PARUMAN
| hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4
Melepas, Pelajaran Puncak Sang Hidup
Ketulusan melepas merupakan kunci, di mana kelak orang merasa dimerdekakan.
Suatu pagi, di Geria Intaran, Sanur. Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta, pengarang sastra Bali , didatangi seorang tamu. Sang tamu membawa serta dua lembar kain ( kamben ) untuk dipersembahkan. Ia terpanggil memberi “hadiah” karena diyakini Ida Pedanda telah banyak memberi pelajaran hidup. Apa yang terjadi kemudian?
Sang tamu dibuat terkejut. Persembahan kain ditolak hulus, dengan alasan Ida Pendanda telah memiliki dua lembar kain. “Buat apa memiliki kain berlebih, tak ada gunanya. Bawalah pulang, Nak, berikan kepada yang lebih membutuhkan. Di geria Bapa kebetulan sudah punya dua lembar kain. Itu Bapa pakai silih berganti, apabila kain yang satu tengah Bapa cuci, yang satu lagi Bapa pakai. Itu saja sudah cukup.”
Sang tamu terhenyak. Bibirnya terkatup tak dapat berucap. Air mukanya sembab. Hatinya disadarkan, ternyata penolakan itu adalah pelajaran terakhir dari Ida Pedanda. Sang tamu menyadari, hari-hari dalam hidup sebelumnya dijalani penuh ketakutan dan kegelisahan. Kadang ia takut kekurangan, takut jatuh miskin, karena itu ia bekerja siang malam, ia menyimpan segala kebutuhan hidup guna menyelamatkan anak cucu kelak. Sayang, setelah harta terkumpul, hatinya terus gelisah, jiwanya kosong. Memiliki harta berlebih ternyata bukan jawaban buat segala persoalan hidup.
Toh, baru kali ini sang tamu sadar: memiliki lebih sama artinya dengan mengurangi jatah orang yang membutuhkan, dan itu artinya pamerih. Sang tamu kini menyadari, melepas merupakan pelajaran puncak pendakian hidup. Bukankah dengan melepas orang terbebaskan dari belenggu derita? Bukankah dengan melepas, jiwa orang menjadi bersih, ringan tanpa beban? Dengan jalan ini orang tidak lagi memiliki kesangsian, dan hidup pasti dicukupkan tanpa harus menyetok kebutuhan hidup berlebih.
Ida Pedanda Made Sidemen, pengarang sejumlah karya sastra klasik Bali di abad modern ini, memberi pelajaran hidup nyata: bahwa kerakusan, ketamakan, merupakan penyebab penderitaan hidup, tak hanya bagi diri sendiri, tapi juga penderitaan orang lain. Alangkah indah apabila hidup ini bisa meniru etos kerja pemain sepak bola. Pemain yang cerdik tentulah tidak boleh “tamak” menguasai setiap bola yang diarahkan padanya. Agar menuju gol tentu ia harus rela berbagi, melepas bola itu kepada pemain lain—dengan demikian, permainan akan menjadi hidup, indah, dan mengalir.
Pandangan hidup demikian boleh jadi bertemali erat dengan temuan ajaran Gandhi, pemimpin besar India . Walaupun ajaran itu disampaikan dengan sedikit ekstrem, sang sanatani ini menyatakan, “Bahwa paham pantang memiliki selaras dengan paham pantang mencuri. Sesuatu yang bukan berasal dari pencurian seharusnya dinyatakan sebagai barang curian, apabila orang memilikinya padahal ia tidak membutuhkannya. Orang memiliki lebih dari kebutuhan hidupnya berarti merampok Ibu Alam, dan ia merupakan penyebab ketidakadilan dan ketidakmerataan.”
Mereka yang terbetot ajaran kapitalis, yang hendak menguasai kapital sebanyak mungkin, tentu tidak setuju dengan ajaran Gandhi, karena akan menghalangi langkah mengusai lebih banyak modal. Tapi, bukankah keselarasan hidup senantiasa berjalan dalam hukum kesederhanaan, hidup biasa-biasa saja? Setiap pamerih, kerakusan, keegoan pasti menciptakan kemelaratan dan derita. Setiap orang miskin di muka Bumi dikondisikan oleh mereka yang ingin memiliki berlebih. Kerakusan merupakan sumber api neraka di dunia nyata, pun di dunia lain, kelak setelah sang roh meninggalkan badan.
Demikian, seluruh kerusakan Bumi kini dipicu kerakusan manusia—karena ingin hidup nyaman, penguasaan berlebih karena keinginan memanjakan badan. Yang muncul justru sebaliknya, revolusi otak manusia menciptakan mesin hanya buat melahirkan kehancuran. Perang, penyakit, pencemaran, dan kerusakan lingkungan adalah akibat langsung teknologi yang tidak memperhatikan keberlangsungan hayat hidup. Lalu, inikah yang disebut kemajuan? Apakah kemajunan itu harus diukur berdasarkan kecanggihan mesin yang diciptakan otak manusia?
