logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 UPAKARA-SENI KRIYA KEAGAMAAN 
 
 

Kebaya ‘Jala Ikan’, Menguji Keteguhan Iman
Tanya Jawab Prihal Upacara

Ngurah Nala
 

Atma Setelah Diaben
Om Swastyastu,
Selamat atas terbitnya SARAD. Topik dan isi (format)-nya udah oke punya. Kertasnya pun udah unik kok. Karena isinya tersebutlah tiang jadi berminat untuk baca SARAD. Kalau lay out-nya bisa seunik isinya, tentu SARAD bisa lebih unik lagi.
Yang pengin tiang cari tahu adalah tentang palebon (ngaben). Tiang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan (baik mitos maupun hal yang sebenarnya) pada jiwa/atma yang jasadnya ada dalam rangkaian upacara palebon sampai akhirnya distanakan di Sanggar Kemulan (rong tiga)? Orangtua kami pernah menceritakan, konon tiga hari setelah kakak saya meninggal, dia sempat melihat kuku-kukunya mulai membusuk. Saat itulah dia baru sadar, dirinya telah meninggal. Kini roh kakak kami itu sudah diaben dan sudah distanakan di Sanggar Kemulan (Rong Tiga). Benarkah kejadiannya seperti itu? Apa sesungguhnya yang terjadi pada roh, sebelum orang meninggal, setelah meninggal, lantas diabenkan, dan akhirnya setelah diabenkan?
Buku-buku apa yang memuat tentang hal itu? Atau siapa orang yang bisa tiang hubungi untuk mengetahui hal itu? Matur suksma pinih ajeng.
Om Santi, Santi, Santi, Om
Centrin
mindy@dps.centrin.net.id

Jawab:
Ngaben termasuk upacara pitra yadnya. Suatu upacara pengorbanan suci yang bertujuan untuk menghormati orang tua/leluhur. Sebagai kita ketahui bahwa tubuh manusia hidup terdiri atas badan kasar (raga sarira, sthula sarira) dan atma (jiwa). Dalam hal ini yadnya itu berupa mengembalikan badan kasar dan atma ke tempat asalnya.  Pengembalian raga sarira-nya atau badan kasarnya terdiri atas ruang atau eter (akasa), udara (vayu), api (teja), air (apah), dan tanah (perthiwi) ke panca mahabhuta. Dan pengembalian atma ke Paramatma (Hyang Widhi). Upacara pertama disebut sawa wedana dan yang kedua disebut atma wedana. Upacara atma wedana merupakan lanjutan dari sawa wedana. Di Bali atma wedana ini sering dinamai ngarorasin, mamukur, maligya, atau ngaluhur. Setelah upacara atma wedana ini selesai, dilanjutkan dengan ngalinggihang (disthanakan, “ditempatkan”) di pura kawitan, merajan, atau sanggah. Upacara ini sudah termasuk dalam upacara dewa yadnya.
Atma adalah “Hyang Widhi” atau “Tuhan” yang berada di dalam tubuh manusia. Dengan adanya atma manusia itu hidup. Begitu atma meninggalkan tubuh manusia, maka matilah manusia itu. Jika sewaktu hidup manusia itu berbuat kebaikan, menjalankan dharma agama dengan patuh, maka setelah meninggal atma-nya akan bersatu atau manunggal dengan Sang Hyang Paramatma atau Hyang Widhi. Jika semasa hidupnya perilakunya banyak yang bertentangan dengan dharma maka dia akan numitis atau mengalami punarbhawa. Menjelma kembali ke dunia ini. Entah masuk ke badan manusia atau binatang.
Karena atma itu merupakan Hyang Widhi yang berada di tubuh manusia, maka atma itu pun memiliki sifat ketuhanan. Dia bersifat wyapi wyapaka dan nirwikara, meresap dan berada di mana-mana. Atma ini tidak berwujud, tak terpikirkan, dapat berada di mana-mana, tetapi juga tidak berada di mana-mana. Atma ini sulit diterjemahkan atau dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Apakah atma itu sama dengan jiwa atau roh? Jadi, apa yang diceritakan oleh orangtua Anda tidaklah berdasarkan atas sastra agama Hindu. Lebih banyak bertumpu pada suatu kepercayaan yang telah lama berkembang di masyarakat Bali. Dipercaya atau tidak cerita tersebut terserah Anda sendiri.
Cobalah dibaca lebih banyak lagi buku-buku agama Hindu, terutama yang memuat tentang pitra yadnya, ngaben, panca sradha, atma, punarbhawa, merajan atau sanggah, rong tiga, kamulan, dan lain-lain.
 

