Kebaya
‘Jala Ikan’, Menguji Keteguhan Iman
Tanya Jawab Prihal Upacara
Ngurah Nala
Atma Setelah Diaben
Om Swastyastu,
Selamat atas terbitnya SARAD.
Topik dan isi (format)-nya udah oke punya. Kertasnya pun udah unik kok.
Karena isinya tersebutlah tiang jadi berminat untuk baca SARAD. Kalau lay
out-nya bisa seunik isinya, tentu SARAD bisa lebih unik lagi.
Yang pengin tiang cari tahu
adalah tentang palebon (ngaben). Tiang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi
dan dirasakan (baik mitos maupun hal yang sebenarnya) pada jiwa/atma yang
jasadnya ada dalam rangkaian upacara palebon sampai akhirnya distanakan
di Sanggar Kemulan (rong tiga)? Orangtua kami pernah menceritakan, konon
tiga hari setelah kakak saya meninggal, dia sempat melihat kuku-kukunya
mulai membusuk. Saat itulah dia baru sadar, dirinya telah meninggal. Kini
roh kakak kami itu sudah diaben dan sudah distanakan di Sanggar Kemulan
(Rong Tiga). Benarkah kejadiannya seperti itu? Apa sesungguhnya yang terjadi
pada roh, sebelum orang meninggal, setelah meninggal, lantas diabenkan,
dan akhirnya setelah diabenkan?
Buku-buku apa yang memuat
tentang hal itu? Atau siapa orang yang bisa tiang hubungi untuk mengetahui
hal itu? Matur suksma pinih ajeng.
Om Santi, Santi, Santi,
Om
Centrin
mindy@dps.centrin.net.id
Jawab:
Ngaben
termasuk upacara pitra yadnya. Suatu upacara pengorbanan suci yang bertujuan
untuk menghormati orang tua/leluhur. Sebagai kita ketahui bahwa tubuh manusia
hidup terdiri atas badan kasar (raga sarira, sthula sarira) dan atma (jiwa).
Dalam hal ini yadnya itu berupa mengembalikan badan kasar dan atma ke tempat
asalnya. Pengembalian raga sarira-nya atau badan kasarnya terdiri
atas ruang atau eter (akasa), udara (vayu), api (teja), air (apah), dan
tanah (perthiwi) ke panca mahabhuta. Dan pengembalian atma ke Paramatma
(Hyang Widhi). Upacara pertama disebut sawa wedana dan yang kedua disebut
atma wedana. Upacara atma wedana merupakan lanjutan dari sawa wedana. Di
Bali atma wedana ini sering dinamai ngarorasin, mamukur, maligya, atau
ngaluhur. Setelah upacara atma wedana ini selesai, dilanjutkan dengan ngalinggihang
(disthanakan, “ditempatkan”) di pura kawitan, merajan, atau sanggah. Upacara
ini sudah termasuk dalam upacara dewa yadnya.
Atma
adalah “Hyang Widhi” atau “Tuhan” yang berada di dalam tubuh manusia. Dengan
adanya atma manusia itu hidup. Begitu atma meninggalkan tubuh manusia,
maka matilah manusia itu. Jika sewaktu hidup manusia itu berbuat kebaikan,
menjalankan dharma agama dengan patuh, maka setelah meninggal atma-nya
akan bersatu atau manunggal dengan Sang Hyang Paramatma atau Hyang Widhi.
Jika semasa hidupnya perilakunya banyak yang bertentangan dengan dharma
maka dia akan numitis atau mengalami punarbhawa. Menjelma kembali ke dunia
ini. Entah masuk ke badan manusia atau binatang.
Karena
atma itu merupakan Hyang Widhi yang berada di tubuh manusia, maka atma
itu pun memiliki sifat ketuhanan. Dia bersifat wyapi wyapaka dan nirwikara,
meresap dan berada di mana-mana. Atma ini tidak berwujud, tak terpikirkan,
dapat berada di mana-mana, tetapi juga tidak berada di mana-mana. Atma
ini sulit diterjemahkan atau dicari padanannya dalam bahasa Indonesia.
Apakah atma itu sama dengan jiwa atau roh? Jadi, apa yang diceritakan oleh
orangtua Anda tidaklah berdasarkan atas sastra agama Hindu. Lebih banyak
bertumpu pada suatu kepercayaan yang telah lama berkembang di masyarakat
Bali. Dipercaya atau tidak cerita tersebut terserah Anda sendiri.
