PARUMAN
| hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4
Liar Rasa di Hari Jeda
Hari Nyepi yang sepatutnya dilalui dengan bersepi diri, oleh beberapa warga justru dijadikan momen memuaskan rasa. Berhura-hura sampai ajang melampiaskan balas dendam. Ironis kan?
Luh Putu Rusmini pagi-pagi buta sudah ninjak saput (menendang selimut), awal minggu keempat Maret 2007. Dia bergegas bangun dari ruang tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Membasuh muka kemudian berkumur. Selang sekejap ibu dua putra ini langsung menuju dapur.
Pagi di hari Tilem Kasanga (bulan mati di bulan kesembilan sesuai kalender Bali) itu, Rusmini memang berencana mengerjakan seabrek tugas yang menanti dari pagi hari. Dimulai dengan mempersiapkan sesaji yang akan dihaturkan saat upacara macaru yang berlangsung sore hari di pempatan agung desa, sampai membikin kue yang akan dijadikan santapan ringan di hari Nyepi.
Menyambut Nyepi di tahun saka 1929 lalu, wanita asal Blahbatuh, Gianyar ini, membuat kue sumping dan kelepon untuk persiapan Nyepi keesokan harinya. “ Mangda wenten ajeng ring Nyepi-ne. Tyang ten kuat mapuasa . (Biar ada dinikmati saat Nyepi tiba. Saya tak kuat berpuasa),” kilahnya membela diri.
Bikin jajan persiapan Nyepi sudah lumrah bagi Rusmini, pun warga Blahbatuh lainnya. Sehari sebelum hari penuh sunyi datang, para wanita atau kalagan ibu-ibu akan berlomba membikin kue basah atau kering.
Di desa-desa tertentu, masyarakat tak cukup bikin jajan. Sehari sebelum Nyepi para lelaki juga disibukkan kegiatan mapatung . Bikin lawar babi atau ayam. Jumlah babi yang dipotong tak tentu beratnya. “Tergantung sekaa (kumpulan orang-orang) yang kita ajak membagi,” I Made Subawa, ayah dua putra asal Banjar Selat, Payangan, Gianyar ini menuturkan. Pastinya, volume daging yang dibeli tak sebanyak saat menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan. “Sekadar ada persiapan dalam satu hari itu. Kan kita tak boleh menghidupkan api,” kilahnya lugu.
Ngalawar , membikin kue kering maupun basah sebelum Nyepi, tentu bukan cerita baru di masyarakat Bali, lebih-lebih di pedesaan. Dengan alasan saat Nyepi tak bisa keluar rumah, tak boleh menghidupkan api, mereka tentu harus mempersiapkan makanan atau air hangat agar tak sampai kelaparan.
Rusmini dan Subawa baru segelintir masyarakat Bali yang terbiasa menyediakan beraneka hidangan. Di daerah perkotaan lain lagi ceritanya. Tiga hari menjelang Nyepi, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan mini market menjadi serbuan konsumen. Ibarat pribahasa “sedia payung sebelum hujan”, mereka hendak berbelanja secukupnya. Membeli makanan kering, basah, hingga beraneka santapan ringan. “Lonjakan konsumen terkadang mampu meningkatkan penjualan bisa sampai 50 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa,” Made Diani, penjaga sebuah swalayan di bilangan Jalan Raya Sesetan, Denpasar menjelaskan. Lebih-lebih banyak banyak pertokoan dalam menyambut Hari Nyepi memberlakukan potongan harga. “Masyarakat tentu akan berlomba Toko-toko juga dihujani discount (potongan harga) ”.
Dalam cermatan Diani, gejala serupa tak hanya muncul ketika menjelang Hari Raya Hindu, pun hari besar agama lain, warga juga berbondong-bondong memenuhi supermarket, pertokoan, serta pasar tradisional guna membeli beraneka produk makanan.
Sama dengan kerabatnya di desa, alasan tak bisa ke mana-mana saat Nyepi tiba menyebabkan warga kota mesti belanja melebihi hari biasa.
Hari Nyepi memang menjadi hari penting bagi banyak kalangan, lebih-lebih di kalangan pebisnis yang merasakan hari penuh sunyi ini bisa sebagai bagi usahanya. Dan, itu tak hanya dirasakan pengelola swalayan atau pedagang di pasar, para penjual dan penyewaan Video Compact Disc (VDC) juga kerap kecipratan untung. Terbukti menjelang Nyepi penjualan maupun penyewaan VCD justeru meningkat. “Kalau pada hari biasa omzet penjualan di toko kami paling tinggi Rp satu juta,” sebut Komang S, pemilik pertokoan Varis di bilangan Jalan Imam Bonjol Denpasar, yang menjual dan menyewakan beraneka VCD. Sehari menjelang Nyepi omzet naik sampai 100 persen. Malah sebelum bom Bali 2003, sering melonjak sampai 300 persen. “Seharian tak bisa ke mana, mungkin mereka nonton di kamar,” Komang mengira-ngira.
