logo sarad
MAJALAH BULANAN GUMI BALI - TENTANG PIKIR, KATA DAN LAKU MANUSIA BALI
JUNI 2000, No.6 Th.I

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

 
 TATWA - FILSAFAT 
 
 
Beda Pedanda, Mpu, Empu, Rsi, Pandita
Tanya jawab Prihal Tatwa

I Gede Sura
 

Nama Agama
Saya hingga kini masih bingung, soalnya sepanjang yang bisa saya ikuti sepertinya ada ketidaksamaan dalam penggunaan nama agama kita. Ada yang suka menyebutnya dengan nama Hindu. Tapi, ada juga yang menyebutnya sebagai Sanatana Dharma, bahkan agama Weda.
Di Bali dulu sempat berkembang sebutan nama agama Tirta, atau agama Hindu Bali. Cendekiawan Bali seperti I Gusti Bagus Sugriwa (alm) malah tetap lebih suka menyebutkan dengan istilah Hindu-Bali, karena nyatanya memang ada Hindu dengan tradisi Bali, Hindu tradisi Kaharingan, Hindu tradisi Toraja, atau Tengger/Bromo, dll. Bukankah nyatanya tradisi pelaksanaan ajaran Hindu itu saling berbeda di satu tempat dengan tempat lainnya, dan ini bagi saya sangat indah karena tidak ada paksaan. Namun visi, filosofinya sama, dan tujuannya juga satu.
Nah, pertanyaan saya, mana yang sebaiknya disosialisasikan: Hindu, Sanatana Dharma, atau yang lain?
Made Widhiari
Sarijadi, Bandung

Jawab:
Pada mulanya agama Hindu tidak mempunyai nama seperti sekarang. Ia disebut Sanatana Dharma artinya ‘dharma yang kekal’. Nama Hindu berasal dari kata Sindhu, nama sebuah sungai (kini) di Pakistan. Orang-orang Persia yang hidup bertetangga dengan orang Hindu mengucapkan “h” untuk bunyi “s”. Demikianlah kata Sindhu diucapkan Hindu. Kemudian orang-orang Yunani mengucapkan Indou. Kata India, Hindia juga berasal dari kata Hindu ini.
Pada zaman dahulu orang-orang yang tinggal di sebelah timur sungai Sindhu (sekarang sungai Indus) disebut orang-orang Hindu. Demikian pula agamanya disebut agama Hindu. Nama “agama Hindu” adalah resmi di dunia internasional dan di dunia ilmu pengetahuan untuk agama yang kitab sucinya Weda. Karena itu nama agama yang harus disosialisasikan ialah Hindu.
Memang benar ada perbedaan pelaksanaan hidup beragama Hindu antara di satu tempat dengan di tempat lain. Hal itu disebabkan oleh faktor sosial budaya pendukungnya. Tetapi asasnya semuanya itu sama. Dengan demikian sebutan Hindu di Bali, Hindu di Jawa, dll. pada hemat kami tidak salah.

Istilah Weda
Belakangan ini saya sering mendengar istilah Weda, atau kembali ke Weda. Yang ingin saya tanyakan, yang mana sebenarnya dimaksud dengan Weda dalam Hindu? Apakah terbatas hanya empat Weda atau Catur Weda, atau seluruh pustaka yang memuat ajaran agama Hindu dinamakan Weda? Atau bahkan termasuk juga yang di luar itu dinamakan Weda?
Terakhir, belakangan ini saya juga sering temukan ejaan dalam menulis Weda. Yang sebaiknya digunakan itu: Weda atau Veda, Dewa atau Deva? Terkait dengan itu, bagaimana sebaiknya kita menuliskan sumber rujukan: Weda-gita atau Bhagawadgita?
Ni Putu Candrawati
Bandung.

Jawab:
Kitab suci agama Hindu ialah Veda. Kata Veda berarti ‘pengetahuan’. Kitab yang memakai nama Veda sebagai kitab suci hanyalah Catur Veda Samhita, yaitu empat himpunan Veda. Kitab-kitab itu ialah Rg Veda, Yayur Veda, Sama Veda, dan Atharva Veda. Masing-masing kitab Veda ini mempunyai kitab-kitab Brahmana dan kitab-kitab Upanisad. Kitab-kitab Veda beserta kitab-kitab Brahmana dan Upanisad disebut kitab-kitab Sruti.
Nama Veda pada kalimat kembali ke Veda maknanya kurang jelas bagi kami karena pengertiannya itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Apakah nama Veda pada kalimat ini untuk menyebut nama buku Veda atau ajaran-ajaran yang mengalir dari Veda?
Tentang ejaan weda dan veda, dewa dan veda, Bhagavadgita adalah kata-kata Sanskerta. Kata-kata ini akhirnya ditulis dengan huruf Devanegari yang setara dengan huruf “w” umum ditulis dengan “v”. Namun bila kata-kata itu menjadi kosa kata bahasa Jawa Kuna konsonan itu ditulis “w”. Maka bila kata itu didudukkan sebagai bahasa Sanskerta ia ditulis “v” dan bila ia di dalam bahasa Jawa Kuna atau bahasa Bali ia ditulis “w”.

Istilah Wedanta
Belakangan ini saya sering membaca dan mendengar digunakannya istilah Vedanta. Pertanyaan saya singkat saja: apa yang dimaksud dengan Wedanta tersebut? Apa bedanya dengan Weda?
Terima kasih atas jawaban Bapak.
Nyoman Punia
Jl Nusa Indah, Denpasar.