Cobalah
dibaca lebih banyak lagi buku-buku agama Hindu, terutama yang memuat tentang
pitra yadnya, ngaben, panca sradha, atma, punarbhawa, merajan atau sanggah,
rong tiga, kamulan, dan lain-lain.
Makna Rangkaian Manusa
Yadnya
Yth. Redaksi SARAD,
Mohon penjelasan makna/filosofi
rangkaian upacara manusa yadnya yang kita laksanakan mulai dari (yang saya
tahu): (a) kepus pungsed; (b) 42 hari (tutug kambuhan); (c) tiga bulan
(nelu bulanin); (d) enam bulan (otonan); dst.
Terima kasih.
Made Suartika
suartika@hotmail.com
Jawab:
Menurut
beberapa buku yang menguraikan tentang manusa yadnya, dikatakan ada empat
rangkaian upacara manusa yadnya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan-pisahkan.
Keempat rangkaian upacara tersebut adalah: (1) mabyakala (mabyakaonan);
(2) malukat (majaya-jaya), (3) natab (ngayab); dan (4) muspa. Sedangkan
jenis upacaranya, ada sebanyak 13 macam, terdiri atas: (1) Pagedong-gedongan
(kehamilan berumur 5 bulan Bali); (2) Rare embas (kelahiran bayi); (3)
Kepus user (tali pusat lepas); (4) Ngalepas awon (bayi berumur 12 hari);
(5) Tutug Kambuhan (bayi berumur 42 hari = abulan pitung dina); (6) Nyambutin
(bayi berumur tiga bulan Bali = 105 hari); (7) Otonan (bayi berumur 210
hari =enam bulan Bali); (8) Ngempugin (tumbuh gigi pertama); (9) Maketus
(gigi tanggal pertama kali); (10) Munggah daa/teruna (meningkat dewasa);
(11) Mapandes (potong gigi, masangih); (12) Mawinten (mohon waranugraha
akan mempelajari ilmu pengetahuan keagamaan); (13) Pawiwahan (perkawinan).
Keempat
rangkaian upacara manusa yadnya ini tujuannya adalah agar manusia tidak
diganggu oleh bhuta-kala (mabyakala = memberi korban kepada kala), kemudian
dimohon agar tubuh manusia, baik sthula sarira (badan kasar) maupun sukma
sarira (badan halus) dibersihkan (malukat majaya jaya) dari segala
kaletehan (kekotoran pikiran). Upacara selanjutnya memohon ke hadapan para
dewa, agar menjaga serta melindungi umat manusia dari segala marabahaya,
dan semua sifat baik merasuk dan meresap ke dalam tubuh manusia (natab,
ngayab) sehingga manusia dapat paling tidak bersifat seperti dewa, selalu
melaksanakan dharma. Dan terakhir melakukan persembahyangan (muspa) untuk
menghaturkan terima kasih atas segala anugerah yang telah diberikan selama
ini.
Semua
rangkaian upacara itu dilaksanakan pada saat tertentu sesuai dengan tahapan
perkembangan dan pertumbuhan manusia, yakni dimulai pada waktu sedang hamil,
melahirkan, kepus pungsed, dan seterusnya sampai dewasa, kawin.
Busana ke Pura, Kepercayaan,
dan Bija
Om Swastyastu,
Saya mau menanyakan beberapa
hal, sebagai berikut.
1. Pada majalah SARAD Nomor
3/Tahun I, Maret 2000 (halaman 28) saya membaca liputan mengenai kebaya
wanita yang dikenakan ke pura. Di sana dikatakan, bahwa motif kebaya itu
seperti ‘jala ikan’ (tembus pandang). Lalu saya teringat pertanyaan teman
saya dari Jawa. “Apakah pakaian sembahyang umat Hindu seperti itu
tidak malah merangsang laki-laki untuk melotot melihatnya? Jangan-jangan
malah batal sembahyangnya!” Waktu itu saya terkejut dan cukup bingung mendengar
pertanyaannya. Lalu saya menjelaskannya dari sudut pandang logika (asal
saja), yang penting dia bisa menerimanya. Di rumah baru saya renungkan
kembali, kalau ditanya seperti itu lagi bagaimana sebaiknya saya menjawab?
Bagaimana sebaiknya menyikapi pertanyaan seperti itu dengan baik dan tepat.
Apakah nanti sebaiknya dilarang menggunakan kebaya ‘jala ikan’ seperti
itu?
2. Pertanyaan mereka yang
lain misalnya, benarkan Hindu itu menganut animisme dan dinamisme (selain
monotheisme)? Kita mengetahui, saat-saat tertentu kita menyembahyangi pohon-pohon
besar seperti beringin dan menyembah roh leluhur. Apakah ini berarti kita
menganut kedua paham tadi (animisme dan dinamisme)?
3. Terakhir, mengenai pemakaian
bija (basma). Apakah diletakkan hanya di dahi atau di dahi dan juga di
pelipis. Orangtua saya mengatakan, bija itu (menurut aturan sekarang) hanya
diletakkan di dahi, tetapi saya sering melihat di pura banyak juga
orang yang meletakkannya di tiga tempat tadi (dai dan pelipis kiri-kanan).
Yang mana yang benar dan apakah memang ada aturan yang mengatur tentang
hal itu?
Saya semakin menyadari,
bahwa pengetahuan kita tentang agama sebenarnya masih sempit dan terbiasa
dengan jawaban “jeg mula keto”. Ketika ditanya tentang filosofinya, kita
tidak tahu apa-apa. Demikian hal-hal yang ingin saya tanyakan. Maaf kalau
saya menyampaikannya secara berbelit-belit. Matur suksma atas perhatiannya.
Om Santi Santi Santi Om.
Krisnahari
Surabaya
tuagung@telkom.net
Jawab:
1.
Pakaian adat Bali (busana agung, payas gede, dll.) adalah model kemben.
Bagian tubuh dari pangkal susu atas, bahu, sampai leher terbuka. Apakah
laki-laki terangsang dengan melihat wanita berpakaian demikian ke pura?
Begitu pula para penari pendet, rejang, dan tarian lainnya yang ditarikan
oleh wanita, kebanyakan berpakaian dengan bahu terbuka. Apakah akan merangsang
para pria sehingga batal sembahyang? Ah, itu kan lain dengan model busana
kebaya “jala ikan”! Mungkin demikian jawabannya.
Memang,
semasih kita bernama manusia, apalagi yang masih pada tingkatan para bhakta,
belum tinggi keteguhan imannya, pasti akan terangsang melihat keadaan wanita
berpakaian adat demikian, termasuk wanita yang berbusana kebaya motif
“jala ikan”. Walaupun tidak mungkin untuk dilarang, karena tidak ada dasar
hukumnya ditinjau dari segi agama atau hukum apa pun, sebaliknya
para wanita sedapat mungkin menyesuaikan cara berpakaiannya dengan situasi
dan kondisi yang akan dihadirinya, terutama untuk bersembahyang ke pura.
Dengan demikian akan berpahala, karena membantu para pria untuk memusatkan
perhatiannya dan konsentrasi pikirannya kepada bakti persembahyangan saja,
tanpa harus menahan gejolak nafsunya ketika bersembahyang. Tapi ada pula
yang mengatakan bahwa inilah ujian keteguhan iman bagi laki-laki! Bila
lulus, akan besar pahalanya.
2.Mengenai
menyembah pohon besar atau beringin dan roh leluhur apakah dengan perilaku
umat Hindu di Bali seperti ini termasuk animisme? Cobalah renungkan uraian
berikut ini. Hutan dengan pohon-pohon yang besar mendatangkan hujan. Hujan
mendatangkan kemakmuran. Tanpa ada pohon tidak ada hutan, dan akan terjadi
kekeringan. Kalaupun turun hujan akan terjadi banjir. Kekeringan dan banjir
adalah malapetaka bagi umat manusia. Inilah hukum alam. Oleh karena itu
pohon yang besar adalah simbol kemakmuran. Salahkah bila umat Hindu di
Bali menghormati pohon sebagai simbol kemakmuran karunia Hyang Widhi
yang tidak ternilai harganya? Melalui pohonlah umat Hindu di Bali menyembah
Hyang Widhi. Animismekah ini?
