logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
DRESTA - ADAT
 
 
Filosofi yang Melandasi
Toleransi Hindu
Tanya Jawab Prihal Susila.

Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
 
 

Dasar Toleransi Hindu
Salut atas terbitnya SARAD. Setelah mencermati isinya secara seksama, saya langsung memutuskan: inilah kiranya bacaan yang dibutuhkan. Isinya aktual, ulasannya mendalam, penyajiannya sangat akrab, bahasanya indah, mudah dipahami. Saya yang memang tak ada dasar pengetahuan agama sebelumnya secara mudah bisa memahami penjelasan-penjelasan yang disajikan dalam bahasa sederhana tapi memikat.
Kali ini saya ingin bertanya soal toleransi. Sebagaimana diketahui, agama Hindu citranya baik, terutama dalam hal toleransi. Yang ingin saya tanyakan, apa dasar-dasar toleransi dalam Hindu? Bagaimana pula penerapan batas-batas pemberlakuan toleransi  tersebut? Ketika simbol-simbol kita digunakan oleh pihak lain, apakah kita cukup diam saja atas alasan toleransi? Bagaimana kalau kita menjaga toleransi namun pihak lain justru terus merangsek, bahkan kian demonstratif di hadapan kita?
Terima kasih atas jawaban Bapak.
Nyoman Sudanayasa
Jl Supratman, Denpasar

Jawab
Ada beberapa tuntutan dalam agama Hindu agar umatnya memegang teguh sifat-sifat toleransi. Pertama, filosofi tattwamasi yang menyatakan bahwa dalam diri setiap manusia bersama Atma atau Brahman yang merupakan serpihan-serpihan Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa); oleh karena Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Mahaesa itu hanya satu, maka Atman pada setiap manusia sesungguhnya tunggal. Hanya badan kasar sajalah yang membeda-bedakan wujud nyatanya. Tattwamasi bermakna ‘engkau adalah aku’. Jadi, jika kita menyayangi diri kita hendaknya juga menyayangi orang lain. Idealnya hidup saling menyayangi dengan kesadaran bahwa jika seseorang berbuat tidak baik kepada kita bukanlah karena kehendak Atman yang murni tetapi karena sifat rajas sebagai pengaruh indria yang tidak terkendali.
Kedua, filosofi ahimsa yang menyatakan bahwa perbuatan kekerasan tidak baik. Kekerasan dalam arti luas tidak hanya berarti membunuh atau menyiksa secara fisik, tetapi juga berarti menyakiti hati orang, menyinggung perasaan orang lain, membuat orang lain merasa tidak tenteram, entah dengan perbuatan, kata-kata, bahkan juga dengan pikiran buruk terhadap seseorang. Intinya juga kasih sayang.
Ketiga, filosofi karmaphala yang merupakan hukum sebab-akibat; apa pun pikiran, perkataan, dan perbuatan kita akan ada pahalanya. Yang baik disebut subha karma, akan membuat manusia menemui kebahagiaan lahir batin. Sedangkan yang buruk (asubha karma) akan membawa manusia ke neraka. Dengan menyadari hukum ini manusia akan berusaha selalu berbuat baik terhadap sesamanya.
Keempat, filosofi ksama, yaitu senang memaafkan kesalahan orang lain, karena itulah jalan menuju kedekatan kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tuhan tidak menginginkan manusia mendendam sesamanya. Ingatlah puja trisandya bait kelima: “Om ksamaswamam Mahadewa sarwa prani hitangkarah….” dan bait keenam: Om ksantawyah kayika dosah, ksantawyah wacika mamah, ksantawyah manasa dosah, tat pramadat ksama swamam. Pada kedua bait itu kita dengan khusyuk mohon maaf kepada Tuhan atas segala perbuatan, perkataan, dan pikiran yang salah, tetapi jika kita sendiri tidak mau memaafkan orang lain maka doa kita sia-sia, tidak akan dikabulkan-Nya.
Keempat filosofi itulah yang dapat mewujudkan sikap toleransi umat Hindu. Namun tentu ada juga batas-batasnya karena triguna yang ada di diri manusia, yaitu satwam, rajas, dan tamas  bobotnya berimbang dalam mengantisipasi setiap kejadian. Jika ada perbuatan orang lain yang menyusahkan atau menyakiti kita, langkah pertama beritahukanlah dengan baik-baik penuh kasih sayang, ingatkan bahwa perbuatannya itu menyimpang dari dharma. Mungkin dia tidak sadar melakukan sesuatu yang menyusahkan kita karena pengaruh indria yang tidak terkendali. Bila upaya itu juga tidak berhasil walaupun diulang berkali-kali, barulah mengambil tindakan yang dipandang perlu namun masih tetap pada jalur dharma. Ingatlah perang Bharatayuda antara Pandawa (simbol dharma) melawan Korawa (simbol adharma).
Ketika Arjuna putus asa karena harus berperang melawan Korawa yang nota bene juga saudara-saudara tiri, paman, kakek, bahkan gurunya, maka Sri Krisna antara lain menasihatkan, bahwa yang menghukum Korawa atas perbuatan adharma-nya bukanlah Arjuna, tetapi kemahakuasaan Sri Krisna sebagai perwujudan awatara Wisnu (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Nah, tentu saja Pandita tidak menyarankan Anda untuk berperang seperti zaman Bharatayuda. Kini jalur terhormat dan sesuai dengan dharma adalah melalui lembaga pengadilan.
 

