No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
PARUMAN
hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4

Berburu Sepi di Tengah Pasar

Lewat Nyepi orang bisa terbawa pada harus kesadaran baru, bahwa hidup mesti dihadapi dengan segala resiko Karena dia yang bisa memulangkan sepi ke “rumah keheningan” - di pusat hati mahadalam sesungguhnya seorang yogi.

Diam. Inilah “pekerjaan” paling susah dilakukan orang. Alasan ini kemudian jadi pembenar Made Kanca untuk tidak menyongsong Nyepi dengan khusuk amat. Pria lajang asal Nusa Penida, yang bekerja di salah satu hotel berbintang di kawasan Nusa Dua tak hendak hidup layaknya para yogin atau kaum agamawan yang taat. Biasanya, sehari menjelang Nyepi ia menyewa losinan kaset VCD ( Video Compact Disc ) memborong makanan dan camilan di supermarket. Ia tidak pulang ke Nusa Penida, tetap tinggal di rumah kontrakan. “Ah, malas pulang, saya ini orang yang tidak bisa diam. Karenanya setiap Nyepi saya merasa “terpenjara,” pikiran jadi sumpek . Bayangkan seharian tidak keluar rumah. Karena itu saya usir kesumpekan dengan menonton film, menikmati musik, tidur sepuas-puasnya,” ujar Kanca polos.
Tak beda amat dengan Made Kanca, Desak Made Sukri, istri kontraktor sukses kelahiran Bangli malah menyambut Nyepi dengan pesta besar. Jauh-jauh hari, Ibu dua anak ini belanja kebutuhan dapur melimpah. Kiloan daging babi, ayam, dan ikan laut ia beli. Tepung ketan untuk jajan, beraneka buah untuk juss, serta camilan berkantong-kantong plastik. Keluarga Desak Made memang tak hendak puasa di hari Nyepi, sebaliknya berpesta memanjakan lidah. Menyambut Nyepi, Ibu muda yang karyawan di sebuah bank swasta terbesar di negeri ini menggamit waktu dua hari khusus menyiapkan aneka masakan dan camilan. “Jika tidak libur Nyepi saya jarang di rumah. Kasihan anak-anak, ini hajatan setahun sekali, biar dia puas. Namun saya belum bisa puasa, nantilah,” paparnya datar.
Dua dari sosok orang Bali yang ditemui SARAD menyiratkan gambaran ganjil. Begitulah umumnya orang Bali menyongsong Nyepi. Tengoklah pusat-pusat perbelajaan dan pasar-pasar tradisonal di Denpasar, tanya pula jasa-jasa penyewaan VCD semua mengalami peningkatan tajam.Tak cuma di kota-kota, di desa-desa pun orang-orang menyongsong Nyepi dengan “adat” hura-hura, pesta pora penuh hiruk-pikuk. Semisal potong babi, mebat , judi, dan minum-minum. Memang tak semua orang terbiasa puasa, tak semua orang mampu merasakan nikmatnya meditasi, duduk merenung berserah hati.
Walau hanya sehari, situasi kini mengkondisikan orang kian susah berdiam diri, sepi aktifitas, alih-alih menyalakan api. Melimpahnya sarana komunikasi bertehnologi canggih, semisal ponsel, internet, e-mail membuat orang tidak merasa nyaman berdiam diri. Hal ini diakui Nyoman Linggih, menurutnya tidak ada hari-hari yang bisa membuat ia terdiam - tidak juga pada hari Nyepi. Saban hari ada puluhan e-mail yang ia harus dibalas ke seluruh penjuru dunia. “Baru saja saya menerima surat digital dari “Lembah Silikonnya India ” Bangalore . Sahabat saya seorang insinyur tengah melakukan penelitian general elektrik , perangkat untuk menjembatani pelaku bisnis dunia maya. Menjelang Nyepi ia berkabar hendak berlibur di Bali menikmati keheningan. Inilah kesibukan saya saban hari,” ujar Linggih, wirausaha yang tengah membangun jaringan internasional.
Media siar seperti teve, radio, serta media audio visual lain membuat orang kian terjebak dalam hiruk-pikuk hidup. Media telah menjadi pasar maya kini, senantiasa menggedor-gedor, membangunkan libido Anda hingga ke tempat tidur. Dan tidak seorang pun bisa luput dari godaan itu. Produk-produk kemewahan hidup diiklankan begitu memukau, layaknya wanita cantik menggoda pria jantan. Bagi mereka yang tidak paham strategi pasar, yang cepat terkagum-kagum produk kemewahan hidup, jelas mudah lunglai olok-olokan iklan di teve. Pola hidup konsumtif terang mengkondisikan orang tak pernah sepi dari keinginan.
