|
NYAMA
BRAYA
Cara Berbisnis Bali Rantau
Filosofi bisnis orang Bali : berkumpul, membanting
uang, merumuskan visi, dan membuat. Urusan pengelolaan
serahkan pada profesional. Tapi, bukankah dengan mengelola
uang sendiri untung yang didapatkan lebih berlipat ?
Stereotipe
orang Bali yang mau bekerja apa saja demi sebuah prestise
dalam upacara-upacara keagamaan agaknya perlu ditinjau
ulang. Orang Bali ternyata punya resep untuk berbisnis
dan sukses. Resep itu — sederhana saja —
adalah kebersamaan.
Resep ini mampu mempertahankan dan mengembangkan modal
dalam jangka waktu puluhan tahun. Sebuah remuk redam
perjalanan yang dilalui melalui desingan peluru dan
pergolakan politik. Resep ini juga mampu menundukkan
kota bisnis terbesar di Indonesia : Jakarta.
Geliat saudagar Bali yang tinggal di luar Bali kini
mulai diperhitungkan.
Adalah Anak Agung Ngurah Wirawan, pengusaha Bali generasi
baru yang sangat getol mempromosikan resep kebersamaan
dalam berbisnis. Saat ia menjabat sebagai direktur utama
PT Bali Incorporated yang berpusat di Jakarta . Perusahaan
yang dipimpinnya mengelola duit sebesar Rp 140 milyar
dari modal awal yang terkumpul di awal tahun 2000-an
sebanyak Rp 1,5 milyar. Perusahaan yang dipimpinnya
bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi, seperti
pembangunan tower.
Dalam kaca mata Wirawan perusahaan yang dipimpin kini,
mulai mengerucut ide pendiriannya saat ia menjadi ketua
umum Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah). Selama
dua periode jabatan itu ia menjadi semacam ‘tong
sampah' dari berbagai kalangan, di antaranya politikus
atas gonjang ganjing politik dan pegiat sosial keagamaan
yang selalu saja mengeluh kekurangan dana untuk membuat
satu kegiatan bagi pemeluk Hindu. Bahkan Susilo Bambang
Yudoyono (SBY) yang pada saat awal 2000-an menjabat
sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan di masa pemerintahan
Gus Dur, sempat menelpon ke nomor handphone pribadi
Wiarawan, yaitu saat Peradah mengadakan sebuah acara
di Kalianyar Jawa Tengah. SBY selain ‘berkeluh
kesah' juga minta masukan dalam kapasitas Wirawan sebagai
ketua umum Peradah.
Berdasarkan pengalaman itu, mantan pereli ini, mengambil
inisiatif untuk membentuk suatu ikatan bisnis dalam
komunitas orang-orang Bali di Jakarta. Semuanya berjumlah
19 orang. “Mereka itu adalah para profesional,
pensiunan, purnawirawan Polri dan ABRI, mantan birokrat.
Semuanya orang Bali yang tinggal di Jakarta ,”
kata pria berbadan tegap ini.
Masing-masing orang bebas menyetorkan sejumlah uang
untuk disimpan pada badan securitas. Bukan hanya itu,
Wirawan mempergunakan kontak-kontak pribadi untuk menggolkan
komitmen orang-orang Bali yang telah membanting uangnya
untuk sebuah visi kebersamaan. “Karena saya yang
paling muda, lalu saya diberi kepercayaan untuk pengelolaan
uang itu,” ungkapnya sembari tersenyum.
Toh, Wirawan memperlakukan hukum-hukum bisnis secara
ketat. Nyaris tidak bisa ditawar — terutama urusan
modal ( capital ) dan waktu. Itu bukan uang pribadinya,
tapi uang orang lain. Dia, misalkan, pernah ditawari
untuk mengelola Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran
Bali , tapi ditolak. “Karena otorisasi dan skemaisasi
yang saya ajukan ditolak,” katanya berterus terang.
Sebuah pernyataan yang diungkapkan di depan publik.
Berkali-kali.
Setelah uang terkumpul, Wirawan mengajukan pada pemilik
uang agar masuk pada lapangan telekomunikasi. Usulan
ini disetujui, karena “Teknologi bisa dibeli,
teknokrasi bisa dibayar. Tapi momentum bisnis itu yang
kita kejar”. Artinya, saat tahun 2003 pembangunan
tower telekomunikasi itu mulai menanjak atau dalam bahasa
kaum surfer , ‘ombak sedang menanjak'. Lalu muncul
masalah. Membangunnya di Bali atau di Jakarta. Karena
PT yang didirikan menggunakan nama Bali.
Merasa sebagai putra Bali dan menggunakan nama bali
pula, maka dia menjajaki Bali sebagai kantor pusat.
Tapi ironisnya, Wirawan justru ‘terjegal' oleh
birokrasi. “Saya tidak menganggap ini sebagai
halangan, tapi gimana ya….? Orang Bali bilang
begini, begitu. Seperti curiga gitu,” ujarnya,
sembari angkat bahu. Walau bertindak angkat kaki, balik
kanan, tapi ia tidak menyerah. Ia mendirikan kantor
di Jakarta .
Langkah pertama PT Bali Incorporated berhasil meminjam
uang sebesar 23 Milyar dan itu langsung digunakan untuk
membangun 15 tower di seluruh Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi),
dan hingga tahun 2008 telah memiliki 247 tower di seluruh
Indonesia.
Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah perusahaan
berusia di bawah 10 tahun. “Tapi yang menyedihkan
kami hanya punya 14 tower saja di Bali ,” ujar
Wirawan sendu.
Kini Wirawan mengelola aset sebesar Rp 147 milyar dari
modal pertama yang terkumpul di tahun 2003 sebesar 1,5
milyar.