Sapi Itu Suci?
Sampai kini saya masih bingung bersikap. Ada buku-buku bacaan yang lengkap dengan kutipan sloka-sloka dari kitab-kitab suci menyebutkan, bahwa sapi itu suci. Karenanya ada yang sampai berpantang-pantang untuk tidak memakan daging sapi. Juga mereka sangat menyayangkan bila sapi-sapi itu dibunuh, dimakan. Bagaimana sebenarnya? Bagaimana sikap kita?
Juga saya ingin tanyakan, kenapa di Bali ada tradisi atau kebiasaan bahwa orang yang sudah mawinten, apalagi yang sudah madwijati, tidak diperkenankan memakan daging sapi. Misalnya, pamangku, sulinggih, tidak memakan daging sapi. Di mana sumber-sumber tertulisnya tentang larangan makan daging sapi tersebut? Apa sanksinya bila larangan itu dilanggar? Bagaiaman bunyi larangan itu?
Suksma atas jawabannya.
I Ketut Partayana
Jl Pandu, Denpasar

Jawab:
Sapi dalam agama Hindu adalah binatang suci. Namanya Nandini, sebagai palinggihan Ida Batara Siwa. Oleh karenanya disakralkan, bukan diharamkan seperti babi dalam kepercayaan lain, misalnya. Pantangan menyakiti, membunuh, memakan dagingnya adalah dalam kaitan sujud bakti kita ke hadapan Ida Batara Siwa (Tuhan Yang Mahaesa). Bagaimana mungkin setiap hari kita memuja-Nya, lalu di kesempatan lain memakan daging binatang suci kesayangan-Nya?
Aturan-aturan mengenai tidak menyakiti, membunuh, dan memakan daging sapi ada dalam Parasara Dharmasastra (Smrti Kaliyuga) seperti yang dikutip dari buku yang disusun I Wayan Maswinara, Bab IX, Pasal 37: “Ia yang mendorong seekor sapi ke dalam kolam atau sumur atau menindih punggungnya dengan pohon atau menjual kepada penggemar daging sapi dinyatakan berdosa membunuh sapi”. Pasal 62: “Ia yang telah membunuh seekor sapi mencoba menyembunyikan dosanya dalam kehidupan ini setelah mati dicampakkan dalam kepedihan neraka kalasutram”. Pasal 63: “Terlepas dari neraka itu ia dilahirkan sebagai seorang yang dikebiri (wandu?) atau seorang penderita penyakit kusta (atau Aids?) atau sebagai seorang yang miskin pada tujuh penjelmaan secara berturut-turut”.
Bagi seorang brahmana-dwijati (pendeta) tercantum dalam Bab XI, Pasal 1: “Setelah (dengan tidak sengaja) makan daging sapi atau nasi seorang candala atau materi organik kotor seperti sperma dsb. seorang brahmana harus melakukan upacara penebusan dosa candrayana”. Selanjutnya unsur-unsur sapi disakralkan  dalam upacara pembebasan dosa antara lain tercantum dalam Bab XI Pasal 27: “Kesucian dan pembebas dosa adalah pancagavyam, yang merupakan campuran dari air kencing sapi, tahi sapi, susu sapi, susu sapi beku, mentega murni dari susu sapi, dan air cucian rumput kusa”. Dalam lontar Kusumadewa dan Silakrama dicantumkan bahwa seorang ekajati (jro mangku) apalagi seorang dwijati (pendeta) dilarang untuk: memegang tali sapi, melangkahi tali sapi, menginjak tahi sapi, dan kencing di atas tahi sapi, di samping juga larangan-larangan dalam Parasara Dharmasastra tersebut.
Sikap kita adalah menjalankan swadharma sebagai pemeluk Hindu yang baik, antara lain meyakini kebenaran sastra agama tersebut. Toh masih banyak sumber protein selain daging sapi. Susu, mentega, dan keju dari sapi boleh diminum, dimakan. Juga masih ada kambing, bebek, ayam (kecuali untuk eka-dwijati) dan hewan lain. Sesungguhnya menjadi vegetarian bagus, selain mencegah penumpukan kolesterol, juga beberapa ahli kedokteran menyebutkan bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk tidak memakan daging karena susunan gigi dan sistem pencernaan ususnya tidak sesuai. Yang cocok adalah makan biji-bijian, umbi-umbian, sayur-sayuran, dan buah-buahan.

