logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000 No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 BALE BENGONG - KOLOM 
 
 
Tak Ada Lagi Ketulusan Masa Lalu
Putu Wirata Dwikora
Putu Wirata Dwikora

Orang Bali tidak menolak perubahan, tapi mereka tentu tidak mau identitas kebudayaannya lenyap, seperti budaya Maya dan Inca di Amerika Latin, atau budaya Hawaii yang cuma jadi ornamen pariwisata. Atau tengoklah contoh yang lebih dekat: Majapahit yang agung akhirnya berkeping karena intrik-intrik dalam istana, diikuti perubahan kultural dengan kehancuran budaya Hindu, setelah dibangun berabad-abad.
Di Bali, pura yang rutin mendapat kunjungan turis menjadi tempat ibadah yang kehilangan roh, gunung dan sungai suci kehilangan tuah.Tari, kidung, tabuh gamelan, goresan pelukis, seperti kehilangan taksu, karena seakan-akan seluruh ekspresi berkesenian diabdikan untuk pariwisata, demi dollar.
Kaum intelektual dan rohaniwan Hindu amat suka meng gunakan wacana ini guna meneropong fenomena yang berkembang dalam masyarakat Bali. Tentang tiga juta turis berkunjung ke Bali setiap tahun, ratusan miliar rupiah mengalir dan memutar perekonomian rakyat. Kalau kita setuju pada teori Edward Spranger, di mana perekonomian meningkat akan disertai kemerosotan akhlak dan rasa beragama, barangkali kita boleh waspada, adakah gejala kemerosotan akhlak keagamaan dalam diri masyarakat Bali? Adakah taksu telah melesat dari tangan-tangan terampil mereka, yang setiap hari mempersembahkan sesajen, yang setiap saat menembangkan kidung-kidung suci, bahkan dalam gemuruh yang lebih semarak dibanding masa-masa sebelumnya?
Akan sangat pelik dan menjadi tidak mudah untuk memberikan jawaban tunggal terhadap realitas masyarakat yang sangat kompleks ini. Memang, kini tidak ada lagi seniman yang bisa mengklaim dirinya sebagai “titisan” dari ketulusan masa lalu, manakala para pengukir, pematung dan tukang gambar di
Bali mempersembahkan karya-karya mereka sebagai ungkapan yadnya. Seniman-seniman kontemporer Bali berkarya dan berekspresi atas nama egonya, atas nama klaim pribadi, atas nama personal, dan menjual karya-karya mereka untuk hasrat-hasrat material yang menjadi ciri kehidupan modern. Tetapi, tidak bisa pula kita melihat realitas kehidupan berkesenian secara sederhana dari satu sudut ini saja. Ada seniman yang berjalan di jalur modern dan memilih ekspresi sebagai pelampiasan ego, tetapi tetap menempatkan diri dalam komunitas kolektif ritual di banjarnya. Nyoman Erawan dari Banjar Dlodtangluk, Sukawati, misalnya, menjadi seorang yang ringan tangan membantu warga desanya membuat lembu pangabenan, untuk dikremasi bersama jenazah. Ia mencari sejenis penyeimbang dari realitas kontemporer yang semakin materialistik ini dengan pencarian-pencarian yang bernuansa ritual, dan ia ekspresikan dalam karya-karyanya: lukisan, instalasi, seni rupa pertunjukan.
Cara Nyoman Erawan mengekspresikan gagasan dan menyusun ulang simbol-simbol dari kekayaan budaya tradisi Bali, semakin mengukuhkan analisis-analisis kaum intelektual Bali, niscaya memang ada yang hilang dari jatidiri masyarakat Bali, seiring gerak maju modernitas ini. Terasa ada yang lenyap, karena karya dan ekspresi budaya tidak hanya menjadi komoditas pariwisata, namun sebagai manusia, mereka juga merasakan alienasi yang memedihkan hati karena intervensi kebudayaan eksternal. Di Kuta misalnya, gemuruh gamelan dan semarak sesajen serta lanskap pura tenggelam di antara gemuruh musik diskotek dan gedung-gedung beraksitektur kontemporer dan praktis. Untuk menyatakan identitasnya, warga di sana menyelenggarakan ritus penyucian bernilai miliaran rupiah, dengan hasrat-hasrat yang dinyatakan secara tegas, bahwa ritual itu guna menyucikan palemahan Kuta dari kekotoran-kekotoran masyarakat mancanegara. Mereka bagai hendak membangkitkan aura taksu kebudayaannya, yang mereka rasakan memudar seiring kemajuan dan perubahan-perubahan kultural karena pariwisata. Namun, turis-turis tetaplah melihat prosesi ritual itu sebagai suatu pesona “teater kehidupan”.
Prosesi ritual pembersihan di Kuta maupun prosesi seni rupa ritual Nyoman Erawan adalah representasi resistensi masyarakat Bali, yang mencoba bertahan pada kemurnian tradisi yang diyakini punya roh yang mempertautkan realitas dan irealitas, pun irasionalitas dan rasionalitas. Sesuatu yang wajar. Bila gelombang kebudayaan eksternal yang menggelora karena datangnya
modernitas dan pariwisata ibarat gerusan ombak yang menyebabkan pantai-pantai kultural mengalami abrasi, ritus-ritus agaknya masih diyakini sebagai tempat berpegang yang ampuh.
Orang Bali tentu saja tidak serta merta melompat atau berenang menuju pada Pulau Kebudayaan yang baru, yang sama sekali tidak mereka pahami, dan karenanya mereka akan tetap berusaha berpegangan pada batu karang di Pulau Kebudayaan Lama yang memberinya mimpi-mimpi tentang kehidupan ritual klasik penuh harmoni. Ada yang menciptakan susunan simbol-simbol dari budaya tradisi dan memberikan makna baru seperti dilakukan Nyoman Erawan, Nyoman Nuarta dengan Garuda Wisnu Kencananya. Tetapi tentu ada pula bagian masyarakat Bali yang berkeras mempertahankan spirit kebudayaan lama sambil merindukan kedigjayaan masa lampau, seperti dilakukan padepokan Bajra Sandhi pimpinan Ida Wayan Oka Granoka. Selain itu ada seniman macam Made Wianta, yang masih bisa dilacak ekspresi ke-Bali-annya, yang tidak “peduli” pada romantisme kultural Bali masa lalu, dan dengan keyakinan dan egonya menyusun perlambang-perlambang baru untuk memahami perubahan-perubahan yang terus melanda masyarakat Bali ini.
Di luar fakta seni budaya, pertarungan antara mega-kapital yang destruktif melawan mega-spiritual yang bertahan, tampak pada kasus-kasus Bali Nirwana Rersort Tanah Lot, Pura Sakenan di Pulau Serangan, reklamasi di seputar Pura Mertasari, megaproyek geotermal Bedugul yang macet. Tidak mustahil, Bali dan kebudayaannya bakal tinggal puing, seperti Majapahit yang porak-poranda, atau Inca dan Maya yang cuma meninggalkan benda-benda arkais untuk dikenang-kenang.
Penulis pecinta seni budaya, tinggal di Denpasar, Bali.


Artikel Bale Bengong lainnya

Seniman Bali
Kadek Suartaya
Konon seorang raja Bali pernah meminta kepada seorang dalang wayang kulit terkenal untuk enunjukkan kepiawaiannya. Namun jika dalam pementasannya dalang itu tak mampu membuat raja tertawa, ia akan dibunuh. Maka seluruh kemampuannya melucu dikerahkan oleh sang dalang. Namun raja tetap merengut. Suasana menjadi tegang. Tetapi tiba-tiba sang dalang, yang ketakutan, berimprovisasi. Entah dari mana ilham itu muncul, dengan cerdik dan spontan ia merobek bagian tengah kelirnya dan menjulurkan kepalanya sembari cengar-cengir celingukan. Tawa raja  pun meledak
.....selengkapnya

Hak Cipta Kesenian Bali
I Made Bandem
Akhir 1977, sebuah misi kesenian Bali, dari sebuah desa, mengadakan perlawatan panjang ke Eropa dan Amerika Serikat, mementaskan tari-tarian Bali di Paris, London, New York, Montreal, dan San Fransisco, dengan sambutan meriah dari penonton. Namun pada akhir perjalanan mereka, anggota sekaa itu menderita kerugian US$ 13.000 akibat honorarium mereka untuk dua minggu terakhir tak dilunasi, sampai sekarang. Rekaman pergelaran mereka, berupa album Nonsach, kini masih beredar luas dan digemari ribuan pecinta gamelan Bali di luar negeri.
.....selengkapnya

Mengidamkan PKB yang Komplet
Nyoman Tusthi Eddy
Sekali waktu pernah terlontar gagasan untuk untuk menyertakan seni kontemporer dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Tak pelak ide ini menimbulkan pro dan kontra, dengan muara akhir yang tak tuntas. Tentang perlu atau tidaknya seni kontemporer diikutkan dalam PKB, akhirnya cuma berhenti sebagai wacana argumentatif. Dalam kenyataannya hingga kini seni kontemporer hanyalah riak kecil di tengah gemerlap seni tradisional dan seni kerajinan yang berorientasi ke komersialisme.
.....selengkapnya

 
 
 
© Copy Right  SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD