PARUMAN
hal 1 | hal
2 | hal 3 | hal
4
Berburu Sepi di Tengah
Pasar
Lewat Nyepi orang bisa terbawa pada harus kesadaran
baru, bahwa hidup mesti dihadapi dengan segala resiko
Karena dia yang bisa memulangkan sepi ke “rumah
keheningan” - di pusat hati mahadalam sesungguhnya
seorang yogi.
Diam. Inilah “pekerjaan” paling susah dilakukan
orang. Alasan ini kemudian jadi pembenar Made Kanca
untuk tidak menyongsong Nyepi dengan khusuk amat. Pria
lajang asal Nusa Penida, yang bekerja di salah satu
hotel berbintang di kawasan Nusa Dua tak hendak hidup
layaknya para yogin atau kaum agamawan yang taat. Biasanya,
sehari menjelang Nyepi ia menyewa losinan kaset VCD
( Video Compact Disc ) memborong makanan dan camilan
di supermarket. Ia tidak pulang ke Nusa Penida, tetap
tinggal di rumah kontrakan. “Ah, malas pulang,
saya ini orang yang tidak bisa diam. Karenanya setiap
Nyepi saya merasa “terpenjara,” pikiran
jadi sumpek . Bayangkan seharian tidak keluar rumah.
Karena itu saya usir kesumpekan dengan menonton film,
menikmati musik, tidur sepuas-puasnya,” ujar Kanca
polos.
Tak beda amat dengan Made Kanca, Desak Made Sukri, istri
kontraktor sukses kelahiran Bangli malah menyambut Nyepi
dengan pesta besar. Jauh-jauh hari, Ibu dua anak ini
belanja kebutuhan dapur melimpah. Kiloan daging babi,
ayam, dan ikan laut ia beli. Tepung ketan untuk jajan,
beraneka buah untuk juss, serta camilan berkantong-kantong
plastik. Keluarga Desak Made memang tak hendak puasa
di hari Nyepi, sebaliknya berpesta memanjakan lidah.
Menyambut Nyepi, Ibu muda yang karyawan di sebuah bank
swasta terbesar di negeri ini menggamit waktu dua hari
khusus menyiapkan aneka masakan dan camilan. “Jika
tidak libur Nyepi saya jarang di rumah. Kasihan anak-anak,
ini hajatan setahun sekali, biar dia puas. Namun saya
belum bisa puasa, nantilah,” paparnya datar.
Dua dari sosok orang Bali yang ditemui SARAD menyiratkan
gambaran ganjil. Begitulah umumnya orang Bali menyongsong
Nyepi. Tengoklah pusat-pusat perbelajaan dan pasar-pasar
tradisonal di Denpasar, tanya pula jasa-jasa penyewaan
VCD semua mengalami peningkatan tajam.Tak cuma di kota-kota,
di desa-desa pun orang-orang menyongsong Nyepi dengan
“adat” hura-hura, pesta pora penuh hiruk-pikuk.
Semisal potong babi, mebat , judi, dan minum-minum.
Memang tak semua orang terbiasa puasa, tak semua orang
mampu merasakan nikmatnya meditasi, duduk merenung berserah
hati.
Walau hanya sehari, situasi kini mengkondisikan orang
kian susah berdiam diri, sepi aktifitas, alih-alih menyalakan
api. Melimpahnya sarana komunikasi bertehnologi canggih,
semisal ponsel, internet, e-mail membuat orang tidak
merasa nyaman berdiam diri. Hal ini diakui Nyoman Linggih,
menurutnya tidak ada hari-hari yang bisa membuat ia
terdiam - tidak juga pada hari Nyepi. Saban hari
ada puluhan e-mail yang ia harus dibalas ke seluruh
penjuru dunia. “Baru saja saya menerima surat
digital dari “Lembah Silikonnya India ”
Bangalore . Sahabat saya seorang insinyur tengah melakukan
penelitian general elektrik , perangkat untuk menjembatani
pelaku bisnis dunia maya. Menjelang Nyepi ia berkabar
hendak berlibur di Bali menikmati keheningan. Inilah
kesibukan saya saban hari,” ujar Linggih, wirausaha
yang tengah membangun jaringan internasional.
Media siar seperti teve, radio, serta media audio visual
lain membuat orang kian terjebak dalam hiruk-pikuk hidup.
Media telah menjadi pasar maya kini, senantiasa menggedor-gedor,
membangunkan libido Anda hingga ke tempat tidur. Dan
tidak seorang pun bisa luput dari godaan itu. Produk-produk
kemewahan hidup diiklankan begitu memukau, layaknya
wanita cantik menggoda pria jantan. Bagi mereka yang
tidak paham strategi pasar, yang cepat terkagum-kagum
produk kemewahan hidup, jelas mudah lunglai olok-olokan
iklan di teve. Pola hidup konsumtif terang mengkondisikan
orang tak pernah sepi dari keinginan.
