PARUMAN
| hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4
Berpegang pada Ketulusan
Orang-orang yang berkutat di bidang pendidikan, pengabdi pada jalan Tuhan, petani, dan pengusaha, ternyata memiliki pandangan yang hampir sama tentang kerja tanpa pamerih. Menjalankan kewajiban secara ikhlas, memegang teguh rasa ketulusan.
Ni Nyoman Suarni (Guru SD di Denpasar)
Jangan Ukur dari Gaji
Idealnya, kerja tanpa pamerih itu jika seseorang membantu orang lain tanpa berharap apa-apa, tapi mau melakukan tugas-tugas yang diberikan secara tulus hati. Bekerja dan terus berkarya tanpa melulu berharap pada hasil berlebihan atau ngayah di sebuah pura juga termasuk orang yang bekerja tanpa pamerih. Orang yang ngayah ke satu tempat suci, tentu tak berharap mendapat balasan berupa uang. Mereka lebih mementingkan kewajiban demi untuk yang di atas, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Kerja tanpa pamerih tak sepenuhnya bisa dimaknai sebagai sebuah pekerjaan tanpa mengharap balasan. Dalam kenyataannya, ada orang yang bekerja untuk memperoleh sesuatu, baik barang maupun uang, tapi dikategorikan berpamerih. Orang seperti ini biasanya melakukan kewajiban dengan tulus, tapi tak berpatokan pada hasil yang bisa masuk ke kantong.
Sebagai seorang guru, saat mengajar sepatutnya tak melihat dari besar kecil gaji yang diperoleh. Baru gaji kecil jangan mengajar sekadarnya, apalagi asal datang ke sekolah.
Mestinya lakukan tugas semaksimal mungkin hingga anak didik mampu menguasai materi yang diberikan. Siswa yang semula tak bisa baca tulis, setelah diajarkan ternyata mampu melakukan. Guru akan merasa sukses dan berbahagia, bila ilmu yang di- transfer ke anak bisa dikuasai. Pamerih memang sulit dihindarkan, mengingat saat mengajar ada sesuatu yang diinginkan. Tapi, wujud pengharapan bukan lagi dalam bentuk uang namun keberhasilan anak didik. Jadi, lakukan tugas pendidikan yang menjadi kewajiban sebagai guru dan terima hak aturan yang ada. Dengan demikian, maka sifat ingin memperoleh sesuatu secara berlebihan pun akan bisa dihindari.
Pan Sukarini (petani)
Tiada Berharap
Kerja tanpa pamerih itu bisa disamakan dengan melakukan sesuatu tapi tak menuntut balasan. Orang bersangkutan akan bekerja dan terus melakukan kewajiban tanpa berpikir yang dikerjakan nantinya akan memperoleh imbalan atau tidak. Dalam bahasa Bali, kerja tanpa pamerih itu bisa didapatkan ketika ada orang matulung (memberi pertolongan) pada orang lain dan ngayah di pura.
Membantu menanam padi atau membajak di sawah orang lain tanpa harus menuntut bayaran misalkan. Itu contoh kerja tak berpamerih. Kalau toh dibalas dengan sepiring nasi atau sebungkus rokok, yang membantu tak terlalu senang. Atau sebaliknya, tak diberikan apapun pekerjaan tersebut tetap dilakukan. Sebab saat hendak melakukan kegiatan, perasaan tulus sudah terpatri di lubuk hati. Yakinkan diri bahwa apa yang kita lakukan akan ada hikmahnya.
Berbeda jika ada orang membajak sawah tetangganya, kemudian yang bersangkutan menagih bayaran atau upah. Ini jelas kerja yang pamerih, sebab sudah ada tuntutan berupa uang atau barang sebagai balasan jerih payahnya.
Harus jujur diakui, saat seperti sekarang memang tak banyak orang yang masih mampu dan mau melakukan tugas tanpa mengharapkan balasan. Maklumlah, tuntutan akan hidup begitu tinggi, orang-orang terkadang mau melakukan sesuatu asal ada imbalan, baik berupa uang atau barang sebagai wujud lain dari jasanya. Tapi, bukan berarti sifat tanpa pamerih itu semua hilang. Buktinya, sekaa teruna saat ada kegiatan di balai banjar, mereka hadir bersama-sama dan rela berlama-lama melakoni tugas tanpa harus berpikir apa yang akan di dapat dari hasil kerja itu. Mereka tak akan mendapat imbalan, sebab kegiatan tersebut bersifat sosial, Malah berbalik, teruna-teruni itu yang rela mengeluarkan uang sebagai upaya menyokong suksesnya kegiatan ini. Barangkali langkah serupa juga bagian dari kegiatan tanpa berpamerih.