Bangsa
Jepang menghormati bendera berwarna putih dengan bulatan merah di tengahnya,
bangsa Amerika menghormati bendera bergaris merah putih dengan bintang-bintang
putih di atas dasar biru, bangsa Belanda menghormati bendera merah putih
biru, dan seterusnya. Bendera itu terbuat dari kain. Mereka itu menghormati
benda berupa kain. Bahkan mereka berani mati untuk membela bendera kain
itu kalau diinjak-injak oleh orang lain. Animismekah mereka itu? Mereka
itu menghormati simbol, makna serta nilai yang ada di balik kain bendera
itu.
Demikian
pula dengan umat Hindu di Bali. Mereka itu menghormati simbol, makna serta
nilai yang ada di balik pohon besar itu (kebesaran Hyang Widhi). Begitu
pula halnya dengan penyembahan terhadap roh leluhur. Mereka para leluhur
itu begitu besar jasanya kepada kita. Tanpa ada mereka, adakah kita ini?
Merekalah yang mengadakan kita, membesarkan kita, mendidik kita, memelihara
kita, mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, peninggalan budaya
yang luhur, menjaga kelestarian jagat dan berbagai perbuatan mulia lainnya
yang mereka lakukan untuk kita. Salahkah atau animismekah kalau kita berterima
kasih, bersyukur, menghormati atau menyembah roh mereka (lambang kemahamuliaan
Hyang Widhi) atas jasanya itu?
3.
Bija adalah biji, benih yang dapat tumbuh dan berkembang kalau ditanam.
Oleh sebab itu bija dipergunakan sebagai lambang untuk menumbuhkan sifat
dharma di dalam diri manusia. Dalam rangkaian upacara persembahyangan,
setelah selesai matirta (pembersihan diri), dilanjutkan dengn mabija.
Mabija berarti menanam, menumbuhkan dan mengembangkan sifat-sifat
dharma di dalam diri kita. Di bagian tubuh manakah yang paling baik dan
tepat di letakkan bija itu? Menurut konsep Hindu (Kundalini Yoga) bagian
tubuh yang dianggap memiliki suatu kekuatan tertinggi adalah di dahi antara
kedua alis. Di tempat ini terdapat cakr-dnyana (jnana). Cakra ini merupakan
pusat komando, pengendali semua perilaku diri kita. Di tempat inilah bersthana
atau bersemayam aksara suci OM. Tempat ini dianggap pula sebagai mata ketiga,
tri netra, mata Siwa. Itulah salah satu alasannya mengapa bija itu ditempelkan
atau ditanam pada dahi di antara kedua alis.
Memang
ada yang menempelkan bija di kedua pelipis kiri dan kanan, kemudian diikuti
daerah tenggorokan/leher bagian depan. Kalau titik di dahi dihubungkan
dengan yang di tenggorokan serta yang di pelipis kiri dihubungkan dengan
yang di pelipis kanan akan mendapat tanda “ + “ (tapak dara atau lambang
swastika), atau lambang perputaran kehidupan.
Jadi,
semua kebiasaan yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali pada waktu mabija,
baik hanya di dahi saja, di tiga tempat di dahi dan di kedua pelipis, atau
di tempat-tempat: dahi, kedua pelipis, dan kerongkongan, asal tahu makna
dan tujuannya, semua adalah benar dan baik.
Selain
ditempelkan, bija juga ditelan, bukan dikunyah, agar masuk ke dalam badan
melalui perut. Maksudnya agar bija tumbuh dan berkembang di dalam persemaian
tubuh. Itulah sebabnya bija harus ditelan, bukan dikunyah, karena kalau
dikunyah bija itu akan hancur, tidak memiliki daya hidup, tidak bisa tumbuh
berkembang di dalam tubuh
PERBINCANGAN PRIHAL
UPACARA
Untuk edisi selanjutnya,
rubrik Upakara ini akan tampil sebagai rubrik tanya jawab/konsultasi.
Silakan Pembaca menyampaikan
persoalan Upakara Hindu kepada kami,
Redaksi akan menyerahkannya
kepada ahli, agamawan,
rohaniwan, untuk menjawabnya.
Tujukan pertanyaan Anda
ke Redaksi SARAD
Jl. Gatot Subroto 236, Denpasar
80239
BALI- INDONESIA
telepon 423388, atau faks.
427070
Sangat bagus jika pertanyaan
dikirim lewat e-mail ke
red@saradbali.com
|