Sedangkan pengusaha di dunia pariwisata, memanfaatkan momen tahunan ini sebagai hari yang tepat untuk menarik turis datang ke Bali. Beberapa pengelola hotel pun jauh sebelumnya tiba menawarkan satu paket liburan Nyepi. “Saat Nyepi memang ada tamu menginap di hotel,” jelas Public Relation (PR) Bali Hyatt Sanur Hotel, Mutia. Hanya, hotel yang beralamat di Jalan Danau Tamblingan Denpasar ini, tak secara khusus mempromosikan paket Nyepi sebagai satu program, juga tak terlalu menjadi target.
Orang yang menginap di hotel saat ini Nyepi biasanya kalangan pengusaha asing atau pribumi yang kebetulan berdiam di Bali. Ada juga turis yang kebetulan jadwal out -nya setelah Nyepi.
Menghindari terjadinya kesalahan, maka tiga hari sebelum hari H, pihak manajemen akan menginformasikan tentang makna hari Nyepi termasuk berbagai hal yang tak boleh dilakukan selama sehari itu kepada turis yang tinggal di hotel ini.
Dalam cermatan Mutia, tak ada kendala bagi turis. Mereka justru merasa senang dan bangga karena dapat menikmati sepinya bumi selama sehari.
Sebagai bentuk penghormatan serta toleransi, maka pihak hotel umumnya meminimalisir kegiatan. Turis yang menginap pun akan diberikan potongan harga terutama dari restoran. Pertimbangannya, pada hari-hari biasa turis yang menginap di hotel ini bisa ke luar membeli makanan. Sedangkan hari itu tamu seharian di hotel, makanya diberikan beberapa keringanan. “Saat Nyepi kita kan tak diizinkan ke mana-mana. Di rumah seharian,” tambah Nengah Sunarti, warga asal Jalan Pulau Serangan, Denpasar. Dilarang menghidupkan api sekalipun untuk memasak. Berarti mesti mempersiapkan segala keperluan, termasuk makanan dan minuman .
Tak salah disampaikan Sunarti. Begitu Nyepi tiba, Kota Denpasar dan beberapa wilayah di Bali memang seperti kota mati. Roda perekonomian berhenti sehari. Tak ada sinar lampu maupun suara lengking kendaraan. Warga sama sekali tak diijinkan melintas di jalan, terkecuali ada kepentingan yang tak mungkin dihindari. Mengajak orang sakit ke rumah sakit atau mengantar orang hendak melahirkan, misalkan.
Apakah menyepinya orang-orang di rumah itu, berarti sudah ada kesadaran dari dalam diri memaknai hari Nyepi? Nanti dulu, sebab pada kenyataan mereka yang tak keluar rumah masih mendapat penjagaan super ketat dari keamanan desa yang lumrah dinamakan pacalang . Pasukan keamanan bentukan desa pakraman tersebut akan lalu lalang dari pagi hingga malam, ‘mengintai' kalau-kalau ada warga yang melanggar. Jika sampai ditemukan ada masyarakat tak mengikuti aturan, seperti menyalakan lampu atau menyuarakan bunyi-bunyian, maka pacalang akan datang memberi peringatan. Bahkan tak tertutup kemungkinan si pelanggar dikenai sanksi tertentu oleh desa pakraman.
Di Kota Denpasar dan Bali pada umumnya memberlakukan ketentuan agak ketat akan Catur Brata Panyepian (empat larangan yang tak boleh dilakukan saat Nyepi)— Catur Brata Panyepian terdiri dari Keempat larangan dimaksud, meliputi dilarang berpergian ( amati lalungan ), dilarang menyalakan api ( amati gni ), dilarang melakukan kegiatan ( amati karya ), dan dilarang mencari kesenangan (amati lalanguan ) —, toh beberapa desa di Tabanan, belum sepenuhnya memberlakukan aturan Catur Brata Panyepian . Dengan alasan sudah tradisi, maka saat Nyepi warga bisa ke marga agung (jalan besar), gradag-grudug bersama kerabat lain. “Kami boleh ke luar rumah. Jalan-jalan bersama teman-teman, asal tak sampai ke desa lain,” seorang warga Desa Cepaka, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, I Gede Suryawan menuturkan. Gambaran serupa juga muncul di Desa Tuakilang, Kecamatan Penebel, Tabanan, warga justru rame-rame turun ke jalan. Pedagang berjualan seperti biasa.
Sejatinya, berkiblat dari aturan agama Hindu, sejatinya saat Hari Nyepi orang-orang hendaknya mengekang diri. Merasakan sepi dan sunyi. Hanya, dalam praktek di masyarakat, belum sepenuhnya aturan itu terlaksana. Empat larangan tak berlaku penuh.
Pun, riuh saat Nyepi bukan hanya tampak dari kebiasaan warga yang ke luar ke jalan atau melakukan laku nyeleneh yang terkadang hukum formal, seperti bermain judi. Kegaduhan yang berujung tindakan anarkis oleh sekelompok orang, juga sering menodai hari yang penuh sunyi ini.
Dalam catatan SARAD, ada beberapa kasus yang muncul pasca Hari Nyepi. Saat menyambut detik-detik hening ditahun 2005, warga yang berdomisili di lingkungan Banjar Batuparas, Padangsambian Kaja, Denpasar, dikejutkan oleh tindakan amarah dan brutal sekelompok warga setempat yang dengan beringas melempari rumah warga Dadia Alas Arum—yang disebut “Kelompok 31” karena terdiri dari 31 kepala keluarga (KK).
Batu dan benda keras lain sambung-menyambung mendera atap rumah. Tak pelak, tujuh unit bangunan rumah jadi korban, dua di antaranya rusak berat. Genting dan kaca pecah, berantakan.
Kejadian yang muncul spontan malam hari itu, dipicu sengketa adat berupa pembagian setra (kuburan).
Kejadian di Batuparas bukan aksi kekerasan massal pertama, sekaligus bukan satu-satunya, yang meletup bersamaan dengan hari Nyepi. Masih di tahun yang sama, di Kota Tabanan, pada malam pangrupukan , sehari menjelang Nyepi, rumah Made Surya dari Banjar Sakenan Blodan dilempari batu semen oleh orang tak dikenal.
Kasus keributan saat dan sesudah perayaan Nyepi sempat pula muncul pada Senin, 19 Maret 2007. Saat warga Hindu di Indonesia sedang khusyuk merayakan hari raya Nyepi. Bergulat dengan tanpa melakukan aktifitas layaknya dilakukan pada hari biasa, di Desa Pakraman Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, perayaan Nyepi tahun saka 1929, malah menjadi pemantik awal dari satu peristiwa anarkis yang dilakukan sekelompok masyarakat.
Pada hari Nyepi malam, sebuah rumah dari warga kelompok brahmana, yakni milik Ida Bagus Gede yang berada di Banjar Tusan Kaleran, Geria Kaja Kauh dihujani batu oleh orang yang tak dikenal.
Tindakan anarkis warga yang dipicu oleh keinginan warga Desa Pakraman Tusan mengadakan evaluasi ulang peraturan ( awig-awig ) yang disahkan 4 Desember 2002 oleh Bupati Klungkung, kala itu dijabat Cokorda Gde Ngurah—Evaluasi ulang dimaksud di antaranya penghapusan “hak istimewa” yang didapat kelompok keturunan brahmana—, ternyata berlanjut keesokan harinya.
Rabu, 21 Maret, dini hari, tanda-tanda kericuhan kembali menyeruak. Ratusan warga berpakaian gelap lengkap dengan senjata tajam (sajam) tiba-tiba merangsek, menyerang rumah-rumah warga kelompok brahmana di Tusan. Sekelompok warga yang membawa sajam langsung masuk ke halaman rumah warga brahmana. Membabat bangunan dan tetanaman yang ditemui, malahan ada yang melakukan pembakaran.
Akibat dari kasus beringas warga Tusan ‘berdurasi' sekitar 2 jam kala itu, di samping mengakibatkan 43 KK (102 jiwa) warga harus diungsikan ke Mapolres Klungkung, bangunan rumah plus pamerajan banyak yang rusak. Dari data yang sempat disodorkan Ida Bagus Nyoman Gede, Ketua Umum Paiketan Pasametonan Brahmana Walaka Banjar Kaleran , kepada SARAD, jumlah kendaraan yang terbakar ada 3 buah, rumah yang rusak 17 unit, 14 di antaranya masuk indikasi pembakaran dan yang nyata-nyata terbakar ada 3 rumah.
