| Nelokin
Pengantin Mengulum Pisang
Tradisi madelokan di kalangan
teruna-teruni Denpasar dimeriahkan dengan menggojlok pengantin untuk memakan
sebuah pisang bersama. Ini acara yang selalu ditunggu-tunggu.
Menjadi pengantin baru idaman
ham pir semua orang. Kalau setelah menjadi pengantin lalu digojlok habis-habisan
sampai muka bersemu merah, tentu tak ada menyukainya. Tapi, begitulah adat
madelokan di antara teruna-teruni untuk rekan mereka yang baru melepas
masa lajang. Pasangan ini dikunjungi rekan-rekannya, lalu mereka akan didera
habis-habisan dengan kalimat-kalimat sindiran nyerempet-nyerempet cabul.
“De, sudah dapat diskon
belum?’’ celetuk Wayan Kariawan (20) dalam satu acara madelokan untuk pasangan
pengantin baru di banjarnya di Sesetan, Denpasar. Pengantin yang duduk
berpasangan itu langsung tersipu-sipu. Yang wanita bahkan menunduk tersenyum-senyum
tak karuan. Hadirin tertawa terpingkal-pingkal, ada yang tertawa ngrikik.
Tak ada yang ganjil dari
pertanyaan itu. Tapi kata “diskon” jika ditanyakan bagi sepasang pengantin
berarti apakah mereka sudah melakukan hubungan seks pranikah? Kata “diskon”
itu adalah bahasa gaul madelokan untuk pengantin baru yang mempertanyakan,
apakah si pengantin wanita sudah hamil atau belum. Tentu saja, digoda ramai-ramai,
Luh Made Suseni, mempelai wanita, merunduk terus. Sementara Gede Suryawan,
mempelai pria, mencoba tertawa-tawa tengal sambil menoleh kiri-kanan cengar-cengir.
Apalagi
ketika beberapa teruna kian gencar menggoda. “Sudah berapa bulan, De?”
timpal yang lain. Suseni semakin menundukkan kepalanya. Kalau melihat penampilannya,
ia memang tak mengesankan hamil. Namun bukan berarti ia bebas dari tuduhan
dan gojlokan bahwa ia tidak memberi diskon pada Gede Suryawan. Alasannya,
prilaku Gede Suryawan selama ini yang suka gonta ganti pacar. Mulai dari
bajang satu banjar hingga bajang desa tetangga sebelah dipacarinya. Bahkan
Gede Suryawan pernah mengajak bajang jegeg (dara cantik) desa lain
menginap di rumahnya. “Ini gacoan saya yang baru,” ujarnya waktu itu, bangga.
Tak heran semua rekan-rekannya satu banjar mencurigainya. Beberapa bajang
teruni bisik-bisik sembari cekikikan. Mereka sudah tidak kaget lagi seandainya
Suseni sudah didiskon beberapa bulan. Maklum, tabiat Gede Suryawan selama
ini sudah terkenal badungnya. Kalau tidak salah hitung, Suseni pacarnya
yang kedelapan. Belum lagi pacar tidak resmi.
Tabiat gonta-ganti pacar
Gede Suryawan ini membuat semakin bersemangat teruna-teruni yang hadir
untuk menggojlok. Apalagi, Suseni selama ini adalah bajang banjar tetangga
yang terkenal kalem. “Beh, paling kalem-kalem sambuk, kelihatannya saja
kalem, tapi kalau dibakar, wah, ngerepet,’’ bisik Made Sri pada teman di
sebelahnya. Terus digoda dan disoraki nakal, Suseni tak tahan. Ia jadi
ribuh, salah tingkah. Tanpa sadar ia menarik tangan Gede Suryawan dengan
manja, seolah minta perlindungan. Dan tawa pun semakin riuh. “Benar kan
aku, dia itu kalem-kalem sambuk. Ramai-ramai begini tak malu ia minta dicumbu,”
teriak Sri di antara hingar bingar suara gaduh. Acara madelokan malam itu
menjadi sangat berisik, meriah oleh tawa dan canda.
Seorang pemandu acara menyodorkan
pisang. Tanpa dikomando, suara riuh rendah mendesak mempelai untuk segera
melaksanakan permaianan memakan sebuah pisang berdua. Ujung pisang yang
satu digigit Gede, ujung lain dikulum Suseni. Dan mereka harus memakan
pisang itu bersama sampai habis, untuk sampai pada klimkas kedua bibir
mereka akan merapat. Tentu, ini permainan yang ditunggu-tunggu, dan pasti
hiruk pikuk dengan suitan dan gelak tawa. Gede cuek saja, tapi Suseni malu-malu.
Setelah dipaksa-paksa ia mau juga mengikuti acara makan pisang berdua.
“Adegan itu yang ditunggu-tunggu,”
ujar Rai Suyanti, anggota Sekaa Teruna (ST) Teja Yuwana Dharma, Br. Panti
Gede Desa Pemogan, Denpasar. Acara madelokan ke acara pernikahan Gede Suryawan
dan I Luh Made Suseni di Sesetan, juga lazim dilakukan di Desa Pemogan
dan banjar-banjar lain di Denpasar. Menurut Rai, selain adegan makan pisang
bersama, biasanya diikuti oleh makan kue bersama dan minum segelas bersama.
“Itu sebagai wujud cinta kasih lho!” ujar Rai. Jadi bukan acara yang dibuat-buat
ala kadarnya, atau untuk acara cabul. “Yah, paling-paling untuk memeriahkan
ngerjain mempelai sebelum lelap dalam pelukan di ranjang,’’ lanjut Rai.
Ia menjelaskan, acara madelokan seperti ini dilakukan sebagai salah satu
rangkaian upacara khas Denpasar. Mungkin di tempat lain beda.
Madelokan gaya seperti ini
merupakan acara anak muda yang tergabung dalam sekaa teruna. Di ST Teja
Yuwana Dharma persiapan acara dilakukan oleh kerabat dekat mempelai, kalau
di STT Widya Bhakti, Br. Pegok, Sesetan, justru semuanya dipersiapkan anggota
sekaa teruna. “Itu sebagai ucapan tali asih terakhir kalinya dari sekaa
teruna,’’ ujar Susan, anggota sekaa teruna STT Widya Bhakti. Tradisi ini
sudah dilaksanakan sejak dulu, aku Susan. Tanpa ada yang tahu sejak kapan
mulai pertama kalinya. “Setahu saya sejak dulu ya sudah ada,” kilahnya.
Tujuannya, sebagai wujud mempererat persaudaraan sesama anggota STT. Termasuk
yang akan melepas status keterunaan atau kebajangannya. Kalau dulu sang
mempelai aktif dan solider, maka akan banyak yang datang membantu persiapan
acara madelokan. “Jadi kalau mau melihat apakah sang mempelai seorang yang
aktif di STT dan solider, dapat dilihat dari banyaknya anggota sekaa teruna
yang hadir saat persiapan madelokan,’’ lanjut Susan. Persiapan dilakukan
sejak siang atau sore. Madelokan biasanya dilangsungkan malam hari.
Acara madelokan biasanya
disertai penyerahan kado untuk mempelai, wejangan orang tua, pidato pengurus
sekaa teruna, serta kesan dan pesan dari rekan. Tapi acara yang paling
seru dan ditunggu-tunggu adalah makan pisang bersama itu tadi.
Ananta Wijaya
|