Di pulau Bali , di sebuah wilayah yang dipuji dengan banyak julukan -- pada sebuah pulau di mana para leluhur menemukan cara jitu meng-nol-kan diri, Nyepi memang tak serta-merta menyadarkan penduduknya berkeadaban tinggi. Berkali-kali, sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional, pertengahah dasawarsa 1980-an lampau, Nyepi total di seluruh Bali memang harus dikondisikan dengan perangkat pengamanan ekstra ketat. Nyepi yang seharusnya dilakoni dengan kesadaran penuh, toh harus dijaga para pengaman desa, disebut pecalang . Di sana-sini, saat hari puncak terkadang muncul musibah memalukan, semisal penghancuran rumah, bentrok antar pemuda, dan sejumlah konflik sosial lainnya.
Mencatat demikian banyak borok di rumah tangga sendiri merupakan hal buruk, tentu. Namun banyak juga generasi baru Bali sadar dengan milik sendiri. Nyoman Sujiwa, pemuda berkulit sawa matang asal Karangasem, jauh-jauh datang dari Jepang bersama sang istri hendak menghirup aroma hening di desa kelahirannya, di Kecamatan Bebandem, Karangasem. Pasutri, pasangan suami istri yang baru menikah setahun ini ingin menyepi di sebuah gubuk dekat kebun salak nan hijau. Di hamparan bukit-bukit salak hendak menghirup udara murni beraroma salak matang di pohon.
Bergaji tinggi di Jepang, Nyoman sesungguhnya bisa membeli keperluan apa saja bekal menyepi di gubuknya di Bebandem. Ia membawa makanan seadanya, dan sebongkos dupa harum yang ia beli di Denpasar. Saat Nyepi ia betul-betul ingin istirahat, puasa, dan merenung. “Ya, di Jepang waktu saya habis untuk bekerja, sekadar bisa menyambung hidup. Karena itu menjelang Nyepi saya pulang untuk mendapat ketenangan. Lega rasanya pulang kampung saat-saat badan dan pikiran lelah begini. Saya merasa segar kembali, bertemu sanak saudara,” urai Sujiwa merendah.
Memang dalam kelelahan fisik, ketidakstabilan pikiran, stress dijepit hiruk pikuk hidup, Nyepi menjadi jawaban paling murah memulihkan kesegaran pikiran. Toh di zaman yang serba instant ini, pekat dengan songsongan aroma kapitalis, Nyepi pun tak surut menjadi sekadar perayaan sunyi. Pernah suatu hari menjelang Nyepi, para pebisnis di dunia pariwisata rame-rame menjual Nyepi tak ubahnya menjual secangkir kopi. Para pialang dunia industri pariwisata tanpa segan menelikung di balik hari suci, dengan cara: menjual paket Nyepi di hotel-hotel.
Orang Bali toh tak merasa perlu tersinggung tentang hal ini, membiarkan begitu saja paket Nyepi diobral. Karena toh di balik semua itu banyak orang Bali rantau tak hendak pulang langsung ke kampung halaman saat Nyepi. Untuk satu dua hari tinggal di hotel-hotel seputar Nusa Dua, dan Jimbaran. “Setahun sekali, menjelang Nyepi saya memang pulang dari Jakarta , tapi tak langsung pulang kampung. Saya memilih menginap di hotel bersama keluarga. Malas memasak, saya ingin istirahat penuh,” aku Made Mahendri, kepala devisi penjualan sebuah perusahan property di Jakarta .
Tak hendak menggerundel, tentu tak sedikit orang Bali menjadikan Nyepi sebagai momen penting pulang ke “rumah keheningan.” Ini tentu tanda dari jiwa-jiwa yang lapar akan keheningan, jiwa-jiwa yang rindu memeluk kedamaian. Sekelompok peguyuban spiritual di Klungkung, berencana menyepi pada sebuah pura di pucak bukit yang masih dirahasiakan tempatnya. “Kami, sekitar tujuh orang teman sepakat untuk benar-benar menyepi di tempat jauh, meditasi di sebuah tempat yang kami tentukan nanti sehari menjelang Nyepi,” ujar Dewa Suyasa, salah seorang mentor dari peguyuban itu.
Apapun alasannya, suka tidak suka manusia dan dunia memang butuh Nyepi. Di tengah-tengah keletihan teramat sangat, hidup yang kian susah, lingkungan yang semakin rusak, ketimpangan sosial yang makin mengaga, di situ orang kemudian butuh Nyepi. Sebab dengan Nyepi, orang bisa jadi terbawa pada harus kesadaran baru, bahwa hidup memang harus dihadapi dengan segala resiko. Percayalah, tidak ada yang gratis dalam hidup ini - semua pilihan membawa resiko. Bahagia dan damai pasti diawali suatu perjungan penat - karena dengan demikian semua kejadian dalam hidup, semua cobaan dalam hidup merupakan guru abadi dari seorang yang tidak ingin menyia-nyiakan hidup itu sendiri. Karena dia yang bisa memulangkan sepi ke “rumah keheningan” - di pusat hati mahadalam sesungguhnya seorang yogi. I Wayan Westa