Makna Rangkaian Manusa Yadnya
Yth. Redaksi SARAD,
Mohon penjelasan makna/filosofi rangkaian upacara manusa yadnya yang kita laksanakan mulai dari (yang saya tahu): (a) kepus pungsed; (b) 42 hari (tutug kambuhan); (c) tiga bulan (nelu bulanin); (d) enam bulan (otonan); dst.
Terima kasih.
Made Suartika
suartika@hotmail.com

Jawab:
Menurut beberapa buku yang menguraikan tentang manusa yadnya, dikatakan ada empat rangkaian upacara manusa yadnya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan-pisahkan. Keempat rangkaian upacara tersebut adalah: (1) mabyakala (mabyakaonan); (2) malukat (majaya-jaya), (3) natab (ngayab); dan (4) muspa. Sedangkan jenis upacaranya, ada sebanyak 13 macam, terdiri atas: (1) Pagedong-gedongan (kehamilan berumur 5 bulan Bali); (2) Rare embas (kelahiran bayi); (3) Kepus user (tali pusat lepas); (4) Ngalepas awon (bayi berumur 12 hari); (5) Tutug Kambuhan (bayi berumur 42 hari = abulan pitung dina); (6) Nyambutin (bayi berumur tiga bulan Bali = 105 hari); (7) Otonan (bayi berumur 210 hari =enam bulan Bali); (8) Ngempugin (tumbuh gigi pertama); (9) Maketus (gigi tanggal pertama kali); (10) Munggah daa/teruna (meningkat dewasa); (11) Mapandes (potong gigi, masangih); (12) Mawinten (mohon waranugraha akan mempelajari ilmu pengetahuan keagamaan); (13) Pawiwahan (perkawinan).
Keempat rangkaian upacara manusa yadnya ini tujuannya adalah agar manusia tidak diganggu oleh bhuta-kala (mabyakala = memberi korban kepada kala), kemudian dimohon agar tubuh manusia, baik sthula sarira (badan kasar) maupun sukma sarira (badan halus) dibersihkan (malukat  majaya jaya) dari segala kaletehan (kekotoran pikiran). Upacara selanjutnya memohon ke hadapan para dewa, agar menjaga serta melindungi umat manusia dari segala  marabahaya, dan semua sifat baik merasuk dan meresap ke dalam tubuh manusia (natab, ngayab) sehingga manusia dapat paling tidak bersifat seperti dewa, selalu melaksanakan dharma. Dan terakhir melakukan persembahyangan (muspa) untuk menghaturkan terima kasih atas segala anugerah yang telah diberikan selama ini.
Semua rangkaian upacara itu dilaksanakan pada saat tertentu sesuai dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhan manusia, yakni dimulai pada waktu sedang hamil, melahirkan, kepus pungsed, dan seterusnya sampai dewasa, kawin.
 

Busana ke Pura, Kepercayaan, dan Bija
Om Swastyastu,
Saya mau menanyakan beberapa hal, sebagai berikut.
1. Pada majalah SARAD Nomor 3/Tahun I, Maret 2000 (halaman 28) saya membaca liputan mengenai kebaya wanita yang dikenakan ke pura. Di sana dikatakan, bahwa motif kebaya itu seperti ‘jala ikan’ (tembus pandang). Lalu saya teringat pertanyaan teman saya dari Jawa.  “Apakah pakaian sembahyang umat Hindu seperti itu tidak malah merangsang laki-laki untuk melotot melihatnya? Jangan-jangan malah batal sembahyangnya!” Waktu itu saya terkejut dan cukup bingung mendengar pertanyaannya. Lalu saya menjelaskannya dari sudut pandang logika (asal saja), yang penting dia bisa menerimanya. Di rumah baru saya renungkan kembali, kalau ditanya seperti itu lagi bagaimana sebaiknya saya menjawab? Bagaimana sebaiknya menyikapi pertanyaan seperti itu dengan baik dan tepat. Apakah nanti sebaiknya dilarang menggunakan kebaya ‘jala ikan’ seperti itu?
2. Pertanyaan mereka yang lain misalnya, benarkan Hindu itu menganut animisme dan dinamisme (selain monotheisme)? Kita mengetahui, saat-saat tertentu kita menyembahyangi pohon-pohon besar seperti beringin dan menyembah roh leluhur. Apakah ini berarti kita menganut kedua paham tadi (animisme dan dinamisme)?
3. Terakhir, mengenai pemakaian bija (basma). Apakah diletakkan hanya di dahi atau di dahi dan juga di pelipis. Orangtua saya mengatakan, bija itu (menurut aturan sekarang) hanya diletakkan di dahi, tetapi  saya sering melihat di pura banyak juga orang yang meletakkannya di tiga tempat tadi (dai dan pelipis kiri-kanan). Yang mana yang benar dan apakah memang ada aturan yang mengatur tentang hal itu?
Saya semakin menyadari, bahwa pengetahuan kita tentang agama sebenarnya masih sempit dan terbiasa dengan jawaban “jeg mula keto”. Ketika ditanya tentang filosofinya, kita tidak tahu apa-apa. Demikian hal-hal yang ingin saya tanyakan. Maaf kalau saya menyampaikannya secara berbelit-belit. Matur suksma atas perhatiannya.
Om Santi Santi Santi Om.
Krisnahari
Surabaya
tuagung@telkom.net
 