Jawab:
Kata Vedanta berasal dari kata “veda”(= Veda) dan “anta” (= akhir). Vedanta secara harfiah berarti akhir Veda. Isinya ajaran-ajaran yang erat benar dengan ajaran-ajaran Veda. Ajaran-ajaran yang erat itu ialah Upanisad. Ajaran-ajaran Upanisad sesungguhnya merupakan uraian-uraian tentang tujuan akhir Veda yang merupakan sari-sari ajaran Veda. Dapat kita katakan bahwa Vedanta itu adalah sistemisasi ajaran Upanisad.
Kitab Vedanta yang terkenal ialah Brahma Sutra sebagai Vedanta Sutra. Kalau Veda berbentuk mantra-mantra (kebanyakan dalam bentuk puisi) maka Vedanta Sutra berbentuk sutra (kalimat-kalimat pendek yang padat makna). Esensi Veda adalah sama dengan esensi Vedanta.

Pedanda. Rohaniwan dwijati - foto: Widnyana SudibyaBeda Pedanda, Rsi, Mpu
Om Swastyastu,
Di masyarakat saya sering mendengar istilah pedanda, rsi, mpu, dukuh, dll. Ada lagi istilah ekajati, dwijati. Lalu, belakangan Parisada sering mengeluarkan istilah pandita, pinandita, sulinggih, pamangku.
Terus terang saya tak tahu bedanya. Apa perbedaan masing-masing istilah tersebut? Apa yang membedakan sehingga dinamakan pedanda, rsi, mpu, dst.? Apakah sebatas keturunan, tingkat spiritualitas, kebesaran upacara padiksan-nya, atau ada faktor lain? Di masa lampau para pangawi sering menyamarkan namanya dengan sebutan mpu, seperti Mpu Sedah, Mpu Kanwa, Mpu Tantular, apakah mpu di masa lampau yang pangawi itu sama dengan dalam pengertiannya kini? Juga dulu ada istilah rsi, seperti Rsi Markandya, Rsi Wyasa, Rsi Walmiki, apakah sama dengan pengertian rsi sekarang? Lantas, bagaimana dengan pandita, pinandita, sulinggih, pamangku? Sebatas apa kewenangannya masing-masing.
Terima kasih.
Om Santi santi Santi Om.
I Gede Mahardika
Tabanan.

Jawab:
Pedanda, rsi, empu, pandita adalah jabatan rohaniwan agama Hindu di Bali yang berstatus dwijati yang diresmikan melalui upacara diksa. Semuanya ini biasa digolongkan sebagai sulinggih. Balian sonteng, pamangku, adalah juga jabatan rohaniwan agama Hindu di Bali yang berstatus ekajati yang diresmikan melalui upacara pawintenan. Seorang dwijati dapat muput upacara dengan membuat tirta, sedangkan ekajati dapat nganteb upacara dengan mohon tirta kepada Batara-batari.
Pedanda berasal dari keluarga brahmana-wangsa , rsi dari keluarga gusti, dan pada masa lalu keluarga Pande memakai gelar Sira Mpu, sedangkan Pandita dari keluarga Pasek.
Kata empu pada bahasa Jawa Kuna artinya ‘tuan’, yang terhormat. Pemakaian kata mpu pada Mpu Sedah, Mpu Kanwa agaknya berbeda dengan mpu untuk rohaniwan. Penggunaan mpu pada Mpu Sedah, Mpu Kanwa lebih cenderung untuk orang yang memiliki kemampuan khusus di bidang susastra.
Demikian pula dengan pemakaian kata rsi pada Rsi Markandya, Rsi Wyasa, Rsi Walmiki. Kata rsi adalah kata Sansekerta yang berarti ‘orang arif bijaksana yang termashur’. Juga berarti ‘seorang pendeta’ atau ‘penyair yang mendapat inspirasi’.
Akhir-akhir ini ada kecenderungan memakai istilah pandita untuk rohaniwan yang berstatus dwijati dan pinandita untuk yang ekajati.


PERBINCANGAN PRIHAL TATTWA
Untuk edisi selanjutnya, rubrik Tattwa ini akan tampil sebagai rubrik tanya jawab/konsultasi.
Silakan Pembaca menyampaikan persoalan Tattwa/Filsafat Hindu kepada kami,
Redaksi akan menyerahkannya kepada ahli, agamawan,
rohaniwan, untuk menjawabnya.
Tujukan pertanyaan Anda ke Redaksi SARAD
Jl. Gatot Subroto 236, Denpasar 80239
 BALI - INDONESIA
telepon 423388, atau faks. 427070
Sangat bagus jika pertanyaan dikirim lewat e-mail ke
red@saradbali.com

 
 
 
     Buku Tamu 
© Copy Right SARAD, 2000 all rights reserved 
 

RERACIKAN - Isi
SAMATRA - Editorial
ORTI - Surat Redaksi
SEWALAPATRA-Surat
KELIR-Karikatur
SASIH - Kalender
KONSULTASI
PARAS PAROS-Sosial
PARUMAN-Sajian Utama
BALE-Kolom
DAA TERUNA-Remaja
CE-KLEK - Foto
KONE - Mitos
SASULUH - Cermin
CAKEPAN - Buku
IDE DANE - Tokoh
NYAMA BRAYA-Kerabat
TAWAHTAWAH-OhBali
GEGINAN - Usaha
Info SARAD

INDEKS SARAD