Tak
Ada Lagi Ketulusan Masa Lalu
Putu Wirata Dwikora
Orang Bali tidak menolak
perubahan, tapi mereka tentu tidak mau identitas kebudayaannya lenyap,
seperti budaya Maya dan Inca di Amerika Latin, atau budaya Hawaii yang
cuma jadi ornamen pariwisata. Atau tengoklah contoh yang lebih dekat: Majapahit
yang agung akhirnya berkeping karena intrik-intrik dalam istana, diikuti
perubahan kultural dengan kehancuran budaya Hindu, setelah dibangun berabad-abad.
Di Bali, pura yang rutin
mendapat kunjungan turis menjadi tempat ibadah yang kehilangan roh, gunung
dan sungai suci kehilangan tuah.Tari, kidung, tabuh gamelan, goresan pelukis,
seperti kehilangan taksu, karena seakan-akan seluruh ekspresi berkesenian
diabdikan untuk pariwisata, demi dollar.
Kaum intelektual dan rohaniwan
Hindu amat suka meng gunakan wacana ini guna meneropong fenomena yang berkembang
dalam masyarakat Bali. Tentang tiga juta turis berkunjung ke Bali setiap
tahun, ratusan miliar rupiah mengalir dan memutar perekonomian rakyat.
Kalau kita setuju pada teori Edward Spranger, di mana perekonomian meningkat
akan disertai kemerosotan akhlak dan rasa beragama, barangkali kita boleh
waspada, adakah gejala kemerosotan akhlak keagamaan dalam diri masyarakat
Bali? Adakah taksu telah melesat dari tangan-tangan terampil mereka, yang
setiap hari mempersembahkan sesajen, yang setiap saat menembangkan kidung-kidung
suci, bahkan dalam gemuruh yang lebih semarak dibanding masa-masa sebelumnya?
Akan sangat pelik dan menjadi
tidak mudah untuk memberikan jawaban tunggal terhadap realitas masyarakat
yang sangat kompleks ini. Memang, kini tidak ada lagi seniman yang bisa
mengklaim dirinya sebagai “titisan” dari ketulusan masa lalu, manakala
para pengukir, pematung dan tukang gambar di
Bali mempersembahkan karya-karya
mereka sebagai ungkapan yadnya. Seniman-seniman kontemporer Bali berkarya
dan berekspresi atas nama egonya, atas nama klaim pribadi, atas nama personal,
dan menjual karya-karya mereka untuk hasrat-hasrat material yang menjadi
ciri kehidupan modern. Tetapi, tidak bisa pula kita melihat realitas kehidupan
berkesenian secara sederhana dari satu sudut ini saja. Ada seniman yang
berjalan di jalur modern dan memilih ekspresi sebagai pelampiasan ego,
tetapi tetap menempatkan diri dalam komunitas kolektif ritual di banjarnya.
Nyoman Erawan dari Banjar Dlodtangluk, Sukawati, misalnya, menjadi seorang
yang ringan tangan membantu warga desanya membuat lembu pangabenan, untuk
dikremasi bersama jenazah. Ia mencari sejenis penyeimbang dari realitas
kontemporer yang semakin materialistik ini dengan pencarian-pencarian yang
bernuansa ritual, dan ia ekspresikan dalam karya-karyanya: lukisan, instalasi,
seni rupa pertunjukan.
Cara Nyoman Erawan mengekspresikan
gagasan dan menyusun ulang simbol-simbol dari kekayaan budaya tradisi Bali,
semakin mengukuhkan analisis-analisis kaum intelektual Bali, niscaya memang
ada yang hilang dari jatidiri masyarakat Bali, seiring gerak maju modernitas
ini. Terasa ada yang lenyap, karena karya dan ekspresi budaya tidak hanya
menjadi komoditas pariwisata, namun sebagai manusia, mereka juga merasakan
alienasi yang memedihkan hati karena intervensi kebudayaan eksternal. Di
Kuta misalnya, gemuruh gamelan dan semarak sesajen serta lanskap pura tenggelam
di antara gemuruh musik diskotek dan gedung-gedung beraksitektur kontemporer
dan praktis. Untuk menyatakan identitasnya, warga di sana menyelenggarakan
ritus penyucian bernilai miliaran rupiah, dengan hasrat-hasrat yang dinyatakan
secara tegas, bahwa ritual itu guna menyucikan palemahan Kuta dari kekotoran-kekotoran
masyarakat mancanegara. Mereka bagai hendak membangkitkan aura taksu kebudayaannya,
yang mereka rasakan memudar seiring kemajuan dan perubahan-perubahan kultural
karena pariwisata. Namun, turis-turis tetaplah melihat prosesi ritual itu
sebagai suatu pesona “teater kehidupan”.
Prosesi ritual pembersihan
di Kuta maupun prosesi seni rupa ritual Nyoman Erawan adalah representasi
resistensi masyarakat Bali, yang mencoba bertahan pada kemurnian tradisi
yang diyakini punya roh yang mempertautkan realitas dan irealitas, pun
irasionalitas dan rasionalitas. Sesuatu yang wajar. Bila gelombang kebudayaan
eksternal yang menggelora karena datangnya
modernitas dan pariwisata
ibarat gerusan ombak yang menyebabkan pantai-pantai kultural mengalami
abrasi, ritus-ritus agaknya masih diyakini sebagai tempat berpegang yang
ampuh.
Orang Bali tentu saja tidak
serta merta melompat atau berenang menuju pada Pulau Kebudayaan yang baru,
yang sama sekali tidak mereka pahami, dan karenanya mereka akan tetap berusaha
berpegangan pada batu karang di Pulau Kebudayaan Lama yang memberinya mimpi-mimpi
tentang kehidupan ritual klasik penuh harmoni. Ada yang menciptakan susunan
simbol-simbol dari budaya tradisi dan memberikan makna baru seperti dilakukan
Nyoman Erawan, Nyoman Nuarta dengan Garuda Wisnu Kencananya. Tetapi tentu
ada pula bagian masyarakat Bali yang berkeras mempertahankan spirit kebudayaan
lama sambil merindukan kedigjayaan masa lampau, seperti dilakukan padepokan
Bajra Sandhi pimpinan Ida Wayan Oka Granoka. Selain itu ada seniman macam
Made Wianta, yang masih bisa dilacak ekspresi ke-Bali-annya, yang tidak
“peduli” pada romantisme kultural Bali masa lalu, dan dengan keyakinan
dan egonya menyusun perlambang-perlambang baru untuk memahami perubahan-perubahan
yang terus melanda masyarakat Bali ini.
Di luar fakta seni budaya,
pertarungan antara mega-kapital yang destruktif melawan mega-spiritual
yang bertahan, tampak pada kasus-kasus Bali Nirwana Rersort Tanah Lot,
Pura Sakenan di Pulau Serangan, reklamasi di seputar Pura Mertasari, megaproyek
geotermal Bedugul yang macet. Tidak mustahil, Bali dan kebudayaannya bakal
tinggal puing, seperti Majapahit yang porak-poranda, atau Inca dan Maya
yang cuma meninggalkan benda-benda arkais untuk dikenang-kenang.
Penulis pecinta seni
budaya, tinggal di Denpasar, Bali.
|