I Nyoman Suparta (Pengusaha)
Pamerih bukan Hak
Bekerja dengan tulus baik diminta maupun tak diminta, dengan gagasan dan motivasi sendiri demi untuk kepentingan masyarakat atau orang lain mulai dari merancang, memikirkan, hingga melaksanakan, itulah sebagain wujud dari kerja tanpa pamerih. Orang-orang seperti itu bekerja tanpa mengharap hasil, tak ditunggangi kepentingan pribadi, dan tiada punya rencaca kelak di kemudian hari harus mendapat imbalan dari apa yang dilakukan. Pamerih itu identik dengan mengharapkan balasan dari apa yang dikerjakan seseorang.
Bagi orang-orang yang masih berada dalam tuntutan hidup sangat banyak, guna memenuhi keperluan keluarga, menyekolahkan anak, dan kepentingan lain, biasanya agak kesulitan menerapkan pola kerja tanpa pamerih secara penuh. Mereka akan berusaha memenuhi kebutuhan standar. Sepanjang tuntutan mendasarnya belum mampu terpenuhi, terang mereka akan bekerja dengan harapan mendapatkan hasil. Seorang karyawan yang bekerja di perusahaan, kemudian menuntut gaji, itu tak salah. Dan gaji yang diterima di akhir atau awal bulan bukan pamerih. Mereka menuntut hak atas kewajiban yang dilakukan selama ini dan sudah tentu sesuai aturan pasti. Ada koridor yang jelas.
Berbeda seandainya ada orang yang menolong orang lain, dimana sebelumnya tak ada kesepakatan jika perbuatan yang dilakukan itu akan diberi imbalan, begitu usai bekerja mereka meminta balasan tertentu. Ini, jelas namanya pamerih.
Jro Buni (Balian Sonteng)
Berlandaskan Ketulusan
Mengantar bakti masyarakat ke hadapan Tuhan Maha Agung pun manifestasi Beliau, merupakan kewajiban dari rohaniwan. Sanggup atau tak sanggup ukurannya bukan besar kecil pendapatan yang akan diperoleh. Bukan pula melihat jauh dekat tempat orang yang akan menggelar upacara. Di mana dan kapan pun itu, mesti dijalankan. Sekalipun harus dari pagi sampai malam, semua mesti dilakukan.
Besar kecil sesari tak pernah jadi ukuran. Paling pokok, mampu memberikan apa yang kita miliki kepada orang yang memerlukan bantuan, dengan dilandasi perasaan tulus, jernih. Itu jauh lebih penting. Soal, apa dan bagaimana hasil yang akan kita dapatkan pasca menunaikan tugas ngateban banten, tiada pernah menjadi beban. Sebab, rasa tulus ikhlas itu sudah melekat dalam diri.
Justeru ketika ada warga minta supaya sesajinya dihaturkan, sedangkan sebagai seorang yang diberikan kepercayaan mengantarkan rasa bakti ternyata tak mampu melakukan, maka di sana rasa bersalah terkadang muncul. Sebaliknya, saat warga punya kegiatan keagamaan dan kewajiban sebagai pengantar bakti penganut.
I Nengah Atmaja (Balian)
Sebuah Pengabdian
Melaksanakan kewajiban tanpa mengharapkan balasan, itulah kerja tanpa pamerih. Sebagai seorang yang mendapat titah mengobati orang (jadi balian -red), adalah kurang bijak jika menolong pasien namun pikiran terjejali oleh angan-angan atas apa yang akan diperoleh setelah itu. Sepatutnya melihat apa yang dilakukan dan dilakoni sebagai sebuah kewajiban. Wujud dari pengabdian.