Pindah Agama
Om Swastyastu,
Apakah ada sloka-sloka atau sumber-sumber lontar yang mengatur tentang larangan pindah agama? Bagaimana adat, kebiasaan, dan ikatan kawitan kita melarang perpindahan agama itu?
Om Santi Santi Santi Om.
I Ketut Sudana
Bandung, Jawa Barat

Jawab:
Sumber sastranya adalah Panca Srada, yaitu lima kepercayaan agama Hindu: (1) Widhi Tattwa; (2) Atma Tattwa; (3) Karmaphala; (4) Punarbhawa; dan (5)Moksa. Yang berkaitan langsung dengan perpindahan agama, yakni srada nomor 2 dan 4. Inti pemahaman kedua srada itu adalah keyakinan adanya Atma sebagai serpihan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bereinkarnasi terus menerus sampai suatu ketika karmawasana (bekas-bekas perbuatan yang melekat di Atma) bersih/suci dapat bersatu dengan Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Atman adalah leluhur jika dipandang dari sudut vertikal. Dengan demikian srada ini menciptakan susila penghormatan kepada leluhur (ayah-ibu, kakek-nenek, dst.). Jika berpindah agama, selain Hindu tidak mengenal panca srada. Jadi tatwa-susila-upacara atau peluang untuk menghormati leluhur tidak ada.
Larangan secara tegas bagi mereka yang ingin beralih agama tidak ada, namun jika beralih agama tentu sudah tidak menjadi anggota/warga kawitan lagi. Lalu kalau beralih agama dengan cara bagaimana nanti mereka menyembah/menghormati leluhurnya? Bukankah hati nurani mereka tidak bisa dibohongi, bahwa mereka tetap merindukan kasih sayang ayah-ibu, kakek-neneknya yang sudah tiada, yang sudah susah payah melahirkan dan membesarkan dirinya hingga menjadi “orang” seperti sekarang? Banyak yang berpindah dari agama Hindu ke agama lain pada akhirnya (biasanya ketika sudah tua/uzur) menyesal lalu berbalik memeluk agama Hindu. Ini karena panggilan Weda; kebenaran abadi ada pada Weda yang sudah terbukti ribuan tahun lamanya.
Bila kita menemukan pelaksanaan agama Hindu yang menyimpang atau tidak sesuai dengan zaman, yakinlah itu disebabkan karena hal-hal seperti kata pepatah: The singer is not the song. Nyanyian yang buruk bukan karena lagunya tetapi karena penyanyinya yang tak pandai. Lagunya bagus, Weda itu bagus. Marilah kita bangkit bersama membenahi hal-hal yang menyimpang dari Weda dalam tata kehidupan agama Hindu agar generasi selanjutnya tetap mencintai Hindu.


PERBINCANGAN PRIHAL SUSILA
Untuk edisi selanjutnya, rubrik Susila ini akan tampil sebagai rubrik tanya jawab/konsultasi.
Silakan Pembaca menyampaikan persoalan Susila/Etika Hindu kepada kami,
Redaksi akan menyerahkannya kepada ahli, agamawan,
rohaniwan, untuk menjawabnya.
Tujukan pertanyaan Anda ke Redaksi SARAD
Jl. Gatot Subroto 236, Denpasar 80239
BALI - INDONESIA
telepon 423388, atau faks. 427070
Sangat bagus jika pertanyaan dikirim lewat e-mail ke
red@saradbali.com

 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD