajang desa tetangga sebelah dipacarinya. Bahkan Gede Suryawan pernah mengajak bajang jegeg (dara cantik) desa lain  menginap di rumahnya. “Ini gacoan saya yang baru,” ujarnya waktu itu, bangga. Tak heran semua rekan-rekannya satu banjar mencurigainya. Beberapa bajang teruni bisik-bisik sembari cekikikan. Mereka sudah tidak kaget lagi seandainya Suseni sudah didiskon beberapa bulan. Maklum, tabiat Gede Suryawan selama ini sudah terkenal badungnya. Kalau tidak salah hitung, Suseni pacarnya yang kedelapan. Belum lagi pacar tidak resmi.
Tabiat gonta-ganti pacar Gede Suryawan ini membuat semakin bersemangat teruna-teruni yang hadir untuk menggojlok. Apalagi, Suseni selama ini adalah bajang banjar tetangga yang terkenal kalem. “Beh, paling kalem-kalem sambuk, kelihatannya saja kalem, tapi kalau dibakar, wah, ngerepet,’’ bisik Made Sri pada teman di sebelahnya. Terus digoda dan disoraki nakal, Suseni tak tahan. Ia jadi ribuh, salah tingkah. Tanpa sadar ia menarik tangan Gede Suryawan dengan manja, seolah minta perlindungan. Dan tawa pun semakin riuh. “Benar kan aku, dia itu kalem-kalem sambuk. Ramai-ramai begini tak malu ia minta dicumbu,”  teriak Sri di antara hingar bingar suara gaduh. Acara madelokan malam itu menjadi sangat berisik, meriah oleh tawa dan canda.
Seorang pemandu acara menyodorkan pisang. Tanpa dikomando, suara riuh rendah mendesak mempelai untuk segera melaksanakan permaianan memakan sebuah pisang berdua. Ujung pisang yang satu digigit Gede, ujung lain dikulum Suseni. Dan mereka harus memakan pisang itu bersama sampai habis, untuk sampai pada klimkas kedua bibir mereka akan merapat. Tentu, ini permainan yang ditunggu-tunggu, dan pasti hiruk pikuk dengan suitan dan gelak tawa. Gede cuek saja, tapi Suseni malu-malu. Setelah dipaksa-paksa ia  mau juga mengikuti acara makan pisang berdua.
“Adegan itu yang ditunggu-tunggu,” ujar Rai Suyanti, anggota Sekaa Teruna (ST) Teja Yuwana Dharma, Br. Panti Gede Desa Pemogan, Denpasar. Acara madelokan ke acara pernikahan Gede Suryawan dan I Luh Made Suseni di Sesetan, juga lazim dilakukan di Desa Pemogan dan banjar-banjar lain di Denpasar. Menurut Rai, selain adegan makan pisang bersama, biasanya diikuti oleh makan kue bersama dan minum segelas bersama. “Itu sebagai wujud cinta kasih lho!” ujar Rai. Jadi bukan acara yang dibuat-buat ala kadarnya, atau untuk acara cabul.  “Yah, paling-paling untuk memeriahkan ngerjain mempelai sebelum lelap dalam pelukan di ranjang,’’ lanjut Rai.  Ia menjelaskan, acara madelokan seperti ini dilakukan sebagai salah satu rangkaian upacara khas Denpasar. Mungkin di tempat lain beda.
Madelokan gaya seperti ini merupakan acara anak muda yang tergabung dalam sekaa teruna. Di ST Teja Yuwana Dharma persiapan acara dilakukan oleh kerabat dekat mempelai, kalau di STT Widya Bhakti, Br. Pegok, Sesetan, justru semuanya dipersiapkan anggota sekaa teruna. “Itu sebagai ucapan tali asih terakhir kalinya dari sekaa teruna,’’ ujar Susan, anggota sekaa teruna STT Widya Bhakti. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak dulu, aku Susan. Tanpa ada yang tahu sejak kapan mulai pertama kalinya. “Setahu saya sejak dulu ya sudah ada,” kilahnya. Tujuannya, sebagai wujud mempererat persaudaraan sesama anggota STT. Termasuk yang akan melepas status keterunaan atau kebajangannya. Kalau dulu sang mempelai aktif dan solider, maka akan banyak yang datang membantu persiapan acara madelokan. “Jadi kalau mau melihat apakah sang mempelai seorang yang aktif di STT dan solider, dapat dilihat dari banyaknya anggota sekaa teruna yang hadir saat persiapan madelokan,’’ lanjut Susan. Persiapan dilakukan sejak siang atau sore. Madelokan biasanya dilangsungkan malam hari.
Acara madelokan biasanya disertai penyerahan kado untuk mempelai, wejangan orang tua, pidato pengurus sekaa teruna, serta kesan dan pesan dari rekan. Tapi acara yang paling seru dan ditunggu-tunggu adalah makan pisang bersama itu tadi.
Ananta Wijaya


 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD