Beda
Pedanda, Mpu, Empu, Rsi, Pandita
Tanya jawab Prihal Tatwa
I Gede Sura
Nama Agama
Saya hingga kini masih bingung,
soalnya sepanjang yang bisa saya ikuti sepertinya ada ketidaksamaan dalam
penggunaan nama agama kita. Ada yang suka menyebutnya dengan nama Hindu.
Tapi, ada juga yang menyebutnya sebagai Sanatana Dharma, bahkan agama Weda.
Di Bali dulu sempat berkembang
sebutan nama agama Tirta, atau agama Hindu Bali. Cendekiawan Bali seperti
I Gusti Bagus Sugriwa (alm) malah tetap lebih suka menyebutkan dengan istilah
Hindu-Bali, karena nyatanya memang ada Hindu dengan tradisi Bali, Hindu
tradisi Kaharingan, Hindu tradisi Toraja, atau Tengger/Bromo, dll. Bukankah
nyatanya tradisi pelaksanaan ajaran Hindu itu saling berbeda di satu tempat
dengan tempat lainnya, dan ini bagi saya sangat indah karena tidak ada
paksaan. Namun visi, filosofinya sama, dan tujuannya juga satu.
Nah, pertanyaan saya, mana
yang sebaiknya disosialisasikan: Hindu, Sanatana Dharma, atau yang lain?
Made Widhiari
Sarijadi, Bandung
Jawab:
Pada
mulanya agama Hindu tidak mempunyai nama seperti sekarang. Ia disebut Sanatana
Dharma artinya ‘dharma yang kekal’. Nama Hindu berasal dari kata Sindhu,
nama sebuah sungai (kini) di Pakistan. Orang-orang Persia yang hidup bertetangga
dengan orang Hindu mengucapkan “h” untuk bunyi “s”. Demikianlah kata Sindhu
diucapkan Hindu. Kemudian orang-orang Yunani mengucapkan Indou. Kata India,
Hindia juga berasal dari kata Hindu ini.
Pada
zaman dahulu orang-orang yang tinggal di sebelah timur sungai Sindhu (sekarang
sungai Indus) disebut orang-orang Hindu. Demikian pula agamanya disebut
agama Hindu. Nama “agama Hindu” adalah resmi di dunia internasional dan
di dunia ilmu pengetahuan untuk agama yang kitab sucinya Weda. Karena itu
nama agama yang harus disosialisasikan ialah Hindu.
Memang
benar ada perbedaan pelaksanaan hidup beragama Hindu antara di satu tempat
dengan di tempat lain. Hal itu disebabkan oleh faktor sosial budaya pendukungnya.
Tetapi asasnya semuanya itu sama. Dengan demikian sebutan Hindu di Bali,
Hindu di Jawa, dll. pada hemat kami tidak salah.
Istilah Weda
Belakangan ini saya sering
mendengar istilah Weda, atau kembali ke Weda. Yang ingin saya tanyakan,
yang mana sebenarnya dimaksud dengan Weda dalam Hindu? Apakah terbatas
hanya empat Weda atau Catur Weda, atau seluruh pustaka yang memuat ajaran
agama Hindu dinamakan Weda? Atau bahkan termasuk juga yang di luar itu
dinamakan Weda?
Terakhir, belakangan ini
saya juga sering temukan ejaan dalam menulis Weda. Yang sebaiknya digunakan
itu: Weda atau Veda, Dewa atau Deva? Terkait dengan itu, bagaimana sebaiknya
kita menuliskan sumber rujukan: Weda-gita atau Bhagawadgita?
Ni Putu Candrawati
Bandung.
Jawab:
Kitab
suci agama Hindu ialah Veda. Kata Veda berarti ‘pengetahuan’. Kitab yang
memakai nama Veda sebagai kitab suci hanyalah Catur Veda Samhita, yaitu
empat himpunan Veda. Kitab-kitab itu ialah Rg Veda, Yayur Veda, Sama Veda,
dan Atharva Veda. Masing-masing kitab Veda ini mempunyai kitab-kitab Brahmana
dan kitab-kitab Upanisad. Kitab-kitab Veda beserta kitab-kitab Brahmana
dan Upanisad disebut kitab-kitab Sruti.
Nama
Veda pada kalimat kembali ke Veda maknanya kurang jelas bagi kami karena
pengertiannya itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Apakah nama Veda pada
kalimat ini untuk menyebut nama buku Veda atau ajaran-ajaran yang mengalir
dari Veda?
Tentang
ejaan weda dan veda, dewa dan veda, Bhagavadgita adalah kata-kata Sanskerta.
Kata-kata ini akhirnya ditulis dengan huruf Devanegari yang setara dengan
huruf “w” umum ditulis dengan “v”. Namun bila kata-kata itu menjadi kosa
kata bahasa Jawa Kuna konsonan itu ditulis “w”. Maka bila kata itu didudukkan
sebagai bahasa Sanskerta ia ditulis “v” dan bila ia di dalam bahasa Jawa
Kuna atau bahasa Bali ia ditulis “w”.
Istilah Wedanta
Belakangan ini saya sering
membaca dan mendengar digunakannya istilah Vedanta. Pertanyaan saya singkat
saja: apa yang dimaksud dengan Wedanta tersebut? Apa bedanya dengan Weda?
Terima kasih atas jawaban
Bapak.
Nyoman Punia
Jl Nusa Indah, Denpasar.
Jawab:
Kata
Vedanta berasal dari kata “veda”(= Veda) dan “anta” (= akhir). Vedanta
secara harfiah berarti akhir Veda. Isinya ajaran-ajaran yang erat benar
dengan ajaran-ajaran Veda. Ajaran-ajaran yang erat itu ialah Upanisad.
Ajaran-ajaran Upanisad sesungguhnya merupakan uraian-uraian tentang tujuan
akhir Veda yang merupakan sari-sari ajaran Veda. Dapat kita katakan bahwa
Vedanta itu adalah sistemisasi ajaran Upanisad.
Kitab
Vedanta yang terkenal ialah Brahma Sutra sebagai Vedanta Sutra. Kalau Veda
berbentuk mantra-mantra (kebanyakan dalam bentuk puisi) maka Vedanta Sutra
berbentuk sutra (kalimat-kalimat pendek yang padat makna). Esensi Veda
adalah sama dengan esensi Vedanta.
Beda
Pedanda, Rsi, Mpu
Om Swastyastu,
Di masyarakat saya sering
mendengar istilah pedanda, rsi, mpu, dukuh, dll. Ada lagi istilah ekajati,
dwijati. Lalu, belakangan Parisada sering mengeluarkan istilah pandita,
pinandita, sulinggih, pamangku.
Terus terang saya tak tahu
bedanya. Apa perbedaan masing-masing istilah tersebut? Apa yang membedakan
sehingga dinamakan pedanda, rsi, mpu, dst.? Apakah sebatas keturunan, tingkat
spiritualitas, kebesaran upacara padiksan-nya, atau ada faktor lain? Di
masa lampau para pangawi sering menyamarkan namanya dengan sebutan mpu,
seperti Mpu Sedah, Mpu Kanwa, Mpu Tantular, apakah mpu di masa lampau yang
pangawi itu sama dengan dalam pengertiannya kini? Juga dulu ada istilah
rsi, seperti Rsi Markandya, Rsi Wyasa, Rsi Walmiki, apakah sama dengan
pengertian rsi sekarang? Lantas, bagaimana dengan pandita, pinandita, sulinggih,
pamangku? Sebatas apa kewenangannya masing-masing.
Terima kasih.
Om Santi santi Santi Om.
I Gede Mahardika
Tabanan.
Jawab:
Pedanda,
rsi, empu, pandita adalah jabatan rohaniwan agama Hindu di Bali yang berstatus
dwijati yang diresmikan melalui upacara diksa. Semuanya ini biasa digolongkan
sebagai sulinggih. Balian sonteng, pamangku, adalah juga jabatan rohaniwan
agama Hindu di Bali yang berstatus ekajati yang diresmikan melalui upacara
pawintenan. Seorang dwijati dapat muput upacara dengan membuat tirta, sedangkan
ekajati dapat nganteb upacara dengan mohon tirta kepada Batara-batari.
Pedanda
berasal dari keluarga brahmana-wangsa , rsi dari keluarga gusti, dan pada
masa lalu keluarga Pande memakai gelar Sira Mpu, sedangkan Pandita dari
keluarga Pasek.
Kata
empu pada bahasa Jawa Kuna artinya ‘tuan’, yang terhormat. Pemakaian kata
mpu pada Mpu Sedah, Mpu Kanwa agaknya berbeda dengan mpu untuk rohaniwan.
Penggunaan mpu pada Mpu Sedah, Mpu Kanwa lebih cenderung untuk orang yang
memiliki kemampuan khusus di bidang susastra.
Demikian
pula dengan pemakaian kata rsi pada Rsi Markandya, Rsi Wyasa, Rsi Walmiki.
Kata rsi adalah kata Sansekerta yang berarti ‘orang arif bijaksana yang
termashur’. Juga berarti ‘seorang pendeta’ atau ‘penyair yang mendapat
inspirasi’.
Akhir-akhir
ini ada kecenderungan memakai istilah pandita untuk rohaniwan yang berstatus
dwijati dan pinandita untuk yang ekajati.
PERBINCANGAN PRIHAL
TATTWA
Untuk edisi selanjutnya,
rubrik Tattwa ini akan tampil sebagai rubrik tanya jawab/konsultasi.
Silakan Pembaca menyampaikan
persoalan Tattwa/Filsafat Hindu kepada kami,
Redaksi akan menyerahkannya
kepada ahli, agamawan,
rohaniwan, untuk menjawabnya.
Tujukan pertanyaan Anda
ke Redaksi SARAD
Jl. Gatot Subroto 236, Denpasar
80239
BALI - INDONESIA
telepon 423388, atau faks.
427070
Sangat bagus jika pertanyaan
dikirim lewat e-mail ke
red@saradbali.com
|