Dari fakta-fakta yang ada, semisal meningkatnya angka-angka kemiskinan, menanjaknya angka-angka kerusakan alam, meluasnya data-data pencemaran, pemanasan global, dan lain sebaginya, tidak masuk akal bila kemajuan semata dilihat dari kecanggihan “mesin perusak” itu. Dengan demikian manusia “modern” harus mendefinisikan ulang arti kemajuan dan arti kecerdasan.
Apa arti kemajuan dan kecerdasan kemudian? Terlalu luas aspek ini bila hendak dijawab. Namun, jawaban paling sederhana tentu mengendalikan rasa pamerih dan rasa ingin menguasai itu. Dalam hidup praktis, kecerdasan emosi alangkah nikmat diarahkan untuk membangkitkan rasa empati, bahwa setiap orang di Bumi memiliki tanggung jawab merawat tatanan hidup. Laku paling nyata tentu dengan jalan ketulusan merawat lingkungan, merawat sesama, menolong fakir miskin, serta panggilan sosial lainnya.
Pamerih merupakan ego dasar yang dimiliki manusia, sebagaimana diakui Svami Vivekananda, tak ada pekerjaan yang diambil tanpa motif. Tentu pekerjaan yang dimotivasi nafsu-nafsu rendah akan menjerumuskan manusia supaya senantiasa memuaskan indria. Persoalannya, apakah tidak wajar indria dipuaskan? Orang Bali punya pengandaian menarik tentang hal ini: bahwa indria atau nafsu itu tak ubahnya kobaran api, semakin disiram dengan minyak ia akan berkobar semakin besar dan susah dipadamkan. Karena itu, nafsu dalam bentuk pamerih sebaiknya dikendalikan. Para tetua Bali menyebut praktik ini dengan upaya ngeret indria , mengendalikan keinginan supaya kelak nafsu atau indria tidak menyengsarakan hidup, juga menyengsarakan orang lain.
Indria atau nafsu itu memang penting dalam hidup, karena dengan demikian manusia memiliki semangat hidup. Akan tetapi sejauh ia melampaui kebutuhan tubuh, indria justru merusak badan dan pikiran. Atas dasar ini susastra suci Hindu menyarankan: bertindaklah tanpa pamerih. Namun, betapa sukar mempraktikkan saran itu—energi kenafsuan tentu sangat berbahaya bila ditekan atau “dibunuh” seketika. Saran paling bijak tentu meniru perilaku sapi yang sedang dipakai membajak. Bilapun lehernya dijepit uga, dikendalikan tali kekang, sewaktu-waktu bila lapar ia sempatkan juga mencabik padang rumput, seraya tetap tidak melupakan tugas pokok sebagai pembajak.
Artinya, pamerih dalam batas-batas hendak merawat hidup tentulah bukan bagian dari laku nuukin indria (menuruti nafsu) itu. Bukankah badan ini merupakan wadah sang Mahahidup? Maka itu ia perlu dirawat, sebab secara kodrati orang pun tidak boleh menelantarkan badannya. Karena, tanpa badan, “tugas” merawat hidup tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Untuk hidup orang perlu mengambil tindakan kerja, karena dengan kerja kebutuhan hidup terpenuhi. Teks-teks suci juga menyarankan orang senantiasa bekerja, tidak ada yang tak bekerja. Tak bekerja berarti “mencuri”, karena orang tidak ikut memutar roda kerja yang disebut karma Bumi. Tuhan, Pencipta Semesta Bumi ini, juga tak pernah berhenti bekerja. “Sedetik pun Aku berhenti kerja, dunia akan hancur,” demikian sabda Sri Krishna dalam kitab Bhagawad Gita.
Karena itu, saran Vivekananda, “Belajarlah mengetahui motif-motif apa yang mendorong kita untuk bekerja.” Nasihat rsi modern ini perlu jadi renungan: supaya setiap orang bisa mengontrol motif kerja itu, dan apakah kerja itu dikuasai nafsu serakah. Sebab, ketika nafsu serakah menguasai motif kerja, pekerjaan tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan. Tubuh, pikiran, jiwa akan terbelenggu nafsu rendah itu. Dan, kerja semacam ini akan mendatangkan kelesuan, kejemuan, penyakit, serta tekanan mental. Inilah efek orang yang senantiasa bekerja dengan “semangat” pamerih.
Seorang biksu, Thartang Tulku, penulis buku Skillful Means (1978), mengakui, “Motivasi kerja yang egoistis menjadikan kita sukar mengungkapkan dan mengembangkan potensi kemanusiaan kita melalui pekerjaan. Bukannya memperkuat landasan kita pada kualitas positif dari sifat alami kita, lingkungan kerja tersebut justru melahirkan suasana persaingan dan manipulasi. Kita kehilangan kontak dengan nilai dan kualitas kehidupan manusia yang muncul secara alami dari pekerjaan dan kehidupan: integritas, kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, dan kerjasama.”
“Kita membutuhkan filosofi kerja yang baru, yang didasarkan pada pemahaman lebih luas atas nilai kemanusiaan, rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain, serta kesadaran terhadap sifat dan ketrampilan yang melahirkan kedamaian, kerjasama, dan tanggung jawab,” kata Tulku.
Tulku boleh jadi terinspirasi etos kerja sebagaimana Bhagawad Gita mengajarkan, bahwa kerja tanpa pamerih sejatinya merupakan tindak pemujaan sekaligus pemerdekaan, di mana setiap orang besar dalam swadharma masing-masing, di mana setiap orang terpuaskan dan disucikan oleh kerja itu sendiri. Kerja dengan motif nafsu rendah tentu sangat jauh dari rasa terpuaskan, apalagi tersucikan. Terang akan sangat tersiksalah seorang tukang sapu ingin menikmati kebahagiaan layaknya seorang pegawai bank, begitu juga sebaliknya. Seorang petani, seorang guru, seorang pedagang, dan lain-lain harus bahagia pada swadharma masing-masing.
Swadharma tidak berkaitan dengan status, swadharma berkaitan dengan bakat diri. Karenanya, betapa penting mengebor bakat diri. Dengan mengasah dan menguasai ketrampilan hidup maka bakat akan tersibak secara alamiah. Pelaku Zen, sekaliber DT Zuzuki sangat menyadari hal ini, bahwa pada kedalaman bakat alamiah manusia tergenang the creative unconscious , bawah sadar kreatif, yang tidak pernah ditindas, ia tetap akan menyatakan diri dengan satu atau lain cara. Soalnya sekarang, sejauh mana manusia bisa mengebor bakat alamiah itu, yang nantinya menentukan swadharma sendiri. Dalam bahasa agama, swadharma jelas berkaitan dengan karma, bakat yang dibentuk atas kecenderungan karma pada masa hidup terdahulu.
Memang sebagaimana disampaikan Ida Ketut Jelantik, penulis Geguritan Lokika , bakat dan ketrampilan hidup itu tak ubahnya lembu Nandini, sapi pemberi segala. “Bisane teken geginan, waluya lembu Nandini, asing kayun, sinah pacang kasidan. Kemampuan menguasai keterampilan hidup, tak ubahnya lembu Nandini, segala keinginan, pasti terpenuhi.” Karena itu, mereka yang memiliki ketrampilan hidup tak sepatutnya cemas, sebab guna gina , ketrampilan hidup itu bisa memberi semua.
Namun demikian, Ida Ketut Jelantik mewanti arif: selain menguasai ketrampilan hidup, hendaknya semua orang berpegang pada kebenaran, dipakai merawat hidup. Ini merupakan mukjizat paling sakti, menjauhkan musuh saban hari, sahabat pada ingat, orang jadi percaya, hidup dibuat sejahtera, handai taulan jadi dekat. Semua ini merupakan penjaga jiwa, pada dadi atma raksa.
Maka, jika Anda pamerih, tak perpegang pada dharma, secara otomatis Anda tidak memiliki penjaga jiwa, disebut atma raksa. Mengapa demikian? Sebab, ketika Anda berlaku pamerih, sebetulnya Anda telah tega melepas benteng pelindung diri—karena tidak ada perbuatan baik, ketulusan, kejujuran yang sanggup membentengi Anda. Intinya, dalam segala tindakan, manusia paling kuasa atas nasib sendiri, ia hakim tunggal, penentu arah yang menentukan. Apakah ia ingin pahala kebaikan atau keburukan, terserah pada apa yang diperbuat. “ Eda ima, darma swadarma jua jalanang, jangan lengah, dharma dan kewajiban sendiri itu yang patut dijalankan,” demikian Ida Ketut Jelantik memberi petuah.
Soalnya kini, apakah Anda ingin berloba-loba tanpa mementingkan hari depan? Semua terserah Anda. Tiap orang adalah penolong sekaligus penjerumus diri sendiri. Tapi, seenak-enak nikmat pamerih, sebahagia-bahagia nikmat kerakusan, pasti lebih nikmat jalan keprihatinan dan tahu diri. Sebab, terlalu pendek hidup ini jika semata untuk menuruti kesenangan tubuh. Maka, ketulusan melepas merupakan kunci di mana kelak orang merasa dimerdekakan.
Karena pintu seluruh kegelapan hidup tak lain adalah pikiran, maka pikiran yang tak terkendali merupakan sumber petaka, kehancuran, dan neraka. Tentang pikiran sebagai sumber kegelapan, Geguritan Lokika menuliskan penuh didaktis, “Ne madan malaning manah, kroda loba irihati, ngulah suka pedidian, rahina wengi ngregep ilmu kademitan." Yang disebut kekotoran pikiran, pemarah, loba, dan iri hati, mencari senang sendiri, siang malam diliput rasa ketidaktulusan.”
Karenanya, belajarlah menjadi orang tulus dan rendah hati. Di titik itu surga masa depan akan tersibak. I Wayan Westa
|