Bagaimana dengan di Bali ? Suka atau tak suka, mesti
diakui perekonomian Bali kini sedang terpuruk. Kalaupun
cerah, akumulasi modal jangka panjangnya pun bukan buat
Bali, tapi ke Jakarta .
Tapi bila para para wirausaha dan pengusaha Bali mau
menenggok ke belakang, melihat sejarah bagaimana saudagar
Bali mengelola akumulasi modal jangka panjang, maka
cetak biru resep kebersamaan Wirawan terdapat dalam
budaya Bali, yaitu tradisi masekaa (baca: kebersamaan).
Tradisi masekaa sebelumnya digunakan pelopor dunia bisnis
Bali Gusti Ketut Gede.
Di
jaman awal serta menjelang kemerdekaan Republik Indonesia
, tepatnya era 1945-an—setelah tak lagi menetap
di Surabaya — dia memilih untuk membuat koperasi
dengan mengumpulkan 12 perbekel di lingkungan Puri Kesiman
Denpasar. Padahal, Gusti Ketut Gede yang memiliki ijasah
MILO sempat ditawari menjadi pegawai administrasi di
Rumah Sakit Angkatan Darat. ‘'Tapi tawaran itu
ditolak dan memilih membangun koperasi,” katanya.
Badan usaha baru itu dia pimpin hingga akhir tahun 1945-an.
Berikutnya membentuk Perserikatan Dagang Indonesia (Perdi),
hingga di era Negara Indonesia Timur (NIT), pemerintah
membuka kesempatan bagi para saudagar di Indonesia melakukan
aktivitas bisnis yang lebih luas, yaitu impor-ekspor.
Tidak gampang untuk menyabet kesempatan itu, karena
untuk mendapatkannya setiap saudar harus memiliki perusahaan
dalam bentuk Perseroan Terbatas (NV).
Gusti Ketut Gede melihat kesempatan itu—sebagaimna
Wirawan melihatnya—sebagai ‘momentum bisnis'
atau kembali meminjam istilah bahasa para surfer ‘ombak
sedang meninggi'. Ia lalu mengumpulkan 17 perusahaan
yang ada di Bali untuk membentuk PT Gabungan Impor Ekspor
Bali (GIEB). “Modal yang terkumpul semuanya sebanyak
Rp. 64.000,00” ingatnya. Karena telah berbentuk
Perusahaan Terbatas, PT GIEB melebarkan sayap dengan
melakukan aktivitas impor-ekspor. Untuk selanjutnya,
Gusti Ketut Gede memimpin GIEB hingga gelombang krisis
moneter menerpa Republik ini: 1997.
Apa yang bisa ditarik penjelasan tadi? Walau tak saling
mengenal secara fisik dan dipisahkan oleh ruang dan
waktu, ternyata AAN Wirawan dan Gusti Ketut Gede merupakan
dua sosok saudagar yang menggunakan tradisi masekaa
dalam melakukan akumulasi modal jangka panjang.
Lepas bagaimana kajian ilmiah soal resep masekaa dalam
dunia bisnis bisa dipertanggungjawabkan, toh resep itu
telah teruji oleh desingan peluru dan pergolakan politik.
Rumusan bisnis liberal memang tetap memberlakukan :
Untuk apa menggabungkan modal bila modal itu dikelola
sendiri bisa menghasilkan keuntungan lebih berlipat.
Dan, Wirawan maupun Gusti Ketut Gede setuju dengan pendapat
itu, tapi sejurus kemudian, “Yang mau di cari
itu keuntungan proporsional atau—maaf —keuntungan
rakus,” tangkis Wirawan sigap. Baginya, tidak
ada cerita aktivitas bisnis akumulasi modal jangka panjang
memperoleh keuntungan dalam waktu setahun, dua tahun.
Minimal tiga atau empat tahun dengan break even point
(balik modal) 7-10 tahun.
Gusti Ketut Gede malah berujar, “Itulah beda bisnis
jaman sekarang dengan dulu. Sekarang pengusaha di Bali
egois. Ngak mau gabung-gabungan lagi”. Ia menunjuk
Bank Perniagaan Bali (BPU)—dengan ‘pasukan
semut'nya— yang kolaps karena sang pemilik terpikat
bujuk rayu rekan bisnis (kongsi) dari Jakarta . “Kalau
BPU ini tetap di Bali pasti ngak begini jadinya”
analisisinya.
Lalu, bagiamana resep ini diterapkan di Bali ? Pengamat
perbankan Bali Anak Agung Gede Putra mengungkapkan,
bahwa model yang digunakan Wirawan dalam bisnis memungkinkan
diterapkan di Bali . Tapi, kasus Wirawan itu bersifat
khusus karena terdapat personal guarante (jaminan pribadi)
dari orang kuat yang memungkinkan Wirawan bisa memperoleh
kredit sebesar 23 Milyar dari bank dengan sistem bagi
hasil.
Wirawan malah memberi bidang bisnis yang siap digarap
bila saudagar Bali mau membuat sistem masekaa dalam
berbisnis, yaitu pengelolaan air bersih. “Mumpung
perusahaan air asing belum masuk seperti yang terjadi
di Jakarta ,” ujarnya mengajukan proposal. Atau
‘gelombang sedang tinggi'.
Usulan ini, bisa jadi akan memunculkan perdebatan yang
bisa mengelupas kepala orang Bali, tetapi satu hal yang
perlu dicermati: Bali memiliki ‘cetak biru' bagi
penyokong budayanya untuk berbisnis. Tinggal menggali
dan mempraktekkan di lapangan. Lantas apa yang ditakutkan
pengusaha di Bali ? Jelas bukan takut dengan leak ,
tapi takut dengan rugi. Jadi, untuk meminimal kerugian
mengapa tidak menggunakan resep masekaa. Jayakumara
|