Ironis memang. Di saat hari penuh keheningan, ternyata masih ada melakoni dengan tindakan hura-hura, bahkan sampai muncul tindakan yang justru menodai hari suci itu sendiri.
Padahal, hari suci yang dirayakan pada awal sasih Kadasa (bulan kesepuluh sesuai kalender Bali) itu tak sebatas dimaknai sebagai hari pergantian tahun Isaka atau upaya mengoreksi diri. Pemberlakuan larangan secara khusus selama 24 jam (dilarang melakukan empat kegiatan), mempunyai dampak positif terhadap tekanan polusi yang terjadi di daerah ini. Kebisingan tiada terdengar, perbaikan kualitas udara meningkat tajam.
Cobalah buka hasil penelitian yang dilakukan peneliti dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Unud, Nyoman Adiputra, Ketut Tirtayasa, dan Dewa Putu Sutjana, selama bulan April tahun 2002,---penelitian dilakukan lewat memperbandingkan catatan yang tertera secara otomatis pada alat ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) yang tersebar di tiga tempat, yakni di Pegok (Denpasar Selatan), Universitas Hindu Indonesia (Denpasar Timur), dan Stadion Kompyang Sujana (Denpasar Barat)--- memperlihatkan, saat berlangsung Nyepi, kadar polutan udara di Denpasar secara umum sangat rendah. Jauh di bawah batas ambang mutu
ISPU Pegok, pada hari di luar Nyepi kadar CO (Karbon Monoksida) mencapai 1,33 mg/m³ sedangkan saat hari Nyepi hanya 0,33 mg/m³. Di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, saat Nyepi kadar CO mencapai 0,29 mg/m³, di luar Nyepi 0,50 mg/m³. Di Lapangan Kompyang Sujana, CO saat Nyepi 0,42 mg/m³, di luar Nyepi 1,33 mg/m³. (Lebih lengkap, baca rubrik Sorot pada Majalah Sarad edisi, 83, Maret 2007).
Berkiblat dari hasil penelitian yang dilakukan ketiga peneliti dari Unud tadi, diberlakukannya brata penyepian , terutama tak keluar rumah dan tidak menyuarakan bunyi-bunyian, tak terkecuali menghidupkan kendaraan bermotor, ternyata mampu menekan pencemaran udara sangat besar. Dan, atas nama kebersihan udara, mungkinkan Nyepi digelar dua kali setahun.
Ada banyak hikmah sesungguhnya yang bisa diambil jika penganut satu agama secara sungguh-sungguh melaksanakan hari raya sesuai ketentuan yang berlaku. Hanya, seberapa banyak orang mampu melakukan langkah seperti itu, memaknai hari raya agama sesuai aturan berlaku. Inilah yang masih perlu lebih ditekankan, sekalipun dalam pasca dan saat perayaan tampak begitu meriah.
Sebab, seperti yang pernah dipaparkan dosen ilmu sosiologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, Ketut Sudhana Astika, meriah dalam menjalankan ajaran agama, bukan jaminan warga atau sekelompok warga tidak bertindak yang justru melanggar ajaran agama sendiri.
Jika menyitir teori “segitiga agama” versi sosiolog Perancis, Emile Durkheim, sosiolog ini menengarai di Bali memang ada ketidakseimbangan antara aturan agama di posisi puncak segitiga dengan tata pelaksanaan di kaki segitiga. Artinya lagi, Dalam agama Hindu itu berarti perlu keseimbangan antara tatwa di atas dengan susila dan upacara di kaki. Ini penting, karena di tengah-tengah segitiga sesungguhnya ada emosi dan emosional keagamaan.
Sesuatu yang perlu direnungkan lebih mendalam lagi, sehingga dalam merayakan satu hari raya agama tak sekadar sebagai sebuah rutinitas tahunan, tak hendak mengedepankan hura-hura, kemeriahan, dan indah di ajaran. Tapi begitu tipis dalam pemaknaan. I Wayan Sucipta
Beberapa Contoh Perilaku Menyimpang Berkenaan Hari Nyepi
No |
Perilaku |
1 |
Menyerbu pasar untuk beli makanan persiapan Nyepi |
2 |
Minum-minuman keras |
3 |
Main judi
1. domino
2. maceki/capjeki
3. main dadu
4. sabungan ayam |
4 |
Begadang sampai dini hari setelah mengarak ogoh-ogoh |
5 |
Menonton televisi, video, mendengarkan radio saat hari Nyepi |
6 |
Menyalakan lampu |
Data diolah Tim Litbang SARAD. |