Ketika ada orang berobat yang dilihat tentu bukan apa yang dibawa, melainkan lebih memikirkan adakah cara yang bisa dilakukan untuk menyebuhkan orang sakit. Soal orang yang diobati setelah sembuh mau membalas budi atau melupakan jasa balian , itu tak perlu terlalu dirisaukan. Kebanggaan itu muncul justru ketika mampu membantu orang yang tertindih dalam penderitaan.
Soal ada balasan lebih-lebih berupa materi, sama sekali tak pernah menjadi pemikiran. Dalam bahasa Bali ada istilah ada tuara , yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada atau tak ada imbalan bukan menjadi harapan. Diberikan syukur, tak jadi persoalan.
Sadari sekali lagi, kewajiban menjalankan titah dari Hyang Maha Agung, Ida Sang Hyang Widhi, untuk membantu orang yang memerlukan pertolongan harus diutamakan.
Ida Pedanda Istri Oka Sidemen (Rohaniawan)
Saling Berbagi
Mempraktikkan pola hidup tanpa pamerih sungguh susah, memang. Godaan hidup terlalu banyak, kebutuhan juga banyak. Tapi hidup sederhana harus ditanamkan sedini mungkin, dimulai dari keluarga. Orangtua harus bisa memberi teladan bagimana hidup tanpa pamerih dipraktikkan. Contoh paling kecil adalah berbagi. Di keluarga misalnya, orang tidak baik ngulah-ngulahang dewek, mementingkan diri sendiri. Makin hari kebiasaan ini akan menimbulkan sikap ego, rakus, hanya mengedepankan kepentingan diri sendiri.
Menghormati orang lain, menghormati orangtua juga merupakan praktik dari hidup tanpa pamerih. Karena di situ terjadi penghalusan ego. Penghalusan ego berarti mengendalikan rasa menguasai. Seorang anak misalnya, jangan pernah berani pada orangtua, kendati si anak mampu, bila tanpa restu orangtua kesuksesannya tidak akan berarti apa-apa. Maka mohon orangtua jangan ditelantarkan – karena hal ini juga merupakan bagian dari pembentukan rasa pamerih.
Praktik paling bagus hidup tanpa pamerih sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Biasanya rasa dengki, iri hati, loba, dan ingin menguasai tumbuh dari rasa pamerih. Semua orang sebaiknya mengerti kewajiban, swadarma masing-masing. Bekerja sama, pelayanan, dan memberi bantuan kepada orang lain adalah bentuk-bentuk dari pelepasan ego, dengan demikian merupakan bentuk pengekangan rasa pamerih.
Kesederhanaan adalah guru utama di mana pamerih secara berlahan bisa dipadamkan. Mereka yang bisa mempraktikan pola hidup sederhana pasti jauh dari keinginan menguasai, apalagi pamerih. Orang harus tetap hidup dalam etik tanpa keinginan meminta lebih. Inilah agama yang nyata, agama yang hidup.
Komang Teja Prabawa (pelajar)
Asal Rela Melakukan
Kerja tanpa pamerih itu barangkali sama dengan orang yang melakukan sesuatu tanpa mengharapkan balasan apapun. Artinya kita suka melakoni pekerjaan yang datang.
Kalau betul itu pengertiannya, berarti ada banyak remaja yang sewaktu-waktu melakoni kerja seperti itu. Misalkan ada sahabat yang minta ditemani beli buku atau diajak pergi ke satu tempat, terkadang para remaja tanpa pikir panjang serta memperhatikan apa akan sesuatu yang didapatkan.
Atau kebetulan ada teman dekat mengalami penderitaan (sakit), mesti rela menunggu berlama-lama. Kasihan melihat. Kalau dibilang tak pamerih mungkin tak sepenuhnya benar, sebab ada pengharapan saat itu. Tapi balasan yang diinginkan bukan mengharapkan orang yang ditolong memberikan sesuatu. Justeru harapan itu ditujukan kepada Tuhan supaya teman itu cepat sembuh.
Begitu halnya dalam keluarga, tak sedikit pula remaja yang membantu kegiatan orang tua dengan harapan bisa meringankan beban yang dipikul. Dan, membantu orang tua, keluarga juga orang lain, itu sebuah kewajiban. Siapa pun termasuk remaja harus melakukan tanpa berharap akan ada balasan. Kerelaan hati dalam membantu orang lain, rela untuk berbagi tanpa menuntut balas, ini kan bagian dari kerja tanpa pamerih.
|