Di pulau Bali , di sebuah wilayah yang dipuji dengan
banyak julukan -- pada sebuah pulau di mana para leluhur
menemukan cara jitu meng-nol-kan diri, Nyepi memang
tak serta-merta menyadarkan penduduknya berkeadaban
tinggi. Berkali-kali, sejak ditetapkan sebagai hari
libur nasional, pertengahah dasawarsa 1980-an lampau,
Nyepi total di seluruh Bali memang harus dikondisikan
dengan perangkat pengamanan ekstra ketat. Nyepi yang
seharusnya dilakoni dengan kesadaran penuh, toh harus
dijaga para pengaman desa, disebut pecalang . Di sana-sini,
saat hari puncak terkadang muncul musibah memalukan,
semisal penghancuran rumah, bentrok antar pemuda, dan
sejumlah konflik sosial lainnya.
Mencatat demikian banyak borok di rumah tangga sendiri
merupakan hal buruk, tentu. Namun banyak juga generasi
baru Bali sadar dengan milik sendiri. Nyoman Sujiwa,
pemuda berkulit sawa matang asal Karangasem, jauh-jauh
datang dari Jepang bersama sang istri hendak menghirup
aroma hening di desa kelahirannya, di Kecamatan Bebandem,
Karangasem. Pasutri, pasangan suami istri yang baru
menikah setahun ini ingin menyepi di sebuah gubuk dekat
kebun salak nan hijau. Di hamparan bukit-bukit salak
hendak menghirup udara murni beraroma salak matang di
pohon.
Bergaji tinggi di Jepang, Nyoman sesungguhnya bisa membeli
keperluan apa saja bekal menyepi di gubuknya di Bebandem.
Ia membawa makanan seadanya, dan sebongkos dupa harum
yang ia beli di Denpasar. Saat Nyepi ia betul-betul
ingin istirahat, puasa, dan merenung. “Ya, di
Jepang waktu saya habis untuk bekerja, sekadar bisa
menyambung hidup. Karena itu menjelang Nyepi saya pulang
untuk mendapat ketenangan. Lega rasanya pulang kampung
saat-saat badan dan pikiran lelah begini. Saya merasa
segar kembali, bertemu sanak saudara,” urai Sujiwa
merendah.
Memang dalam kelelahan fisik, ketidakstabilan pikiran,
stress dijepit hiruk pikuk hidup, Nyepi menjadi jawaban
paling murah memulihkan kesegaran pikiran. Toh di zaman
yang serba instant ini, pekat dengan songsongan aroma
kapitalis, Nyepi pun tak surut menjadi sekadar perayaan
sunyi. Pernah suatu hari menjelang Nyepi, para pebisnis
di dunia pariwisata rame-rame menjual Nyepi tak ubahnya
menjual secangkir kopi. Para pialang dunia industri
pariwisata tanpa segan menelikung di balik hari suci,
dengan cara: menjual paket Nyepi di hotel-hotel.
Orang Bali toh tak merasa perlu tersinggung tentang
hal ini, membiarkan begitu saja paket Nyepi diobral.
Karena toh di balik semua itu banyak orang Bali rantau
tak hendak pulang langsung ke kampung halaman saat Nyepi.
Untuk satu dua hari tinggal di hotel-hotel seputar Nusa
Dua, dan Jimbaran. “Setahun sekali, menjelang
Nyepi saya memang pulang dari Jakarta , tapi tak langsung
pulang kampung. Saya memilih menginap di hotel bersama
keluarga. Malas memasak, saya ingin istirahat penuh,”
aku Made Mahendri, kepala devisi penjualan sebuah perusahan
property di Jakarta .
Tak hendak menggerundel, tentu tak sedikit orang Bali
menjadikan Nyepi sebagai momen penting pulang ke “rumah
keheningan.” Ini tentu tanda dari jiwa-jiwa yang
lapar akan keheningan, jiwa-jiwa yang rindu memeluk
kedamaian. Sekelompok peguyuban spiritual di Klungkung,
berencana menyepi pada sebuah pura di pucak bukit yang
masih dirahasiakan tempatnya. “Kami, sekitar tujuh
orang teman sepakat untuk benar-benar menyepi di tempat
jauh, meditasi di sebuah tempat yang kami tentukan nanti
sehari menjelang Nyepi,” ujar Dewa Suyasa, salah
seorang mentor dari peguyuban itu.
Apapun alasannya, suka tidak suka manusia dan dunia
memang butuh Nyepi. Di tengah-tengah keletihan teramat
sangat, hidup yang kian susah, lingkungan yang semakin
rusak, ketimpangan sosial yang makin mengaga, di situ
orang kemudian butuh Nyepi. Sebab dengan Nyepi, orang
bisa jadi terbawa pada harus kesadaran baru, bahwa hidup
memang harus dihadapi dengan segala resiko. Percayalah,
tidak ada yang gratis dalam hidup ini - semua
pilihan membawa resiko. Bahagia dan damai pasti diawali
suatu perjungan penat - karena dengan demikian
semua kejadian dalam hidup, semua cobaan dalam hidup
merupakan guru abadi dari seorang yang tidak ingin menyia-nyiakan
hidup itu sendiri. Karena dia yang bisa memulangkan
sepi ke “rumah keheningan” - di pusat
hati mahadalam sesungguhnya seorang yogi.
I
Wayan Westa