Jawab:
1. Pakaian adat Bali (busana agung, payas gede, dll.) adalah model kemben. Bagian tubuh dari pangkal susu atas, bahu, sampai leher terbuka. Apakah laki-laki terangsang dengan melihat wanita berpakaian demikian ke pura? Begitu pula para penari pendet, rejang, dan tarian lainnya yang ditarikan oleh wanita, kebanyakan berpakaian dengan bahu terbuka. Apakah akan merangsang para pria sehingga batal sembahyang? Ah, itu kan lain dengan model busana kebaya “jala ikan”! Mungkin demikian jawabannya.
Memang, semasih kita bernama manusia, apalagi yang masih pada tingkatan para bhakta, belum tinggi keteguhan imannya, pasti akan terangsang melihat keadaan wanita berpakaian adat demikian, termasuk wanita yang berbusana kebaya motif  “jala ikan”. Walaupun tidak mungkin untuk dilarang, karena tidak ada dasar hukumnya ditinjau dari segi agama atau  hukum apa pun, sebaliknya para wanita sedapat mungkin menyesuaikan cara berpakaiannya dengan situasi dan kondisi yang akan dihadirinya, terutama untuk bersembahyang ke pura. Dengan demikian akan berpahala, karena membantu para pria untuk memusatkan perhatiannya dan konsentrasi pikirannya kepada bakti persembahyangan saja, tanpa harus menahan gejolak nafsunya ketika bersembahyang. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa inilah ujian keteguhan iman bagi laki-laki! Bila lulus, akan besar pahalanya.
2.Mengenai menyembah pohon besar atau beringin dan roh leluhur apakah dengan perilaku umat Hindu di Bali seperti ini termasuk animisme? Cobalah renungkan uraian berikut ini. Hutan dengan pohon-pohon yang besar mendatangkan hujan. Hujan mendatangkan kemakmuran. Tanpa ada pohon tidak ada hutan, dan akan terjadi kekeringan. Kalaupun turun hujan akan terjadi banjir. Kekeringan dan banjir adalah malapetaka bagi umat manusia. Inilah hukum alam. Oleh karena itu pohon yang besar adalah simbol kemakmuran. Salahkah bila umat Hindu di Bali menghormati pohon sebagai simbol kemakmuran  karunia Hyang Widhi yang tidak ternilai harganya? Melalui pohonlah umat Hindu di Bali menyembah Hyang Widhi. Animismekah ini?
Bangsa Jepang menghormati bendera berwarna putih dengan bulatan merah di tengahnya, bangsa Amerika menghormati bendera bergaris merah putih dengan bintang-bintang putih di atas dasar biru, bangsa Belanda menghormati bendera merah putih biru, dan seterusnya. Bendera itu terbuat dari kain. Mereka itu menghormati benda berupa kain. Bahkan mereka berani mati untuk membela bendera kain itu kalau diinjak-injak oleh orang lain. Animismekah mereka itu? Mereka itu menghormati simbol, makna serta nilai yang ada di balik kain bendera itu.
Demikian pula dengan umat Hindu di Bali. Mereka itu menghormati simbol, makna serta nilai yang ada di balik pohon besar itu (kebesaran Hyang Widhi). Begitu pula halnya dengan penyembahan terhadap roh leluhur. Mereka para leluhur itu begitu besar jasanya kepada kita. Tanpa ada mereka, adakah kita ini? Merekalah yang mengadakan kita, membesarkan kita, mendidik kita, memelihara kita, mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, peninggalan budaya yang luhur, menjaga kelestarian jagat dan berbagai perbuatan mulia lainnya yang mereka lakukan untuk kita. Salahkah atau animismekah kalau kita berterima kasih, bersyukur, menghormati atau menyembah roh mereka (lambang kemahamuliaan Hyang Widhi) atas jasanya itu?
3. Bija adalah biji, benih yang dapat tumbuh dan berkembang kalau ditanam. Oleh sebab itu bija dipergunakan sebagai lambang untuk menumbuhkan sifat dharma di dalam diri manusia. Dalam rangkaian upacara persembahyangan, setelah selesai matirta  (pembersihan diri), dilanjutkan dengn mabija. Mabija  berarti menanam, menumbuhkan dan mengembangkan sifat-sifat dharma di dalam diri kita. Di bagian tubuh manakah yang paling baik dan tepat di letakkan bija itu? Menurut konsep Hindu (Kundalini Yoga) bagian tubuh yang dianggap memiliki suatu kekuatan tertinggi adalah di dahi antara kedua alis. Di tempat ini terdapat cakr-dnyana (jnana). Cakra ini merupakan pusat komando, pengendali semua perilaku diri kita. Di tempat inilah bersthana atau bersemayam aksara suci OM. Tempat ini dianggap pula sebagai mata ketiga, tri netra, mata Siwa. Itulah salah satu alasannya mengapa bija itu ditempelkan atau ditanam pada dahi di antara kedua alis.
Memang ada yang menempelkan bija di kedua pelipis kiri dan kanan, kemudian diikuti daerah tenggorokan/leher bagian depan. Kalau titik di dahi dihubungkan dengan yang di tenggorokan serta yang di pelipis kiri dihubungkan dengan yang di pelipis kanan akan mendapat tanda “ + “ (tapak dara atau lambang swastika), atau lambang perputaran kehidupan.
Jadi, semua kebiasaan yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali pada waktu mabija, baik hanya di dahi saja, di tiga tempat di dahi dan di kedua pelipis, atau di tempat-tempat: dahi, kedua pelipis, dan kerongkongan, asal tahu makna dan tujuannya, semua adalah benar dan baik.
Selain ditempelkan, bija juga ditelan, bukan dikunyah, agar masuk ke dalam badan melalui perut. Maksudnya agar bija tumbuh dan berkembang di dalam persemaian tubuh. Itulah sebabnya bija harus ditelan, bukan dikunyah, karena kalau dikunyah bija itu akan hancur, tidak memiliki daya hidup, tidak bisa tumbuh berkembang di dalam tubuh


PERBINCANGAN PRIHAL UPACARA
Untuk edisi selanjutnya, rubrik Upakara ini akan tampil sebagai rubrik tanya jawab/konsultasi.
Silakan Pembaca menyampaikan persoalan Upakara Hindu kepada kami,
Redaksi akan menyerahkannya kepada ahli, agamawan,
rohaniwan, untuk menjawabnya.
Tujukan pertanyaan Anda ke Redaksi SARAD
Jl. Gatot Subroto 236, Denpasar 80239
BALI- INDONESIA
telepon 423388, atau faks. 427070
Sangat bagus jika pertanyaan dikirim lewat e-mail ke
red@saradbali.com

 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD