|
SAMATRA
Kembali ke Hening
Satu
keistimewaan yang dimiliki oleh bangsa ini di masa lampau
adalah kemampuannya memilah-milah dan menyeleksi pengaruh
budaya yang datang dari luar. Sekiranya cocok dikembangkan
atau sesuai dengan kondisi lokal akan diterima. Hal-hal
yang dipandang kurang pas dilepas. Kemampuan inilah
disebut dengan istilah local genious .
Suatu bentuk pengaruh luar yang kemudian dimodifikasi
sehingga dipandang pas untuk dilaksanakan di Bali adalah
pelaksanaan Hari Raya Nyepi, yang merupakan bentuk pengaruh
Hindu India untuk merayakan tahun baru Saka. Masihkah
kemampuan itu kita miliki saat ini ketika harus menghadapi
kekuatan-kekuatan budaya besar menyerang kita? Masih
perlu cukup waktu untuk membuktikannya.
Keistimewaan yang dimiliki Hari Raya Nyepi adalah suasana
keheningan, penghentian aktivitas manusia dari kesehariannya
seperti kegiatan bepergian, menyiapkan makanan, hiburan
pun aktivitas lain, yang sudah tentu menyebabkan hiruk-pikuk
kehidupan. Keheningan memberikan peluang bagi manusia
untuk melakukan kontemplasi, melakukan pencarian Sang
Diri di dalam dirinya sendiri. Keheningan dan penghentian
aktivitas keseharian menghendaki manusia sehari saja
dalam setahun untuk melakukan perenungan tentang hakikat
dan makna hidup, setelah selama 359 hari melakukan pencarian
di luar dirinya. Inilah yang secara ideal ingin diajarkan
oleh Nyepi.
Manusia yang hidup selalu akan melakukan pencarian,
baik itu materi untuk kebutuhan hidup, status sosial,
dan sebagainya. Bila tak demikian, maka tak ada dinamika.
Manusia layaknya seonggok daging tanpa makna. Dunia
memang menyediakan semua itu, lebih-lebih saat ini,
ketika kekuatan kapitalisme telah melanda semua sendi
kehidupan manusia. Tak satu sudut jua dari kehidupan
ini yang tak mampu di rambah kapitalisme, termasuk agama.
Lalu persoalannya, apakah dia harus dipandang sebagai
momok yang menakutkan sehingga harus dibasmi, sementara
di sisi lain kita amat menikmati lezatnya kenikmatan
hidup yang telah diberikannya. Mulai dari segala fasilitas
rumah tangga, alat komunikasi, maupun transportasi yang
selalu memberi rasa nyaman dan memanjakan. Dituntut
kemauan yang kuat untuk bisa melepaskan diri dari kendali
kapitalisme ini, karena di satu sisi ia memberikan kemudahan
dan kenyamanan dalam hidup ini tetapi di sisi lain dia
telah mencengkeram sendi yang paling kokoh dalam kehidupan
bangsa ini, yaitu agama. Ajaran-ajaran kemuliaan yang
diajarkan kitab suci telah diubah olehnya menjadi agama
pasar. Agama yang telah dikendalikan oleh keinginan
pasar. Mall telah menjadi tempat suci bertemunya hasrat
dan keinginan manusia, manusia tidak lagi hanya membeli
apa yang dibutuhkan tetapi apa yang diinginkan. Semuanya
dikendalikan oleh kapital dengan membentuk citra lewat
media.
Demikian pula dalam pelaksanaan Nyepi. Swalayan mulai
ramai dikunjungi masyarakat menjelang Nyepi. Segala
keinginan dalam menyambut Nyepi telah tersedia di situ.
Menyambut Nyepi bak menyiapkan pesta, karena persepsi
tentang Nyepi mengarah pada perayaan Tahun Baru layaknya
agama-agama Abrahamik.
Perubahan memang suatu keniscayaan, suka maupun tidak,
disadari maupun tidak, semua memang harus berubah. Nyepi
yang semestinya bermakna keheningan, telah berubah menjadi
pesta perayaan. Segala bahan makanan disiapkan untuk
memanjakan hasrat, kamar-kamar hotel telah dipesan untuk
bisa menikmati hidup, lepas dari rutinitas keseharian.
Maka, semakin banyak mereka yang merayakan Nyepi di
hotel-hotel, bungalow-bungalow. Paket-paket tour dengan
kemasan wisata spiritual di hari Nyepi mulai tumbuh.
Life style , begitu kata mereka yang membaca situasi
ini secara akademik. Di balik semua itu memang ada kapital
yang bermain.
Dalam masyarakat yang terus berkembang akan selalu terjadi
tarik menarik antara hal-hal bersifat rasional progersif
dengan tradisonal konservatif. Pada masyarakat yang
sangat rasional, segala sesuatu yang berbau tradisonal
akan selalu dipandang sebagai penghambat kemajuan. Sementara
pada masyarakat yang berpegang teguh pada tradisi memandang
perubahan sebagai sesuatu yang mencemaskan. Tegangan
antara keduanya telah menimbulkan dinamika dalam kehidupan
manusia. Inilah hidup. Dan kehidupan itu selalu ada
dinamika.
Lalu di mana letak pentingnya Nyepi hening itu? Di tengah-tengah
dinamika yang terjadi dalam kehidupan manusia, kenapa
tidak sehari pun dimanfaatkan untuk menghentikan segala
aktifitas itu? Harus dipahami bahwa semua yang bergerak
memerlukan juga waktu jeda. Ibaratnya mesin juga memerlukan
waktu untuk diam. Mesin tak bisa selamanya bergerak.
Segala sesuatu yang terus bergerak, apalagi bergerak
ke arah yang ekstrim akan menuju pada kematiannya. Manusia
dan semesta ini juga membutuhkan saat untuk jeda. Saat
ntuk melakukan kontemplasi, waktu mengerem kembali hasrat
yang telah bergerak ke arah yang ekstrim. Arah yang
mulai meninggalkan hakikat kemanusiaannya karena dibelenggu
oleh hasrat. Secara simbolik penghentian hasrat itulah
Nyepi. Tak cukup hanya sehari, penghentian terhadap
gerakan hasrat semestinya dilakukan setiap saat manakala
hasrat telah melampaui hakikat kemanusiaannya. Semoga
Nyepi kali ini menjadi saat untuk mengendalikan hasrat
yang mulai bergerak ke arah ektrim. Jayakumara
|